(review) Still Alice: It Blew My Mind Away

Spoiler Alert – Tulisan ini mungkin mengandung spoiler.

Berdasarkan novel karya Lisa Genova. Di ulang tahunnya yang ke 50 tahun, Alice Howland (Julianne Moore) mempunyai keluarga yang sempurna. Mempunyai suami yang care, punya 3 orang anak yang sukses dan karir yang Ok sebagai professor di Universitas Colombia. Saat perayaan ultahnya, putri bungsunya Lydia Howland (Kristen Stewart) tidak bisa dating karena ada audisi di luar kota. Acara tetap meriah, suaminya John Howland (Alec Baldwin) sampai memuji Alice terlihat masih muda seperti baru 40 tahun. Anna Howland-Jones (Kate Boswoth) datang bersama suaminya Charlie Howland-Jones (Shane McRae). Melengkapi pesta, anak keduanya yang baru saja putus cinta, Tom Howland (Hunter Parrish). Gambaran keluarga yang sempurna tersaji di awal cerita yang menyedihkan ini.

Sampai pada suatu hari saat Alice sedang olahraga lari di kampusnya dia lupa jalan. Muter-muter sampai akhirnya dia sadar ada yang tak beres di kepalanya. Lalau Alice konsul ke dokter Benjamin (Stephen Kunken). Selama sebulan lebih dia inten ke sana, hasilnya dia di-diagnosa sakit Azheimer tingkat dini. Penyakit yang sebenarnya jarang dialami manusia usia di bawah 65 tahun. Sebagai seorang pengajar, memori jelas sangat penting. Pantas saja saat dia mengisi kuliah, beberapa kata dia lost. Panik, sampai dia menangis, mending kena kanker ketimbang azheimer. Penyakit ini adalah turunan secara genetik. Setelah ditelusuri ternyata turunan dari ayahnya. Takut penyakit ini akan turun ke anaknya, maka seluruh keluarga dikumpulkan.

Disampaikannya berita ini, semua seakan tak percaya. Ibunya yang cerdas dan sehat secara fisik malah kena sakit azhiemer. Disampaikan pula bahwa semua anaknya diminta untuk cek, untuk mengetahui kemungkinan menurun. Di saat bersamaan Anna positif hamil, dari usg anaknya kembar. Setelah beberapa lama, saat Alice pulang mengajar dia mendapat telpon. Anna memberitahunya, dia positif sementara dua adiknya negative. Kalut, Alice meminta maaf.

Semakin hari ingatan Alice semakin menurun. Main game cari kata di android dia sering gagal. Data pribadinya dia tulis di HP seperti tanggal lahir, tempat tinggal, sampai apa saja yang harus dilakukan. Dia lalu membuat video apa yang harus dilakukannya ketika ingatannya benar-benar kritis. Video berisi intruksi buatnya sendiri untuk ‘bunuh diri’. “Hi Alice, I’m you… And I have something very important to say to you.. hufh”. Di simpan di laptop dengan nama folder butterfly, kenapa kupu-kupu, karena kupu-kupu adalah binatang yang hidup hanya sebulan. Rapuh, namun sangat bermanfaat buat alam. Dia simpan obat di laci paling atas, di bawah lampu biru untuk meminum semuanya lalu berbaringlah. Instruksi yang serem. Dia hidup dari memori HP dan laptop. Dr. Benjamin memintanya untuk mengisi pidato di acara khusus untuk memberi semangat para penderita Azheimer. Pidato yang keren sekali dibawakan oleh Moore. “losing my bearings, losing objects, sleep, but mostly losing memories…”. Seandainya dia menang best actress, scene inilah sebabnya. Natural, rapuh dan menggugah.

Sampai menit film mendekati akhir kita disuguhkan sebuah fakta bahwa betapa memori benar-benar sangat penting. Ditampilkan dengan brilian oleh Moore. Bayangkan, sampai kata-kata saja lupa. Perjuangan melawan kelemahan diri sendiri. Ending-nya sendiri sangat ciamik nan puitis, saat Lydia sang bungsu yang sering berontak malah menjadi anak yang paling berbakti dengan memutuskan pulang untuk merawat Alice. Namun bagaimana akhirnya? Apakah si kembar anak Anna akan kena penyakit juga? Apakah pilihan hidup Alice saat memorinya makin terbatas saat membuka folder butterfly dilaksanakannya? Ataukah John menyerah menghadapi istri yang pikun? See, Saving your memories!

