Adolf Eichmann Pergi ke Tiang Gantungan dengan Penuh Martabat


Eichmann in Jerusalem by Hannah Arendt


Setelah beberapa saat ini, Tuan-tuan kita akan bertemu kembali. Demikianlah nasib semua orang. Hidup Jerman! Hidup Argentina! Hidup Austria! Aku tidak akan melupakan mereka.”


Ini buku liputan sidang pengadilan atas Adolf Eichmann di Jerusalem pada tahun 1961 untuk New Yorker, dan hasil liputan dimuat berseri pada Februari hingga Maret 1963. Buku yang sangat kueeereeeen. Salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah kubaca. Kisahnya berliku. Walau intinya satu, pengadilan Adolf Eichmann yang berakhir dengan hukum gantung. Pengadilan Jerusalem ini dikupas tuntas, ditelusur dari awal mula proses ini menemukan kik, bahkan ditarik mundur terlampau jauh di mana tersangka lahir dan tumbuh kembang. Eichmann lahir pada 19 Maret 1906 di Solingen.


Kasus ini jelas bukan kasus moral apalagi kasus kegilaan legal. Pengadilan Distrik di Jerusalem pada tanggal 1 April 1961, didakwa atas lima belas perkara, dengan yang utama melakukan kejahatan terhadap orang Yahudi, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang selama periode rezim Nazi. S.S. singkatan dari Schlutzstaggeln, awalnya dibentuk untuk unit khusus perlindungan bagi pemimpin partai. Petinggi S.S tugasnya membuat Polandia judenrein (istilah yang digunakan Nazi merujuk pada kawasan bersih Yahudi), dalam wilayah Jerman pasca-perang.


Bagaimana ia mencapai kedudukan di Nazi penuh perjuangan, walau mungkin masih di luar ring 1 Hitler, ia memiliki wewenang dalam pembunuhan massal. Buku ini mengupas pula sejarah munculnya ‘solusi akhir’, istilah yang dipakai untuk memusnahkan kaum Yahudi. Dari tahun 1939 rumusannya sudah ada, awalnya diusir, dikoordinasi, tapi muncul pertanyaan sebab semua Negara menolak menampung. Eichmann berulang-ulang di pengadilan Jerusalem bilang tidak ada Negara yang siap menerima orang-orang Yahudi, ini menyebabkan bencana besar.


Setelah simpang siur nasib, akhirnya muncullah keputusan pembantaian itu. Eichmann ada di lingkar eksekusi, ia juga mengkoordinasi prosesnya. Itulah yang memberatkan. “Subjek pemerintahan yang baik bisa beruntung, subjek pemerintahan yang buruk selalu sial. Saya kebagian yang sial tersebut.” Katanya.


Pascaperang ia berhasil kabur ke Argentina. Ia kabur ke Argentina dengan nama baru Ricardo Klement. Hidup dalam pelarian, walau sudah seolah reda hiruk pikuk gema Nazi karena lebih dari sepuluh tahun, hatinya tetaplah gundah. Eichmann telah menulis betapa lelah dirinya dalam anonimitas. Semakin banyak membaca tentang dirinya semakin lelah ia jadinya. Dan akhirnya tertangkap.


Lantas ia diadili di Negara baru Israel. Putusan ia mati sudah jelas sekali, seolah pengadilan ini formalitas. Namun tak segambalng itu, untuk itulah buku ini hadir. Dikupas sedetail-detailnya, sedalam-dalamnya. Ia dibela oleh Dr. Servatius yang tidak bisa lagi menahan godaan dan mengajukan beberapa pertanyaan, “Mengapa semua nasib buruk ini jatuh kepada orang-orang Yahudi?” dan “Tidakkah Anda berpikir bahwa motif tak rasional berada di dasar nasib bangsa ini? Di luar pemahaman manusia?”


Filsafat moral Kant sangat berkaitan dengan kemampuan manusia untuk menilai aturan mana yang bisa dijalankan dengan ketaatan membabi-buta. Keadilan, meskipun mungkin sebuah ‘abstraksi’ bagi pikiran orang-orang yang tidak sependapat dengan Ben Gurion, terbukti menjadi majikan yang lebih tegas daripada perdana menteri dengan segala kekuasaannya.


Bahkan dalam pengertian terbaru anti-Semit tentang Elders of Zion (Tetua Zion), yang dituangkan dalam semua keseriusan beberapa minggu sebelumnya di Majelis Mesir oleh Deputi Menteri Luar Negeri Hussain Zulfikar Sabri: Hitler tidak bersalah atas pembantaian orang Yahudi; ia adalah korban kaum Zionis, yang telah “Memaksa ia berbuat kejahatan yang pada akhirnya memungkinkan kaum Zionis mencapai tujuan mereka – yakni pembentukan Negara Israel.”


Dr. Servatius. Berujar, “Eichmann hanya merasa bersalah di hadapan tuhan, bukan di hadapan hukum. Apa yang dituduhkan padanya bukanlah kejahatan tetapi ‘tindakan negara’ di mana tidak ada Negara lain yang memiliki yurisdiksi atasnya (par in parem imperium non habet), bahwa sudah menjadi tugasnya untuk patuh’. Untuk kebenaran yang menyedihkan dan sangat tidak nyaman, mungkin bukan fanatismenya tetapi kesadaran hati nuraninya yang mendorong Eichmann mengambil sikap tak kenal kompromi di tahun-tahun terakhir peperangan. “Saya bukan monster. tapi saya dibuat menjadi monster.”


Sebelum eksekusi gantung, ia menolak rohaniwan yang menawarkan diri membacakan ayat-ayat suci. “Waktu hidupku tinggal dua jam lagi, tak ingin membuang-buang waktu.” Eichmann mulai dengan menyatakan secara tegas bahwa ia adalah Gottglaubiger, untuk mengungkapkan dalam gaya khas Nazi bahwa dia tidak percaya pada kehidupan setelah kematian.


Dostoevski pernah bilang, di Siberia di antara sejumlah pembunuh, pemerkosa, dan perampok, ia tidak pernah bertemu seorang pun yang akan mengakui kekeliruan yang telah mereka lakukan. Propaganda Nazi secara keras, tegas, tanpa kompromi adalah anti-Semit. Dan pada akhirnya tidak diperhitungkan kecuali oleh orang yang masih tanpa pengalaman dalam misteri pemerintahan totaliter ini dan hanya diabaikan sebagai ‘propaganda belaka’.


Di Israel, seperti di sebagian besar Negara lain, seseorang yang muncul di pengadilan dianggap tidak bersalah sampai dia terbukti dia bersalah. Tapi dalam kasus Eichmann hal ini adalah fiksi yang jelas. Pengadilan ini timpang, jaksa memiliki 1500 dokumen sementara Dr. Servatius hanya 110 dokumen. “Saya tahu hukuman mati telah disiapkan untuk saya”, katanya pada awal pemeriksaan polisi. Hukuman mati memang sudah diperkirakan, dan hampir tak ada orang yang menyangkalnya.


Jumat, 15 Desember 1961 keputusan hukuman mati ditetapkan. Tiga bulan kemudian, 22 Maret 1962 proses peninjauan dibuka. 29 Mei 1962, putusan peninjauan kedua dibacakan. Dua hari kemudian peninjauan ditolak, termasuk grasi yang diajukan. Dan di hari itu juga Eichmann digantung. Beberapa saat sebelum tengah malam, lalu jenazahnya dikremasi, abunya disebar di perairan Mediterania di luar wilayah Israel.
Piagam London telah memberikan yurisdiksi atas tiga macam kejahatan, “kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.”


Catatan ini saya tutup dengan kutipan, “Hidup ini mungkin berjalan di bawah hukum apa saja, namun demikian, ada ketidakpedulian terhadap apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan sehingga orang tidak mungkin bisa hidup di sana. Sebagai warga yang dihargai dan berguna, seseorang juga bisa menjadi anggota minoritas di tengah-tengah orang-orang besar.” (Hans Lamn, 1951).


Buku sejarah yang laik dikoleksi dan dibaca, terutama yang berminat untuk memperdalam sejarah Nazi dan Yahudi. Adolf Eichmann pergi ke tiang gantungan dengan penuh martabat. Ia meminta sebotol anggur merah dan meminum setengahnya. Ia berada dalam komando penuh atas dirinya sendiri.


