Bartleby si Juru Tulis – Herman Melville

Selamat tinggal Bartleby, aku pergi dari sini. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan memberkatimu, entah bagaimana caranya. Ini untukmu…”

Bartleby si Juru Tulis (1-78). Sekarang aku harus berjuang untuk berhenti peduli dan tak akan lagi ikut campur, dan hati nuraniku setuju denganku, meskipun tentu saja aku tak kan seberhasil yang aku mau.

Waktu di mana manusia paling tenang dan bijak adalah tepat sesaat ia bangun dari tidurnya. Kisahnya sederhana, setting tempat minimalis dalam bilik kerja dengan tulisan embel-embel: kisah-kisah Wall Street, maka jelas mereka adalah orang kantoran di bursa saham. Dengan sudut pandang orang pertama, di mana sang pencerita adalah AKU maka kita diajak menelusur kehidupan tempat kerja era abad 19. Sebagai bos, awalnya aku mempekerjakan dua juru tulis dan satu pesuruh kantor. Ada si Catut, Kalkun dan Biskuit Jahe. Bukanlah nama yang lazim ditemukan di buku alamat, hanya panggilan akrab.

Kalkun tua orang Inggris berbadan pendek dan gemuk, usianya seumuran denganku sekitar enam puluh tahun. Di pagi ia sangat cerah dengan semangat pagi menggebu, setelah istirahat siang cahayanya redup, kehilangan gairah, kehabisan tenaga. Mengingat jelang sore yang loyo, kadang membuatku jengkel, tapi yah memang sudah uzur. Aku tetap menghargai tenaganya di pagi hari. “Saya anggap saya ini tangan kanan Tuan.”

Catut berumur dua puluh lima tahun, berjanggut, pucat dengan wajah mirip bajak laut. Kupikir ia adalah korban ambisi dan gangguan pencernakan. Ambisinya mencerminkan ketidaksabaran, usia muda menggebu, sejatinya sebagai penyalin itu harus sabar. Gangguan pencernakan itu menggangu sehingga ia mudah marah dan gugup. Tapi konsistensi energinya sangat diperlukan.”Hanya Tuan yang berhak memutuskan perihal ini.”

Perpaduan mereka cukup unik, Kalkun semangat pagi Catut paginya emosian. Kalkun loyo setelah istirahat, Catut menemukan ketenangan selepas makan siang. Kombinasi sempurna. Pekerja ketiga, Biskuit Jahe berusia dua belas tahun, ayahnya adalah pekerja penarik kereta yang bermimpi suatu saat anaknya bisa bekerja di balik meja, bukan di belakang kuda. Jadi ia menitipkan si Biskuit ke kantorku sebagai pesuruh untuk belajar tentang apa saja yang bisa disarikan, tentang hukum, keuletan, tukang antar surat, dan segala hal termasuk jadi cleaning service, gajinya satu dollar seminggu. Mengejar sebanyak mungkin pengalaman adalah hal paling berharga untuk remaja. “Dengan hormat Tuan, saya senang hati membelikan kertas surat untuk Tuan.”

Pekerjaanku sebagai penengah dan pemburu surat, penyusun segala macam dokumen, jadi ketika membutuhkan satu lagi juru tulis aku pasang iklan lowongan. Dan muncullah Bartleby, rapi tapi pucat, pantas tapi mengundang iba, sedih tiada terobati. Orangnya tenang dan kalem, sehingga kurasa cocok untuk mengimbangi gejolak jiwa Kalkun dan emosian si Catut. Orang lain punya takdir yang lebih megah, tapi tujuan hidupku di dunia ini Bartleby, adalah memberimu bilik kerja untuk kau tinggali selama kau mau.

Awalnya sungguh memuaskan, Bartleby mampu menyalin banyak sekali dokumen seolah lapar, dan ia melakukannya dengan sangat baik karena terlihat menikmati pekerjaan ini. Sekali lagi, awalnya. Ia sama sekali tak mau istirahat menulis, ia menulis siang malam, kala ada matahari dan sinar lilin di kala butuh pelita. Bahkan jatah liburnya pun dihabiskan di kantor. Ada sesuatu dalam diri Bartleby yang membuatku berpikir bahwa ia tak mungkin menggunakan hari Minggu untuk berkarya atau melakukan hal sekuler. Waktu menempanya menjadi pendiam, sangat pendiam malah. Anti-sosial. Bekerja saking rajinnya bak mesin, jelas segala hal yang berlebihan juga ga bagus. Memang kesopanannyalah yang selain melunakan amarahku, menggerus kejantananku.