Awalnya saya mendukung Pike untuk best actress, namun setelah semalam menonton ini film saya menjatuhkan pilihan ke Moore. Sungguh memikat, dia menampilkan pesona kerapuhan menghadapi penyakit dengan penuh penjiwaan seakan-akan Moore adalah Alice. Setelah saya perhatikan, ternyata genre film favorite saya selain fantasi adalah drama keluarga. Tahun lalu saya terpesona, August: Osage County dengan akting mantab Meryl dan Julia. Tahun ini saya terpesona sama Moore dan Kristen dengan chemistry yang pas. Tahun lalu Meryl dan Julia gagal menang, tahun ini, please…. kasih Oscar ke Moore. Setidaknya kita akan selalu ingat Moore pernah menang best actress setelah gagal terus. Untuk mengingatkan kita bahwa dia pernah kehilangan ingatan, masih seorang Alice. Still Alice! It blew my mind away…

 Still Alice | Director: Richard Glatzer, Wash Westmoreland | Screenplay: Richard Glatzer, Wash Westmoreland | Cast: Julianne Moore, Alec Baldwin, Kristen Stewart, Kate Bosworth | Skor: 4/5

Karawang, 200215

Iklan

(review) Birdman: Fantastis and Intense From Beginning To End

Spoiler Alert! – Tulisan ini mungkin mengandung spoiler

Ketika pertama kali lihat trailer dan teaser poster, saya kira ini adalah film super hero. Tapi ternyata bukan. Film ini akan lebih menyoroti sisi psikologis. Saat gambar-gambar Keaton mulai diunduh di internet, saya sempat memasang salah satu gambarnya sebagai DP di BBM dan responnya beragam. Terlihat aneh untuk film hero live action.

Film dibuka dengan sebuah ruangan, nampak Riggan (Michael Keaton) sedang mediasi dengan hanya memakai kolor sepertinya duduk melayang. Lalu muncul suara-suara dalam kepalanya, berbicara dengan cermin. Muncul perdebatan sengit dalam kepalanya, apa yang akan dilakukannya. Lalu muncullah sang sutradara teater Jake (Zach Galifianakis) memberitahukannya bahwa persiapan sudah siap. Kamera berjalan mengikutinya menuju pertemuan dengan actor teater panggung, dabat karena ga cocok. Sang actor cidera kejatuhan benda yang membuatnya absen di pentas nanti. Lalu tim crew mencoba mencari actor pengganti. Di dapatlah actor besar, Mike (Edward Norton). Gladi bersih langsung dilakukan di atas panggung. Muncullah Sam, putri Riggan (Emma Stone) menengahi kerumitan teater. Ada Naomi Watt sebagai Lesley lalu Andrea Risebough sebagai Laura. Adegan demi adegan menampilkan perdebatan seputar teater, mengandalkan pendalaman karakter.

Riggan yang merasa tua dan mencemaskan karirnya. Sam yang galau, Jake yang dikejar target pasar, dan penampilan menawan Edward Norton sebagai Mike yang sombong. Kehebatan film terletak pada long take yang (terlihat) tanpa putus dari awal sampai menjelang akhir. Jadi kamera menyala terus, bergerak dimanis mengikuti setiap katakter yang bicara. Bayangkan selama nyaris dua jam, kita disuguhi rasa frustasi mereka. Namun ternyata actor besar dengan bagus memainkannya. Dengan ekspektasi biasa hasilnya luar biasa.

Ceritanya sendiri sederhana, actor tua yang punya bayang-bayang Birdman. Salah satu adegan menawan ditampilkannya saat akan show puncak cerita dia keluar gedung untuk merokok, tak sengaja pintu terkunci dan menjepit bajunya. Setelah mengetuk pintu berkali-kali ga ada respon, terpaksa dia ambil jalan memutar dengan hanya pakai kolor. Pas masuk ke teater dia menampilkan acting seakan-akan itu dalam scenario. Mimiknya luar biasa keren.

