Hands Of Stone: Duran Duran

image

image

Kisah petinju terbesar Panama difilmkan. Dengan bumbu drama yang kental dan pertarungan legendarisnya dengan Sugar Ray, Manos de piedra alias Hands of Stone bisa saja meledak hingga gilang gemilang, namun sayang film ini salah penanganan, plotnya berantakan terlalu tergesa, script-nya terlalu lembek, film tinju tapi tak banyak jab dan hook sehingga pukulan dan tangkisan itu benar-benar sekedar akting, dan tak ada kejutan berarti. Hands of Stone terjatuh, Knock out. Terkapar sebelum bel akhir laga terdengar.

Kisahnya dimulai dengan sebuah kemenangan Robert Duran (Edgar Ramirez), salah satu penonton yang terpesona adalah pelatih tinju legendaris Ray Arcel (Robert De Niro) yang sudah menghantarkan banyak juara dunia. Pengamatan Arcel akan Duran dengan berbagai sudut slow-mo berlebih itu memang pas. “Kau diberkati itu sejak hari kau dilahirkan atau kau dikutuk tak memiliki itu sampai kau mati”, Dia lalu berbincang dengan promotornya Carlos Eleta (Ruben Blades – ia juga mengisi soundtrack), sebuah kejutan besar ia berniat melatih. Seusai tanding Duran makan setumpuk es krim, Duran tak mau dilatih Arcel karena ia seorang Amerika. Alasan kenapa ga maunya diutarkan lebih lanjut dalam kilas balik.

9 Januari 1964, Panama sedang berseteru dengan Amerika mengenai perbatasan. Sebuah terusan sepanjang 82 Km, memotong Amerika Utara dan Selatan yang menghubungkan samudra Pasifik dan Atlantik itu adalah milik Amerika, padahal itu adalah sumber ekonomi yang ada di pusat perdagangan Panama. Dalam buku sejarah Terusan itu adalah ‘hadiah’ Panama kepada Amerika karena membantu mereka merdeka dari Kolombia. Terjadi demo mahasiswa (sayangnya adegan ini dibuat buruk, lihatlah sebuah bus tergeletak dibakar, tapi jelas itu hanya properti. Tak ada sentuhan alami) yang menuntut hak konstitusi. Salah satu yang berjubel dalam huru hara itu adalah Duran kecil. Ia  menyaksikan sejarah negara sedang dicipta, lalu kabur dan naik pohon di perbatasan sekedar memetik mangga. Lari dalam kejaran penjaga, menyeberangi terusan. Sebuah upaya seni bertahan hidup.

Duran kecil hobi berkelahi. Salah satu guru hidupnya adalah Chaflan (Oscar Jaenada). Terlihat sekali sang guru mengajari apa itu hidup, cara menikmati setiap helaan nafas. Ironis, nantinya bagaimana Chaflan menghembuskan nafas terakhirnya. Petarung jalanan ini suatu ketika ingin dilatih tinju, awalnya ditolak. Namun saat ia sedang berkelahi sampai ditahan, akhirnya mau ditebus dan mendidiknya. Dari sinilah perjalanan karir panjang Duran ditulis. Ia selalu memenangi pertarungan amatir, mayoritas di-KO. Berjalannya waktu ia menatapi karir profesional.

Suatu ketika ia melihat seorang pelajar cantik berjalan seorang diri. Felicidad Iglesias (diperankan dengan sangat cantik oleh Ana De Armas) digodanya, tentu saja sebagai gadis baik-baik ia cuek. Tetapi luluh juga akhirnya melihat perjuangan sang pejantan, apalagi Duran dijemput mobil. Mereka dengan mudah ditebak akan bersama, menikah, punya banyak anak, dan terlihat seperti keluarga sempurna. Ada adegan absurb ketika Duran diperlihatkan majalah dengan sampul Sugar Ray, Duran ternyata buta aksara, tak bisa membaca sehingga Feli harus menjelaskan isi majalah tersebut. Unik ya, juara dunia tak bisa membaca, tugasnya hanya padu. Kisah lalu dirajut sebagaimana di awal tadi. Duran mau dilatih Arcel dengan beberapa pertimbangan. Duet ini lalu menaklukkan dunia. Musuh-musuh disikat, sabuk juara diraih dan Duran yang dari keluarga miskin kini bergelimang harta.

