Decision to Leave: Dalam Diam, Suara-Suara itu Meraung dan Bahasa Cinta Melolong

Di sebuah kota yang selalu diselimuti kabut…

Kalau saya membuka ulasan The Batman dengan kalimat, “Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan…” Maka Decision to Leave kubuka dengan kalimat yang hampir serupa. Sesedikit mungkin tahu alurnya, semakin aduhai. Sedikitnya ada sepuluh kali saya bilang, “anjir keren keren, anjir keren keren, anjir keren keren.” Diolah berulang seolah mantra. Rumit, benangnya membelit hati.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Jelas ini drama berkelas. Suka sekali adegan berlapis saat pengungkapan. Suka sekali bagaimana penjelasan bahasa cinta, tanpa kata cinta. Meskipun belum pernah cinta disebut-sebut di antara mereka. Tetapi keputusan melindungi itu seakan melemaskan lidah mereka. Suka sekali sama kegugupan diramu bahagia, saat ketemu tak sengaja di pasar ikan. Memandangi mereka secara bergantian sementara mereka berbicara, seakan mendengarkan dengan matanya. Saling tersenyum dan berbicara selagi masing-masing bersaing mengulur basa-basi normal sebab pasangan mereka ada di samping, sebelum akhirnya mengedip kode manja. Suka sekali bagaimana sang nenek memanggil Siri untuk menyenandungkan Kabut. Ah kabut, aduh kabut. Sejatinya apa sih warna kabut? Dan seribu satu kata suka sekali lainnya. Jelas, Decision adalah film terbaik 2022, sejauh ini.

Seorang pria ditemukan mati di hutan, polisi detektif Hae-jun (Park Hae-il) ditugaskan menyelidiki langsung. Di TKP, tampak meyakinkan ini bunuh diri, seorang hobi mendaki gunung, menjatuhkan diri dari bukit, apalagi ditemukan surat wasiat pamitnya. Sang istri korban Seo-rae (Tang Wei), seorang perawat saat kejadian secara meyakinkan di jam kematian sedang bertugas merawat lansia di panti jompo. Lapisan pertama tata cara deduksi, jelas tak mungkin manusia ada di dua tempat berbeda. Ia adalah warga China yang bermigrasi ke Korea. Izin tinggal sempat bermasalah. Namun berkat kejelian, ia berhasil bertahan.

Tersebab ia-lah orang terdekat korban. Ia dipanggil dan interogasi tertutup dilakukan, dengan kata-kata saling lempar, yang kita tahu ada aura saling jaga. Makanan mewah disajikan, dan es krim meleleh. Jangankan es krim, batu saja akan meleleh di dalam mulut perempuan secantik itu. Lalu terungkap ada masalah di keluarga ini, ada KDRT maka kita semua jadi perlu tahu seberapa parah luka di pahanya. Perlu memanggil polisi perempuan untuk mengecek? Oh tak perlu. Berikutnya keduanya diam lagi, saling tatap di kursi masing-masing. Dalam diam, suara-suara itu meraung dan bahasa cinta melolong. Betapa singgung kedekatan bisa menimbulkan asmara. Karena sering bertemu, ada riak di sana. Terlalu riskan, polisi berselingkuh dengan tersangka utama pembunuhan. Padahal Hae-jun memiliki kehidupan keluarga harmonis. Istri cantik yang se-frekuensi. “Harus tetap bercinta rutin, bahkan saat saling ngambek.” Perselingkuhan itu, jelas memberi pengaruh kuat keputusan akhir, dan juga riskan untuk kehidupan utama sang detektif. Terlalu besar pertaruhannya.

