Ghost Stories – Charles Dickens

image

Karena Natal adalah satu-satunya waktu yang sangat tepat untuk mengenang semua penyesalan, kesalahan, masalah-masalah di dunia, yang kembali timbul di benak manusia, sama halnya dengan segala kenangan tentang kebaikan.

Kesan pertama begitu selesai membaca buku ketiga Charles Dickens ini adalah typo. Saya menemukan ratusan typo. Dengan jumlah halaman yang 200an, maka kalau dirata bisa jadi typo-nya nyaris setiap lembar. Entah apa yang dilakukan Penerbit sehingga hal krusial dalam memuaskan pembaca bisa kelolosan. Sayang aja, buku bagus diterjemahkan dengan buruk sehingga harapan itu tak bisa maksimal.

Kesan keduanya, kisah malam Natal yang disajikan langsung mengingatkanku pada A Christmass Carol. Saya belum membaca atau menonton adaptasi filmnya, namun dari berbagai review sepintas kisahnya mirip. Tentang seorang kikir yang diajak berjalan-jalan dengan ‘hantu’ untuk melihat kehidupan orang-orang sekelilingnya di malam Natal. Sebuah perjalanan religi yang membuatnya berubah total setelah siuman. Nah kisah utama di sini seperti itu. Apakah ini semacam kumpulan kisah Dickens sehingga memasukkan cerita Chistmass Carol menjadi Kidung Natal?

Kesan ketiga, betapa Charles Dickens sangat menginspirasi banyak orang. Di sesi akhir akan kujelaskan sedikitnya ada dua orang yang terobsesi kisah ini hingga plot utama bukunya nyaris sama dengan Kidung Natal.

Secara garis besar Ghost Stories berisi tiga cerita utama yang berbeda dan berdiri sendiri. Ketiganya hanya disambungkan bahwa malam Natal begitu sakral dan membuat para karakter merenungkan hidup. Kisah pertama Kidung Natal, yang saya sangka terjemahan A Chistmass Carol, kedua Anak Yang Memimpikan Bintang dan ketiga Lelaki Yang Dihantui Dan Penawaran Sang Hantu.

Kisah tentang Scrooge yang pelit. Seorang pengelola biro bantuan hukum Scrooge and Marley Firm ini tetap mempertahankan nama si tua Marley yang sudah meninggal. Scrooge seorang yang kasar, orang tua dengan dosa melimpah karena ia suka memeras, merenggut, mencengkeram, mencabik dan menindas orang lain. Dan yang paling mengerikan tamak. Sifatnya yang keras dan serakah begaikan batu api yang tidak pernah memberikan percikannya secara cuma-cuma pada siapapun yang membutuhkan api. Dia menutup diri dari siapapun, tak membutuhkan bantuan siapapun, senang mengasingkan diri seperti tiram yang tenggelam dalam lautan lumpur. Hatinya yang dingin seperti es kutub terlukis dari sosok tuanya, terbayang hidungnya yang runcing, tergambar di kerutan pipinya, terlihat dari gaya berjalannya. Sifatnya yang dingin tergambar di matanya yang selalu merah, tampak bibirnya yang membiru, suaranya parau dan ringan lidah. Sifat dingin hati terukir di wajahnya di alis matanya, dan dagu kurusnya. Rasa dingin selalu ditebarkan di mana-mana. Dia membuat hari-hari sibuk di kantor terasa dingin, dan bahkan tak berusaha ‘menghangatkan’ suasana di hari Natal.

Ketika keponakannya datang mengucap selamat Natal, ia menjawab ketus. “Bah! Omong kosong. Rayakan Natal dengan caramu sendiri, dan biarkan aku merayakan dengan caraku sendiri.”

“Merayakan? Tapi Paman tidak pernah merayakan.”

“Kalau begitu biarkan aku tidak memperdulikan Natal, semoga Natal dapat memberikan kebaikan padamu! Semoga Natal dapat memberikan kebaikan kepadamu!”

