Gurita di Punggung Naf Tikore


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga oleh Erni Aladjai


Tapi besok malam kau akan datang lagi kan?”


Pembukanya jitu sekali, hok yang keras dan menghantui. Pembunuhan suami istri, yang (kemungkinan) dilakukan oleh anaknya sendiri. Pembunuhan sadis itu membuat warga sekitar ketakutan berhubungan dengan pelaku, muncul desas-desus ia memiliki ilmu hitam, kebal sakit, manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis, sampai kesaktian mandraguna dengan penghuni dimensi lain. Hal-hal sejenis itu, sungguh sangat mujarab openingnya, mencipta tanya, lantas kehidupan berlari kencang di tahun 1990-an.


Setting utama di desa Ko, di jelang akhir masa Pemerintahan Soeharto. Gejolak Orde Baru merambati kehidupan sehari-hari di perkebunan cengkih yang asri. Haniyah membesarkan sendiri anaknya Ala yang kini beranjak remaja. Rumah mereka bernama Teteruga sudah berusia seabad lebih, dan seperti pada umumnya hubungan anak-ibu, mereka saling mengisi keseharian. Saling menguatkan. Dari sekolah, membantu pekerjaan di kebun cengkih, mengajarkan hal-hal bijak bestari, dst.

Novel ini banyak menyorot sosial budaya kehidupan di sekeliling kebun.
Ala di sekolah dipanggil Aljul (Ala Juling) yang membuatnya ngambek sama teman-teman dan bu guru Hijima, teman Haniyah sekolah dulu. Teman akrabnya Yolanda dan Siti Amaranti juga mengesalkan. Ala mencatat olokan itu di papan tersembunyi, mencapai 180-an. Awalnya tak dicerita, tapi nantinya kekesalan itu membuatnya marah, dan ia melabrak ke sekolah. Kisah tentang bullying? Enggak juga.


Cerita sejatinya malah ada di kebun cengkih tetangga kita, Naf Tikore yang di prolog melakukan kejahatan. Segala desas-desus itu menjadikannya terasing, tak berhubungan dengan sesama. Ia tak ke masjid, tak pula ke gereja. “Bukan Muslim, bukan Kristien, sudah sepantasnya dia tinggal di hutan.” Ia tak makan binatang, ia hidup dari hasil alam sekitar. Dalam sejarah singkat yang ditulis, ia menjadi hebat dengan bantuan gurita di kapal perang menjadikannya legenda. Pada suatu hari di Sungai Mariata…


Nah, koneksinya di sini. Ala suatu malam bertemu hantu remaja bernama Ido. Datang dalam kabut dan mengajaknya berkomunikasi, ia adalah korban di zaman colonial. Anak pribumi yang bergaul sama anak londo, dibunuh oleh seorang pribumi demi mengabdi penjajah, tapi tetap abdinya tak digubris. Kepala Ido dipenggal dan dikubur terpisah.


Ala punya misi menyatukan jasad yang dikubur di kolong rumahnya dan di kolong rumah Naf. Saat semua warga takur dan begidik sama Naf, Ala dengan langkah ringan ke sana. Membawa makanan berkat, dan setelah basa-basi mengutarkan niatnya. Sesederhana itu. Kisah ditutup dengan isu perekonomian, sebuah keputusan anak penguasa Orde Baru mencekik petani cengkih, dan setelah berbagai upaya, baru berhasil dihapus setelah Orde itu tumbang.


Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. Pesannya bisa saja, apa yang kita makan menghasilkan apa tindakannya. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.” Ah, kembali ke jiwa. Misteri semesta ini, merongrong tanya. Dunia Haniyah dan Ala masih di seputar kebun, dan itu membuatnya tetap membumi. Aroma khas cengkihnya bahkan berhasil terbaui hanya dari penuturan.


Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Ekspetasi memang tak tinggi, nama Erni Aladjai sendiri masih asing di telinga, dengan lebl Pemenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, tetap saja bukan jaminan. Tebakanku jelas novel ini akan tersingkir dari daftar pendek. Kita butuh suatu ledakan hebat untuk jadi juara.


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga | by Erni Aladjai | KPG 592101875 | Cetakan pertama, Januari 2021 | Penyunting Christina M. Udiani | Penataletak dan Perancang sampul Pinahayu Parvati | Penerbit KPG | vi + 146 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-527-1 | Skor: 3/5


Karawang, 051021 – Michael Franks – Time Together


Satu sudah, Sembilan menunggu
Buku ini kubeli di Gramedia Karawang sepulang kerja, tepat di hari diumumkan nominasi KSK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s