(review) Birdman: Fantastis and Intense From Beginning To End

Spoiler Alert! – Tulisan ini mungkin mengandung spoiler

Ketika pertama kali lihat trailer dan teaser poster, saya kira ini adalah film super hero. Tapi ternyata bukan. Film ini akan lebih menyoroti sisi psikologis. Saat gambar-gambar Keaton mulai diunduh di internet, saya sempat memasang salah satu gambarnya sebagai DP di BBM dan responnya beragam. Terlihat aneh untuk film hero live action.

Film dibuka dengan sebuah ruangan, nampak Riggan (Michael Keaton) sedang mediasi dengan hanya memakai kolor sepertinya duduk melayang. Lalu muncul suara-suara dalam kepalanya, berbicara dengan cermin. Muncul perdebatan sengit dalam kepalanya, apa yang akan dilakukannya. Lalu muncullah sang sutradara teater Jake (Zach Galifianakis) memberitahukannya bahwa persiapan sudah siap. Kamera berjalan mengikutinya menuju pertemuan dengan actor teater panggung, dabat karena ga cocok. Sang actor cidera kejatuhan benda yang membuatnya absen di pentas nanti. Lalu tim crew mencoba mencari actor pengganti. Di dapatlah actor besar, Mike (Edward Norton). Gladi bersih langsung dilakukan di atas panggung. Muncullah Sam, putri Riggan (Emma Stone) menengahi kerumitan teater. Ada Naomi Watt sebagai Lesley lalu Andrea Risebough sebagai Laura. Adegan demi adegan menampilkan perdebatan seputar teater, mengandalkan pendalaman karakter.

Riggan yang merasa tua dan mencemaskan karirnya. Sam yang galau, Jake yang dikejar target pasar, dan penampilan menawan Edward Norton sebagai Mike yang sombong. Kehebatan film terletak pada long take yang (terlihat) tanpa putus dari awal sampai menjelang akhir. Jadi kamera menyala terus, bergerak dimanis mengikuti setiap katakter yang bicara. Bayangkan selama nyaris dua jam, kita disuguhi rasa frustasi mereka. Namun ternyata actor besar dengan bagus memainkannya. Dengan ekspektasi biasa hasilnya luar biasa.

Ceritanya sendiri sederhana, actor tua yang punya bayang-bayang Birdman. Salah satu adegan menawan ditampilkannya saat akan show puncak cerita dia keluar gedung untuk merokok, tak sengaja pintu terkunci dan menjepit bajunya. Setelah mengetuk pintu berkali-kali ga ada respon, terpaksa dia ambil jalan memutar dengan hanya pakai kolor. Pas masuk ke teater dia menampilkan acting seakan-akan itu dalam scenario. Mimiknya luar biasa keren.

Lalu adegan seorang dramer yang menjadi backsound film ini ditampilkan seakan-akan ada di sekitar kita. Suara teriakan frsutasi yang ada (saya kira) di kepala Riggan, juga ternyata seorang gila yang frustasi. Puncaknya adalah saat dia di atap gedung, bicara sendiri lalu melompat keluar untuk terbang. Hasilnya ternyata dia terbang, berputar-putar di langit. Lalu turun dan masuk ke dalam gedung leat pintu utama. Tapi ternyata taka da yang melihatnya, sampai seorang supir taxi memaki-maki Riggan belum bayar dan dikejarnya ke dalam. Sampai di sini kita bisa mabil kesimpulan Riggan tak terbang, yang kita lihat hanya imajinasinya. Namun  ada adegan saat anak kecil melihat ke langit (seakan-akan) melihat Birdman. Pecah lalu penafsiran, sampai akhirnya di ending Riggan yang terluka (lukanya kenapa tonton sendiri ya) terbaring di rumah sakit. Lalu memutuskan lompat dari jendela untuk terbang. Muncullah Sam mencari dia, lalu dia melongok keluar jendela dan tersenyum. Senyum entah apa artinya, Riggan jatuh tewas, karena dia sedang berselisih denganya atau melihat ayahnya terbang. Penafsirannya terbang karena melongok ke atas. Dan scene penuutup itu adalah gambar salah satu potongan trailer dengan Emma Stone menyunggingkan senyum.

Film ini jelas memecah dua kubu: Loved it, Hate it. Saya ada di kubu yang pertama. Ini film langka di mana dengan cerdas Innaritu melukan take tanpa putus sepanjang film. Pergantian hari dengan bagus dengan mengambil gambar langit yang berubah gelap ke terang atau sebaliknya. Dari cerita saya rasa kurang greget. Akhirnya kandidat best actor sudah ketonton semua, hasilnya? Tetap dukung Eddie. Untuk Emma dan Edward saya lebih prefer ke Edward untuk menang bersaing dengan Mark Ruffalo.

Penampilan yang fantastis dari awal sampai akhir. Well, apakah Riggan bisa terbang? See…

Birdman (The Unexpect Vitue Of Ignorance) | Director: Alejandro Gonzalez Innaritu | Screenplay: Alejandro Gonzalez Innaritu | Cast: Michael Keaton, Edward Norton, Emma stone, Zach Galifianakis | Skor: 4.5/5

Iklan

3 thoughts on “(review) Birdman: Fantastis and Intense From Beginning To End

    • yup, (terlihat) tanpa putus dari awal sampai menjelang akhir. Tapi menurut info yang saya baca, sebenarnya scene sempat putus 12 kali namun disambung dengan halus sehingga ga kelihatan. Yakin sekali saya, Birdman menang best editing.

  1. Ping balik: Oscar Prediction 2015: Look Up, Who’s Fly! | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s