Lalu juru tulisnya, karyawan bergaji hanya 15 Shilling yang teraniaya, yang di tanggal 25 Desember meminta libur. “Dan ini tidak adil. Jika aku memotong gajimu, kau pasti keberatan bukan? Namun kau tidak berfikir aku sedang tidak bersikap adil bukan? Karena aku membayarmu gaji sehari penuh meski kau tidak bekerja. Sungguh alasan bodoh untuk merampok uangku setiap tanggal Dua Lima Desember, tapi kukira kau akan menikmati waktu libur sepanjang hari besok. Datanglah lebih awal di hari berikutnya.”
Lalu seorang peminta-minta dari yayasan untuk menyumbang, diusir. “Peraturan dan Undang-Undang Rakyat Miskin benar-benar dilaksanakan bukan?”

Begitulah. Di malam Natal dia-pun tak berbuat baik. Menghabiskan malam dengan makan malam di sebuah kedai menyedihkan ditemani sepi. Ia tinggal sendiri di rumah muram dengan penerangan seadanya. Nah, malam itu segalanya berbeda. Malam itu pintunya diketuk, yang datang adalah almarhum Marley. Rekan kerjanya yang meninggal tepat 7 tahun lalu. Hantu Marley datang untuk memberi wejangan yang membuat Scrooge ketakutan. Hantu Jacob Marley setelah berbincang lama pamit dengan memberikan peringatan. “Kau akan didatangi oleh tiga hantu. Tunggulah hantu pertama ketika lonceng berbunyi satu kali. Tunggulah hantu kedua malam berikutnya di jam yang sama. Hantu ketiga akan datang di malam setelahnya ketika dentang lonceng pukul dua belas berhenti bergema. Dan ingatlah jangan berharap bertemu denganku lagi, ingatlah semua yang terjadi di antara kita, demi kebaikanmu sendiri.”

“Tidak bisakah mereka datang bersamaan dan menyelesaikan hal itu dengan singkat Jacob?”

Dan Scrooge pun memulai tur malamnya bertemu ketiga hantu. Malam yang akan mengubah segalanya. Malam Natal yang membuat Scrooge sadar selama ini salah. Namun ketika terbangun dari segala penampakan itu, apakah ada kesempatan kedua? Malam Ganjil itu seakan tak berujung dan akankah jadi malam terakhirnya. Ah, semoga belum terlambat untuk berubah.

Cerita kedua lebih sederhana karena hanya terdiri satu bab. Namun tak sesederhana yang kukira karena memang temanya berat. Sebuah pertanyaan muncul, “Seandainya seluruh anak di jagat raya ini mati, akankah bunga-bunga, sungai-sungai, dan langit akan bersedih?” Ya, dalam pemikiran mereka meyakini bahwa alam semesta akan menangis. Karena menurut mereka, kuncup-kuncup di sela ranting adalah anak bunga, gemericik air yang merembes dari pegunungan di hulu akan menjadi anak-anak sungai di hilir, dan kerlap-kerlip titik kecil yang bertebaran di langit malam, pastilah anak-anak bintang, mereka semua pastilah akan menangis ketika melihat teman bermain mereka, anak manusia, mati.

Ada satu bintang yang selalu muncul mendahului bintang lainnya, tak jauh dari puncak menara Gereja, tepat di atas pemakaman. Bintang itu lebih besar dan lebih indah dari bintang lainnya. Mereka berdua selalu setiap melam memandangi bintang kesayangan tersebut sambil bergandengan tangan di jendela. Namun takdir mewujud sang adik meninggal di usia belia. Sehingga kini sang kakak tak bisa lagi berebut dulu-duluan menyebut “Aku melihat bintangnya” sambil bergandeng tangan.

Sang adik menunggu kedatangan sang kakak di langit. Ketika ada pendar bintang yang menyongsong langit, sang adik bertanya pada malaikat, “Apakah kakakku datang?” sang malaikat menjawab, “Belum waktunya.” Tahun berganti, setiap ada bintang baru yang muncul ia selalu bertanya hal yang sama. Sampai kapankah ia menanti (kematian sang kakak)?