Eichmann in Jerusalem: Reportase tentang Banalitas Kejahatan | by Hannah Arendt | The Viking Press Inc., New York | Cetakan I, 2012 | PP.2021 | Penerbit Pustaka Pelajar | Penerjemah Teguh Wahyu Utomo | Penyunting Didik Puji Yuwono | Desain cover Agha Mumtaz | Pemeriksa aksara Priyati | Penata aksara Pancasari Suyatiman | ISBN 978-602-229-97-1 | Skor: 5/5


Karawang, 300921 – Diane Schuur – Lover Come Back to Me


Thx to Buku Vide, Yogyakarta

Aku Menguntitmu Kemana-mana Seperti Mata-mata; Kau Cantik, Cantik Sekali


Identitas by Milan Kundera


Larik sajak Baudelaire: “Wahai Maut, nahkoda tua, kini saatnya! Ayo angkat sauh! / Daratan ini bikin kita bosa, O Maut! Ayo meluncur lepas!”


Buku tentang cinta dan obsesi membahana. Pasangan dua orang terluka, yang satu kehilangan anak dan bercerai dua kali, yang lainnya drop out kuliah kedokteran, menjadi pekerja kasar dan kere. “Berhenti kuliah bukan suatu kemunduran, yang aku lepas sat itu adalah ambisi. Aku tiba-tiba jadi orang tanpa ambisi…” Dua hati yang terluka itu bersatu, di awal mula sungguh cinta yang membara. Bertemu dalam seminar di sebuah hotel, terpanah asmara, lantas meletupkannya dalam birahi. Namun, seperti cinta dengan pondasi yang tak kuat pada umumnya, lantas hubungan ini goyah. Mereka kehilangan identitas sejati sebagai manusia.


Mengambil sudut pandang mereka berdua, saling silang bergantian. Jadi kita bisa memposisikan lelaki/perempuan saat ganti bab. Tak ada rahasia, tak ada yang disimpan. Sayang sekali, anadai identitas pengirim surat disimpan atau bahkan tak diungkap sekalian, bakalan jadi lebih bombastis.
Kisahnya tentang Chantal, perempuan mandiri dengan pekerjaan mapan di Paris dan memiliki apartemen yang nyaman. Dan Jean-Marc, pria dengan hidup sederhana. Chantal yang kaya dan mapan, empat tahun lebih tua. Mereka menjadi pasangan kekasih akibat sebuah meeting berbagai perusahaan, dan setelahnya hidup seatap. Lantas kita diajak ke masa lalu mereka.


Chantal adalah janda, ia pernah terluka karena anaknya meninggal. Di sini tak dijelaskan kenapa, yang pasti dukacita itu menghantui. Ia selalu drop dan depresi saat mengenang masa hitam itu. Bercerai dengan suaminya, lalu menikah lagi, dan bercerai lagi. kehidupan ideal yang dulu ia damba dengan rumah dan anak-suami luluh lantak. Ia juga bermasalah dengan kakak iparnya, gunjingan dan kabar sedap menguar di dua keluarga masing-masing. Maka saat suatu hari kakak iparnya datang, bersama anak-anaknya yang berisik ke apartemennya sungguh membuatnya malas, bahkan marah.


Sementara Jean-Marc adalah pemujanya. Ia benar-benar cinta mati sama Chantal. Mungkin sebagai lelaki dengan status sosial di bawah kekasihnya membuatnya minder, maka dibalas cinta itu dengan menggebu. Dulu cita-cita menjadi dokter terdengar mulia, dan saat ia gagal menyelesaikannya, hidupnya jadi biasa saja.


Ia memiliki masalah dengan sahabat sekolahnya. Teman akrab yang lantas terpisah, dank arena respon kejadian yang tak akan dimaafkannya, ia menjauh. Namun saat mendapat kabar teman F sakit keras, ia didesak Chantal untuk menengok. Perjalanan ke rumah sakit itu malah memberi jawaban dari pertanyaan masa lalu yang abu-abu. Waktu itu kukatakan: antara kebenaran atau sahabat, aku selalu memilih sahabat. Itu kukatakan supaya provokatif. Persahabatan bagiku waktu itu, adalah bukti adanya sesuatu yang lebih kuat ketimbang ideologi, ketimbang agama, ketimbang bangsa.
Bahkan saat mendapat kabar sobatnya akhirnya meninggal, tak ada dukacita yang muncul. Membuat Chantal agak kecewa. Persahabatan itu mutlak diperlukan orang, agar ingatannya bisa bekerja dengan baik. “Aku kecewa dan sedih karena aku merasa tidak kecewa dan sedih.”


Suatu hari mereka berlibur ke pantai, Chantal datang duluan dan berjalan-jalan sendiri menikmati debur ombak. Saat menyaksi para turis yang tak terlalu terpesona dengan Chantal, ia marasa tua. Perempuan memang sensitif sama usia tua, seakan belum siap. Perempuan mengukur ketuaanya dengan ketertarikan atau ketidaktertarikan yang ditunjukkan laki-laki terhadap tubuhnya. Pria-pria yang dulu akan terjaring dalam sepintas lihat, kini tak lagi tertarik. Hal ini diceritakan ke Jean-Marc saat ia tiba. Cerita sambil lalu itulah yang menjadi picu kisah utama cerita ini.


Jean-Marc mengirim surat-surat cinta tanpa identitas ke Chantal. “Aku Menguntitmu Kemana-mana Seperti Mata-mata; Kau Cantik, Cantik Sekali.” Kita tahu identitas pengirim surat sampai separuh kisah lebih, sebab memang dirahasiakan. Menjadikan Chantal dalam kebingungan. Ia hanya menduga-duga siapa pengirim surat. Sempat mengira pengemis di dekat apartemen yang lantas diberi uang besar. Sempat pula menduga seorang lelaki di kafe dekat rumah yang sering memerhatikan. Ia merasa dirinya diperhatikan, dan iapun memperhatikan. Perempuan romantis dan bebal yang memuja setiap pucuk surat cinta sebagai benda sakral, dan berlarut-larut melamunkannya.


Semakin ke sini, surat-surat itu makin mendamba, bahkan membuat Chantal datang ke ahli tulisan grofolog meminta opini, membawa tulisan tangan Chantal dan surat cintanya. Hal-hal sederhana yang melatari ini adalah Jean-Marc tak ingin Chantal bersedih, dan Chantal meresponnya dengan amarah sebab dirinya justru merasa terhina. Apalagi saat kepergok, surat-surat cinta itu disimnpan di lemari di bawah pakaian dalam, bh, dan lainnya. Sungguh clutak.


Chantal marah, ia lantas memutuskan pergi ke London, alasannya untuk urusan kerjaan, yang sekaligus kabur menenangan diri. Jean-Marc yang serba salah, ingat ia numpang saja di situ, lantas diam-diam mengikuti naik kereta bawah tanah ke Inggris. Dan dalam perjalanan yang sayu itu, kita bukan mendapat jawaban maksud ujung cerita, kita malah mendapat pertanyaan, mengapa? Kita dapat menyesali diri karena melakukan tindakan tertentu, memberi komentar tertentu, tetapi kita tidak bisa menyesali perasaan.


Kisahnya sebenarnya sederhana, tipis. Dua orang yang saling melengkapi, tapi malah terjerumus saling tak percaya. Memang percaya penting. Serta upaya melupakan kenangan pahit. Kita sudah harus teken kontrak buat melupa. Tuhan sendirilah yang memaksakan kontrak itu pada kita. Ingatan itu mungkin telah membuantnya siaga. Jean-Marc mungkin lelaki yang baik, tapi muncul pertanyaan, apakah bila ia kaya ia akan mencinta Chantal? Cinta timbalbalik antara dua manusia tidak bisa kita ukur berdasar banyaknya kata yang saling mereka ucapkan. Bisa saja ia hanya memanfaatkan uang kekasihnya ‘kan? Tempatku di pinggiran dunia ini, kamu menempatkan diri di pusatnya.


Tidak ada cinta yang bertahan terhadap kebisuan. Dan setiap manusia pernah mengalami masa dilema. Keputusan ke London sudah tepat, keputusan yang satu menyusul kurasa kurang bijak. Seperti yang disampaikan keputusan di akhir. “Yang hakiki dalam kehidupan adalah meneruskan kehidupan. Itu artinya melahirkan anak, dan apa yang mendahuluinya, senggama. Dan yang mendahuluinya lagi berarti bujuk rayu, dst.”


