Drishyam: Siapa Bilang Nonton Film hanya Buang Waktu?

Drishyam: Siapa Bilang Nonton Film hanya Buang Waktu?

2 jam 40 menit, setrika sekalian nonton film Drishyam (2015). Done πŸ‘

β€œSinema. Itulah tautan penting (kasus ini).” – Meera

Tentang kekuatan bertahan atas masalah yang menimpa keluarga. Ia seorang pria berdedikasi, baik hati, pengetahuan luas walau tak tamat SD, drop-out kelas 4, ia menjalani hidup dengan keteguhan membuncah, sebuah tampilan sejati statemen keluarga adalah segalanya.

Hidup memang seperti itu, keras sekali menghantam nurani. Apalagi kaum bawah yang sering teraniaya, banyak hal yang bisa diceritakan mengenai keprihatinan, banyak faktor yang bisa dikupas bila menyinggung kaum papa. Seperti anekdot umum, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, saat kita menemukan hiburan, modifikasi cerita hukum bisa diakali oleh para jelata sehingga pisaunya patah, apakah itu menyenangkan? Jelas, perjuangan itu tak sia-sia (bahkan sekeluarga ditaboki hingga berdarah, termasuk anak kecil), tapi tetap jelata yang menang. Si lemah menang, jelas memberi kita kepuasan, bahwa selagi kamu berniat baik, berjuang keras, berjalan di rel yang pas, kamu masih bisa berharap.

Kisahnya tentang Vijay (ajay Devgn), seorang bos teknisi yang kerjaannya nonton film. Semua genre dilahap, semuanya diperhatikan dan dipelajari. Jadilah ia belajar langsung dari layar kaca. Istrinya Nandini (Shriya Saran) sudah paham, bila tingkahnya aneh dan rada-rada menyimpang, ia akan melabrak aktor siapa yang memengaruhi. Anak pertama sudah SMU Anju (Ishita Dutta), meminta izin untuk persami (perkemahan Sabtu Minggu) dengan beberapa sekolah lain, biayanya agak mahal, sempat bimbang tapi diizinkan. Si Bungsu lebih dekat sama ibunya. Ini gambaran keluarga ideal, keluarga pada umumnya yang membuncah saat bercengkerama, menghabiskan waktu kebersamaan. Dalam sebuah kesempatan, mereka berlibur untuk sesekali bermewah-ria. Dengan mobil butut yang mogok di tengah jalan, menginap di hotel murah, bertamasya ke mal beli baju, nonton film, makan enak. Momen-momen bahagia keluarga sederhana, hingga suatu hari kenyamanan itu terancam terenggut. Jangan lupa, lagu-lagu mengiringi sebagai pelengkap film India.

Anju diancam sama kenalannya selama kemah, Sam memiliki video mandinya, ia harus menuruti keinginan bocah nakal ini, bila tidak akan jadi skandal di media sosial. Menemui di gudang bekalang rumah, Anju memohon-mohon agar video dihapus, ibunya yang curiga muncul tiba-tiba, makin keras, makin menjadi-jadi. Naas, dalam keadaan genting dan terdesak, Sam kena hajar besi ayunan Anju, Sam meninggal dunia seketika. Lihat, rakyat kecil yang mencoba hidup normal dan sewajar mungkin, kali ini kena masalah pelik.

Dalam posisi panik, mereka mencoba menghubungi Vijay, tapi tak bisa. Dalam keadaan hujan deras, dengan gegas mayat Sam dikubur di kebun, tempat galian buat pupuk kompos. Baru keesokan harinya, fakta itu dibuka. Ayahnya dengan getir menerima kabar, dan dengan hati getir berjanji: selama ia hidup, Anju takkan dipenjara. Lantas apa yang dilihat di film ia aplikasikan. Mobil korban, ia bawa ke danau bekas galian tambang, diterjunkan. Film-film detektfif banyak sekali menayangkan cara umum ini untuk menghilangkan jejak. Detail berikutnya lebih rumit, atau bisa disebut dirancang bangun dengan detail-detail mengagumkan.

Disusunnya rencana sematang mungkin, acara pengajian keluar kota sekaligus acara tamasya dilakukan. Mereka mencetak skenario bagaimana meyakinkan bahwa korban tak ke rumah itu, tak mengenal dekat, hingga detail-detail yang mencipta bukti mereka keluar kota dua hari. Benar-benar seolah naskah film β€˜kan? Siapa bilang nonton film hanya buang waktu?