Puncak kisah ini adalah di Montreal, Kanada tantangan Duran terhadap Sugar Ray Leonard (Usher Raymond IV) – sebuah kebanggaan Amerika – yang gayanya mengikuti Muhammad Ali. Wajar saja Ray pernah dilatih oleh orang yang sama. Laga besar bulan Juni 1980 seakan pertaruhan antara Amerika versus Panama. Duran yang seorang juara kelas ringan menantang kelas welter. Laga perebutan gelar kelas menengah WBC. Laga 15 ronde jual beli serangan tak kenal lelah. Karena saya awam sejarah tinju tahun 1990an ke bawah, saya sempat terhanyut dalam dramatisasi perhitungan angka.

Pesta pora kemenangan digelar. Mobil-mobil turun ke jalan. Duran didaulat bak pahlawan, semua rakyat Panama memujanya. Bak seorang Robinhood, ia menghambur-hamburkan uangnya untuk orang sekeliling. Karena ia terlahir miskin maka puncak kejayaannya ini begitu membuncah. Tentu saja terjadi tarung ulang bulan November 1980. Proses menuju  tanding ulang sendiri dilihat lebih intens sehingga kita tahu alasan yang terjadi saat ia bilang ‘No Mass’ sebuah kutipan terkenal dari Duran. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa, tarung di puncak dan anti-klimak?!

Saat dalam titik nadir itulah kita diajak mengenal lebih dalam karakter Duran. Ayahnya yang Amerika, dan menelantarkannya. Istrinya yang marah, guru kecilnya yang terusir sampai pertarungan batin Arcel, American nama malah berada di sisi lawan. Karena ini bersinggungan politik maka kematian pahlawan Panama, Jenderal Omar Torrijos disebut. Adakah kesempatan kedua untuk Duran?

Saya dibesarkan zaman Si Leher Beton Mike Tyson berjaya, sebelum histori gigit kuping Evander Holyfield itu terjadi sehingga ia didiskualifikasi. Sebuah momen langka dalam adu pukul di atas ring. Era sebelum itu saya awam. Kalau ngomong Duran yang pertama terlintas jelas grup band asal England, Duran Duran. Musisi kontraversial ini walau besar di era 1980an saya sesekali menikmati Planet Earth, Careless Memories, Rio. Lalu ketika ada kata Sugar Ray yang terlintas pertama ya band Amerika Sugar Ray, apalagi mereka besar di generasi 90an jadi saya hafal lagu-lagu When It’s Over, Someday, Every Morning sampai Fly. Jadi saat ada sejarah mencatat dua ‘musisi’ bertarung saya (berusaha) menikmatinya. Hands of Stone sebenarnya sangat perpotensi meledak, dipandu aktor besar De Niro, petinju Raging Bull yang fenomenal itu. Sayangnya naskah dan penyutradaraannya tanggung. Yah, sekedar adu jotos tanpa jiwa dalam setiap pukulannya.

Yang mencuri perhatian adalah pemeran Felicidad. Cantik natural. Dari seorang pelajar yang lugu, istri yang panas, ibu yang lembut. Transformasi menawan oleh seorang aktris latin yang mewarnai setiap laga. Lalu akting De Niro juga sangat bagus, juara. Pergolakan batinnya, mimik sedihnya, tekanan di hari tua. Inilah film keempat ia berakting dalam film tinju setelah sebelumnya Raging Bull yang legendaris, Night and the City, dan Grudge Match. Ray Arcel sendiri adalah sosok yang luar biasa di dunia tinju. Ia adalah orang pertama sebagai pelatih tinju yang berhasil didaulat di International Boxing of Fame tahun 1991.

Karena sudut pandang kisah ini ada pada Duran, saya jadi penasaran bila cerita diambil dari sisi Sugar Ray. Di film ini Usher kelihatan kaku, dan jadi orang yang ‘dilemahkan’. Bagaimana dia mendapat perlakuan tak senonoh lewat kata-kata Duran. Bagaimana ia terobsesi, jadinya penasaran. Orangnya terlihat sombong, ego tinggi namun punya kelas. Sebagai petinju peraih medali emas olimpiade dan pernah juara di lima kelas berbeda, jelas Sugar Ray adalah legenda. Apakah ada film berdasar hidup Sugar Ray? Patut disimak.

Hands Of Stone | Year 2016 | Directed by Jonathan Jokubowicz | Screenplay Jonathan Jokubowicz | Cast Robert De Niro, Edgar Ramirez, Usher Raymond, Ruben Blades, Ana de Armas, Oscar Jaenada | Skor: 2,5/5

Karawang, 140217 – Maroons V – Maps
*) ditulis satu jam menunggu kick off Lazio v Torino

Iklan

One thought on “Hands Of Stone: Duran Duran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s