Lalu adegan seorang dramer yang menjadi backsound film ini ditampilkan seakan-akan ada di sekitar kita. Suara teriakan frsutasi yang ada (saya kira) di kepala Riggan, juga ternyata seorang gila yang frustasi. Puncaknya adalah saat dia di atap gedung, bicara sendiri lalu melompat keluar untuk terbang. Hasilnya ternyata dia terbang, berputar-putar di langit. Lalu turun dan masuk ke dalam gedung leat pintu utama. Tapi ternyata taka da yang melihatnya, sampai seorang supir taxi memaki-maki Riggan belum bayar dan dikejarnya ke dalam. Sampai di sini kita bisa mabil kesimpulan Riggan tak terbang, yang kita lihat hanya imajinasinya. Namun  ada adegan saat anak kecil melihat ke langit (seakan-akan) melihat Birdman. Pecah lalu penafsiran, sampai akhirnya di ending Riggan yang terluka (lukanya kenapa tonton sendiri ya) terbaring di rumah sakit. Lalu memutuskan lompat dari jendela untuk terbang. Muncullah Sam mencari dia, lalu dia melongok keluar jendela dan tersenyum. Senyum entah apa artinya, Riggan jatuh tewas, karena dia sedang berselisih denganya atau melihat ayahnya terbang. Penafsirannya terbang karena melongok ke atas. Dan scene penuutup itu adalah gambar salah satu potongan trailer dengan Emma Stone menyunggingkan senyum.

Film ini jelas memecah dua kubu: Loved it, Hate it. Saya ada di kubu yang pertama. Ini film langka di mana dengan cerdas Innaritu melukan take tanpa putus sepanjang film. Pergantian hari dengan bagus dengan mengambil gambar langit yang berubah gelap ke terang atau sebaliknya. Dari cerita saya rasa kurang greget. Akhirnya kandidat best actor sudah ketonton semua, hasilnya? Tetap dukung Eddie. Untuk Emma dan Edward saya lebih prefer ke Edward untuk menang bersaing dengan Mark Ruffalo.

Penampilan yang fantastis dari awal sampai akhir. Well, apakah Riggan bisa terbang? See…

Birdman (The Unexpect Vitue Of Ignorance) | Director: Alejandro Gonzalez Innaritu | Screenplay: Alejandro Gonzalez Innaritu | Cast: Michael Keaton, Edward Norton, Emma stone, Zach Galifianakis | Skor: 4.5/5