Polisi korup Laxmikant Gaitonde (Kamlesh Sawant) yang sering bersitegang dengan Vijay, kini seolah menemukan momen untuk membekuk seterunya. Ia banyak dibenci orang, pemilik warung yang sering ia palak tentu saja ada di sisi baik, tetangga yang sering dipungut biaya ilegal, juga otomatis bersimpati kepada sang jagoan, pun orang-orang sekitar, seolah semesta menjaga api harap Vijay menyala terus.

Nah, kasus ini menjadi heboh dan berat sebab Sam adalah anak seorang kepala polisi yang keras, sadis, sangat hebat Meera (Tabu). Anak tunggal pula, maka setelah berhari-hari tak pulang, penyelidikan makin intens. Meera terlihat dalam adegan perkenalan membantai tersangka dengan siksa, para penjahat yang dibekuk diinterogasi dengan kejamnya, termasuk keluarga tersangka. Ini memberi gambaran, bahwa Vijay ada di tangan polisi yang keras dan cerdas.

Nah, inti Drishyam adalah adu cerdik mereka berdua. Adu bukti dan ketangkasan mengungkap kebenaran. Di satu sisi kita mengharap Vijay dan keluarga baik ini terbebas dari nasib sialnya. Satu sisi lainnya juga simpati atas kehilangan anak kesayangan. Bayangkan, anak lelaki, anak tunggal yang menjadi tumpuan masa depan, hilang dengan bukti bahwa mobilnya terjerebab di danau, sebesar apa harapannya? Sedih sekali, sebab mayatnya tak ditemukan, penonton tahu, ia sudah di alam lain. Luluh lantak? Tentu saja. Mau menempatkan diri di sisi manapun, kalian akan turut menitikan air mata, dan film yang bagus adalah penonton turut terbawa emosi, ini kesuksesan sinema, ini kesuksesan Drishyam dan segala rekomendasi Lee…

Kebanyakan dari kita, ketika berusaha menyelesaikan sebuah masalah, condong pada penyebab yang paling dekat dan paling jelas. Saat kita mengatasi akar penyebab masalah, setidaknya kita tahu kita sedang mengatasi masalah yang sesungguhnya dan bukan hanya bergumul dengan bayangan. Kita ditempatkan pada fakta-fakta, yang kebingungan adalah polisi dan kroniknya. Menyaksi mereka berjuang keras menangkap bayangan itu, terasa sekali tensi deg-degannya. Mencoba menebak plot, menerka langkah-langkah berikutnya.

Kusaksikan di Minggu siang yang terik 17 Oktober 2021 dengan setrika menggunung. 2 jam 40 menit yang seru sekali, dua botol Kispray habis. Aksi ini mungkin banyak lubangnya. Ada perkataan dari film lama, β€œSaat kau melakukan pembunuhan, kau melakukan dua puluh lima kesalahan. Bila bisa memikirkan lima belas di antaranya, kau jenius.” Namun pihak polisi yang hebat itu terkecoh sejadi-jadinya dan rencana-rencana terlaksana mulus. Keganasan Meera di awal seolah luntur, tampilan bengis dan hebatnya ternyata kalah sama penggila film. Endingnya menggantung.

Vijay, seorang loyalis sejati pada film dan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Rutinitas kalian adalah praktek tingkah laku. Tingkah laku menentukan jenis watak, dan watak adalah milik kamu yang paling penting. Kita sudah sangat terlatih untuk berpikir dengan tidak logis, dengan fantasi, dan pengandaian melimpah, yang bahkan dapat membuat kita sendiri terkejut. Dengan gemilang, apa yang disaksikan dalam layar berhasil diaplikasikan dalam kehidupan. Benar-benar makna belajar dari pengalaman hidup orang lain.

Dari Drishyam kita belajar fakta sederhana bahwa hidup adalah pertaruhan. Bukankah mengetahui semua berarti memaafkan semua?

Drishyam | Year 2015 | India | Directed by Nishikant Kamat | Screenplay Jeethu Joseph (Original), Upendra Sidhaye (Adpt.) | Cast ajay Devgn, Shriya Saran, Tabu | Skor: 4.5/5

Karawang, 171021 – The Ray Bryant Trio – Little Susie

Thx to Lee atas rekomendasinya