Pantas sekali menang Best Director di Cannes, yang mencipta decak kagum tentu saja adegan lapis kayak wafer, tempel-tempelan. Tak hanya sekali, beberapa kali muncul tumpang tindih. Sang pria, seorang suami yang tampak setia dan bersahaja, mencintai perempuan lain dengan penuh pengorbanan, bagaimana saat di puncak bukit melihat tindakan bayang, dorongan maut penuh kengerian. Setelah Hae-jun membaca sekilas-sekilas isi HP temuan itu lantas memahami semuanya, dia duduk gemetaran, tidak berani menyentuh bayangan surealis yang muncul karena takut melihatnya akan meledak di depan wajahnya, seperti bom rakitan sendiri. Angka di HP tercetak menjadi realita, mencipta pengungkapan tak terbantahkan. Terasa kabur fakta pahit itu, mencipta aroma kebingungan oh mengapa, seolah tak mampu meresapi lingkungan sekeliling.

Kukira saat tahu kebenaran akan mengambil sikap tegas, nyatanya logika kalah sama perasaan cinta. Saat perpisahan, dan ciuman di tengah dinginnya salju, ada getar gairah mengaliri, dan itu sungguh keputusan sulit. Usaha melindungi membutuhkan usaha yang cakap. Begitulah bila manusia mengecap kenikmatan terlarang. Dia membela tersangka habis-habisan sampai ke titik liur terakhir, tetapi sekaligus mengakui dia sangat mencintai istrinya.

Kata kabut disebut berulang, baik dalam bentuk puisi atau syair lagu. Lagu utama kisah ini, menjadi lagu wajib sang nenek yang ditanamkan Seo-rae. Banyak adegan kelabu memang di kota berkabut. Kabut tipis yang datang dan seolah tak mau pergi. Malam, saat menampilkan lanskap kota yang kosong diselimuti warna kelabu melankolis, bertabur titik-titik lampu kuning yang mengambang di udara seperti air mata. Kelabu seperi malam tak berawan. Jadi benarkan warna kabut itu kelabu?

Karena ini drama percintaan, adegan romantis melimpah ruah. Sekalipun thriller juga dominan, sejatinya ini tentang asmara hitam. Salah satu adegan bagus tersaji saat hujan, sepayung berdua, saling tatap di tepian gong, menyampaikan pendapat secara tersirat. Menikmati keheningan sarat rasa malu yang diperpanjang oleh raut senyum saling silang. Hanya selingan suara hantaman air hujan yang mengiringi. Sungguh ironi, adegan romantis sama pasangan resmi, di tengah-tengah kebahagiaan bagaimana suami-istri ini mengakali penuaan dengan daging kura-kura dan ikan, yang meranum setelah dipelihara begitu cermat. Dibaliknya, ada perempuan lain yang tak kalah intens. Hal-hal seperti itu meresahkan. Menclok sana-sini.

Mereka mengecap ribuan kesenangan yang menggoda, menemukan dunia alter baginya, dan menyelaminya dengan nikmat, seperti ikan tua berenang-renang di tengah cahaya matahari. Maka setelah memutuskan jaga jarak, lantas bertemu kembali, ada nuansa kenang. Hingga akhirnya kata ‘sebuah kebetulan’ yang janggal disampaikan, bagaimana sekali lagi kematian mengenaskan terjadi. Kejahatan kedua, menimbulkan kebimbangan lagi, dan ibaratnya, saat itu situasinya seperti tupai yang tersesat di hutan besi. Fatal, bingung, serba salah, dan kali ini keputusan berat kudu diambil. Hae-jun gemetar saking marah. Seo-rae gemetar saking syahdunya.

Ada kutipan menarik dari Konfusius, Orang baik memilih gunung, orang jahat memilih pantai. Seolah hanya selingan, maknanya benar-benar diterapkan. Pantai pun menjadi kata yang ditakuti di antara mereka, sayangnya dia suka pantai. Sebuah tanda kematian, dan mereka pun coba berpaling ke perbukitan. Namun tak semudah itu. Bunuh diri, gunung, pantai, dan mengapa memilih menikah sama orang yang penuh masalah. Manusia dari zaman batu sampai era modern selalu butuh pengakuan. Maka jawaban bahwa orang berbudi sepertimu sulit dijangkau malah menambah sesak di dada. Ahh… pantai. Terasa ngeri saat airnya menggeluguk di kaki berselimut pasir, dan perlahan tapi pasti semakin naik.

