Melampaui Zona Nyaman Rasio dan Emosi Kita

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya by Ajahn Brahm | baca juga ulasan best of nya

Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” – Pepatah Buddhis

Saya sudah baca seri keduanya, ga selesai. Saya udah baca versi best of-nya, selesai. Karena tipis dan pinjaman. Maka ketika saya ada kesempatan baca versi pertama, pinjaman juga maka harus tuntaskan. Sempat mengendap hampir setahun di rak, bukan karena bacaan berat, tapi karena non-fiksi dan cara berceritanya terpenggal per bab per cerita sehingga lebih ringan, ga ada degub jantung khawatir akan kisah, tak ada rasa penasaran sehingga dibaca santuy, maka ketika akhir tahun lalu kelar, huft leganya. Sempat coba kuulas bulan lalu, tapi ga kelar, dan akhirnya bulan ini kutuntaskan segalanya, biar ga numpuk dan bisa segera kukembalikan. Dipinjam lagi ding, sama Natasha.

Seorang biksu tidak diperkenankan menerima, memiliki, atau memegang uang, apapun macamnya. Saking miskinnya, sampai-sampai biksu mengacaukan statsitik pemerintah. Si Cacing dan Kotorannya, sekadar bagus. Banyak kisah adalah saduran, mayoritas adalah pengalaman Ajahn Brahm dalam menekuni Buddha selama 35 tahun. Sebagai biksu yang melalalangbuana, akhirnya menuturkan hal-hal yang terjadi semasa mengabdi. Phra Visuddhisamvarathera atau Ajahn Brahmavamso atau seperti yang tertera di sampul, Ajahn Brahm bernama asli Peter Betts, orang Inggris yang memutuskan menepi di pedalaman Thailand, lalu ke Australia, pengabdiannya sungguh menakjubkan. Kegigihannya luar biasa. Kisah di sini kebanyakan dari gurunya, Ajahn Chah dari Thailand bagian timur laut. Brahm lahir di London tanggal 7 Agustus 1951, meraih gelar Sarjana Fisika Teori di Cambrigde University. Pada usia 23 tahun memutuskan bertapa.

Ada 108 cerita, yang diklaim pembuka pintu hati, kisah yang menyentuh, menggelikan dan mencerahkan, yang terbagi lagi dalam 11 bab, lalu dipecah dalam sub-bab sebagai judul. Rata-rata ga ada benang sambung dari satu ke cerita lain, jadi memang goresan merdeka. Dalam Buddha ada 4 kebenaran mulia, urutan lazimnya: 1). Kebahagiaan 2). Sebab Kebahagiaan 3). Hilangnya kebahagiaan 4). Sebab hilangnya kebahagiaan.

Dibuka dengan kisah batu bata jelek, yang sudah sering saya dengar tentang dua batu bata yang tersusun jelek di antara susunan yang sempurna. Dalam kunjungan umat, justru batu bata jelek yang miring itu tampak istimewa karena beda dengan yang lain. dua bata jelek yang punya ‘ciri unik’. Kisah ini sudah beberapa kali diperdengarkan, tersebar di internet. Hanya implementasi syarat sukses ada tiga, jadi yang pertama, jadi yang terbaik, atau jadilah yang berbeda. Jelas bata itu sukses di sisi terakhir.

Saya ga terlalu mengingat banyak kisah istimewa di sini, sebagian kecil saja. Namun kalau buku ini kubuka lagi, hanya dengan melihat judulnya saya akan kembali ingat, oh iya kisah yang itu… contoh, barusan banget pas bikin tulisan ini, saya buka judul ‘Mensyukuri Kekurangan’. Dialog antara ayah mertua dengan menantu barunya, bagaimana sang menantu begitu mencintai anaknya, lalu sang ayah menasehati, seperti itulah hidup. Ketika baru menikah, seolah sang istri adalah segalanya, perempuan paling hebat di dunia. Berjalannya waktu, akan melihat kekurangan-kekurangan. Maka muncullah kalimat keramat, “… jika dia tidak punya kekurangan-kekurangan itu, Menantuku, dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari kamu.” Yes. Sepakat.