Buku ke sekian kali dari Milan Kundera yang kubaca, tetap yang terbaik adalah Kitab Lupa dan Gelak Tawa yang penuh ironi. Bagaimana peluangnya di Nobel Sastra tahun ini? mari kita lihat…


Identitas | by Milan Kundera | Judul asli Identity | Faber and Faber 1999 | Penerjemah Landung simatupang | Penyelaras Syafi’I Alielha | Tata letak Tri Noviana | Desain sampul Andre Tanama | Proof reader Suhairi Ahmad | Cetakan pertama, Februari 2018 | Tebal: vi + 184 | Ukuran 19 cm x 13 cm | ISBN 979-98459-8-X | Penerbit Gading | Naskah ini pertama kali dalam bahasa Indonesia dicetak oleh Freshbook 2006 | Skor: 4.5/5


Karawang, 290921 – Eliane Elias – Jammin’


Thx to Buku Vide, Yogyakarta

Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.

Domba-domba Telah Membisu


The Silence of The Lambs by Thomas Harris


Kalau hanya berdasarkan pertimbang-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku?” – 1 Korintus


Perlukah aku melihat kepala kematian dalam lingkaran, padahal sudah melekat di wajahku?” John Donne, “Devotions


Buku dibuka dengan dua kutipan di atas, maka laik diketik ulang dan dibagikan.


Memecahkan masalah tak ubahnya berburu. Kenikmatan liar dan kita memburunya sejak kita lahir. Ini jenis buku yang butuh kesabaran, menahan tak muntah sebab pembunuh serial ini menyiksa calon korban. Dikurung seminggu, lantas dikuliti hidup-hidup untuk diambil kulitnya, mayatnya dibuang di sungai dengan kepompong disangkutkan di tenggorokan. Blusnya ditemukan dalam keadaan tersayat di punggung. Serangga muda yang belum sempurna, di dalam chrysalis – kepompong yang membungkusnya selama proses metamorphosis dari larva ke serangga dewasa. Jenis bacaan dapat label 18+ untuk kekejaman yang disajikan. Karena saya belum baca buku serial Hanibal, maka terasa sekali plotnya fresh. Filmnya juga belum tonton tuntas, makanya bayangan itu samar, serta mood baca butuh tinggi, beberapa kali ketiduran.


Kisahnya melingkar, tak langsung ke intinya. Saya coba runutkan saja. Jadi terjadi pembunuhan berantai dengan korban cewek-cewek muda. Pembunuh diberi inisial Buffalo Bill. FBI yang dipimpin oleh polisi senior Jack Crowford yang sedang berduka sebab istrinya sakit parah, lantas meminta anak kuliah Clarice Starling untuk meminta bantuan pada sosiopat legendaris Dr. Hanibal Lecter. Sang tahanan tak mau bicara sama siapapun untuk diminta bantuan, jarang sekali membuka diri. “Kami telah berusaha mewawancarai dan memeriksa ketiga puluh dua pembunuh berantai yang ada dalam tahanan, untuk mengembangkan database guna menyusun profil psikologi bagi kasus-kasus yang belum terpecahkan…” Crowford mengembangkan senyum, namun matanya tetap redup.


Maka dipilihnya Starling, mahasiswa bening baik otak dan wajahnya menjadi jalan keluar yang ideal. Dan ide itu berhasil sebab, Lecter mau menerimanya. Menjawab dengan pengamanan ekstra ketat. Tak ada kontak, terpisah jeruri, taka da benda tajam yang ditukar tanya, dst. Dari jawaban-jawaban Lecter jelas sekali ini orang jenius. Sangat encer otaknya, menganalisis kasus dengan jitu dan detail, tapi sayangnya ia tak gamblang, jaul mahal untuk segala informasi penting, padahal kepolisian dikejar waktu sebelum korban berikutnya muncul.


Korban yang kini ditangani adalah Kimberly Jane Emberg, berusia dua puluh dua asal Detroit. Petunjuk itu malah membuka kasus lain, pembunuhan musisi, korban Lecter ternyata ada sangkut pautnya sama sang pembunuh karena menemukan korban lain dengan kepompong di tenggorokan. Dan kita diberi petunjuk penting, sang pelaku adalah pasien Lecter. Sesuatu yang tak relevan bagi Anda mungkin justru petunjuk berharga bagi para seorang ahli. Dr. Lecter bertahun-tahun menjalankan praktik psikiatri yang sukses sebelum kita menangkapnya sebagai pembunuh.


Masalah pelik itu muncul saat calon korban terbaru adalah Catherine Martin, anak tunggal Senator Martin. Karena ini melibatkan orang penting, berita diekspos lebih besar lagi. Starling meminta detail-detail lain dengan imbalan ia berkisah masa lalunya. Bagaimana masa kecilnya dihabiskan di panti asuhan. Ia tak mengenal harta, tapi begitu akrab dengan rasa lapar. Dan mimpi-mimpi buruknya. Mimpi buruk dengan metafora burung gagak tersebut mengambil apapun yang berwarna cerah. Ternyata judul buku diambil dari sini. Para domba yang mengembik menakutkan. Ia sering tergugah rasa takut pada mimpinya. Sementara mereka diskusi, Catherine sedang menanti nasib di tetirah Bill, dan kita punya waktu sekitar seminggu. Itu batas maksimal.


Rencana itu ambyar saat pemimpin rumah sakit jiwa Chilton mengambil alih kasus. Ia menawari Lecter ketenangan. Permintaan Lecter aneh-aneh, akan dipindahkan ke Brushy Mountain, diberi akses telepon, dan salah satunya yang unik adalah diboleh perdengarkan musik. Penyanyi favorinya: Glenn Gould, Goldberg Variations. Nanti kucari ah!


Lantas ia dipindahkan ke rumah sakit jiwa lintas Negara bagian, semua itu langsung merusak rencana FBI. Starling segera dibebastugaskan, Jack tak punya wewenang lebih besar sebab ini langsung instruksi Senator. Menyangkut nyawa anaknya, segalanya dikerahkan. Apalagi kabar duka muncul, istri Jack, Bella akhirnya meninggal dunia setelah melawan rasa sakit berkepanjangan. Ia tidak menangis, air matanya telah kering. Fokus itu buyar. “Ada dua hal yang perlu kau ingat. Kita berpegang pada anggapan bahwa Dr. Lecter memang mengetahui sesuatu yang konkret. Kedua, Lecter selalu mencari kesenangan…”


Novel lantas mencapai kekuatan penuh ketika Lecter melakukan aksi pelarian dengan oenuh gaya, berdarah-darah, cemerlang. Memakan korban para penjaga, kabur dengan ambulan yang akhirnya membunuh semua petugas medis, dan mencari identitas baru. Jelas ini adalah titik penting untuk novel lanjutan. Sebelum kabur ia memberi petunjuk penting untuk menggeledah rumah identitas yang diberi.


Sementara Starling bersiap untuk kembali ke kampus, ia seakan ‘pamit’ ke Jack. Dan melakukan penyelidikan terakhir sebelum kembali menyerahkan senjata dan surat tugas, semua tindak lanjut dengan kembali ke korban pertama itu malah menjadi adegan mendebarkan dan luar biasa seru. Pertanyaan utama kisah ini jelas, berhasilkan anak sang senator selamat? Korban pertama ditemukan di Sungai Blackwater di Missouri, pinggiran Lone Jack.


Di tengah kita juga tak blank, sebab proses penculikan Catherine dijelaskan. Setting tempat penyekapan juga jelas sekali, di sumur bawah tanah, dengan anjing kesayangan, dan betapa pelaku adalah seorang desainer baju, agak melambai karena pernah mengajukan ganti kelamin, dst. Ini bukan spoilert sebab memang dijelaskan ditengah buku selama penyelidikan.


Novel ini dengan jitu menampar para pengambil keputusan yang seenaknya sendiri. Memberi kecoh tempat pembunuh juga dirasa memuaskan pembaca. Untuk sampai ke sana memang butuh kesabaran dan ketelitian, buku empat ratus halaman dengan pola melingkar, meliuk dulu baru ketemu Bill. Aku sebenarnya kurang suka kisah-kisah gore penuh darah, tapi kalau dituturkan dengan brilian seperti ini ya layak lahap. Beberapa karalter juga memberi ciri khas, Jack misal suka minuman kopi dengan campuran Alka-Seltzer. Yang bagiku awam istilah itu, biasanya kita kan mencampur kopi dengan gula atau taburan kreamer.