Sebenarnya tata kelola Decision bukan barang baru, film detektif dengan pengungkapan bagus seperti ini pernah kujumpai di Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr., ada slow-mo penuh penjelasan deduksi. Bukan barang baru juga, kebimbangan keputusan selingkuh orang kuasa sama orang lemah, yang bukan korban tapi malah penjahatnya. Soundtrack keren, juga banyak kita temui di film-film daun yang lebih aduhai. Namun mengapa, saya tetap terpesona saat hal-hal yang umum itu dirajut dan ditampilkan di layar? Bisa jadi kita haus film festival tayang di layar lebar, film bagus di tengah kemonotonan, sudah jenuh sama deretan film mainstream yang mengalir tiada henti. Ya gitu-gitu saja, ya biasa-biasa saja. Makanya, saat tahu bakal tayang di CGV langsung kuantisipasi, film festival Eropa muncul di Karawang lho. Langka. Dan benar saja, cuma seminggu tepat tayang, hari ini sudah turun layar.

Memutuskan cuti untuk Memutuskan Pergi. Kutonton Senin (18.07.22) di show pertama jam 11:15, jalan kaki dari rumah. Nonton sendirian, tak ada kawan sama sekali di bioskop. Kedua kalinya saya nonton sendiri seolah bioskop pribadi, yang pertama The Green Book. Sempat kukira batal, sebab sampai jam 11:30 belum juga nyala layarnya sekadar trailer atau iklan-iklan. Keluar lagi, minta tolong Pak Satpam, dan setelah kembali masuk, menanti lagi jam 11:45 akhirnya proyektor menyala. Terlambat 30 menit hufh…, tak mengapa, daripada batal. Resiko film daun di kota penuh daging. Cuti untuk merenung di bioskop itu, terbayar lunas.

Orang baik punya bakat alami untuk tahu bagaimana melaksanakan hal yang benar. Namun baik saja tak cukup di kota kabut, mungkin di kota kita juga. Sehebat apapun, manusia memang tempatnya berbuat salah. Dan saat kita menyadarinya, waktu sudah pudar seperti segenggam daun-daun layu.

Decision to Leave | Year 2022 | Directed by Park Chan-wook | Screenplay Park Chan-wook, Seo kyeong Jeong | Cast Tang Wei, Park Hae-il, Go Kyung-Pyo | Skor: 5/5

Karawang, 220722 – Jo Stafford – You Belong to Me

Scary Stories to Tell in the Dark: Makhluk Menyeramkan, Tidak Cocok Untuk Penonton Berhati Lemah

Stella: You don’t read the book. It reads you.

Ini adalah jenis film yang lebih hebat monsternya ketimbang cerita. Kisah pada suatu masa di kota kecil fiksi bernama Mill Valley, Amerika Serikat. Monster yang dicipta luar biasa seram, khas Guilermo Del Toro yang ternyata juga terlibat dalam penulisan naskah. Yang paling menyeramkan ada di rumah sakit, bagaimana makhluk dengan tampang polos, maju perlahan, menautkan di tengah persimpangan koridor rumah sakit dan mengintimidasi, dari berbagai sudut lalu dengan muka ngeri, sang korban ditelan. Tanpa darah di manapun, tanpa adegan bacok-bacokan, hanya ditelan dalam tubuh, tapi efeknya memang bikin gigil. Luar biasa seram. Penonton diajak memasuki dunia mistik dengan penuh gaya.