Atau judul ‘Meramal Masa Depan’, sepintas lihat saja pikiran saya pasti akan menerawang bahwa ramalan masa depan itu, sesuatu yang tak pasti. Karena seperti kata Einsten bahwa satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Rasa takut adalah mencari-cari kesalahan dengan masa depan. Rasa takut adalah unsur utama rasa sakit. Rasa takut membuat rasa sakit tambah menyakitkan. Enyahkan rasa takut, maka perasaan sajalah yang tertinggal. Sebuah momen keputusasaan terkadang bisa membuka pintu kebijaksanaan, pintu yang tak terlihat dalam keadaan biasa. “let go”, biarlah berlalu.

Marah bukanlah respon yang cerdas. Orang bijak selalu bahagia, dan orang yang bahagia tak akan pernah marah. Marah, terutamanya, adalah hal yang tak masuk akal. Pemicu utama kemarahan kita kebanyakan adalah pengharapan yang tak sampai. Kadang kita menginvestasikan diri dalam sebuah proyek yang ternyata hasilnya tak sesuai harap, kita marah. Semua ‘seharusnya’ merujuk pada pengharapan, suatu prediksi masa depan. Masa depan, adalah tak pasti. Terlalu mengandalkan pengharapan masa depan, sesuatu ‘seharusnya’ itu namanya cari-cari masalah.

Yang jadi masalah soal kemarahan adalah kita menikmati amarah. Ada sejenis kecanduan dan kenikmatan besar sehubungan dengan pelampiasan kemarahan. Dan kita tak ingin membiarkan sesuatu yang kita nikmati berlalu begitu saja. Kemarahan akan menghancurkan hubungan dan memisahkan kita dari teman-teman kita. Sebuah masalah dengan sebuah solusi memerlukan sebuah keputusan. Dan sebuah keputusan memerlukan strategi.

Ketika seseorang menyakiti kita, kita tidak harus menjadi penghukum bagi mereka. Islam, Kristen, Yahudi tentunya percaya bahwa biarlah Tuhan yang akan menghukum mereka. Buddha, Hindu atau Sikh percaya hukum karma akan menyediakan ganjaran bagi penganiaya. Atau hukum agama modern bernama psikoterapi, Anda tahu bahwa penganiaya akan menjalani terapi yang sangat mahal selama bertahun-tahun karena rasa bersalah. Mari memaafkan, jangan jadi ‘algojo’. Kita tetap menunaikan kewajiban bermasyarakat yang menyejukkan.

Kita semua senang dipuji, sayangnya sepanjang hari kita sering mendengarkan kejelekan kita. Kurasa itu adil, karena kita ternyata juga terlampau sering membicarakan kejelekan orang lain. Kita jarang menyampaikan pujian. Kata pujian gratis padahal, mempererat hubungan, menciptakan kebahagiaan. Kita harus lebih sering menaburnya di sekeliling kita. Orang yang paling sulit dipuji adalah diri kita sendiri. Kita terlampau sering mendapat dokrin, pujian terhadap sendiri mencipta besar kepala. Bukan begitu. Yang benar adalah besar hati. Memuji kualitas baik diri kita sendiri berarti menbesarkan hati dengan cara positif.

Cerita berjudul ‘Pengajaran yang Tak Ternilai’ memberi makna yang dalam. Bagaimana biksu ketika ditanya berapa tarif meditasi bilang gratis, ditanggapi berarti Anda ga bagus. lalu berapa tarif ceramah, dibilang gratis lagi, dicap ga bagus. Well, jadi apa yang kalian dapat? Kebahagiaan! Mantab gan. Ini yang kusuka. Dari pengalaman ini, sang biksu lalu mengubah jawab saat ditanya tarif. Pengajaran ini tak ternilai.

Salah satu pengajaran tak ternilai itu adalah mengalahkan depresi. Terlihat sederhana, nyatanya tak semudah itu. depresi adalah penjara yang yang sering dialami kita-kita. ‘Inipun akan berlalu’ membantu melecut semangat kita, juga menghindarkan salah satu penyebab depresi terberat, yaitu tak menyukuri saat ini.

Salah satu puisi bagus dari Jonathan Wilson-Fuller, saya foto ya.

Saya mencintai diri saya sendiri lebih dari kalian semua.” Cinta sejati itu langka. Ada dua jenis kebebasan di dunia: kebebasan untuk berkeinginan (freedom of desires) dan kebebasan dari berkeinginan (freedom from desires). “Ketika tidak ada yang bisa dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain.