Duel Dua Tim Kaya P$G Versus Chelsea

image

Kuis Psg v Chelsea dibuka. Skor, skorer-nya. Analisa minimal 3 kalimat. Ditutup jam 21:00. Skor 1-2 buat ku. Good luck foc-ers!
Penebak | PSG vs Chelsea | Skorer
LBP 1-2 all
Analisa: Psg dalam misi balas dendam. Chelsea dalam performa (menuju) musim terbaiknya. Leg satu dan dua akan dilewati Blues dengan mulus. Drogba dengan pengalamannya akan membuat publik Paris terdiam.
Imunk 2-1 Ibra
Analisa: Setelah ane dapat pertamax, jadwal padat Psg tak membuat semangat mereka pudar. Dimotori Ibra, tekanan bakal tertuju langsung ke jantung pertahanan Chelsea. Kerjasama yang baik dan sikil individu yang okelah yang membuat Ibra bisa mencetak gol.
Satu lagi, sepertinya BG layak dapat red card.
Gentong 1-1 Ibra
Analisa: Kekuatan kedua tim relatif seimbang. Berbekal pernah mengalahkan Barca akan membuat mental pemain Psg tinggi. Tapi hasil seri lebih adil buat keduanya, karna Chelsea juga bukan tim sembarangan.
Huang 1-1 Ivanov
Analisa: Akan ada duel emosional antara David Luiz dan mantan timnya. Namun banyaknya punggawa Les parisiens yang cedera akan membuat pertandingan berjalan kurang menarik. Sepasang gol akan menghiasi babak pertama untuk selanjutnya pertandingan berjalan dengan penuh kehati-hatian.
Widi 3-1 Ibra
Analisa: Maen dikandang pasti motivasi menang ada di pihak tuan rumah.
tapi Chelsea punya stamina bagus krn BPL kmrn libur. Tp yakin PsG akan menang dilaga ini.
Jokop 3-2 Ibra.
Analisa: Bermain dikandang didikung pemain-pemain  berkualitas, Psg bisa menundukkan Chlesea untuk leg 1 ini. saling serang dan mungkin memanfaatkan kesalahan jadi banyaknya goal.
Erwin 2-0 Cavani
Analisa: Sebagai tuan rumh PSG bakal lagsung menekan. Duel lini tengah akan sengit terjadi. Tapi  PSG lebih efektif memanfaatkan peluang.
Aditya 2-2 Diego Costa
Analisa: Partai big match antara 2 konglomerat, 2 striker kelas dunia (Ibrahimovic vs Costa), 2 playmaker berkelas (Fabregas vs Verratti), & 2 hot progres (Hazard vs Lucas Moura), partai yang mungkin akan berjalan sengit dengan adu kreativitas lini tengah dan adu benteng (Silva vs Terry) yang bakal dapat tugas berat mengawal Ibra / Costa.
Jacobs 1-3 Costa
Analisa: Momok berat Chelsea untuk lanjut ke putaran berikutnya. Persaingan ketat antar lini siap ditampilkan. Dan saya belum nonton 50 Shades of Grey.
Lik Jie 2-1 Ibra
Ibra lagi pengen ngegolin, sedangkan Chelsea islan lagi hazard Time. Biasanya kalo alot, Ivanovic malah ngegolin. Sepertinya begitu.
Deni 2-3 Costa
Analisa: Pertandingan yang berat buat Chelsea di leg 1 ini. Bakal terjadi pertarungan sengit di lini tengah. Namun dengan pemain-pemain  tengah Chelsea yang berkualitas seperti Hazard, Fabregas dan Oscar. Menurut gue Chelsea akan memenangkan pertandingan ini dengan skor tipis 3-2. Skorer Diego costa ..👍
Aji 3-2 Ibra
Analisa: Walaupun maen tidak fulltim tapi dukungan tuan rumah akan menambah smangat juang Psg. Pertarungan lini tengah akan sengit, striker tuan rumah yang lebih tajam akan menentukan hasil.
Zul 2-4 Hazard
Analisa: Pertandingan akan berjalan seru, Chelsea beruntung tersingkir dari piala FA, Persiapan dan istirahat jadi lebih banyak untuk menghadapi PSG.
Will  2 – 1 Ibra
Analisa: Ibra dan Cavani bakal merepotkan defense chelsea, bola banyak bergulir di sisi lapangan tim tamu yg bermain defensif, Chelsea mungkin akan kebobolan dari setpiece.
Jefan 2-2 Luiz
Analisa: Pertandingan dengan tensi tingkat tinggi. Saling jual beli serangan bakal tersaji. Ibra kadabra dan Dego Costa akan saling unjuk taring. Terry dan T. Silva akan kerepotan mengawal lini pertahanan. Sosok David Luiz mungkin akan menjadi sorotan dalam laga ini.. Satu gol dari Chelsea akan timbul akibat kesalahan David Luiz namun dia sukses membayar kesalahan itu dengan Gol Headingnya.
Karawang, 160215

(review) Selma: Powerful Speech

Film kandidat Best Picture Oscar 2015 ke 6 yang kutonton adalah Selma, lagi-lagi berdasarkan kisah nyata. Tentang pahlawan Amerika, Martin Luther King Jr. dalam perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan warga Negara Amerika bagi kulit hitam. Setting utama adalah tiga bulan yang mencekam tahun 1965. Film dibuka dengan elegan Martin Luther King Jr. (David Oyelowo) sedang berhias memakai dasi dibantu istrinya Correta Scott King (Carmen Ejogo) untuk acara penganugerahan nobel perdamaian.

Seorang warga kulit hitam setelah interview singkat untuk mendapatkan kewarganegaraan ditolak. Lalu disusunlah kekuatan untuk sebuah pengakuan. Digalang warga kulit hitam untuk demo jalan kaki dari Selma menuju Montgomery, Alabama. Pergerakan massa awalnya kocar-kacir, massa dihadang polisi dan dipukuli sampai babak belur. Gas air mata ditembakkan, scene yang menyayat hati. Ada terikan protes, “Presiden Johnson bisa mengirim pasukan ke Vietnam, namun ga bisa menghadang kami.” Melalui berita tv hitam putih, terlihat banyak warga yang simpati.

