Alice Di Negeri Ajaib #14

image

Kisah klasik lagi. Kisah yang sudah familiar tentunya bagi pecinta dongeng anak-anak. Di tahun 2007 saat tumpukan buku belum sebanyak sekarang, rasanya kisah Alice adalah yang terbaik. Awalnya kukira ini cerita untuk anak-anak, seperti yang kalian tahu juga kan. Namun setelah selesai baca, coba renungkan. Saya malah kurang setuju. Cerita yang dijabarkan Sir Lewis ga lazim. Anak-anak ga akan langsung paham petualangan yang dijalani Alice. Maaf, orang dewasa juga belum tentu tahu maksudnya. Penafsirannya terlampau luas, terlalu banyak. Dan sepertinya tak akan ada habisnya diperdebatkan sampai 7 generasi ke depan. Alice In Wonderland tentu saja salah satu buku paling berpengaruh di dunia. Lupakan nihilitas, ini kisah abadi.
Alice bosan saat menemani kakaknya yang sedang membaca buku tanpa gambar di bawah pohon. Alice lalu melihat seekor kelinci putih memakai mantel dan membawa jam. “Aku sudah terlambat”, tuturnya lalu masuk ke lubang tanah. Alice yang penasaran mengikuti, dia terjatuh ke lubang yang seakan tanpa dasar. Rasanya sudah lama sekali dia jatuh, berkilo-kilo. Jatuhnya lalu melambat, membuat Alice bisa berifikir, bagaimana dasar sumur ini? Sempat pula dia mengkhawatirkan Dinah, kucingnya di rumah. Semoga tak ada yang lupa memberinya susu di acara minum teh nanti.
Sampai akhirnya Alice terhenti dari gravitasi. Dia bertemu lagi dengan Kelinci Putih, yang berujar “Oh demi telinga dan janggutku. Aku sudah sangat terlambat.” Diikutinya kelinci itu di kelokan demi kelokan sampai pada ruangan yang banyak pintu, semuanya terkunci. Ada meja berkaki tiga dengan kunci emas. Namun saat kunci tersebut berhasil membuka salah satu pintu, alice tak bisa masuk. Terlalu kecil, kemudian dia-pun kembali ke meja tadi dan menemukan sebotol minuman dengan tulisan: “MINUMLAH”  dan Alice pun mengecil sayangnya dia lupa sama kunci yang di atas meja sehingga saat inci demi inci tubuhnya menyusut dia ga bisa masuk ke pintunya. Dia menangis di bawah meja, saat menangis itulah ada kue kecil dalam bok dengan tulisan “MAKANLAH AKU” dengan huruf besar dan indah. Tubuh Alice membesar dan kembali menangis sampai airnya menganak sungai. Lalu sayup-sayup terdengar suara kelinci berjalan mendekat dan berkata, “Oh Permaisuri, permaisuri! Oh pasti dia akan marah karena menungguku terlalu lama.” Namun air mata kini sudah memenuhi ruangan. Banjir melanda, Alice lalu berenang. Ditemukannya tikus, bebek, merpati, elang, angsa serta binatang aneh lainnya. Bersama-sama mereka berenang ke tepian.
Sesampainya di tempat kering mereka bicara seolah adalah teman lama, sudah akrab. Mereka saling cerita, ngelantur ke mana-mana sampai menunggu tubuh kering. Namun ada yang mengusulkan, “cara terbaik untuk mengeringkan tubuh adalah dengan balapan antar peserta pertemuan.”
“Ah, cara terbaik untuk menjelaskan adalah dengan melakukannya.” Balapan pun digelar. Kalau ada lomba harus ada hadiahnya. Jadi siapa yang akan memberi hadiah? Kisah ini akan terus berputar membingungkan. Setelah rapat dengan binatang-binatang Alice dihadapkan dengan banyak hal aneh lainnya. Bertemu kadal, ulat yang bijak, babi, Dormouse, kucing Chesire, dan tentu saja March Hare yang terkenal itu. Semua petualangan memberi pelajaran baru buat Alice (dan pembaca). Dan kisah ini menghantarnya pada Ratu kejam yang gemar berteriak, “penggal kepalanya!”
Dari semua petualangan aneh itu, akankah Alice bisa kembali ke rumah? Bisakan dia keluar dari negeri ajaib tersebut? Semuanya tersaji dengan seru sekaligus membingungkan. Dulu di forum buku sempat ada yang mendebat, “harusnya Alice curiga saat melihat kelinci bicara, apalagi kemudian dia bicara dengan binatang-binatang lain” Dijawab, “dunia ajaib ini tak bisa dilogika. Sama seperti saat kita mimpi. Apakah kita bisa dengan sengaja keluar dari mimpi aneh? Dalam mimpi kita bisa melakukan apa saja, bisa menjadi apa saja, bisa berubah jadi siapa saja.” Lalu didebat lagi, “jadi cerita Alice ini dunia mimpi?”. Nah ini yang jadi inti segala kisah. Imajinasi Sir Lewis memang luar biasa, ada yang bilang iya. Ada yang bilang tidak. Ada juga yang keukeh bahwa dalam fiksi sekalipun, logika harus tetap ada. Well, semuanya mungkin. Yang pasti, ini kisah tak biasa yang ditulis di abad 19, waktu yang jauh ke belakang dari sekarang. Waktu yang dengan segala keterbatasannya bisa menyajikan cerita seperti ini tentu saja istimewa. Dan abadi. Serta tak ternilai. Jelas sebagai pecinta fabel, saya memasukkan dalam buku-buku terbaik sepanjang masa.
Alice Di Negeri Ajaib | by Lewis Carol | ilustrasi oleh Sir John Tanniel | first published 1865 | alih bahasa Isnadi | Penerbit Liliput | cetakan pertama, Juni 2005 | 170 hlm; 19 cm | ISBN 979-38131-5-6 | Skor: 5/5
Karawang, 140615 – wonderful tonight
#14 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