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya | by Ajahn Brahm | Diterjemahkan dari Opening the Door of Your Heart | Penerjemah Chuang | Penyunting Kartika Swarnacitra, Handaka Vijjananda | Penggambar sampul Shinju Arisa, Jeff Liang | Perancang dan Penata Vidi Yulius Sunandar | Copyright 2004 | First published in Australia by Thomas C. Lothian Pty Ltd. | ISBN 978-602-8194-31-0 | Penebit Awareness Publication | Cetakan 25, Mei 2012 | Skor: 3.5/5

Segala masalah manusia disebabkan oleh ketidaktahuannya tentang bagaimana untuk duduk tenang.” – Blaise Pascal.

Karawang, 210120 – 200220 – Bee Gees – You Should be Dancing

Thx to Titus RP

4 Cara Melepas – Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya 2!

Ketika kemarin saya diberitahu bahwa pagi ini dapat giliran mendapat ‘ngisi’ briefing inspirasi dan motivasi pagi. Malamnya saya langsung lihat buku-buku yang ada di rak, buku mana yang akan saya nukil. Setelah pilih dan pilah akhirnya saya comot buku karya Ajahn Brahm: Si Cacing Dan Kotorannya 2!, yang saya beli tahun 2012. Saya ingat sekali, waktu itu bulan November saya lagi berduka, dan buku ini sedikit banyak menyembuhkan.

Buku berisi 108 cerita pembuka hati. Perlu diketahui ajahn Brahm adalah seorang Budha yang lahir di London, Inggris. Lulusan Cambridge University ini memutuskan mejadi biksu dan berlatih di bawah bimbingan Ajahn Chah selama 9 tahun di Thailand kemudian ke Australia. Nah materi yang saya sampaikan tadi pagi saya ambil dari bab 14 – 18 tentang “4 cara melepas”. Entah Anda bermeditasi atau tidak, entah Anda Buddhist, Kristiani, Muslim, atau apapun, kita masing-masing dari waktu ke waktu harus belajar cara melepas. Dengan tidak mampu melepas, membawa terus kenangan buruk masa lalu, perasaan negative masa kini dan ketakutan masa depan akan menimbulkan banyak duka dan rasa sakit. Bukan hanya pada kita namun juga pada orang-orang yang bersama kita. Kadang kita memiliki segala ketakutan mengenai masa depan. Masalahnya kita tahu, bahwa melepas itu masuk akal – tapi kita tidak mampu melakukannya. Berikut adalah 4 cara melepas:

1. Satu Hal Pada Satu Waktu

Ajahn Chah memungut sebuah ranting di pinggir jalan. Ia berbalik dan berkata, “Brahmavamso, apa ini berat?” Sebelum saya menjawab, ia sudah melempar ranting itu ke semak-semak lalu berkata, “Lihat kan, itu hanya berat jika kita melekat padanya”. Ya itu hanya berat ketika kita memegangnya, namun begitu kita lepas, tidaklah berat lagi. Sungguh mendalam, sederhana dan tak terlupakan.

Jadi hal-hal berat apa yang Anda miliki sekarang dalam hidup? Pekerjaan, kanker, kesulitan uang,… apakah itu berat? Hanya berat jika Anda memegangnya. Hal ini memberi Anda pemahaman bahwa cara pertama untuk melepas adalah “membuang” hal-hal. Anda menjalani hidup yang begitu rumit. Anda memiliki begitu banyak hal di dalam keranjang, itu berarti Anda tidak bisa berpergian dengan ringan dalam menjalani hidup.

Saya tak tahu apakah sejarah hidup saya bagus atau buruk. Saya telah membuang batu itu lama sekali. Masa lalu adalah penjara. Masa lalu adalah sebuah sel dengan pintu yang terbuka, kita bisa melangkah keluar dari sana kapan saja kita suka, namun sering kali persis seperti orang yang telah lama di penjara, mereka takut meninggalkan penjara.