Masalah timbul kala salinan dokumen membutuhkan cek dan ricek. Sudah lazim satu juru tulis dengan yang lain saling silang untuk saling cek, aneh sekali Bartleby ga mau mengecek tulisan rekan kerja. Dengan simpel berujar, “Saya tidak mau.” Seakan itu adalah prinsip, sehingga didesak dan dipaksa bagaimanapun ia konsisten ga mau. Lebih parah lagi, salinannya sendiri akhirnya juga ga mau dicek lagi olehnya sendiri! Wuih weleh weleh weleh… ono opo rek. Permintaan bos yang lazim dan masuk akal terkait pekerjaan, lho. Biskuit Jahe sampai berkomentar, “Saya pikir ia agak gila.” Kemudian terpikir olehku bahwa kemalangan, kesendirian, kesepian yang ia alami pastilah sangat menyengsarakan.

Keteguhannya, kegigihannya, kengganannya untuk tak melakukan hal-hal tak penting, kerja kerasnya yang tanpa henti (kecuali ketika ia memilih untuk melamun di bilik kerjanya), ketenangannya, ketetapan perilakunya dalam keadaan bagaimanapun juga, menjadikannya berharga dari kantorku. Namun seberapa lama? Masalah gawat akhirnya muncul, karena bukan hanya tak mau mengecek salinan dokumen, bahkan Bartleby menolak instruksi lainnya, segala instruksi bos! Ga mau kirim naskah, ga mau merapikan dokumen, ga mau dipanggil ke ruangan, ga mau segala perintah. Emoh! Emboh! Ogah! Dan kemudian muncullah segala hal aneh, agak mistis, dan segala kelangkaan sifat manusia. Bartleby freak, ada apa gerangan? Surat surat pembawa pesan kehidupan itu melaju menuju ajal.

Sayang sekali pengalaman pertama saya dengan Penulis besar Herman Melville ternyata seperti ini, biasa saja. Padahal kemahsyuran Moby Dick begitu tinggi. Banyak hal tentang Melville dibicarakan dalam dunia literasi. Menanti-nanti dialihbahasakan dengan sabar dan diwujudkan OAK dengan memilih cerita pendek. Padahal ini hanya satu cerita pendek, kenapa berani berdiri sendiri? Harusnya bisalah ditambah dua tiga cerita lagi, why? Jelas saya tak puas menuntaskan hanya satu cerita pendek satu buku, harga jadi pertimbangan utama, kepuasan petualangan nanggung. Dan walaupun kisahnya lumayan keren, secara overall jadinya ga plong. Ada yang mengganjal, ada sesuatu yang menahan, ada yang kurang. OAK menyebutnya fiksi/novel pendek, saya menyebutnya buku satu cerpen.

Kubaca cepat, kala dalam angkot perjalanan ke IIBF September lalu, dan kutuntaskan sekali duduk. Bayangkan, satu cerpen dalam satu buku! Kurang worth it dibeli, tapi yah karena buku-buku Herman sulit dicari di Indonesia kurasa sepuluh tahun ini harganya bisa tiga kali lipat. Masak sih, Penulis sebesar beliau penerbit major ga ada yang mau ambil?

OAK sendiri menerbitkan exclusive karena cetakan ini dinomori! Ini pertama kalinya saya punya buku dengan nomor seri. Sudah jelas mereka melihat masa depan, buku ini masuk kolektor edition, cult novel dan layak dipajang dalam rak perpustakaan. Saya mendapatkan edisi nomor 226. Akan abadi, tak seperti Penerbitnya sendiri yang mengejutkan tahun ini tutup.
Herman Melville adalah seorang guru dan awak kapal, anak ketiga dari delapan bersaudara. Kedua kakeknya adalah pahlawan perang kemerdekaan, kedua orang tuanya adalah orang berada. Lahir pada tanggal 1 Agustus 1819 di New York, nama aslinya tak memakai huruf ‘e’ di akhir, yaitu Melvill. Debut bukunya tahun 1846, Typee yang terinspirasi kala petualangan ke pulau Polinesia sukses, dilanjutkan Omoo setahun berselang, lalu Mardi (1849), Redburn (1849) dan White Jacket (1850). Setahun berselang barulah novel fenomenalnya terbit, Moby Dick. Novel inilah yang mengangkat namanya, menjadikannya penulis terkenal yang mengangkat secara finalsial. Sayangnya buku-buku berikutnya kembali meredup sehingga beliau kembali mengalami masalah keuangan, Pierre (1852), Israel Potter (1855) dan Confidence Man (1857). Bartleby, Si Juru Tulis ada dalam kumpulan cerita pendek Piazza Tales yang terbit tahun 1856. Jadi wahai para penerbit indie kesayangan kita semua, kapan maha karya Moby Dick dialih bahasakan?