Salah satu nasehat Lecter yang patut dicatat adalah kalimat: Primum non nocere, pertama-tama jangan perparah keadaan. Patut dicatat juga. Sang pembunuh bernyanyi di kamar mandi lagu Cash for Your Trash ciptaan Fats Waller, dari musikal ‘Ain’t Misbehavin’ ini juga akan kucari filenya.


Ada istilah psikoanalis. Imago adalah gambaran mengenai orangtua yang tertanam di bawah sadar sejak masa kanak-kanak dan sarat dengan kasih sayang kekanak-kanakan. Kata itu berasal dari patung lilin leluhur yang dibawa orang Romawi kuno dalam upacara pemakaman. Para korban selalu dibuang di sungai, Acherontia Styx, namanya diambil dari dua sungai di neraka.


Untuk penerbit major, cetakan kedua ditemukan typo puluhan kata sungguh terlalu. Hanya sedikit mengurangi kenikmatan, secara overall jelas buku istimewa. Tak salah sudah kubeli seri lainnya. Tinggal Hanibal Rises aja yang kurang. Oh setelah baca bukunya, sebaiknya kuga gegas kutonton filmnya. Pemenang Oscar!


Domba-domba Telah Membisu | by Thomas Harris | Diterjemahkan dari The Silence of The Lambs | Copyright 1988 by Yazoo Fabrications, Inc | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Desain dan ilustrasi sampul Satya Utama Jadi | GM 40201120141 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Oktober 1996 | Cetakan kedua, November 2012 | 408 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-9075-2 | Skor: 5/5


Dipersembahkan pada ayahku


Karawang, 280921 – Lee Wiley – Make Believe


Thx to Buku Vide, Yogyakarta

Raya and the Last Dragon: … dan Mereka Bahagia Selamanya

“Mencintai artinya berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan kepada orang yang kita cintai.” GW Von Leibnitz (1646 – 1716)

Film obat tidur, kata Hermione. Kita sudah coba nonton belasan kali dan selalu tertidur, selalu gagal mencapai bahkan separuhnya. Kita ulang lagi dari awal tiap nonton ulang. Paling jauh mentok di adegan Raya berhasil ketemu Sisu. Semalam kita paksakan. Jadi kalau aku yang ngantuk, dia yang bangunin, begitu juga sebaliknya, kalau dia ngantuk, aku yang menyemangatinya buat jaga. Dan benar saja, komitmen dan kolaborasi ini sukses, sebelum ganti hari akhirnya kelar. Hufh, lega. Mungkin penilaian ini kurang fair atau pas sebab ditonton dengan kekuatan lemah mata. Ada ribuan film dibuat setiap tahun yang siap kita tonton, perkiraan setahun kita menonton seratus saja. Namun, belum pernah saya mengakhiri film dengan demikian gemilang. Hahaha… Mungkin Raya memang bukan jenis film nyamanku aja.

Kisahnya di Kumandra, tentang melawan kekuatan jahat Druun. Naga-naga zaman old pada jadi patung, hanya satu naga yang selamat tapi menghilang. Sebuah permata harus dijaga agar Druun tak bangkit. Beberapa klan sekitar Kumandra berkumpul, tapi terjadi peperangan perebutan permata. Raya dan ayahnya Chief Benga, akhirnya gagal mempertahankannya sebab klan-klan saling berebut. Druun merajalela, menerjang banyak makhluk dan mencipta patung di mana-mana. Termasuk sang ayah yang melakukan pengorbanan. Raya kini sendiri.

Enam tahun kemudian, Raya dan Tuk Tuk (binatang lucu yang bisa berjalan bak roda) yang kini juga sudah besar menjelajah gurun. Namaari, putri Chief Virana yang dulu berhianat mencoba mencegah, permusuhan lama muncul. Nah dalam adegan dramatis, Raya berhasil membangkitkan naga terakhir Sisu. Mereka lantas kabur, dibantu kapten Boun dalam kapal. Mereka melanjutkan mencari permata-permata lain.

Singkat cerita, permata dan para pemiliknya berhasil berkumpul. Druun mengancam dengan ganasnya, mereka masing-masing menjaga jarak dan ego untuk menyelamatkan diri. Kalau ego dan kepentingan pribadi diapungkan, mereka takkan berhasil menyatukan. Hanya kepercayaan dan pengorbanan yang mungkin bisa menyelamatkan segalanya.

Raya mengajukan diri, ia rela menyerahkan permata itu di tangan Namaari, seterunya. Lalu ia mematung. Yang lain juga dalam kebimbangan, dan kekalutan. Demi kelangsungan hidup warga dan naga-naga yang hilang, demi kebersamaan, demi segala yang hidup dan masa lalu terang. Satu per satu menyerahkan permata ke Namaari, satu per satu pula mematung disambit Druun. Namaari memiliki tanggung jawab besar, taka da jalan kembali. Dan saat semua permata bersatu, para pemiliknya jadi patung semua. Beberapa detik yang menegangkan, sebab permata bersatu itu tak bergeming. Berhasilkah?

Ini film Disney, di mana ketegangan hanya selingan. Kekhawatiran sekadar lintas masa sesaat, ketakutan bahkan tak berarti. Meyakini happy ending adalah niscaya, menjadikan segalanya baik-baik saja adalah tradisi mereka, apa yang sudah dibuka dalam gegap gempita diakhiri dengan taburan konveti meriah bak 17 Agustus. Merayakan tempat yang tenang dan damai, dunia Disney adalah dunia impian.

Secara cerita jelas ini biasa, ini film anak-anak. Film dengan cerita ringan. Tak perlu kerut kening, rebahan, nikmatilah. Masih untung berhasil tuntas. Karena Hermione habis nonton Earwig, jelas Raya kalah kelas.

Naganya lucu, kurus, imut, dan taka da seram-seramnya. Di sini jadi karakter baik, jadi jangan berharap ada semburan api. Naganya gemerlap, tampak aneh sebab lincah sekali seolah beban badannya yang panjang berliku tak jadi masalah. Benar-benar film untuk fun. Saya malah tertarik sama monster tak kasat mata, Druun yang menghantui warga. Ibarat hantu yang mengancam manusia, bisa muncul setiap saat. Kalau yang tersentuh Druum menjadi patung, manusia yang tergosa setan akan terjerumus dosa. Pengembaraan kehidupan kan sejenis itu. Sentuhan jadi patung juga secara otomatis mengingatkanku pada Penyihir Putih di Narnia pertama, di mana untuk berkuasa, dia mengubah para seteru menjadi arca. Dan walau pada akhirnya kembali hidup (sama dengan di Raya), waktu-waktu terdiam itu seolah abadi. Kita tak bergerak, sementara dunia berjalan terus. Kita adalah titik diam, waktu berputar tak mengenal ampun. Ibarat usia kita saat terpatung 30 tahun, lantas enam tahun kemudian kembali hidup, apakah dihitung umur 36 tahun secara aktual, atau menjadi 31 sebab terbeku selama itu?

Tema memercayai teman juga disuguhkan, terutama eksekusi kunci. Saat semuanya mencoba menyelamatkan diri masing-masing, Raya memulai dengan pasrah dan yakin bahwa musuhnya bisa dipercaya dengan menyerahkan pertama itu. Pengorbanan untuk misi utama yang lebih mulia. Dalam hidup bisa saja seperti itu, justru jalan keluar terbaik adalah menjerumuskan diri dalam hal-hal yang dibenci. Menyatu sama musuh-musuh, atau orang-orang di luar lingkaran. Yang biasanya ngumpul sama teman sehobi, kini malah keluar dari zona nyaman demi hal-hal baru yang perlu dijelajahi. Selamat datang di semesta raya.

Raya and The Last Dragon | Year 2021 | USA | Directed by Don Hall, Carlos Lopez Estrada | Screenplay Qui Nguyen, Adele Lim | Cast (Voices) Kelly Marie Tran, Awkwafina, Gemma Chan | Skor: 3.5/5

Karawang, 280921 – Nassar – Seperti Mati Lampu

Badla: Kau Ada di Sini Sebab Kau Ingin Berada di Sini


“Di manakah keadilan?” N.G. Cherneshebvski (1928-1889)


Apakah kita cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus pembunuhan? Tagline-nya sangat pas dan sudah mewakili inti cerita: memaafkan setiap saat tidaklah benar. Film sejatinya hanya di kamar hotel, tapi dalam berkisah latar lantas melalangbuana ke rimba ingatan. Berdua merangkai kesepakatan, bekerja sama saling silang pendapat dengan was-was menjaga atensi untuk membunuh kata. Waspadalah, ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari informasi yang kau miliki. Ini adalah film perang kata-kata demi menegakkan keadilan.


