(review) Mr. Turner: Unfortunately Fails To Live Up The Biopic

The Great of Eccentric British Painter, Joseph Mallord William Turner (Timothy Spall) atau lebih dikenal dengan J. M. W. Turner adalah pelukis legendaris, dia masuk dalam 10 pelukis paling berpengaruh di dunia. Pelukis lanskap zaman Romantic, air colourist dan print maker pada zaman Renaisans. Butuh dua kali percobaan nonton untuk biopic-nya. Pertama saat Rabu malam, belum setengah jam sudah terlelap. Bayangkan 2,5 jam durasi dengan tempo sangat lambat. Kedua pada hari Kamis kemarin saat libur tahun baru Imlek akhirnya di pagi yang mendung, saya berhasil tuntaskan. Hasilnya, sebuah film biopic yang melelahkan.

Film dibuka dengan sebuah pagi yang cerah, dua wanita berjalan sambal mengobrol sepanjang sungai. Lalu muncullah karakter utama Mr. Turner terlihat sedang menggambar matahari yang sedang terbit. Dari coretan di buku kecil tersebut, dia bawa pulang lalu dipindahkan ke kertas kanvas. Tinggal bersama pembantunya yang gugup Hannah Danby (Dorothy Atkinson) dan ayahnya William Turner (Paul Jesson), keseharian Mr. Turner adalah melukis lalu travelling untuk mencari inspirasi. The sun is God, dia sering melukis matahari tenggelam di pagi hari saat terbit agar waktu yang dia punya lebih banyak. Pagi adalah awal, sehingga mencerahkan.

Suatu hari datanglah Sophia Booth (Marion Bailey) seorang akademisi yang tampak cerdas. Dia mengajarkan seni melukis dengan cara memantulkan cahaya mentari ke kristal lalu muncullah pelangi, dari pantulan pelangi tersebut Mr. Turner bisa membuat sketsa yang menawan, yang akan mempengaruhi karya-karya lukisannya. Tampak betapa ayahnya bergitu dekat dan bersahabat. Sehingga saat ayahnya meninggal Turner begitu terpukul dan depresi. Dia kehilangan pegangan hidup. Terlibat banyak affair dengan wanita, termasuk pembantunya yang loyal. Salah satu adegan memorable film ini adalah saat pengambilan gambar. Sungguh di zaman itu bikin foto saja ribet. Beruntungnya kita hidup di zaman serba praktis. Lalu scene saat seluruh lukisannya mau dibeli seorang konglomerat dengan harga fantastis (di zaman itu), dia menolak dengan alasan agar lukisannya bisa dipamerkan dan dinikmati orang banyak. Hati yang besar, yah walau beberapa lukisannya kini banyak yang hilang.

Saat dirinya mencari penginapan yang menghadap pantai, agar bisa menangkap cahaya mentari saat terbit atau tenggelam dirinya lagi-lagi terlibat affair dengan pemilik penginapan. Disinyalir Mr. Turner memiliki anak diluar pernikahan. Sampai film berakhir, nyaris tak ada sesuatu yang WOW ditampilkan. Termasuk di masa senja saat Hannah bersama anaknya mau bertemu denganya namun ditutup dengan anti-klimaks. Sungguh sayang.

Bayangkan liburanku yang berharga kulepas nyaris 3 jam untuk film yang booooring ini. Saya bertahan karena awalnya berharap ada sesuatu yang layak ditunggu, namun tak kudapat. Dengan setting tahun 1800-an pemandangan yang ditampilkan memang klasik dan elegan serta penataan skor music yang renyah, dan hanya itu kelebihan film ini. Mr Turner sendiri digambarkan orangnya arogan dan kontraversi. Salah satu lukisannya adalah seorang pelacur yang berpose yang banyak dicerca namun berkelas. Di masa akhir hidupnya dia pergi ke London sampai kematiannya. Biopic yang gagal, lupakan.