Kisahnya tentang petualang remaja di malam halloween di tahun 1968. Tahun di mana Amerika sedang bergolak: Pembunuhan Martin Luther Jr, perang Vietnam sampai Pemilu yang dimenangi Presiden Nixon. “Today is election day, people. Vote against Vietnam, vote against destruction, vote against sending our children to die!” Tokoh utama kita adalah Stella Nicholls (Zoe Margaret Colletti) yang seorang kutu buku, bercita-cita menjadi Penulis. Bersama teman-temannya Auggie Hilderbrandt (Gabriel Rush) dan Chuck Steinberg (Austin Zajur) menjalani malam horror, mereka kabur dari genk remaja yang dipimpin Tommy (Austin Abrams) ke sebuah bioskop mobil. Saat mendesak, mereka masuk ke mobil remaja lain, adalah Ramon Morales (Michael Garza) yang tampak aneh menyelamatkan mereka. Saya mencurigainya ada sesuatu yang janggal. Setelah mereda, berempat memasuki rumah tua yang tak berpenghuni. Rumah angker yang menyimpan misteri kematian keluarga Bellows.

Ketika mereka di dalam, gerombolan remaja anarki yang jadi musuh dari kompleks sebelah hadir. Tommy merusak mobil Ramon dan mereka terkuncil di ruang bawah tanah. Tampak serem? Belum…, baru mulai. Di rumah tua itulah Chuck menyaksikan penampakan dunia lain, ruang tengah yang kumuh dan jorok dalam sekejap menjadi ruang keluarga jadul dengan perabot lengkap dan lilin menyala. Di sana tampaklah Sarah Bellows (Kathleen Pollard), arwah gentayangan? Dalam cekaman takut, Chuck kembali dari masa penampakannya dan semua kembali ke semula. Sementara Stella menemukan buku tua, diary Sarah yang terhenti di tengah halaman. Penasaran karena buku itu tampak menarik, ia bawa pulang. Sarah Bellows adalah urban legend kisah horror dari masa lampau, disebut sebagai gadis penyihir dan tewas dalam hukuman. Ada misteri dalam keluarga Bellows. Diary tersebut tampak tak lazim emang, ada aura mistis dan sungguh berani dia bawa pulang. Nantinya kita tahu, Sarah mencoba menuturkan fakta yang disembunyikan publik, dan kisah ini menuntut pembersiahan nama baik. Sarah dan Stella memang seakan dua sisi koin. “Kamu ga bisa jadi penulis di sini, kamu harus ke kota.” Lalu dengan sedih dijawab, “Aku ga bisa ninggalin ayah, sorry.” Hiks, sedih. Banyak impian kandas dengan berkorban mulia, sabar Nak.

Horror dimulai di sini. Buku itu bisa menuliskan sendiri kisahnya, korban pertama adalah Tommy. Diary dalam halaman kosong termaktub tinta bergerak bahwa ia akan diteror orang-orangan sawah bernama Harold ketika ia mengantar telur. Dalam keremangan kebun, Tomy ditikam dengan sisa wajah oenuh kengerian. Ini semacam kutukan, setiap saat Tomy suka menghujat, menghajar boneka sawah sampai menusuk rusak. Ketika malam horor, jelas seolah balas dendam. Satu korban.

Pencarian dilakukan, jelas Tommy tak nampak. Stella baru menyadarinya setelah menelaah buku Sarah. Korban berikutnya adalah Auggie yang sendirian di rumah. Dalam buku bertinta darah, ia akan memakan sesuatu yang menjijikan di kulkas, dan horror itu mencerabutnya dalam kolong tempat tidur. Saya gam mau mencerita detailnya, yang jelas iringan musik dan suasan cekam tampak bagus. Dua korban.