Lalu disusunlah kembali kekuatan, mengajak warga untuk bersatu. Kini massa bukan hanya dari warga kulit hitam, namun banyak juga warga kulit putih yang ikut bergabung. Massa kini jauh lebih banyak dan kekuatan lebih besar. Di jembatan Edmund Pettus mereka berkumpul siap maju. King ikut di barisan paling depan. Saat massa siap maju, diluardugaan polisi huru-hara bukannya menghadang seperti sebelumnya, tapi justru membuka jalan. Pasukan menepi membuka barisan. Di sini King terdiam, ragu. Apakah meneruskan langkah, dengan segala resiko ataukah mundur. Ternyata tanpa bicara sepatah katapun, dia pelan-pelan duduk yang diikuti pasukannya. Kemudian berdiri dan berjalan balik, mengejutkanku (karena saya juga belum tahu detail sejarah Selma). Massa yang juga tampak bingung lalu ikut mundur. Perdebatan muncul, harusnya inilah timing yang tepat untuk merebut simpati dan memenangkan voting, tapi kenapa malah balik badan? Ada apa gerangan? Sampai akhirnya ada warga kulit putih yang mendukung pergerakan terbunuh. Why? oh Why?

Well, ternyata menikmati film ini butuh perjuangan lebih. Diluar pidato King yang membara, film berjalan lambat. Sempat terkantuk-kantuk, lalu rewind lagi. Setidaknya tiga kali rewind untuk menuntaskan durasi 2 jam lebih. Awalnya mau nyerah saja, ganti film lain (Mr. Turner dan Nighrcrawler sudah menunggu antrian) namun berhubung tenggat waktu Oscar kurang dari seminggu maka harus kutuntaskan malam itu juga. Sampai ending penjelasan nasib para karakter, hari sudah lewat tengah malam. Memang butuh kesabaran ya menonton film biopic dengan tempo lambat. Apa yang saya dapat? Momen warga kulit hitam melawan dan mencoba mendapat pengakuan sudah lewat tahun lalu saat 12 Years A Slave dapat Oscar jadi saya bias pastikan Selma ga akan menang Best Picture. Tapi Selma secara keseluruhan lebih nendang, karena nilai historical nya lebih bagus. Lalu David Oyelowo aktingnya bagus banget, lebih bagus ketimbang Cooper yang dinominasikan best actor. Beberapa actor besar kasih andil, Brad Pitt dengan Plan B productionya sebagai executive producer. Oprah Winfrey ambil peran. Tom Wilkinson jadi presiden Johnson. Tim Roth pun ada.  Tapi tetap juaranya David yang memberikan penampilan prima. Speech-nya membius, salah satunya yang paling berkesan: “Who murdered Jimmie Lee Jackson? Every white lawman who abuses the law to terrorize. Every white politician who feeds on prejudice and hatred. Every white preacher who preaches the bible and stays silent before his white congregation. Who murdered Jimmie Lee Jackson? Every Negro man and woman who stands by without joining this fight as their brothers and sisters are brutalized, humiliated, and ripped from this Earth.”

Merinding mendengarkannya. Powerful, membakar semangat sekaligus mengintimidasi. Hasilnya? Sudah kita ketahui semua, kini banyak warga kulit Amerika jadi public figure. Bahkan Presiden-nya-pun kini kulit hitam. Selayaknya kita harus berterima kasih pada Pahlawan Martin Luther King Jr. atas perjuangannya. Kick racism out!

Selma | Director: Ava DuVernay | Written: Paul Webb | Cast: David Oyelowo, Tim Roth, Tim Wilkinson, Oprah Winfrey | Skor: 3.5/5

Karawang, 170215

Big Driver

Featured image

Dengan embel-embel berdasarkan novel Stephen King, saya pilih film ini menemani akhir pekan. Tanpa tahu review apapun, tanpa tahu bocoran apapun jadi ekpektasi senormal mungkin. King sendiri adalah seorang mentor bagiku, terutama nasehatnya dalam bidang kepenulisan, “bahwa untuk menjadi penulis kuncinya hanya satu: tulis, tulis, tulis…” jadi setiap ada yang berbau King saya coba untuk menikmatinya.