Luar biasa. Aku terhenyak. Tak menyangka, tutur cerita yang disajikan sungguh samar, dan saat tirai itu dibuka, aku terkejut. Pintar sekali yang bikin cerita. Ide menyelidiki, menakar, menimbang berbagai kemungkinan, mengungkap kasus berat dilakukan orang sipil dan berhasil dengan gemilang saja sudah terdengar aduhai. Ini disajikan dengan nampan emas, dengan kuah melimpah masih panas dan segar, aromanya dahsyat. Detektif dengan pengungkapan menyenangkan. Sajian istimewa dari India, aku jatuh hati (lagi) sama aktor senior Amitabh Bachchan.


Kisahnya tentang pasangan selingkuh Naina Sethi (Taapsee Pannu) dan Arjun (Tony Luke) yang sama-sama sudah berkeluarga, berlibur ke Eropa. Sebuah telpon masuk dan menyadarkan mereka untuk gegas pulang, di perjalanan terjadi kecelakaan. Korban pemuda bernama Sunny Kaur langsung meninggal (setidaknya sampai di jelang akhir yang kita tahu), dalam kepanikan karena buntutnya akan panjang, mereka malah menjerumuskan diri dalam palung masalah dengan menenggelamkan korban beserta mobilnya di danau.
Saat bergegas, mobil mereka bermasalah dan muncullah penolong. Keluarga itu membereskannya, menjamunya, dan kini malah runyam. Sebab mereka adalah orangtua korban, saat HP anaknya dihubungi ada di kantong Arjun, dan ia berakting menemukannya di meja lantas dikembalikan. Well, jalan pintas mengatasi masalah itu kini justru menjadi jalan panjang nan berliku meliar parah.


Sekembali ke rutinitas, mereka mencoba melupakan, kembali ke keluarga masing-masing. Oh tidak bisa, perasaan dosa dan kesalahan itu menghantui, dan kasus ditelusuri sedetail-detailnya. Naina adalah seorang bos dengan kuasa besar di Perusahaan, kunci utama di sini, ia punya uang dan suka manipulatif demi kepentingan pribadi, Arjun sejatinya coba dihilangkan. Namun tidak, kasus malah makin rumit. Dosa satu menentang dosa berikutnya.


Di hotel lain, kita kedatangan tamu, atas saran Jimmy pengacaranya, ia meminta tolong pada pembela kondang yang dalam kariernya 40 tahun tak pernah kalah dalam bersidang. Badal Gupta (Amitabh Bachchan) akan disewa Naina, ia kena kasus berat tuduhan pembunuhan kekasih gelapnya Arjun di hotel. Badal meminta calon kliennya menjelaskan sejujur-jujurnya, sebab kalau ia tak jujur ia akan tahu dan kesepakatan batal. Maka dituturkan ulang kasus ini. Apa yang tampak di depan, itu direka ulang dengan berbagai versi dan sudut pandang. Ia mencoba membuat kita bingung, melahirkan keraguan dan membuat kita takut untuk memenuhi kehendaknya. Badal tahu ada kejanggalan, mengoreksi, menjelaskan, meluruskan. Kejujuran memang pahit, tapi berhasilkah disampaikan? Sebab sang penutur dilema, “Aku akan menjadi bukan hanya tertuduh pertama, tetapi malah menjadi tertuduh utama.”


Naina makin kagum akan pembela kondang ini, sebab telaah dan analisisnya tajam, bahkan kasus pembunuhan di hotel yang awalnya terpojok sebab kamar terkunci dari dalam, dan segala tuduhan mengarah kepadanya. Ia lalu menyusun alibi dan agak merasa tenang sebab meyakini ada orang ketiga, kepalanya berdarah kena pukul, dan ia masih berpotensi bebas. Namun kita kembali di awal, dari desa kecil Aviemore tempat kecelakaan yang menewaskan Sunny. Dengan pola acak dan plot liar, irisan bawang itu dikupas dengan sangat seru dan sabar, sampai pada keputusan final. Ok, akhirnya Naina mencerita seaktual mungkin, segamblang mungkin, sesadis mungkin. Kita baru tahu, ada ungkapan besar terungkapkan jelang Badla berakhir. Kali ini tepuk tangan saya membahana, penonton terpesona, tirai pertunjukan ditutup dengan sungguh meriah. Konveti ditabur berhamburan memenuhi panggung. Sensasi sedap cerita film berkelas baru saja terjadi.


Ternyata setelah browsing, ini adalah adaptasi dari film Spanyol berjudul Contratiempo (2016). Sudah sangat lazim, film dari satu negara didaur ulang negara lain. Entah aslinya bagaimana, yang jelas versi Badla benar-benar memukauku. Film-film India, kata Cak Mahfud menjadikannya keuntungan baginya, salah satunya ia tahu Akele Hum Akele Tum yang mengekor Kramer vs. Kramer, ia menepuk sekali, dua lalat terjerebab. Atau Ghulam yang menjiplak On The Waterfront, dan tentu saja Mann yang merupakan copyan An Affair to Remember. Kali ini adalah adaptasi resmi. Sejujurnya daripada bilang imitasi atau tiruan, mending adaptasi resmi. Rasanya lebih terhormat.


Amitabh Bachchan sukses besar memainkan orang cerdas yang selalu penasaran. Itulah yang membuat 100% ampuh, insting yang tajam. Saking lamanya tak melihat aktingnya, serasa nostalgia. Biasa nonton di tv tahun 1990-an, dulu rasanya ia sudah tua, kali ini makin terlihat tua. Tangguh, cerdik, lentur, keras, dan tua tapi tidak terlalu tua. Atau singkatnya ia tetap berkharisma, dari tatapan matanya saja kita tahu, ada kejanggalan yang akan dibongkar, dari intonasi, kita turut was-was salah langkah. Bahasa adalah peperangan dalam bentuk lain. Dan pada akhirnya segalanya terbuka dari hotel sebelah. Hebat sekali, oh ini to alasan beliau keras dan tak pandang maaf. Sabar sekali kisanak.


Menjaga agar saat menonton tidak kena bocoran di era digital sungguh sebuah perjuangan. Maka tanda spoiler patut diacungkan di mula bila kita mau bercerita sinopsis secara detail sampai tangan kapalan mengetik, mulut berbusa, saking semangatnya. Aku bersyukur di dunia ini, masih ada hal langka yang bagus selain puisi: twist. Menipu penonton!


Kau ada di sini sebab kau ingin berada di sini. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Kok bisa?!


Badla | Year 2019 | India | Directed by Sujoy Ghosh | Screenplay Sujoy Ghost, Oriol Paulo | Cast Amitabh Bachchan, Taapsee Pannu, Amrita Singh | Skor: 5/5
Karawang, 270921 – Karrin Allyson – All Or Nothing at All


Review ini didedikasikan untuk Harsoyo Lee, yang hari ini ulang tahun 47. Sehat, bahagia, makmur. Thx atas rekomendasi film-filmnya. ❤


Aku hanya berharap kita semua tetap sehat, rukun di BM dalam keragaman, tak ada yang lain.

Je Suis Karl: Dunia Duka Memiliki Lorongnya Tersendiri


“Kita tak akan menemukan kedamaian.”


Kehidupan adalah perjalanan luar biasa menuju wilayah tak dikenal. Kita hanya menggunakan kiasan dan analogi untuk menggambarkan perjalanan waktu. Tema pemberontakan, jalan terjal melakukan penggulingan kekuasaan. Anak-anak muda radikal, yang muda yang coba kuasa, yang muda yang bergolak. Idealisme diapungkan. Gaung Eropa yang maju, dunia Barat yang jadi acuan modernitas. Pemikiran bebas, dan segala tautannya. Mulanya dikemas dengan bagus, disuarakan dengan lantang, gegap gempita setelah pembuka yang sangat pahit. Lantas terjerebab, dunia duka dan lorong pilihan menghadapi kehidupan setelahnya. Separuh tersesat, separuh mati. Dalam Notes from Underground, Fyodor Dostoyevsky melukiskan seorang anti-hero yang ingin menjadi lawan dari hal-hal yang rasional, dapat dimengerti, dan bermanfaat… dia ingin menciptakan ketidakteraturan dan kekacauan sebanyak-banyaknya. Hal itu tercapai di Je Suis Karl, lantas bagaimana?