Setelah korban kedua, mereka mengadakan pertemuan. Stella, Ramon dan Chuck, turut pula Ruth (Natalie Ganzhorn) yang tampak manja, dan tetap mencoba positif thinking.Selanjutnya bagaimana? Siapa yang akan jadi korban berikutnya? Kita akan tahu ketika halaman kosong itu menuliskan sendiri ‘ramalan’nya. Korban berikutnya adalah Ruth yang hari itu harus tampil di sekolah, ia memiliki jerawat kecil di wajah. Saat akhirnya jerawat itu terasa gatal, ia ke toilet. Stella cs bergegas ke sana untuk menyelamatkannya. Makhluk yang menghantui sejenis serangga hitam yang mencuat sedikti demi sedikit dari lukanya, ‘untung’nya Ruth berhasil diselamatkan, makhluk itu nyaris menangkapnya, membawa ke dimensi antah tapi bisa dicegah. Ruth traumatis, hanya tampak gila, ambulan mengantarnya ke rumah sakit. Korban ketiga, gagal.

Bukti bahwa kutukan itu masih bisa dilawan. Korban berikutnya yang paling menyeramkan, makhluk ajaib faceless di rumah sakit yang menculik Chuck disajikan dengan detail keren. Sangat keren. Karena tinggal bertiga, mereka menelusuri riwayat medis Sarah ke rumah sakit, awalnya ditolak, tapi alibi buat penelitian, mereka diterima tapi ga bisa secepat yang harapkan, harus ikuti prosedur panjang, maka mereka masuk tanpa izin dengan menyusup. Ada Red Room yang bikin Chuck ketakutan karena traumatis, ia ditinggal sendiri sementara Stella dan Ramon beraksi. Chuck malah apes, karena buku itu menuliskan horor yang mengarah kepadanya. Makhluk mengerikan dengan latar merah menyala bak penuh darah tersaji, bagian ini sempat membuatku menutup mata dan meremas tangan untuk menghilangkan kegugupan. Chuck ditelan kehampaan. Korban keempat.

Berikutnya karena tinggal dua ya, saling menjaga. Karena protagonisnya Stella kita bisa dengan mudah menebak, pendulum itu mengarah ke Ramon. Kecurigaanku terhadapnya luntur, ia juga calon korban. Dia ditangkat, dijebloskan penjara, tampang-nya memang seorang imigran Meksiko sehingga polisi dengan gegabah mengurungnya. Buku itu menuliskan, di penjara itulah muncul makhluk yang bisa jadi paling absurd. Cara berjalannya ngangkang terbalik, yang jadi korban justru orang lain. Korban kelima, keenam ini memang dijadikan penutup, mereka bergegas ke rumah tua, mencoba menutup kutuk, mencoba melawan dengan sisa harapan yang ada. Sekalipun itu dengan darah. Berhasilkah?

Film ini diadaptasi dari judul buku yang sama karya Alvin Schwartz dengan illustrator Stephen Gammell. Novelnya berseri, tepatnya rilis tahun 1981 (Scary Stories to Tell in the Dark), 1984 (More Scary Stories to Tell in the Dark), dan 1991 (More Tales to Chill Your Bones), film ini menyatukan para makhluk itu. Hal ini jelas memicu sekuel, apalagi endingnya gantung. Yup, mereka sementara lolos dari maut, sehingga ada misi yang harus dituntaskan. Kota Mill Valley aslinya adalah Milltown (Downington) di Pennsylvania. Gambaran makhluk menyeramkan memang mengacu pada Guilermo Del Toro, The Blob mengingatkan pada kisah Pan’s Labyrinth. Wajah-wajah monster yang tak perlu membacok guna memancarkan darah banyak kayak dalam buku-buku Stephen King, tapi cukup menatap kosong, menikam lembut, mengguncang jiwa.

Kutonton ketika malam terakhir di Bekasi setelah seminggu pelatihan Koordinator Magang pada 7 September 2019 di XXI Giant Bekasi (gilax saya nonton di hari pertama tayang!). Sebelumnya membeli buku Pretty Girlnya Karin Slaughter. Makhluknya sukses bikin merinding, sayang sekali cerita agak lemah. Kalau biasanya kita membaca buku, maka Scary Stories malah buku membaca kita. Endingnya rada happy, sayang sekali setelah mencekam dalam badai, justru semilir angin yang ditampilkan. Film horor memang bukan genre-ku, tapi sesekali kutonton beberapa memuaskan, seperti Pet Sematary yang mengejutkan. Namun Pet punya keunggulan, ending lebih pas dan lebih scary ketimbang scary stories.

