(review) The Imitation Game: A Great British Hero

Featured image

Ini film berdasarkan kisah nyata, saya belum tahu kisah Alan Turing sebelum menontonnya jadi ya bener-bener menikmati tiap detail yang disuguhkan. Film dibuka dengan setting tahun 1950an, sebuah laporan dari warga kepada polisi bahwa ada perampokan di rumah Alan Turing (Benedict Cumberbath). Namun setelah sampai di tempat ternyata Alan merasa ga kehilangan. Rumahnya memang diobrak-abrik seseorang tapi ga ada yang hilang jadi polisi diminta kembali saja ke kantor. Sang polisi curiga, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Lalu judul film muncul dan kisah ditarik ke belakang.

Alan adalah seorang ahli matematika yang melamar pekerjaan di pemerintahan Inggris sebagai pemecah kode. Terutama kode rahasia dari Negara Jerman, yang saat itu sedang digdaya dengan Hitler-nya. Dalam wawancara yang sepertinya akan gagal karena Alan tak bisa Bahasa Jerman, sambal bilang ini mungkin adalah wawancara tercepat dan memanggil Margaret, sang sekretaris untuk mengusirnya, Alan mengeluarkan kalimat sandi ‘Enigma’ yang membuatnya kaget, sehingga wawancara yang tadinya akan selesai akhirnya dilanjutkan. Enigma, kata ini akan muncul berkali-kali dalam film. Dalam tim pemecah kode menggunakan mesin Enigma, Alan yang terlihat kaku dan aneh memang kurang jiwa sosialnya. Dalam sebuah adegan, saat Alan diajak makan siang bareng dia pengen lanjut kerja, saat sudah pada mau berangkat, dia malah pesan makanan lain. Bener-bener freak..

Sampai akhirnya tim dirombak. Alan mengirim surat kepada PM Inggris, Churchill melalui Stewart Menzies (Mark Strong) sekaligus meminta dana yang lebih besar, yang kebetulan ke London. Alan punya hak penuh untuk menentukan tim, 2 orang dipecatnya. Padahal orang lebih senior, mereka marah. Tim bergejolak, namun Alan bergeming. Dibukanya lowongan di koran dengan sebuah teka-teki silang. Saat sudah berkumpul para kandidat, dan tes akan dimulai muncullah seorang wanita yang datang terlambat, satu-satunya kandidat wanita. Adalah Joan Clarke (Kiera Knightley) yang berhasil memecahkan soal kurang dari 6 menit. Dari sini saya sudah menduga, paling ini akan jadi pasangannya Alan.

Kisah lalu bolak-balik setting waktunya. Salah satunya adalah Alan yang masih SD, dia yang jenius dan unik dari yang lain sering di-bully. Saat tertekan dan sepertinya dia tak punya teman, muncullah Christopher Morcom (Jack Bannon) teman kelasnya. Dari situ mereka akrab. Dengan cerdas film ini ditampilkan hitam-putih untuk masa kecilnya. Christ yang suka kriptograph akhinya menularkan hobinya kepada Alan. Dari situ ada rasa cinta tak terucap, dilihat dari sorot matanya.

Tim pemecah kode setelah beberapa kali gagal, diancam akan dibubarkan karena tak kunjung membuahkan hasil. Alan dan teman-teman meminta tambahan waktu 4 bulan, kalau gagal silakan dihancurkan mesinnya. Stewart Menzies lalu memberinya waktu satu bulan. Dalam adegan romantis, Alan akhirnya melamar Joan (saya langsung teriak, “tuh bener kan”). Mereka tunangan, cicin yang diberikan Alan adalah kawat yang dia temukan di jas nya lalu melipatnya menjadi cincin. Saat waktu menipis, di sebuah pesta dansa Joan bersama teman wanitanya berkenalan dengan teman Alan. Lalu secara tak sengaja ketemu ‘momen ureka’ yang ternyata tepat.

Saya mencatat ada 3 adegan yang menyentuh. Pertama saat Alan dipanggil sang kepala sekolah untuk diberitahu sebuah kabar buruk. Saat itu Alan menampakan wajah kosong, sebuah kesedihan mendalam tak terucap. Kedua saat kode berhasil dipecahkan, saat tahu Jerman akan menyerang sebuah wilayah, rekan Alan berujar bahwa kakaknya ada di kota itu, saat akan dihubungi via telpon Alan melarangnya sampai berkelahi. Alan dianggap monster karena membiarkan saudaranya meninggal, namun dia juga benar karena kalau diberitahu maka nantinya Jerman akan mengubah kodenya. Sunyi dan meyayat hati, sambil mengelap darah yang keluar dari hidung Alan berujar: “Do you know why people like violence? It is because it feels good.” Dan yang ketiga saat pengakuan Alan kepada Joan, itu menyedihkan sekali. “Care for you. I never did. I just needed you to break Enigma. I’ve done that now, so you can go”. Tamparan yang pantas, namun saat narasi tulisan di ending saya turut prihatin atas jalan hidup yang Alan pilih.

Nah kalimat terakhir yang muncul: “Which they said known these days as computers” saya malah teringat pas kuliah di matakul “pengenalan dasar computer” ternyata Alan Turing pernah dibahas, walau sambal lalu. Berarti saya (seharusnya) tahu kisah ini. Duh! Dah tua, mulai pikun. Sama sih pendapat saya dengan pas tahu asal usul computer, rasanya Enigma machine/Turing Machine terasa berlebihan.

Terakhir, film biopic digarap dengan sangat bagus jelas pantas masuk Oscar. Benedict memang main apik, dari pesaing lain yang sudah kutonton, Steve dan Cooper, Benedict kini leading tapi ga tahu ya kalau The Theory of Everything dan Birdman kelahap, persaingan bisa bergeser. Sedang untuk Kiera saya rasa masih kurang. Well, Truly excellent film and definitely Oscar worthy material for both the film and the actors. The entire cast are amazing. We’ll see…

The Imitation Game | Director: Morten Tylum | Screenplay: Graham Moore | Cast: Benedict Cumberbath, Keira Knighley, Matthew GoodeRory Kinnear | Skor: 4/5

Karawang, 300115

Iklan

10 thoughts on “(review) The Imitation Game: A Great British Hero

  1. Ping balik: Oscar Prediction 2015: Look Up, Who’s Fly! | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s