Kisahnya tentang Maxi Baier (Luna Wedler), pelajar yang menghadapi duka. Ayah Alex Baier (Milan Peschel) dan ibunya menyelundupkan imigran Muslim ke Berlin, Yusuf (Aziz Dyab) yang dikenalnya di lembaga sosial, dan berteman di facebook. Mereka khas generasi pasca Perang Dunia Kedua yang berpikiran terbuka, berwawasan tinggi. Keluarga ideal dunia Barat saat ini. keluarga ini makin lengkap dengan kedua adiknya yang menggemaskan. Saat itu Maxi baru saja pulang, dan peluk cium kehangatan disajikan.


Lantas kita disuguhi seorang pengantar paket untuk tetangga yang sudah tua, diterima oleh Alex. Meletakkan barangnya di belakang pintu, ia keluar lagi untuk mengambil anggur yang tertinggal di mobil, lalu booom! Ada serangan teror, paket itu meluluhlantakkan apartemen beserta isinya. Dalam keadaan limbung, burung-burung gagak berjatuhan. Dan dunia duka dimulai dari sini.


Dalam investigasi dan berita Koran, satu suara merujuk ke gerakan ektrimis Islam sebagai sangkaan. Namanya sangkaan, diakhiri tanda tanya. Penonton tentu saja (diarahkan) langsung ke Yusuf, sebab dua tahun lalu pernah tinggal di sana. Apartemen runtuh itu menjadi tugu seremoni duka dengan bunga, foto, lilin, dan segala doa. Korban meninggal sepuluh orang, ibu dan kedua adiknya termasuk. Maxi sendiri selamat, sebab setelah pulang ia langsung cabut ke rumah temannya Pia. Kini berdua menghadapi dunia yang tak sama lagi.


Alex banyak termenung. Entah langkah apa yang bisa diambil untuk mengobatinya, film yang bagus mengantar penonton merasakan apa yang dirasakan para karakter. Ya tentu saja, ini keadaan yang pelik dan sungguh berat. Maxi sama saja, jiwa mudanya lantas meluap. Ia bisa saja menyalahkan ayahnya karena menerima paket, ia juga kesal sebab tindak lanjut penyelidikan tak menemui titik terang. Muncullah pemuda tamvan Karl (Jannis Newohner) yang mengajaknya mengalihkan perhatian duka, mengajaknya ke Praha untuk ikut sidang terbuka para pemuda dengan tajuk, Re-Generation. Dengan langkah bimbang, sedang marah sama ayahnya, ia berangkat. Dari sini sebenarnya mudah sekali ditebak, ada yang janggal dalam diri Karl. Maxi ke sana dengan tujuan abu-abu. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.


Dari film dukacita penuh renungan, kita beranjak dalam tempo sesingkat-singkatnya ke area hingar bingar konser, pembicara motivasi, konferensi Eropa yang menghentak. Keduaan itu seketika coba dicerabut. Para muda-mudi yang digdaya bersama semangat angkatan baru, para milenial ini bersorak dan hinggap dalam optimism bahwa dunia ada di tangan mereka, masa depan terbentang untuk mereka, para orangtua minggirlah!


Karl adalah pembicara yang jago. Singa podium, ia menghipnotis puluhan peserta, dan live streaming di kanal yang betapa hebohnya saat view-nya tembus 50 juta. Sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Dari Praha mereka melanjutkan rute seminar ke Paris. Dan masa di antaranya tumbuh asmara, beberapa ring satu diperkenalkan. Mudah ditebak, Maxi: muda, cantik, pirang, bernyawa, ia jatuh hati sama Karl yang seketika mengisi hatinya. Dia ingin merasakan sukacita murni dari gerakan ini, dan pandangan liar yang luar biasa menyertainya.


Sementara penonton diberitahu siapa dalang teror Berlin, ternyata lingkaran dekat. Ini juga mudah ditebak, tak mengejutkan, walau nama Islam yang diapungkan di awal, itu hanya pemicu alih. Alex yang frustasi mencari Maxi, lantas seolah nemu ‘ding’ di kepala, mencari nama Yusuf di facebook tidak ditemukan, langsung menelpon polisi. Dunia serta merta berada di sisinya.
Re-Generation ini lantas menyusun rencana besar di Starboug. Buat sesuatu yang menghentak dunia, saat live streaming nanti kita buat gerakan pemberontakan. Gerakan muda yang akan mengguncang dunia. Dengan Odile Duval Sang pemudi tuan rumah sebagai acuan, dan rencana jahat bersama letusan tembak di ujung. Dunia memang sudah gila, nurani disembunyikan, sebuah pencapaian view di layanan daring menjadi patokan bahagia, hingga letupan massa mengambil alihnya. Susunan ini langsung mengingatkanku pada Origin-nya Dan Brown, yang juga diinspirasi dari Snow-nya Orhan Pamuk, dan saya yakin Pamuk juga terinspirasi dari kisah lama entah siapa. Dunia ini tak ada yang seratus persen original, bahkan dari novel yang berjudul Original. Semua saling silang pengaruh-memengaruhi. Ya, tak ada karya yang sepenuhnya unik, kalau ada maka karya sastra itu tak akan bisa dipahami sama sekali. Hahaha…


Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus satu suara dulu, bahwa tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Mau dalam bentuk apapun kemiskinan ada, penderitaan ada, kesedihan tercipta. Selama manusia hidup, tiga hal itu akan ada beriringan dengan esensi utama selubung histeria bernama bahagia. Kita hanya bisa mengurangi, mengikis, mendulang kemapanan. Ilmu pengetahuan mungkin agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Namun tetap saja, dunia ideal tak akan bisa terwujud.


Sepertiga awal film ini bagus sekali, dibuka dengan menghentak. Dukacita menyelingkupi, dikasih bocoran pelaku teror, sayangnya di bagian tengah menjadi film gemerlap. Warna merah yang dominan malah memeriahkan dukacita. Renungan kehilangan anggota kelurga menjelma musik disko dengan goyang kerlipnya. Ya ampun. Untungnya, kita yang tahu rencana Maxi turut ambil pidato menjadi was-was akhirnya diberi kelegaan. Dan saat Yusuf dan Alex menyusul ke Paris, kegemparan itu tetap saja menyelamatkan mereka. Dalam lorong gelap, hanya cahaya HP dan perjalanan pelarian itu sungguh menenangkan. Cerita berhenti pada titik itu. Hippocrates bilang, “Kehidupan ini singkat, kesenian berumur panjang, kesempatan cepat berlalu.”


Banyak cerita dengan awal yang sangat bagus, menyentuh, menggetarkan. Je Suis Karl memberi patik hebat, kedukaan ini memberi kita simpati. Kesedihannya terlihat nyata, aktingnya bagus, kita turut luluh lantak. Keluarga nomor satu, di sini dicerabut secara tiba-tiba, benar-benar picu sempurna untuk sebuah film. Satu saja contoh novel yang berhasil menghantuiku, bagaimana cerita keren dibuka. Dalam If Tomorrow Comes-nya Sidney Sheldon, kita disuguhi dunia jungkir balik hanya dalam beberapa lembar. Sang ibu menelpon memberi kata-kata perpisahan, padahal sang anak sedang bahagia menyambut kemungkinan pertunangan dengan pemuda konglomerat. Sang ibu menarik pelatuk, menembak diri sendiri. Naas. Guratan cerita keren, salah satunya harus memberi impress mula kepada pembaca/penonton. Je Suis sudah melaksanakan tugasnya dengan gemilang, rencana icip beberapa menit malah bablas hingga menit akhir. Walau adegan gemerlang di pesta itu agak merusak mood upacara pemakaman.


Kekacauan sudah pernah terjadi, sedang terjadi dan akan terus terjadi di belahan bumi manapun. Hanya selentingan jenis, bentuk, dan moral saja dikedepankan. Pegangan bisa berubah-ubah, patokan dimana ideologi diapungkan hanya picunya. Manusia di era manapun aka nada yang tersesat, sebab tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Generasi awal sahaja terjadi pertikaian, apalagi Re-generation, cuma secuil upil di pentas megah dunia.