Ini jelas setingkat lebih tinggi dari Goosebumps. Stories hurt, stories heal.

Scary Stories to Tell in the Dark | Year 2019 | Directed by Andre Øvredal | Screenplay Dan Hageman, Kevin Hageman, Guillermo Del Toro | Cast Zoe Margaret Colletti, Michael Garza, Gabriel Rush, Dean Morris, Gil Bellows, Kathleen Pollard, Will Carr | Skor: 3.5/5

Karawang, 280819 – Mike Perry – Runaway

The Cat’s Paw, The Attic, The Wendigo. Apakah sudah diterjemahkan bahasa Indonesia?

Thx to TMeliaF

Frank: Hestag Freak — Allow Us To Be Frank

Don: You play C, F, or G? | Jon: Yeah… | Don: You’re in

Tokoh utama adalah Frank, narator dan sudut pandang dari Jon dan sebuah band nyeleneh bernama Soronprfbs sebagai penggerak cerita. Apa yang ditampilkan Frank cukup unik. Perjalanan band menuju ketenaran yang diidam-idamkan.

Film dibuka dengan bagus layaknya sebuah cerita filsof penuh perenungan. Seorang pemuda menatap pantai dan mencari ide untuk membuat lagu. Adalah Jon (Domhnall Gleeson) sang pemuda galau, seorang pemain keyboard yang percaya suatu saat dia akan jadi musisi terkenal. Terlihat dari meja kerjanya yang memajang pin up Bon Jovi dengan tulisan: Never stop believing Jon.

Suatu senja yang cerah saat Jon mencari inspirasi di pinggir sungai, ada seseorang yang berniat bunuh diri. Dia mengancam menenggelamkan diri namun berhasil dicegah oleh polisi. Setelah diamankan, berdiri di samping Jon seorang nyentrik yang nyeletuk, “dia pemain keyboard kami”. Lalu Jon balas, “saya pemain keyboard.” Bersitatap sebentar lalu setelahnya, sang nyentrik itu bilang, “kamu diterima, datang ke café jam 09:00.” Tanpa audisi, tanpa seleksi ketat Jon jadi bagian Soronprfbs.

Saat manggung, personil muncul. Dan betapa kagetnya Jon saat tahu bahwa sang vokalis Frank ternyata mengenakan kepala boneka kartun palsu. Awalnya terdengar keren, namun malam itu berjalan berantakan. Akhirnya Don – sepertinya ketua band – mengumpulkan anggota Soronprfbs untuk ke pondok yang terpencil. Mereka lalu konsentrasi mencipta lagu dan berlatih lebih intens. Dari situlah akhirnya karakter setiap anggota terlihat. Don yang pendiam, Clara yang egois, Frank yang aneh karena sepanjang waktu topeng bonekanya ga dibuka, Nana yang unik serta Baraque yang berontak. Jon diam-diam merekam latihan mereka dengan memasang cctv lalu mengunggahnya ke Youtube. Keunikan mereka ternyata disukai netter. Banyak like dan komen positif. Langkah bagus menuju pentas.

Sebuah tragedi terjadi. Salah satu anggota ditemukan meninggal bunuh diri. Ternyata dia adalah pemain keyboard lama sebelum Lucas yang mencoba bunuh diri di awal film. Jon terkejut, dua pemain keyboard-nya stress dan (mencoba) mengakhiri hidupnya. Apakah dia akan jadi korban berikutnya? Mampukah band ini jadi terkenal? Siapa jati diri Frank yang misterius? Saat satu per satu anggota Soronprfbs mundur apakah band ini masih bisa diselamatkan?

