Adventures of a Mathematician: Menjaga Jalan Berkerikil Tetap Bersih dengan Sapu


You can run all sorts programs on it, not just one.”


Di abad modern ini dunia Barat unggul dalam ilmu-ilmu matematika abstrak dan metafisika. Saat itu Leibniz menyimpulkan bahwa kalkulus memiliki landasan metafisis karena mencerminkan dialektika antara Tuhan dan ketiadaan.


Ini film tentang matematikawan, lebih banyak ke drama daripada hitungan kalkulus, ini film tentang rancang bangun bom, tapi sepanjang film malah tanpa ledakan. Kemarahan yang disajikan paling kencang bahkan hanya pengusiran dari meja meeting sebab beda persepsi rumus, atau saat kemarahan adik kepada kakaknya karena kecewa lebih mementingkan rumus-rumus ketimbang kepedulian keluarga. Sepanjang hampir dua jam kita diajak mengarungi perjalanan hidup ilmuwan dan dosen matematika Havard dengan sangat tenang. Tak ada yang tahu hidup ini pangkalnya di mana, bagaimana, dan kapan. Namun usaha untuk kehidupan layak patut dipejuangankan, demi masa depan anak cucu, termasuk meledakan kota dalam perang?


Setting utama di Perang Dunia II, di Amerika tempat pelarian para jenius Yahudi setelah Jerman mencipta cekam. Stanislaw Ulam (Pholippe Tlokinski) adalah salah satu jenius itu, bersama adiknya Adam Ulam (Mateusz Wieclawek) yang masih sekolah, mereka mencoba menata kehidupan di lingkungan baru. Di tahun 1940-an di mana Nazi sedang gemar menginvasi Negara-negara Eropa sekitar, kita menjadi saksi bagaimana bom nuklir dicipta. Kita dengan takjub menyaksi diskusi panas Ulam dan Oppenheimer, dan von Neumann juga. Telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam arena diskusi yang berlarut. Bahkan Ulam diusir karena berpandangan lain, yang sangat bertentangan terhadap kebiasannya, ia lama terdiam seolah-olah ingin menguji dampak kata-katanya.


Secara garis lurus sejarah, kita tahu Manhattan Project menghasilkan dua bom yang diledakkan di Jepang tahun 1945 di bulan Agustus. Nah, separuh awal film kita melihat pertimbangan, kebimbangan, hitungan formula, dan juga nurani para ilmuwan yang menciptanya. Dunia para jenius ini berkutat di situ, dari meja kampus ke laboratorium, dari pesta dansa mendukung para tentara hingga debat hitung partikel, disajikan dengan tenang dan menjanjikan. Kemampuan mereka untuk mengatakan yang benar dari yang salah adalah tetap utuh, mereka tidak pernah menderita ‘krisis nurani’.


Stan menikah dengan Francoise (Esther Garrel), seorang penulis, berkenalan di pesta para akademisi. Drama percintaan dibuat dengan bagus dan halus, tanpa banyak rayuan gombang dan adegan panas, mereka menikah, pindah perumahan, punya anak, bertegur sapa dengan tetangga, serta kehidupan manusia pada umumnya. Harusnya memang film roman dibuat senyaman ini, tak perlu adegan ena-ena panas menggelora hanya untuk menyatakan kasih.


Konfliks utama justru dari dalam, adiknya melanjutkan sekolah ke seberang, berat melepasnya. Sementara kakaknya Stefania yang masih di Polandia berkomunikasi dengan telepon dan telegram, meminta keluarganya untuk gegas pindah, situasi sedang mencekam dalam kecamuk perang. Namun dengan beberapa pertimbangan, tetap bertahan. Keputusan yang mengantar pada penyesalan ini ditampilkan dengan apik, bagaimana seorang matematikawan jenius ini sukses mencipta hitungan bom, tapi gagal menyelamatkan saudaranya sendiri. Stan menangis keluar rumah, tersayat fakta pedih, dan pingsan. Bukankah kita juga sering merasakan pahitnya keputusan salah? Tak serta merta di bangku sekolah cocok diaplikasikan di kehidupan. Dalam pelajaran Pancasila bilang; mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Kepahitan hidup dan segala rona-ronanya melindas apa saja yang ada di depan. Gagasan pasca perang tentang ketidaktaatan terbuka adalah tak lebih dari dongeng.
Sobatnya John von Neumann bahkan nantinya terkena kanker dan ungkapan kenyataan bahwa generasi kita akan digantikan generasi berikutnya, bahkan setengah abad kemudian orang-orang mungkin sudah melupakan kita membuat takut, walaupun disajikan dalam kegetiran, Adventures ditutup dengan manis, kedua sobat ini meyaksi mentari tenggelam di senja hari, tulisan-tulisan epilog muncul.


Perang Dunia II jelas telah membentuk dunia tempat tinggal kita, dan perlombaan senjata nuklir jelas membayang-bayanginya. Ledakan di Jepang secara langsung mencipta Indonesia merdeka, tangan Sekutu mencerabut Hirosima sekaligus membilas proklamasi di Jakarta.
Seperti kebanyakan kisah-kisah nyata, memang tidak lengkap. Ini hanya penggalan dari tahun 40-an sampai 50-an, masa penting sang ilmuwan itu dihabiskan di Amerika, beberapa hanya dimunculkan dalam narasi tulisan.

Diambil dari memoar Ulam, dan nyaris sepanjang film kita hanya tahu kulitnya saja. Rasa depresi yang disaji sepintas, amarahnya yang membuncah hanya sekali, mayoritas kita hanya mengikuti gerak polahnya dengan para sahabat, merumuskan masalah menyajikan senjata untuk memenangkan perang.


Pembukanya di New Meksiko jalan kaki di perbatasan di tengah alam, di akhiri dengan nada yang sama, di tengah alam tempat uji coba senjata menyaksikan matahari tenggelam. Lingkar kehidupan damai memang selalu dengan alam. Memesona, tenang, nyaman. Keruwetan pikiran ilmuwan hanya di meja-meja kampus, di laboratorium, saat kembali ke alam semua dilabur. Hidup di era manapun tak akan pernah mulus. Kita butuh perjuangan, apapun agar menjaga jalan berkerikil tetap bersih dengan sapu. Kisah Stanislaw Ulam memberi gambaran, sehebat apapun kalian, kita akan tergeser dan menjadi sejarah. Mari meninggalkan jejak yang baik buat generasi selanjutnya.


Adventures of the Mathematician | Year 2020 | Polandia | Directed by Thor Klein | Screenplay Thor Klein | Cast Philippe Tlokinski, Esther Garrel, Sam Keeley, Joel Basman, Fabian Kociecki, Ryan Gage | Skor: 3.5/5


Karawang, 051021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I