September2021 Baca

Adolf Eichmann: “Saya tahu hukuman mati telah disiapkan untuk saya.” Kata-katanya saat ditangkap dan diinterogasi awal oleh intelejen.
September ini menjadi bulan yang benar-benar normal lagi dalam menikmati buku. Bulan yang sebenarnya kuantisipasi munculnya para nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) tapi ternyata baru muncul di jelang bulan berganti, maka hanya baca satu kandidat. Yang lainnya benar-benar ngalir normal tanpa banyak embel-embel prioritas mana yang pengen segera dituntaskan dan diulas. Paling buku-buku yang kubeli dari Buku Vide, Yogyakarya yang tepat setahun lalu kubeli, bulan September lunas baca ulas.
Tahun ini di bulan ulang tahunku juga diwarnai pecah telur, beli buku bejibun. Ada satu transaksi 41 buku sekali beli. Idep-idep hadiah ulang tahun. Boros, tamak, rakus. Ini buku, ini kertas koleksi.

1. Breaking Poetry – Antologi Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi mbeling yang payah. Tampil beda tak selalu keren. Buku ini mencerita segala aktivitas dan kritik sosial di ibu kota, dibawakan dengan aneh dan nyeleneh tapi dalam konotasi negatif. Entah maunya apa, puisi yang sudah kita ketahui itu memang agak sulit dimaknai, walaupun memang taka da yang salah. Mau dirubah dengan gaya gaul, oh tidak. Puisi tuh ga gini om. Sungguh buruk.

2. The Notebook – Nicholas Spark

Cinta yang agung. Kisah yang mendayu-dayu. Kasih suci yang menyelimuti hingga di ujung senja. Benar-benar menyentuh, benar-benar indah uraian asmara abadi mereka. Sungguh sulit diterima nalar, betapa cinta sejati tak akan mati, kecuali kena penyakit. Kenanganan-kenangan lain hanya berupa fragmen-fragmen belaka, potongan-potongan masa kecilnya di sana-sini, tapi hanya sedikit yang dapat menggugah perasaannya.
“Senja hanya ilusi semata, karena matahari pasti berada di atas garis cakrawala atau di bawahnya.”

3. Eichmann in Yerusalem – Hannah Arendt

Ini buku liputan sidang pengadilan atas Adolf Eichmann di Jerusalem pada tahun 1961 untuk New Yorker, dan hasil liputan dimuat berseri pada Februari hingga Maret 1963. Buku yang sangat kueeereeeen. Salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah kubaca. Kisahnya berliku. Walau intinya satu, pengadilan Adolf Eichmann yang berakhir dengan hukum gantung. Pengadilan Jerusalem ini dikupas tuntas, ditelusur dari awal mula proses ini menemukan kik, bahkan ditarik mundur terlampau jauh di mana tersangka lahir dan tumbuh kembang. Eichmann lahir pada 19 Maret 1906 di Solingen.
“Setelah beberapa saat ini, Tuan-tuan kita akan bertemu kembali. Demikianlah nasib semua orang. Hidup Jerman! Hidup Argentina! Hidup Austria! Aku tidak akan melupakan mereka.”

4. Identity – Milan Kundera

Buku tentang cinta dan obsesi membahana. Pasangan dua orang terluka, yang satu kehilangan anak dan bercerai dua kali, yang lainnya drop out kuliah kedokteran, menjadi pekerja kasar dan kere. “Berhenti kuliah bukan suatu kemunduran, yang aku lepas sat itu adalah ambisi. Aku tiba-tiba jadi orang tanpa ambisi…” Dua hati yang terluka itu bersatu, di awal mula sungguh cinta yang membara. Bertemu dalam seminar di sebuah hotel, terpanah asmara, lantas meletupkannya dalam birahi. Namun, seperti cinta dengan pondasi yang tak kuat pada umumnya, lantas hubungan ini goyah. Mereka kehilangan identitas sejati sebagai manusia.
. “Aku kecewa dan sedih karena aku merasa tidak kecewa dan sedih.”