Well, setelah menonton film ini saya jadi teringat film lama. Apakah ada yang kenal band Stillwater? Tidak? Saya juga. Sebelum nonton film Almost Famous. Stillwater adalah band angkatan Rolling Stones, band yang bagus yang sayangnya terpuruk sebelum menggapai kejayaan karena sebuah sebab, yang dalam film tersebut dituturkan dengan sudut pandang seorang remaja. Nah di Frank, sudut pandangnya seorang musician-wanna-be yang masih hijau. Soronprfbs, yang Jon sendiri tak bisa mengejanya terpuruk karena keegoisan anggota.

Dalam 5 atau 10 tahun ke depan saya yakin Frank akan jadi film Cult. Film aneh, yang sampai akhir apa yang ada dalam kepala Frank masih saja misterius. Namun sayangnya Frank tak mencapai harapan, anti-klimak. Karena (akan) seperti film musical tapi sayangnya tidak ada satu lagu pun yang nyangkut lama dalam ingatan.

Frank | Directed by: Lenny Abrahamson | Written by: Jon Ronson, Peter Straughan | Cast: |Michael Fassbender, Carla Azar, Domhnall Gleeson, Scott McNairy, Meggie Gyllenhaal | Skor: 3.5/5

Karawang, 150515 – Tanggal yang cantik

(review) Mr. Turner: Unfortunately Fails To Live Up The Biopic

The Great of Eccentric British Painter, Joseph Mallord William Turner (Timothy Spall) atau lebih dikenal dengan J. M. W. Turner adalah pelukis legendaris, dia masuk dalam 10 pelukis paling berpengaruh di dunia. Pelukis lanskap zaman Romantic, air colourist dan print maker pada zaman Renaisans. Butuh dua kali percobaan nonton untuk biopic-nya. Pertama saat Rabu malam, belum setengah jam sudah terlelap. Bayangkan 2,5 jam durasi dengan tempo sangat lambat. Kedua pada hari Kamis kemarin saat libur tahun baru Imlek akhirnya di pagi yang mendung, saya berhasil tuntaskan. Hasilnya, sebuah film biopic yang melelahkan.

Film dibuka dengan sebuah pagi yang cerah, dua wanita berjalan sambal mengobrol sepanjang sungai. Lalu muncullah karakter utama Mr. Turner terlihat sedang menggambar matahari yang sedang terbit. Dari coretan di buku kecil tersebut, dia bawa pulang lalu dipindahkan ke kertas kanvas. Tinggal bersama pembantunya yang gugup Hannah Danby (Dorothy Atkinson) dan ayahnya William Turner (Paul Jesson), keseharian Mr. Turner adalah melukis lalu travelling untuk mencari inspirasi. The sun is God, dia sering melukis matahari tenggelam di pagi hari saat terbit agar waktu yang dia punya lebih banyak. Pagi adalah awal, sehingga mencerahkan.

Suatu hari datanglah Sophia Booth (Marion Bailey) seorang akademisi yang tampak cerdas. Dia mengajarkan seni melukis dengan cara memantulkan cahaya mentari ke kristal lalu muncullah pelangi, dari pantulan pelangi tersebut Mr. Turner bisa membuat sketsa yang menawan, yang akan mempengaruhi karya-karya lukisannya. Tampak betapa ayahnya bergitu dekat dan bersahabat. Sehingga saat ayahnya meninggal Turner begitu terpukul dan depresi. Dia kehilangan pegangan hidup. Terlibat banyak affair dengan wanita, termasuk pembantunya yang loyal. Salah satu adegan memorable film ini adalah saat pengambilan gambar. Sungguh di zaman itu bikin foto saja ribet. Beruntungnya kita hidup di zaman serba praktis. Lalu scene saat seluruh lukisannya mau dibeli seorang konglomerat dengan harga fantastis (di zaman itu), dia menolak dengan alasan agar lukisannya bisa dipamerkan dan dinikmati orang banyak. Hati yang besar, yah walau beberapa lukisannya kini banyak yang hilang.