Je Suis Karl | Rilis 23 September 2021 (Indonesia) | Germany | Directed by Christian Schwochow | Screenplay Thomas Wendrich | Cast Luna Wedler, Jannis Newohner, Milan Peschal, Edin Hasanovic, Anna Fialova, Fleur Geffrier Aziz Dyab | Skor: 4/5


Karawang, 270921 – Erin Boheme – Teach Me Tonight


Je Suis Karl bisa dinikmati di Netflix

HBD Lee 47, panutan film

The Autopsy of Jane Doe: Aku Tidak Percaya Hantu, tapi Aku Takut Padanya

Tommy: “Jadi kalau kamu dengar bunyi ‘ting’ (di kaki), maka dia masih hidup.”

Aku tidak percaya hantu, tapi aku takut padanya. Dunia gaib berserta arwah gentayangan menghantui keluarga petugas otopsi. Ayah, anak, dan pacar anaknya dilingkupi horror, mencekam. Hal-hal mistis terjadi saat otopsi mayat istimewa, keganjilan bagaimana dibalik kulit mayat ada simbol sebuah sekte sihir dari masa lampau mendirikan bulu roma. Langkah antisipasi diambil, tapi segalanya berantakan.

Kisahnya dibuka dengan mendebarkan, sesosok mayat ditemukan ditimbun dalam lantai basemen rumah tua. Mayat masih utuh dan tampak baru walau sekelilingnya lusuh. Pihak kepolisian mengirimnya ke rumah keluarga Tilden untuk diotopsi.

Tommy (Brian Cox) dan anaknya Austin (Emile Hirsch) sebenarnya baru saja selesai tugas, tapi karena sobat polisi Sherif Burke (Michael McElhatton) meminta hasilnya esok pagi harus ada, mereka lembur. Sementara acara kencan nonton bioskop sama Emma (Ophelia Lovibond), pacar Austin diminta pulang lagi dan balik jemput nanti. Well, kengerian dimulai dari sini.

Mayat itu diberi identitas Jane Doe (Olwen Catherine Kelly), semua prosedur otopsi dilakukan. Kamera nyala, rekaman jalan, pembedahan dimulai dari pengecekan fisik luar lalu kepala dibuka. Turun ke tubuh, hingga tuntas di anggota kaki. Semua memang tampak janggal. Mayat yang sudah dikubur puluhan atau ratusan tahun ini masih utuh, darah segar muncul. Ngeri, seolah baru kemarin malaikat maut menjemput.

Makin mengerikan, mereka menemukan simbol di balik kulitnya. Simbol sihir dari masa lampau. Ini jelas bencana, teror digalakkan. Lampu mati, badai menerjang, pohon rubuh menimpa atap, pintu terkunci sendiri, bayangan hitam menyelingkupi, kabut sesaat menari, hingga terdengar suara asing meritih. Kita semua menyaksi efek bedah jenasah. Sebuah lonceng yang dipasang di ujung jari kaki sejatinya untuk memastikan tubuh ini sudah jadi mayat, maka saat pisau bedah menyentuh kulit, akan ada urat syaraf yang tertarik, menyalurkan energi itu untuk memberi tahu para petugas bahwa jiwanya masih ada.

Maka saat anak-bapak ini mencoba kabur dan sembunyi di kamar lain, dan muncul asap disertai bunyi lonceng yang bergerak, tahulah, mereka benar-benar menemukan mayat penyihir yang mengancam. Dengan celah yang terbuka, Tommy menghantamkan golok. Fatal!

Tommy yang frustasi bahkan meminta anaknya untuk langsung menembaknya bila ia nanti kesakitan dalam sekarat, ia lebih baik mati draipada menderita. Maka saat kembali ke ruang otopsi, dan tragedi berikutnya muncul, keberanian Austin diuji. Tak sampai di situ saja, saat ia mendengar langit-langit berderak dan mengira bantuan datang, adegan itu malah menjadi bencana berikutnya sekaligus penutup. Keapesan keluarga berurusan dengan mayat yang salah.

Olwen Catherine Kelly hanya berakting tidur sejak mula, dan saat layar ditutup ia tak ada dialog. Mayat memerankan karakter penting yang menghantui, ia memberi makna kalau lagi apes, masalah memang kadang mendatangi.

Genre horror memang ada di ujung daftarku, tapi dari beberapa referensi menganjurkan menikmati. Sesuai saran, kumatikan lampu, ditutup pintu dan jendela, kusaksikan tengah malam. Ditambah saat itu hujan. Aroma mistis coba dipanggungkan, mencipta suasana cekam. Memang mengerikan, walau temanya teror dari Dunia Lain, sejatinya plotnya masih bisa diterima.

Banyak cara untuk menakuti penonton. Para hantu adalah makhluk abadi sejati, di mana yang mati ‘dihidupkan’ sepanjang masa. Hantu-hantu memiliki vitalitas yang lebih besar pada masa kini daripada sebelumnya. Semakin hari semakin banyak, semakin variatif bentuknya. Para hantu yang menyatroni sinema, dan akan selalu seperti itu. Seolah para hantu tak pernah habis atau mati. Jane Doe, mungkin bukan hantu sebab ia tak menampakkan diri dalam samar. Kedokteran medis merupakan suatu ilmu terapan yang empiris. Ia bahkan benda padat yang dioprek tubuhnya, ia tak melakukan panampakan yang mengagetkan. Ia sekadar badan mati yang rebahan. Jenis horror yang tampak lain kan? Itulah, hantu-hantu modernitas. Setting di ruang otopsi, aura takut menguar dengan kuat. Hantu-hantu masa kini memiliki ketertarikan aktif bukan hanya dalam masalah publik, tapi juga seni.

Semakin manusia mengenal hukum alam, semakin tekun manusia mencari tahu masalah supranatural. Bisa saja mengklaim tak percaya takhayul, tapi tak benar-benar meninggalkannya. Sekalipun telah meninggalkan dunia sihir dan alkimia, manusia akan selalu masih memiliki waktu yang melimpah dalam penelitian yang bersifat psikis. Mereka telah mencampurkan horror dengan realitas.

Kehidupan memiliki geometri rahasia yang tidak dapat diolah oleh akal sehat.

The Autopsy of Jane Doe | Year 2016 | England | Directed by Andre Ovredal | Screenplay Ian Goldberg, Richard Naing | Cast Brian Cox, Emile Hirsch, Ophelia Lovibond, Olwen Catherine Kelly | Skor: 4/5

Karawang, 220921

Rekomendasi Lee dan Handa, Thx.

I and the Stupid Boy: Seorang yang Pikirannya Semrawut akan Melakukan Tindakan Secara Semrawut Pula

“Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil, kalau kita tidak berani mengambil risiko.” Agatha Christie dalam Nemesis

Peradaban manusia sangat berutang pada ilmu dan teknologi. Teknologi selalu bermata dua, tajam menyayat kepedihan dan fungsi guna kemajuan. Di tangan para remaja bermasalah, yang mengedepankan penasaran dan pertalian sahabat, bisa memicu pornografi. Lihat saja, iklan aplikasi temu syahwat yang bersliweran di beranda sosmed, rerata menawarkan kemudahan kopi darat untuk mencari pasangan. Bisa dipilah apa saja bersadarkan kriteria, dari sekadar hobi, jual beli, pengembangan pergaulan, hingga cari pasangan. Namun sisi negatifnya, tersebab hati orang tak ada yang tahu, orang jahat juga bertebaran. I and The Stupid Boy menawarkan plot sejenis itu, efek buruk gadget yang dengan mudahnya pornografi tersaji. Apalagi kamu bersahabat dengan pemuda IQ jongkok. Waspadalah!

Kisahnya tentang Nora (Oulaya Amamra) siap kopi darat, ia berdandan, ia memiliki agenda bersama seorang pemuda yang tampak ideal. Ia mengirim banyak gambar ke orang asing, yang sayangnya beberapa menampakkan dirinya berpakaian minim atau bahkan bugil, kita tak tahu karena hanya mengetahuinya dari dialog. Setelah tampak rapi dan modis ia berangkat.

Di tengah jalan ketemu sahabatnya, mantan kekasih Kevin (Kaouther Ben Hania) yang menggoda. Berkomunikasi berbasa basi, lantas kepo sejatinya ketemu siapa sih? Saat ia membuka handphone-nya, apes Kevin langsung menyambar. Sambil petak umpet, kejar sana-sini, teriak meminta balik, dan jangan buka file ini itu, Kevin menemukan foto-foto yang di-sher. Ia tampak cemburu, kesal, sekaligus memanfaatkan moment. File-file itu diteruskan ke handphone-nya.

