(review) Selma: Powerful Speech

Film kandidat Best Picture Oscar 2015 ke 6 yang kutonton adalah Selma, lagi-lagi berdasarkan kisah nyata. Tentang pahlawan Amerika, Martin Luther King Jr. dalam perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan warga Negara Amerika bagi kulit hitam. Setting utama adalah tiga bulan yang mencekam tahun 1965. Film dibuka dengan elegan Martin Luther King Jr. (David Oyelowo) sedang berhias memakai dasi dibantu istrinya Correta Scott King (Carmen Ejogo) untuk acara penganugerahan nobel perdamaian.

Seorang warga kulit hitam setelah interview singkat untuk mendapatkan kewarganegaraan ditolak. Lalu disusunlah kekuatan untuk sebuah pengakuan. Digalang warga kulit hitam untuk demo jalan kaki dari Selma menuju Montgomery, Alabama. Pergerakan massa awalnya kocar-kacir, massa dihadang polisi dan dipukuli sampai babak belur. Gas air mata ditembakkan, scene yang menyayat hati. Ada terikan protes, “Presiden Johnson bisa mengirim pasukan ke Vietnam, namun ga bisa menghadang kami.” Melalui berita tv hitam putih, terlihat banyak warga yang simpati.

Lalu disusunlah kembali kekuatan, mengajak warga untuk bersatu. Kini massa bukan hanya dari warga kulit hitam, namun banyak juga warga kulit putih yang ikut bergabung. Massa kini jauh lebih banyak dan kekuatan lebih besar. Di jembatan Edmund Pettus mereka berkumpul siap maju. King ikut di barisan paling depan. Saat massa siap maju, diluardugaan polisi huru-hara bukannya menghadang seperti sebelumnya, tapi justru membuka jalan. Pasukan menepi membuka barisan. Di sini King terdiam, ragu. Apakah meneruskan langkah, dengan segala resiko ataukah mundur. Ternyata tanpa bicara sepatah katapun, dia pelan-pelan duduk yang diikuti pasukannya. Kemudian berdiri dan berjalan balik, mengejutkanku (karena saya juga belum tahu detail sejarah Selma). Massa yang juga tampak bingung lalu ikut mundur. Perdebatan muncul, harusnya inilah timing yang tepat untuk merebut simpati dan memenangkan voting, tapi kenapa malah balik badan? Ada apa gerangan? Sampai akhirnya ada warga kulit putih yang mendukung pergerakan terbunuh. Why? oh Why?

Well, ternyata menikmati film ini butuh perjuangan lebih. Diluar pidato King yang membara, film berjalan lambat. Sempat terkantuk-kantuk, lalu rewind lagi. Setidaknya tiga kali rewind untuk menuntaskan durasi 2 jam lebih. Awalnya mau nyerah saja, ganti film lain (Mr. Turner dan Nighrcrawler sudah menunggu antrian) namun berhubung tenggat waktu Oscar kurang dari seminggu maka harus kutuntaskan malam itu juga. Sampai ending penjelasan nasib para karakter, hari sudah lewat tengah malam. Memang butuh kesabaran ya menonton film biopic dengan tempo lambat. Apa yang saya dapat? Momen warga kulit hitam melawan dan mencoba mendapat pengakuan sudah lewat tahun lalu saat 12 Years A Slave dapat Oscar jadi saya bias pastikan Selma ga akan menang Best Picture. Tapi Selma secara keseluruhan lebih nendang, karena nilai historical nya lebih bagus. Lalu David Oyelowo aktingnya bagus banget, lebih bagus ketimbang Cooper yang dinominasikan best actor. Beberapa actor besar kasih andil, Brad Pitt dengan Plan B productionya sebagai executive producer. Oprah Winfrey ambil peran. Tom Wilkinson jadi presiden Johnson. Tim Roth pun ada.  Tapi tetap juaranya David yang memberikan penampilan prima. Speech-nya membius, salah satunya yang paling berkesan: “Who murdered Jimmie Lee Jackson? Every white lawman who abuses the law to terrorize. Every white politician who feeds on prejudice and hatred. Every white preacher who preaches the bible and stays silent before his white congregation. Who murdered Jimmie Lee Jackson? Every Negro man and woman who stands by without joining this fight as their brothers and sisters are brutalized, humiliated, and ripped from this Earth.”

Merinding mendengarkannya. Powerful, membakar semangat sekaligus mengintimidasi. Hasilnya? Sudah kita ketahui semua, kini banyak warga kulit Amerika jadi public figure. Bahkan Presiden-nya-pun kini kulit hitam. Selayaknya kita harus berterima kasih pada Pahlawan Martin Luther King Jr. atas perjuangannya. Kick racism out!

Selma | Director: Ava DuVernay | Written: Paul Webb | Cast: David Oyelowo, Tim Roth, Tim Wilkinson, Oprah Winfrey | Skor: 3.5/5

Karawang, 170215

Iklan

3 thoughts on “(review) Selma: Powerful Speech

  1. Ping balik: Oscar Prediction 2015: Look Up, Who’s Fly! | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s