Apakah kau tahu kau menyengsarakanku karena kau tak mau beranjak dari pintu kantor lamaku meski sudah lama diusir?”

Bartleby, Si Juru Tulis | Herman Melville | Oak, 2017 | Diterjemahkan dari Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall-Street | Pertama terbit oleh Dix, Edward and Co. Tahun 1856, New York | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Penyunting Widya Mahardika Putra | Penggambar sampul Ika Novita | Penata letak Hengki Eko Putra | Pemeriksa aksara Solihin | Penerbit Oak | Cetakan pertama, Maret 2017 | ix + 78 hlm.; 12 x 18 cm | ISBN 978-602-60924-1-0 | Skor: 3/5

Karawang, 181218 – Ari Laso – Mengejar Matahari
Atlanta 1-1 Lazio, seharusnya.

4 Cara Melepas – Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya 2!

Ketika kemarin saya diberitahu bahwa pagi ini dapat giliran mendapat ‘ngisi’ briefing inspirasi dan motivasi pagi. Malamnya saya langsung lihat buku-buku yang ada di rak, buku mana yang akan saya nukil. Setelah pilih dan pilah akhirnya saya comot buku karya Ajahn Brahm: Si Cacing Dan Kotorannya 2!, yang saya beli tahun 2012. Saya ingat sekali, waktu itu bulan November saya lagi berduka, dan buku ini sedikit banyak menyembuhkan.

Buku berisi 108 cerita pembuka hati. Perlu diketahui ajahn Brahm adalah seorang Budha yang lahir di London, Inggris. Lulusan Cambridge University ini memutuskan mejadi biksu dan berlatih di bawah bimbingan Ajahn Chah selama 9 tahun di Thailand kemudian ke Australia. Nah materi yang saya sampaikan tadi pagi saya ambil dari bab 14 – 18 tentang “4 cara melepas”. Entah Anda bermeditasi atau tidak, entah Anda Buddhist, Kristiani, Muslim, atau apapun, kita masing-masing dari waktu ke waktu harus belajar cara melepas. Dengan tidak mampu melepas, membawa terus kenangan buruk masa lalu, perasaan negative masa kini dan ketakutan masa depan akan menimbulkan banyak duka dan rasa sakit. Bukan hanya pada kita namun juga pada orang-orang yang bersama kita. Kadang kita memiliki segala ketakutan mengenai masa depan. Masalahnya kita tahu, bahwa melepas itu masuk akal – tapi kita tidak mampu melakukannya. Berikut adalah 4 cara melepas:

1. Satu Hal Pada Satu Waktu

Ajahn Chah memungut sebuah ranting di pinggir jalan. Ia berbalik dan berkata, “Brahmavamso, apa ini berat?” Sebelum saya menjawab, ia sudah melempar ranting itu ke semak-semak lalu berkata, “Lihat kan, itu hanya berat jika kita melekat padanya”. Ya itu hanya berat ketika kita memegangnya, namun begitu kita lepas, tidaklah berat lagi. Sungguh mendalam, sederhana dan tak terlupakan.

Jadi hal-hal berat apa yang Anda miliki sekarang dalam hidup? Pekerjaan, kanker, kesulitan uang,… apakah itu berat? Hanya berat jika Anda memegangnya. Hal ini memberi Anda pemahaman bahwa cara pertama untuk melepas adalah “membuang” hal-hal. Anda menjalani hidup yang begitu rumit. Anda memiliki begitu banyak hal di dalam keranjang, itu berarti Anda tidak bisa berpergian dengan ringan dalam menjalani hidup.

Saya tak tahu apakah sejarah hidup saya bagus atau buruk. Saya telah membuang batu itu lama sekali. Masa lalu adalah penjara. Masa lalu adalah sebuah sel dengan pintu yang terbuka, kita bisa melangkah keluar dari sana kapan saja kita suka, namun sering kali persis seperti orang yang telah lama di penjara, mereka takut meninggalkan penjara.