Anda tidak belajar dari masa lalu, Anda sebenarnya mendapat lebih banyak duka dari masa lalu. Anda akan belajar jauh lebih banyak dari melepas masa lalu ketimbang terus menyimpan masa lalu itu. Lao Tzu, seorang guru besar dari China setiap sore berjalan-jalan. Ia akan memilih salah satu siswanya – hanya satu siswa yang boleh pergi bersamanya. Namun ada aturan emas, jika berjalan dengan guru agung Tao, Anda harus diam tidak bicara sepatah kata pun. Suatu hari siswa muda, berjalan bersama guru, dan mereka sampai di puncak gunung saat matahari terbenam. Matahari terbenam sangat indah, sampai pemuda itu tak tahan bergumam, “Wow.. indahnya matahari terbenam.” Ia telah melanggar aturan. Lao berbalik dan masuk ke Biara dan tak pernah mengizinkan siswa tersebut untuk ikut berjalan lagi bersamanya. Sahabat pemuda tersebut mohon ampunan, “Dia kan  cuma  mengucapkan satu kalimat. Ampunilah dia Guru, menjaga kesunyian masa sampai segitunya.” Saat itulah guru besar berkata: “Ketika pemuda itu berkata betapa indahnya matahari terbenam, dia tidak melihat matahari terbenam lagi. Ia hanya memperhatikan kata-kata dalam batinnya.”

2. Mau Di Sini

Cara melepas kedua adalah mengetahui apa itu sesungguhnya kebebasan. Jika kita tidak suka mendengarkan ceramah, kita bertanya-tanya kapan ceramah akan berakhir, itulah penjara kita. Kita tidak ingin berada di sana. Jika kita berada dalam hubungan yang tidak kita sukai, hubungan itulah penjara kita. Jika kita berada dalam pekerjaan yang tidak memuaskan kita, itulah penjara kita. Bahkan dalam tubuh ini, ketika kita sakit kita tidak ingin ada di sana, tubuh kita pun menjadi penjara.

Namun ada cara yang sangat mudah untuk melepaskan diri dari penjara-penjara kehidupan. Anda tidak perlu mengubah suami anda, istri anda, Anda tak perlu ganti pekerjaan, anda bahkan tak perlu membaik dari penyakit. Anda cukup mengubah sikap Anda menjadi mau di sini.

3. Memberi Tanpa Harap Kembali

Cara ketiga melepas adalah dengan memberi – bukan sekedar memberi, namun memberi tanpa harap kembali. Di Wihara saya, tidak ada tulisan atau plakat tentang siapa yang menyumbang bangunan iti. Tidak ada nama donator, bahkan di tempat retret kami yang dibangun senilai 5 juta Dollar Australia. Banyak orang donator, banyak sekali sumbangan besar dan kecil, namun tak ada satu pun plakat di tempat itu mengenai siapa menyumbang apa.

Apa hubungan hal ini dengan melepas? Ketika Anda menikah dan menjalin hubungan, apakah Anda memberi? Ataukah Anda mengharap sesuatu imbalan? Apakah Anda benar-benar melepas? Terlampau sering kita mengharapkan imbalan dan hal itu malah menyebabkan duka besar dalam hidup, toh pengharapan tak terwujud. Meditasi adalah tindakan memberi tanpa harap kembali. Untuk mengkosongkan, untuk melepas. Mini adalah cara yang indah pula untuk mejalani hidup.

Jadi mengapa Anda tidak memberi kepada kehidupan ini? Berilah segenap kebaikan, cinta, energi Anda kepada kehidupan, maka Anda akan tahu apakah melepas itu dan apakah sesungguhnya makna kehidupan spiritual itu.

4. Batin Teflon

Cara keempat untuk melepas adalah memiliki batin ala Teflon. Maksdunya tidak ada apa pun yang menempel padanya. Anda memiliki momen indah ini, nikmatilah sekarang; ketahuilah bahwa ini pun akan berlalu, sehingga Anda bisa bebas dan siap untuk kedatangan momen berikutnya, dan melepas pula momen itu.

Orang-orang yang memiliki terlalu banyak pengetahuan tidak akan bisa memahami kebenaran saat kini. Terlampau sering kita menyantap menu –pengetahuan– kita belaka dan tidak menyantap makanannya – pengalaman. Itulah sebabnya saya katakan: jangan pernah biarkan pengetahuan menghalangi kebenaran. Namun begitu banyak orang berkata, “Tapi Budha berkhotbah…”, “Yesus bersabda…”, “Para pakar mengatakan..”, “Pemerintah memutuskan..” atau apapun. Memangnya kenapa? Jadi ingatlah bahwa semua pengetahuan hanyalah papan petunjuk, hanyalah arah, mereka bukanlah yang sejati. Belajar cara menjadi bebas. Itulah cara untuk melepas.

Ruang HR NICI – Karawang, 250215

Oscar note pending dulu