5. The Silence of the Lambs – Thomas Harris

Memecahkan masalah tak ubahnya berburu. Kenikmatan liar dan kita memburunya sejak kita lahir. Ini jenis buku yang butuh kesabaran, menahan tak muntah sebab pembunuh serial ini menyiksa calon korban. Dikurung seminggu, lantas dikuliti hidup-hidup untuk diambil kulitnya, mayatnya dibuang di sungai dengan kepompong disangkutkan di tenggorokan. Blusnya ditemukan dalam keadaan tersayat di punggung. Serangga muda yang belum sempurna, di dalam chrysalis – kepompong yang membungkusnya selama proses metamorphosis dari larva ke serangga dewasa. Jenis bacaan dapat label 18+ untuk kekejaman yang disajikan. Karena saya belum baca buku serial Hanibal, maka terasa sekali plotnya fresh. Filmnya juga belum tonton tuntas, makanya bayangan itu samar, serta mood baca butuh tinggi, beberapa kali ketiduran.
“Kami telah berusaha mewawancarai dan memeriksa ketiga puluh dua pembunuh berantai yang ada dalam tahanan, untuk mengembangkan database guna menyusun profil psikologi bagi kasus-kasus yang belum terpecahkan…”

6. Think Like a Freaks – Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner

Tentang pikiran kritis akan masalah aktual dunia saat ini dilihat dari kacamata orang aneh, orang yang beda. Pemecahannya juga aneh, walau saat ditelaah lebih dalam terlihat malah sungguh sederhana. Contoh, injeksi kotoran manusia untuk pengobatan. Itu hal yang terdengar ganjil, tapi saat ditelaah ternyata bisa dan ada. Atau pemikirannya untuk berhenti protes pemanasan global sebab menipisnya lapisan ozon. Karena percuma. Berani menentang arus.

7. The Return of the Young Prince – AG Roemmers

Ini lanjutan tak resmi buku legendaris The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery. Sang pangerang sudah tumbuh remaja dan terdampar di padang yang jauh dari perkotaan. Sang aku menawarkan tumpangan, dan sepanjang perjalanan berdiskusi masalah kehidupan dan segala misteri di baliknya. Menurutku, lanjutan ini agak merusak sebab isinya malah penuh petuah. Penuh dengan kata-kata bijak, terlalu positif juga kurang baik. Dan di sini melimpah ruah.

8. Bibir – Krishna Mihaedja

Kumpulan cerpen yang diterbitakan untuk pendidikan Bahasa Indonesia. Cerpennya pendek-pendek, mudah dipahami dan dicerna. Masalah sehari-hari yang umum dihadapi. Misal, pekerja buruh di ibukota yang berasal dari desa, sebab istrinya hamil lagi dan ia kekurangan uang dan tak tahu harus bagaimana. Atau kritik sosial tentang pejabat yang menghamburkan dana pemerintahan Cuma buat karnaval. Atau judul Bibir, yang memuncalkan mengakuan dan pengaduan.

9. Perkara Mengirim Senja –Tribute untuk SGA

Yang ini ditulis keroyokan oleh orang-orang yang mengagumi Seno Gurira Adjidarma (SGA). Semua orang sayang Seno. Karyanya merentang sejak zaman Orde Baru hingga mentas di zaman sekarang. Penghargaan melipah ruah, pengakuan di mana-mana. Ada satu bukunya yang identik dan akan dikenang sepanjang masa, mungkin seratus tahun lagi masih akan dibicarakan dan dijadikan kurikulum pendidikan di sekolah formal. Yaitu, Sepotong Senja untuk Pacarku. Bukunya tipis, kumpulan cerita dengan segala ke-absurd-annya. Dan buku ini semacam tribute untuk cerita itu. Keren sih, keroyokan dengan tema senja. Romantic abis!

10. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga – Erni Aladjai

Pembukanya jitu sekali, hok yang keras dan menghantui. Pembunuhan sepasang keluarga yang (kemungkinan) dilakukan oleh anaknya sendiri. Pembunuhan sadis itu membuat warga sekitar ketakutan berhubungan dengan pelaku, muncul desas-desus ia memiliki ilmu hitam, kebal sakit, manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis, sampai kesaktian mandraguna dengan penghuni dimensi lain. Hal-hal sejenis itu, sungguh sangat mujarab openingnya, mencipta tanya, lantas kehidupan berlari kencang di tahun 1990-an.
“Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.”
Karawang, 161021 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s