Film dibuka dengan setting sebuah gorong-gorong penuh mayat wanita dan musik yang mencekam khas horror. Adegan berpindah di sebuah rumah mewah, Tess Throne (Maria Belo) sedang melakukan live streaming telpon dengan tetangga sekaligus temannya tentang buku baru yang akan ditebitkan. Tess adalah novelis yang sedang menanjak karirnya, hari ini dia sedang ada acara launching bertemu dengan kolega Ramona Norvell (Ann Dowd). Dari pertemuan itu Tess harus keluar kota, dibantu GPS mobilnya Tess berangkat. Di sebuah jalan desa yang sepi ban mobil Tess pecah, kena kayu penuh paku. Setelah menepi dia meminta tolong dengan mencoba memberhentikan setiap mobil yang lewat. Setelah beberapa lama, ada mini truck yang berhenti, seseorang bertubuh tambun. Memperkenalkan dirinya sebagai Lester (Will Haris) – akan jadi anonim Big Driver – dia pun memcoba melepas ban. Lester terlihat pria yang sopan, ceria, dan (sepertinya) baik. Saat Lester menunduk, Tess iseng melihat isi truck-nya. Kaget karena di sana banyak kayu penuh paku, jantungnya langsung berdebar, jangan-jangan dia juga yang menjebak. Mengingatkanku pada tukang tambal ban curang sepanjang Pantura. Saat pikirannya penuh kewaspadaan, Lester mendekat dan langsung mencekik Tess. Diseretnya ke sebuah bangaun tua, dan selanjutnya penuh adegan kekerasan – pemerkosaan dan percobaan pembunuhan – yang membuat Tess putus asa.

Tess lalu dibuang di gorong-gorong, yang di adegan pembuka tadi. Tess yang pura-pura mati lalu bangkit, penuh luka dia mencoba mencari pertolongan. Setelah berjalan jauh, akhirnya dia menemukan sebuah toko dengan telpon umum. Setelah sampai di rumah lagi, dia lalu menyusun rencana. Akankah melapor ke polisi ataukah menelusuri sang penjahat untuk balas dendam. Sebagai seorang novelis pilihan kedua terasa menatang, disusunnya segala kemungkinan untuk menuntut balas Big Driver. Mampukah?

Awalnya saya exited dengan pembuka sampai alibi Tess, namun sayang semakin menit film menipis keteganggan menurut drastis, gagal mempertahankan tempo. Tess sendiri mengalami semacam halusinasi punya teman bicara imajiner yang membantunya menyelesaikan masalah, walau kadang teman imajinernya salah. Kelebihannya, ternyata ada kejutan bahwa Tess keluar kota sebenarnya sudah direncana. Bahkan dia dijadikan calon korban-pun ternyata sudah diskenariokan.

Dengan ekspektasi biasa, ternyata terpenuhi karena secara keseluruhan memang film yang biasa. Ga usah terlalu dipikikan, film ini akan cepat berlalu lalu hilang dari ingatanku.

Big Driver | Director: Michael Solomon | Screenplay: Stephen King | Cast: Mario Belo, Ann Dowd, Will Haris | Skor: 2/5

Karawang, 16022015

(Review) The Theory of Everything: Oscar Worthy Performance Eddie Redmayde

Featured image

Teori Lubang Hitam dalam sistem astronomi yaitu daerah dalam alam semesta di mana materi, foton, atau partikel dasar maupun isyarat apapun tak dapat lolos ke luar. Demikian pula foton dan materi luar yang bergerak terlalu dekat dengan daerah ini akan tersedot ke dalamnya dan tidak akan dapat lolos lagi. Bagaimana proses Lubang Hitam terbentuk? Lubang hitam muncul ketika sebuah bintang yang besar dan padat di sebuah supernova meredup dan mati dengan membakar seluruh tenaga nuklirnya. Gaya gravitasi menarik berat mahabesar dari lapisan-lapisan luar bintang itu untuk ikut meluruh ke arah inti ataukah Permukaan dari sebuah lubang hitam disebut dengan sebuah event horizon. Hancurnya gaya gravitasi menjadikan hampir seluruh cahaya tidak dapat melepaskan diri dan tidak ada satu pun informasi dari permukaan itu yang berhasil lolos.