(review) Still Alice: It Blew My Mind Away

Spoiler Alert – Tulisan ini mungkin mengandung spoiler.

Berdasarkan novel karya Lisa Genova. Di ulang tahunnya yang ke 50 tahun, Alice Howland (Julianne Moore) mempunyai keluarga yang sempurna. Mempunyai suami yang care, punya 3 orang anak yang sukses dan karir yang Ok sebagai professor di Universitas Colombia. Saat perayaan ultahnya, putri bungsunya Lydia Howland (Kristen Stewart) tidak bisa dating karena ada audisi di luar kota. Acara tetap meriah, suaminya John Howland (Alec Baldwin) sampai memuji Alice terlihat masih muda seperti baru 40 tahun. Anna Howland-Jones (Kate Boswoth) datang bersama suaminya Charlie Howland-Jones (Shane McRae). Melengkapi pesta, anak keduanya yang baru saja putus cinta, Tom Howland (Hunter Parrish). Gambaran keluarga yang sempurna tersaji di awal cerita yang menyedihkan ini.

Sampai pada suatu hari saat Alice sedang olahraga lari di kampusnya dia lupa jalan. Muter-muter sampai akhirnya dia sadar ada yang tak beres di kepalanya. Lalau Alice konsul ke dokter Benjamin (Stephen Kunken). Selama sebulan lebih dia inten ke sana, hasilnya dia di-diagnosa sakit Azheimer tingkat dini. Penyakit yang sebenarnya jarang dialami manusia usia di bawah 65 tahun. Sebagai seorang pengajar, memori jelas sangat penting. Pantas saja saat dia mengisi kuliah, beberapa kata dia lost. Panik, sampai dia menangis, mending kena kanker ketimbang azheimer. Penyakit ini adalah turunan secara genetik. Setelah ditelusuri ternyata turunan dari ayahnya. Takut penyakit ini akan turun ke anaknya, maka seluruh keluarga dikumpulkan.