Ia memasuki gedung kosong, gelap, dan tampak menakutkan. Tak ada jalan lain, Nora harus meminta balik handphone tersebut. Banyak hal-hal pribadi dan sensitif. Semakin ke sini semakin mengesalkan tingkah sang lelaki, lantas karena sabarnya habis dan ia memiliki kesempatan menghajarnya. Ia terpaksa melakukan.

Kukira ia tewas, tapi hanya pingsan. HP-nya diambil balik, lantas Kevin difoto dalam keadaan berdarah dan limbung, kali ini sekaligus balas dendam, menggunakan HP pelaku, sembari diancam disebarkan ke semua kontak, Nora meminta Kevin meminta maaf. Ancaman itu tak digubris, dan saat klik dilakukan kehebohanlah yang terjadi. Baik kehebohan dari para penerima file maupun di gedung itu. Lihat, satu klik menimbulkan gema panjang mengerikan. Kalau sudah terjadi dan kacau, lantas apa yang kita banggakan?

Seorang yang pikirannya semrawut akan melakukan tindakan secara semrawut pula. Memang lebih baik jadi ‘penakut’ dalam arti berhati-hati daripada terlalu berani lalu lengah. Ada pepatah yang berbunyi ‘banyak lalat tertangkap dengan madu, daripada dengan asam.’ Kenyataannya banyak yang terperangkap dalam nafsu justru dengan madu ‘kan. Orang-orang asing di luar sana banyak yang bermental tempe, memanfaatkan situasi dan teknologi untuk kepentingan pribadi. Nafsu dikedepankan, logika disembunyikan, nurani hitam. Walaupun ini bukan hal baru, tapi teknologi digital telah menjadi ladang maksiat yang subur.

Pada umumnya pertumbuhan jasmani wanita lebih cepat daripada pria. Dan pertumbuhan ini tidak selalu disertai dengan kematangan pikiran. Kematangan pikiran akan tumbuh belakangan dan biasanya dipengaruhi oleh pendidikan, pergaulan, dan sebagainya. Wanita, secara naluriah akan memilih lelaki yang tahan uji, tekun, dan sabar. Maka masa remaja menuju dewasa menjadi sungguh krusial. I and the Stupid Boy menawarkan plot yang kurang lebih seperti itu. Lingkungan dan pergaulan yang baik akan membentuk karakter yang baik.

Seperti kata Voltaire, “Pemikiran seperti jenggot. Tidak tumbuh sebelum dewasa.”

I and The Stupid Boy | Year 2021 | Italy | Short Film 14m | Directed by Kaouther Ben Hania | Screenplay Kaouther Ben Hania | Cast Oulaya Amamra, Sandor Funtek | Skor: 3/5

Karawang, 220921 – Michael Fanks – The Camera Never Lies

Film ini diproduksi oleh Miu Miu, dan bisa dinikmati di Youtube

One Day: Peristiwa yang Telah Dinanti-nantikan dan Dimatangkan oleh Waktu Kini jadi Sebuah Takdir

“Beritahu aku, Sherina, apakah kau pernah punya seorang loyalis kasih sefantastis aku?”LBP

Maka, aku membuka mulutku dan meniup terompetku. Nadanya syahdu dan menelisik telinga, membuat Sherina terpental di dunia pararel hilang kesadaran, lantas ia membalas cintaku. Keberuntungan tak akan bertahan selamanya. Bagaimana kalau kamu dikasih kesempatan sehari untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih yang sejatinya jauh diluar jangkauan? Bagaimana rasanya menikmati masa-masa itu, impian liar yang terpendam diwujudkan dalam waktu 24 jam. Katakanlah, Sherina hilang ingatan, dan hilang kewarasan sehingga mencintaiku untuk waktu tertentu. Lantas saat ia balik ingatan dan juga warasnya, segalanya normal lagi sehingga ia kembali ke suaminya. Namun jelas sehari itu akan sangat amat special. Patut diperhitungkan, dunia fantasi percintaan akan selalu laku diolah. Latarnya saja digubah, proses mencintanya disetting, manusianya yang kreatif. One Day memang menawarkan kisah picisan, tapi tetap saja nikmat untuk diikuti, apalagi tokohnya yang culun yang lantas diwujudkan impiannya. Kita diberi kesempatan menyaksi orang aneh ini bahagia, walau sesaat.

Denchai (Chantavit Dhanasevi), seorang IT yang culun abis. Ia memang bagus dalam kinerja kerja, tapi sosialnya terbelenggu. Freak menghadapi rekan-rekan, apalagi cewek, apalagi cewek cantik yang diam-diam ia kagumi. Adalah Nui (Nittha Jirayungyurn) pusat segala cinta di kantor itu. Ia adalah semesta damba, yang dicintai di balik punggung. Sang IT mengistimewakannya, membantu ekstra bukan hanya masalah informasi teknologi, tapi juga dukungan segalanya yang bisa dikeranhkan. Lagu-lagu jadul ia masukkan winamp, sebagai playlist menemai orang terkasih. Ia hapal kebiasaan selama di kantor, ia bahkan tahu ada tanda lahir di tubuhnya. Pengagum luar biasa obsesif.

Sayangnya, Nui adalah kekasih gelap sang bos. Menjadi wanita simpanan, menjadi Sephia-nya. Ia mau dimadu, dijanjikan dinikahi suatu hari kelak. Perselingkuhan itu pahit baginya, tapi tetap saja dijalani. Cantik sih tapi pelakor.

Suatu hari mereka melakukan rekreasi kantor ke Jepang, di sebuah pegunungan Hokkaido yang merupakan tempat libur impian Nui sebab di sana ada festival tahunan, yang fotonya dipajang di atas meja kerja. Ia menanti hari itu dengan antusias. Sayangnya hari itu tak berjalan mulus. Bosnya memilih bersama istrinya, dan ia tak mungkin menceraikan istrinya sebab sedang mengandung. Hatinya luluh, pikirannya lantak. Rasanya langit runtuh. Ia berniat bunuh diri.

Untung ada si freak yang memerhatikan, mengikuti perjalanan di tengah salju, menolongnya di dinginnya badai. Nui, menurut diagnose dokter mengalami sakit hilang ingatan selama sehari. Ia akan pulih otomatis saat mentari esok muncul. Maka saat terbangun dan Denchai adalah manusia pertama yang dilihat, ia memodifikasi fakta. Mengaku pacarnya, mengaku kekasih istimewa. Nui seolah tak percaya, ia menelpon ibunya, karena nama bosnya yang disodorkan Denchai, segala semesta mendukung drama sandiwara ini. Ia mengangguk, tetapi ekspresi keraguan di wajahnya tidak menghilang. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu kini jadi sebuah takdir. Hello polisi, ada seorang IT meniru pacarnya Nui untuk mencuri momen! Keraguan menjadi bahan bakar pengembaraan.

Luar biasanya, Nui hanya diberi waktu beberapa jam dan sukses benar-benar jatuh hati. Dan sang pejantan jadi tangguh benaran. Cinta tak berkurang karena rekayasa dan tak bertambah karena luluhnya kekasih. Cinta yang Nui alami bukanlah hasil usaha tangan manusia, melainkan diciptakan oleh aktifitas Tuhan.

Endingnya memikat, kalian yang benar-benar mencinta pasti akan melakukan pengorbanan yang sama. Kebahagiaan orang terkasih ada di posisi tertinggi, yang mulia cinta, aku menghamba. Tertanda IT culun. Sebagaimana kalian para pujangga, seorang IT juga selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup.

Denchai adalah seorang loyalis sejati pada cinta dan kenangan. Itu terlalu melankolis, terlalu culun untuk laki-laki, tentu saja tak baik. Budak cinta tak harus seaneh itu. Konsep-konsep tentang mencintai seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga orang normal. Malah bikin muak bahkan marah. Perilaku damba sejenis itu adalah maklumat sahaya. Bro, kamu tuh lelaki! Cinta dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi.

Akhir yang pantas untuk keduanya. Tentu saja mereka tidak bersulang untuk sebuah perpisahan. Namun aku memberi tepuk tangan meriah untuk keberanian mengambil keputusan pergi. Selamat Boy, kamu lolos.

One Day | 2016 | Thailand | Directed by Banjong Pisanthanakun | Screenplay Banjong Pisanthanakun, Chantavit Dhanasevi, Nontra Kumwong | Cast |Chantavit Dhanasevi, Nittha Jieayungyurn, Theerapat Sajakul  Skor: 4/5

Karawang, 210921 – Billie Holiday – Fine and Mellow

Recommended by Lee, Thx.