Tertawa Bersama Abu Nawas

image

Kemarin setelah top up pulsa pulangnya mampir agen majalah langganan. Sebenarnya cuma iseng cari bacaan di awal bulan. Majalah film dan bola terbaru belum ada. Koran dan majalah berita untuk saat ini off dulu, gara-gara membaca novel Kiss the Lovely Face of God di bab hujan informasi, yang mempunyai efek samping ga bagus, akhirnya sementara ini saya menutup diri dari berita informasi terbaru. Setiap pulang dari agen saya pastikan membawa pulang kertas bacaan. Namun kemarin setelah bongkar sana sini setengah jam saya nyaris nyerah. Karena kenal akrab penjualnya ya dibiarkan saja, mau baca gratis di situ juga ga papa. πŸ™‚
Saat sepertinya rekor-selalu-bawa-pulang-buku dari agen akan pecah, terselip buku tipis yang menarik. Harganya cuma 6 ribu, kisah tentang Abu Nawas yang sudah sangat familiar. Jadi saya putuskan membelinya. Sampai rumah langsung baca, sekali mulai tak berhenti dan langsung habis kelahap 96 halaman.
Memamg bacaan ringan, tapi sebenarnya bobot pesan Nawas ga ringan. Siapa Abu Nawas? Semua orang pastinya sudah kenal dong. Tokoh yang lucu seperti badut yang dianggap seorang sufi. Yang baru saya tahu justru ternyata dia adalah karakter asli bukan tokoh fiktif. Tapi saya yakin kisah-kisahnya banyak yang dilebih-lebihkan. Dia lahir tahun 750 M di Ahwaz dan meninggal dunia di Baghdad di usia 61 tahun. Orang Persia yang mengembara di kota Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul dengan orang Badui padang pasir.
Abu Nawas pandai bersuara, berpantun, menyanyi dan tentu saja kreatif dalam menemukan jalan keluar suatu masalah. Ia sempat pulang ke negerinya namun balik lagi merantau ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid, raja Baghdad. Di buku ini ada 27 kisah, sebagian sudah kubaca di buku pelajaran Bahasa Indonesia, sebagian pernah dinukil di koran, sebagian lagi pernah baca di majalah Bobo.
Ada satu kisah yang ingin ku bagi di sini, yang menurutku sungguh cerdas. Kisah berjudul: Merayu Tuhan.
Abu Nawas sebenarnya adalah ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit. Di antara sekian banyak muridnya ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya.
“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?! “
“Orang yang mengerjakan dosa kecil”, jawabnya.
“Mengapa?”, kata orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Allah.” jawab Abu Nawas.
Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu. Lalu orang kedua bertanya hal yang sama.
“Orang yang tidak mengerjakan keduanya.” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” tanya orang Kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Allah”. Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.
Lalu orang ketiga bertanya dengan pertanyaan yang sama. Abu Nawas menjawab, “Orang yang mengerjakan dosa besar”.
“Mengapa?”.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu.”
Orang ketiga pulang dengan perasaan puas. Karena belum mengerti seorang muridnya bertanya, “Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawabannya yang berbeda?”.
“Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatkan otak dan tingkatan hati. Tingkatkan mata ibaratnya anak kecil yang melihat bintang di langit. Ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata. Tingkatkan otak ibaratnya orang pandai yang melihat bintang di langit, ia berkata bintang itu besar karena ia berpengetahuan. Kemudian tingkatan hati ibaratnya orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu sebenarnya besar. Karena bagi yang mengerti tidak ada sesuatu apa pun yang besar jika dibandingkan dengan Kemaha-Besaran Allah.”
Kini sang murid mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. Ia bertanya lagi.
“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan.”
“Mungkin.”
“Bagaimana caranya.”
Dengan merayuNya melalui pujian dan doa.”
“Ajarkanlah doa itu wahai guru.” pinta murid Abu Nawas.
“Doa itu adalah, Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa’alan naril jahimi, fahabli taubatan wagfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘adhimi”
Yang artinya: Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.
Tertawa Bersama Abu Nawas | Diceritakan kembali oleh: MB Rahimsyah | Gambar dalam: Irsyadul Anam | Penerbit: Penerbit Sadro Jaya Jakarta
Tol Karawang – Jakarta, 080115
Ditulis dalam perjalanan dari CIF ke HO. HR NICI menuju SAP, go live!

Iklan

19 thoughts on “Tertawa Bersama Abu Nawas

  1. YA AMPUN jadi inget waktu 2005 saya punya buku ini, dan baca post ini lagi jadi keinget cerita-cerita yang udah saya baca. Sayangnya buku itu udah hilang di tahun yang sama ketika buku itu dibeli. Tapi baca post ini jadi inget buku kenangan itu dan pengen beli lagii

  2. Waduh waduh,, jd ingat kenangan masa kecil…
    dulu ayah tiap gajian selalu beliin komik tentang kisah nabi, tp ada juga tentang abu nawas…
    bukunya masih saya simpan, kebetulan kemarin jg habis membacakan ceritanya untuk keponakan yg sedang bermain k rumah πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s