Disampaikannya berita ini, semua seakan tak percaya. Ibunya yang cerdas dan sehat secara fisik malah kena sakit azhiemer. Disampaikan pula bahwa semua anaknya diminta untuk cek, untuk mengetahui kemungkinan menurun. Di saat bersamaan Anna positif hamil, dari usg anaknya kembar. Setelah beberapa lama, saat Alice pulang mengajar dia mendapat telpon. Anna memberitahunya, dia positif sementara dua adiknya negative. Kalut, Alice meminta maaf.

Semakin hari ingatan Alice semakin menurun. Main game cari kata di android dia sering gagal. Data pribadinya dia tulis di HP seperti tanggal lahir, tempat tinggal, sampai apa saja yang harus dilakukan. Dia lalu membuat video apa yang harus dilakukannya ketika ingatannya benar-benar kritis. Video berisi intruksi buatnya sendiri untuk ‘bunuh diri’. “Hi Alice, I’m you… And I have something very important to say to you.. hufh”. Di simpan di laptop dengan nama folder butterfly, kenapa kupu-kupu, karena kupu-kupu adalah binatang yang hidup hanya sebulan. Rapuh, namun sangat bermanfaat buat alam. Dia simpan obat di laci paling atas, di bawah lampu biru untuk meminum semuanya lalu berbaringlah. Instruksi yang serem. Dia hidup dari memori HP dan laptop. Dr. Benjamin memintanya untuk mengisi pidato di acara khusus untuk memberi semangat para penderita Azheimer. Pidato yang keren sekali dibawakan oleh Moore. “losing my bearings, losing objects, sleep, but mostly losing memories…”. Seandainya dia menang best actress, scene inilah sebabnya. Natural, rapuh dan menggugah.

Sampai menit film mendekati akhir kita disuguhkan sebuah fakta bahwa betapa memori benar-benar sangat penting. Ditampilkan dengan brilian oleh Moore. Bayangkan, sampai kata-kata saja lupa. Perjuangan melawan kelemahan diri sendiri. Ending-nya sendiri sangat ciamik nan puitis, saat Lydia sang bungsu yang sering berontak malah menjadi anak yang paling berbakti dengan memutuskan pulang untuk merawat Alice. Namun bagaimana akhirnya? Apakah si kembar anak Anna akan kena penyakit juga? Apakah pilihan hidup Alice saat memorinya makin terbatas saat membuka folder butterfly dilaksanakannya? Ataukah John menyerah menghadapi istri yang pikun? See, Saving your memories!

Awalnya saya mendukung Pike untuk best actress, namun setelah semalam menonton ini film saya menjatuhkan pilihan ke Moore. Sungguh memikat, dia menampilkan pesona kerapuhan menghadapi penyakit dengan penuh penjiwaan seakan-akan Moore adalah Alice. Setelah saya perhatikan, ternyata genre film favorite saya selain fantasi adalah drama keluarga. Tahun lalu saya terpesona, August: Osage County dengan akting mantab Meryl dan Julia. Tahun ini saya terpesona sama Moore dan Kristen dengan chemistry yang pas. Tahun lalu Meryl dan Julia gagal menang, tahun ini, please…. kasih Oscar ke Moore. Setidaknya kita akan selalu ingat Moore pernah menang best actress setelah gagal terus. Untuk mengingatkan kita bahwa dia pernah kehilangan ingatan, masih seorang Alice. Still Alice! It blew my mind away…

 Still Alice | Director: Richard Glatzer, Wash Westmoreland | Screenplay: Richard Glatzer, Wash Westmoreland | Cast: Julianne Moore, Alec Baldwin, Kristen Stewart, Kate Bosworth | Skor: 4/5

Karawang, 200215