Saat dirinya mencari penginapan yang menghadap pantai, agar bisa menangkap cahaya mentari saat terbit atau tenggelam dirinya lagi-lagi terlibat affair dengan pemilik penginapan. Disinyalir Mr. Turner memiliki anak diluar pernikahan. Sampai film berakhir, nyaris tak ada sesuatu yang WOW ditampilkan. Termasuk di masa senja saat Hannah bersama anaknya mau bertemu denganya namun ditutup dengan anti-klimaks. Sungguh sayang.

Bayangkan liburanku yang berharga kulepas nyaris 3 jam untuk film yang booooring ini. Saya bertahan karena awalnya berharap ada sesuatu yang layak ditunggu, namun tak kudapat. Dengan setting tahun 1800-an pemandangan yang ditampilkan memang klasik dan elegan serta penataan skor music yang renyah, dan hanya itu kelebihan film ini. Mr Turner sendiri digambarkan orangnya arogan dan kontraversi. Salah satu lukisannya adalah seorang pelacur yang berpose yang banyak dicerca namun berkelas. Di masa akhir hidupnya dia pergi ke London sampai kematiannya. Biopic yang gagal, lupakan.

Mr. Turner | Director: Mike Leigh | Screenplay: Mike Leigh | Cast: Timothy Spall, Paul Jesson, Dorothy Atkinson | Skor: 2/5

Karawang, 200215

Wild: To Let It Be

Featured image

Saya memutuskan menonton film ini karena Reesee Witherspoon dinominasikan best actress. Dah hanya itu saja, terlepas segala review film ini bagus buruknya. Saya sendiri kurang minat film yang mengandalkan pemandangan alam sebagai daya jual. Sempat kepikir ini akan seperti 127 Hours yang predictable tapi malah lebih buruk ternyata. Dengan embel-embel ‘berdasarkan kisah nyata’ dan ‘dari orang yang menyutradarai Dallas Bayers Club’ film ini terasa catchy. Dari awal saya sudah set ekspektasi serendah mungkin.

Cheryl Strayed (Reesee Witherspoon) adalah seorang wanita berusia 26 tahun yang sedang galau karena masalah hidup yang sedang menerpanya mulai dari cerai, pecandu narkoba sampai urusan rumit saudaranya. Lalu dia memutuskan untuk berpetualang seorang diri hiking. Kisahnya sendiri sederhana, menyatu dengan alam dengan mendaki gunung lewati lembah di sungai mengalir indah ke samudra dengan atap langit yang menemani. Ga ada kejutan, ga ada drama dan tanpa konflik cerita yang kuat. Cheryl berjalan dari Mojave ke Bridge of God, dari California sampai Oregon. Jarak yang ditempuhnya sekitar 1.000 mil dengan melewati padang, salju, hutan sampai jalanan lengang. Selama 3 bulan seorang diri Cheryl berusaha melepas bayangan masa lalunya. Perjalanan ini bisa jadi seperti sebuah perjalan spiritual baginya. Setelah hiking dia akhirnya menemukan pencerahan dan semangat hidup yang baru. Sederhana kan kelihatanya.

Saya sempat ketiduran saat menikmatinya, lalu saya rewind untuk melanjutkannya sembari berharap ada sesuatu yang wah, namun sayang harapan itu tak ada. Reesee memang tampil bagus, layaknya ini panggung tunggal untuknya. Tapi sampai dinominasikan best actress sebenarnya kurang. Sekedar bagus ga istimewa. Termasuk Laura Dern yang juga dinominasikan best supporting stress, ah biasa banget. Berdasarkan buku karya Cheryl sendiri berjudul Wild: From Lost to Found on the Pacific Crest Trail, film ini memang jualan utamanya pemandangan indah selama perjalanan. Bagi saya tak lebih. Honestly, I’m lonelier in my life than I am out here.

Wild | Director: Jean Mark Valle | Screenplay: Nick Hornby | Cast: Reesee Wintherspoon. Laura Dern | Skor: 2/5