Anda tidak belajar dari masa lalu, Anda sebenarnya mendapat lebih banyak duka dari masa lalu. Anda akan belajar jauh lebih banyak dari melepas masa lalu ketimbang terus menyimpan masa lalu itu. Lao Tzu, seorang guru besar dari China setiap sore berjalan-jalan. Ia akan memilih salah satu siswanya – hanya satu siswa yang boleh pergi bersamanya. Namun ada aturan emas, jika berjalan dengan guru agung Tao, Anda harus diam tidak bicara sepatah kata pun. Suatu hari siswa muda, berjalan bersama guru, dan mereka sampai di puncak gunung saat matahari terbenam. Matahari terbenam sangat indah, sampai pemuda itu tak tahan bergumam, “Wow.. indahnya matahari terbenam.” Ia telah melanggar aturan. Lao berbalik dan masuk ke Biara dan tak pernah mengizinkan siswa tersebut untuk ikut berjalan lagi bersamanya. Sahabat pemuda tersebut mohon ampunan, “Dia kan  cuma  mengucapkan satu kalimat. Ampunilah dia Guru, menjaga kesunyian masa sampai segitunya.” Saat itulah guru besar berkata: “Ketika pemuda itu berkata betapa indahnya matahari terbenam, dia tidak melihat matahari terbenam lagi. Ia hanya memperhatikan kata-kata dalam batinnya.”

2. Mau Di Sini

Cara melepas kedua adalah mengetahui apa itu sesungguhnya kebebasan. Jika kita tidak suka mendengarkan ceramah, kita bertanya-tanya kapan ceramah akan berakhir, itulah penjara kita. Kita tidak ingin berada di sana. Jika kita berada dalam hubungan yang tidak kita sukai, hubungan itulah penjara kita. Jika kita berada dalam pekerjaan yang tidak memuaskan kita, itulah penjara kita. Bahkan dalam tubuh ini, ketika kita sakit kita tidak ingin ada di sana, tubuh kita pun menjadi penjara.

Namun ada cara yang sangat mudah untuk melepaskan diri dari penjara-penjara kehidupan. Anda tidak perlu mengubah suami anda, istri anda, Anda tak perlu ganti pekerjaan, anda bahkan tak perlu membaik dari penyakit. Anda cukup mengubah sikap Anda menjadi mau di sini.

3. Memberi Tanpa Harap Kembali

Cara ketiga melepas adalah dengan memberi – bukan sekedar memberi, namun memberi tanpa harap kembali. Di Wihara saya, tidak ada tulisan atau plakat tentang siapa yang menyumbang bangunan iti. Tidak ada nama donator, bahkan di tempat retret kami yang dibangun senilai 5 juta Dollar Australia. Banyak orang donator, banyak sekali sumbangan besar dan kecil, namun tak ada satu pun plakat di tempat itu mengenai siapa menyumbang apa.

Apa hubungan hal ini dengan melepas? Ketika Anda menikah dan menjalin hubungan, apakah Anda memberi? Ataukah Anda mengharap sesuatu imbalan? Apakah Anda benar-benar melepas? Terlampau sering kita mengharapkan imbalan dan hal itu malah menyebabkan duka besar dalam hidup, toh pengharapan tak terwujud. Meditasi adalah tindakan memberi tanpa harap kembali. Untuk mengkosongkan, untuk melepas. Mini adalah cara yang indah pula untuk mejalani hidup.

Jadi mengapa Anda tidak memberi kepada kehidupan ini? Berilah segenap kebaikan, cinta, energi Anda kepada kehidupan, maka Anda akan tahu apakah melepas itu dan apakah sesungguhnya makna kehidupan spiritual itu.

4. Batin Teflon

Cara keempat untuk melepas adalah memiliki batin ala Teflon. Maksdunya tidak ada apa pun yang menempel padanya. Anda memiliki momen indah ini, nikmatilah sekarang; ketahuilah bahwa ini pun akan berlalu, sehingga Anda bisa bebas dan siap untuk kedatangan momen berikutnya, dan melepas pula momen itu.

Orang-orang yang memiliki terlalu banyak pengetahuan tidak akan bisa memahami kebenaran saat kini. Terlampau sering kita menyantap menu –pengetahuan– kita belaka dan tidak menyantap makanannya – pengalaman. Itulah sebabnya saya katakan: jangan pernah biarkan pengetahuan menghalangi kebenaran. Namun begitu banyak orang berkata, “Tapi Budha berkhotbah…”, “Yesus bersabda…”, “Para pakar mengatakan..”, “Pemerintah memutuskan..” atau apapun. Memangnya kenapa? Jadi ingatlah bahwa semua pengetahuan hanyalah papan petunjuk, hanyalah arah, mereka bukanlah yang sejati. Belajar cara menjadi bebas. Itulah cara untuk melepas.

Ruang HR NICI – Karawang, 250215

Oscar note pending dulu