Mr. Turner | Director: Mike Leigh | Screenplay: Mike Leigh | Cast: Timothy Spall, Paul Jesson, Dorothy Atkinson | Skor: 2/5

Karawang, 200215

Iklan

(review) Saving Mr. Banks: Don’t You Ever Stop Dreaming

Gambar

Walt Disney: Well, there’s buses, mailboxes, guard’s uniforms, the English flag…

Ini adalah film kenangan untuk penulis Pamela Lyndon Travers (diperankan dengan brilian oleh Emma Thompson) atau lebih dikenal dengan P.L Travers, salah satu karya besarnya ‘Mary Poppins’ adalah sebuah buku yang sangat personal olehnya. Jadi saat bukunya akan diadaptasi film, dia mengawasi dengan ketat. Takut maha karyanya dirusak Hollywood, dia terbang langsung dari London ke New York untuk memantau langsung proses pembuatan filmnya.  Mrs Travers  adalah seorang yang perfeksionis jadi adaptasi filmnya harus sesuai keinginannya. Alurnya maju mundur antara masa kecil P.L Travers dengan masa proses pembuatan film tahun 1960an.

Diceritakan Pamela masa kecilnya begitu sulit. Ayahnya Travers Goff (Colin Farrel) adalah seorang bankir yang memperjuangkan keluarga karena kesulitan keuangan. Mr. Goff jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia membuat Pamela kecil histeris karena belum siap kehilangan sosok seorang ayah. Dari pengalaman hidupnya tersebut dan dibalut fantasi itulah lahir buku yang kita kenal: ‘Mary Poppins’. Sehingga saat Mr. Disney (Tom Hanks) akan mengadapasinya P.L Travers galau, takut dirusak.

Film ‘Mary Poppins’ sendiri sukses besar yang rilis tahun 1964, sayangnya Walt Disney sudah meninggal. Mendapatkan 13 nominasi Oscar dan pendapatakn lebih dari 100 juta Dollars. Masuk dalam salah satu film yang paling menguntungkan. Termasuk dalam koleksi Film Disney Masterpiece. Lagu-lagunya memorable, dan sering sekali diputar di Amerika.

Penampilan Tom Hanks sebagus biasanya. Mengherankanku dia tak masuk nominasi Oscar di tahun ini. Padahal penampilan yang brilian juga ditampilkan saat menjadi kapten Phillips. Sedang Emma dengan luar biasa bisa menampilkan sosok penulis yang melihat detail-detail kecil sehingga sulit dipuaskan. Ini mungkin adalah satu akting terbaik Emma. Dan ada satu lagi aktor yang tampil memukau, sebagai sopir bernama Ralph, Paul Giamatti yang low tapi sangat antusias terhadap cerita Mary Poppins. Di sebuah adegan dia minta tanda tangan yang dipersembahkan untuk anaknya. Salah satu adegan yang paling menawan tahun 2013 tentu saja saat Mr. Disney mengalah pergi ke London. Itu scene masterpiece yang menggugah semangat. Sayangnya penampilan kaku Colin Farrel sedikit mengendurkannya.

Butuh kesabaran menikmati ‘Saving Mr. Banks’. Satu jam pertama mungkin sedikit membosankan karena akan dipenuhi drama. Namun alurnya tetap terjaga. Ibaratnya membangun susunan cerita, mulai dipertengahan dan sampai akhirnya meledak marah Travers itu kita seperti disuguhi sepiring coklat, terasa manis. Mengingat cv sang sineas yang telah membuat film ‘the Blind Side’ yang mengantar Sandra Bullock akhirnya menerima Oscar pertamanya maka ‘Saving Mr. Banks’ termasuk sebuah pencapaian manis John Lee Hancock.

‘Mary Poppins’ bercerita tentang seorang pengasuh yang…, hei memang ada yang tak tahu cerita legenda ini? Well, ini salah satu karya klasik literature cerita anak-anak wajib baca dan koleksi. Jadi rasanya kurang pas saya cerita tentang Penguin di review film pembuatannya. Oiya satu lagi, saat muncul credit title jangan beranjak dulu dari tempat duduk. Ada kado indah, sebuah rekaman asli P.L Travers. Apa isinya? Nikmatilah sendiri agar terasa lebih syahdu!

Saving Mr. Banks

Director: John Lee Hancock – Screenplay: Kelly Marcel, Sue Smith – Stars: Emma Thompson, Tom Hanks, Colin Farrel, Annie Rose Buckley, Paul Giammati – Skor: 4/5