Cerita ketiga lebih rumit karena lingkupnya lebih luas dan karakternya saling silang. Tentang tuan Redlaw, seorang guru terpandang yang mempunyai kenangan buruk di masa lampau. Dirinya seperti dikejar bayang, berusaha menutupi kebobrokan dirinya. Di malam Natal dirinya bertemu hantu yang memberi petuah. Sama seperi kisah Scrooge, namun ia bukan orang kikir, keras kepala atau semena-mena ia adalah penanggung dosa, ketakutan aibnya diketahui orang lain. “Mengapa aku terasa tersiksa? Semua ini bukan kenangan egoku. Aku sungguh menderita karenanya. Setiap manusia memiliki sesal, sebagian besar juga memiliki kesalahan memalukan: tak bersyukur, iri hati, hawa nafsu, dan semua hal tercela di dunia. Siapa yang tak ingin melupakan sesal dan kesalahan masa lalu meraka?”

Sang hantu menawari tuan Redlaw, “Aku mempunyai kekuatan untuk menghapus ingatanmu – meninggalkan sedikit – mengaburkan sisa-sisa ingatanmu, hingga sama sekali lenyap. Ingatan yang terhapus bukan ilmu pengetahuan, bukan hasil penelitian, bukan hal seperti itu. Tapi rangkain perasaan kusut berbelit dan berhubungan denganya. Itulah ingatan yang akan kubuang, semua itu akan lenyap. Katakan, kau setuju?

Tuan Redlaw tentu saja bertanya apa konsekuensinya? Menghapus kenangan buruk adalah sebuah pemberian karunia. Sang hantu memberi tugas kepadanya, “Kekuatan yang aku berikan kepadamu ini harus kau sebarkan kepada orang lain, terserah kepada siapapun mereka. Tanpa melaksakan kewajibanmu itu, apa yang telah kau peroleh ini akan lenyap secepat kau mendapatkannya. Lanjutkan! Jadilah sang Pembebas! Bebaskan dari kenangan buruk, detik ini juga sebarkan karunia ini. Pergilah, bersuka citalah atas kebaikan yang telah kau menangkan dan kebaikan yang akan kau lakukan!”

Redlaw tersadar dengan kepala pening. Wahyu yang diterimanya harus disebarkan. Bisakah ia mencari orang dengan kenang buruk untuk dihapus?

Sayang sekali, buku sebagus ini diterjemahkan dengan buruk. Setengah hati. Kisahnya absurb tentang Natal, hari spesial umat Kristiani. Judulnya memang cerita hantu, namun tak ada hal seram yang ditampilkan. Hantu yang datang kepada para tokoh lebih kepada malaikat yang memberikan wejangan untuk hari esok yang lebih baik.

Setelah selesai baca, saya jadi meragu akan originalitas cerita dua buku yang sudah kubaca. Pertama The Five People You Meet In Heaven-nya Mitch Albom. Seorang kakek bernama Eddie yang sekarat diajak berkeliling oleh ‘hantu’ untuk bertemu lima orang di dunia antara untuk melihat masa lalunya. Kedua bukunya Tere Liye berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Di malam takbir Lebaran, Rehan seorang kakek 60 tahun yang sekarat didatangi ‘hantu’ untuk berjalan-jalan di masa lalu, bertemu orang-orang yang pernah hidup bersamanya.

Terlalu mirip. Jiplak atau terinspirasi? Dilihat dari tahun edar buku jelas, Charles Dickens yang tertama. Lalu Mitch Albom barulah Tere. Aturan karya cipta memang rancu, sehingga tak bisa kita sembarangan cap ‘copycat!’ oh ‘original’, oh ‘terinspirasi’. Yang pasti setelah baca Ghost Stories kedua buku itu rate di mataku langsung drop di titik terendah.

Ghost Stories | by Charles Dicken | Penyunting Jarot Setyaji | Desain sampul Indra Fauzi | Penata letak Asep Aziiz Maajid | Penerbit Media Kita | ilustrasi cover Nbataniil, diperoleh secara legal dari http://www.istockphoto.com | cetakan pertama, 2012 | iv+256 hlm, 13×19 cm | ISBN 979-794-383-6 | Skor: 4/5

Karawang, 251216 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s