Ga usah pusing-pusing ketika menonton film The Theory of Everything, karena kisah akan lebih fokus ke drama kehidupan sang penemu Teori Lubang Hitam, Teori Kosmologi, Gravitasi Kuantum, dan Radiasi Hawking. Berdasarkan buku yang ditulis istrinya: Travelling to Infinity: My Life With Stephen. Film dibuka di tahun 1963 di masa kuliah Stephen (Eddie Redmayde) yang satu kamar dengan Brian (Harry Llyod) sedang di pesta. Stephen lalu berkenalan dengan Jane (Felicity Jones). Sempat tampak canggung, namun Jane lalu meninggalkan nomor HP. Dari perkenalan singkat itu, mereka jalan. Walau ada perbedaan pandangan keyakinan, Stephen atheis, Jane seorang yang taat ke Gereja namun akhirnya kedekatan mereka berlanjut. Suatu hari Stephen terjatuh saat berlari di kampus, sebenarnya beberapa hari sebelumnya dia sudah merasa sakit kaki. Dari hasil rekam medis, Stephen divonis tetraplegia (kelumpuhakn motorik) karena sklerosis lateral amiotrofik. Awalnya dia mau menjauh dari Jane karena cacat, namun Jane malah memberi dukungan dan menyatakan cinta. Akhirnya dengan memakai tongkat, Stephen dan Jane menikah.

Setelah menikah karir ilmiahnya meningkat. Buku-buku yang dirilisnya ke publik membuatnya terkenal karena best seller dan menjadi seleb kampus. Semakin hari kelumpuhannya semakin parah, Jane dan kedua anaknya lalu memberi kursi roda. Dari situ keadaan kelurga mulai goyah, Stephen yang masih saja menganggap keluarga masih normal sementara sebagai seorang istri Jane mulai kelelahan mengurus anak dan suami. Dalam kepenatan, Jane memutuskan ikut paduan suara penyanyi Gereja, berkenalan dengan seorang duda Jonathan Hellyer Jones (Charlie Cox). Semakin hari tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Jonathan sendiri mendekatkan diri dengan keluarga Hawking, termasuk kedua anaknya. Terlihat di beberapa scene, mereka berlibur bareng, main petak umpet sampai di pesta. Termasuk saat undangan ke Bordeux, Perancis. Jane lalu melahirkan anak ketiga, kerepotan mengurus keluarga membuat Jane tampak frustasi dan momen itu ditangkap oleh Stephen yang akhirnya memberi Jane opsi kalau ingin mendua silakan.

Kisah dituturkan dengan sangat bagus. Catat prediksi saya, Eddie Redmayde akan menang Best Actor. Penampilan memikat sebagai seorang jenius dengan mimik wajah yang meyakinkan. Kecuali Keaton, total 4 kandidat best actor yang kutonton, ini yang terbaik. Seyakin saat saya nebak Matthew mengalahkan Leo tahun lalu. Sedangkan untuk Felicity Jones, rasanya kurang. Di sini dia memang tampil cantik sekali, gigi kelincinya membuat makin imut. Mungkin momen terbaiknya saat dia bilang ada rasa dengan Jonathan, itu gerak tubuh dan mimik muka yang terlihat natural. Untuk best actress saya sudah menonton 3 kandidat. Jones masih kalah cemerlang sama Pike. Mudah-mudahan bisa segera nonton Two Days, One Night dan Still Alice buat pembanding.

Apakah The Theory of Everything akan menang best picture? Tunggu nonton Birdman dan Boyhood dulu ya. Diluar dua film tersebut, film ini leading.

The Theory of Everything | Director: James Marsh | Screenplay: Anthony McCarten | Cast: Eddie Redmayde, Felicity Jones | Skor: 4/5

Tidak Ada Orang Yang Tidak Memiliki Kompetensi

image

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi
Dari kisah nyata seorang guru. Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.
Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.
Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.
Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”
“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.
Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan.”
Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”
Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”
Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”
Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:
“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, kamu juga bagaimana kalau belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”
Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.
Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh,
prepare dan review dia lakukan dibangkunya di kelasnya.
Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.
Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.
Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”
Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”
Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”
Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”
Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,

“Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia. Cinta kasih dan ketulusan, bisa merubah banyak hal. Mohon maaf jika kurang berkenan. Selamat beraktifitas.

Dibacakan oleh Widoyo
Di briefing pagi motivasi dan inspirasi NICI