Kritik dalam Cerita


Bibir oleh Krishna Mihardja
“ah, Jakarta berbunga juga nyatanya.”
Kumpulan cerpen yang diterbitakan untuk pendidikan Bahasa Indonesia. Cerpennya pendek-pendek, mudah dipahami dan dicerna. Masalah sehari-hari yang umum dihadapi. Misal, pekerja buruh di ibukota yang berasal dari desa, sebab istrinya hamil lagi dan ia kekurangan uang dan tak tahu harus bagaimana. Atau kritik sosial tentang pejabat yang menghamburkan dana pemerintahan cuma buat karnaval. Atau judul Bibir, yang memunculkan mengakuan dan pengaduan.

1. Bibir

Bagian-bagian tubuh yang menjelma jadi bibir untuk bersaksi. Tukang kebun yang complain terhadap Pak Lurah. Korupsi yang dilakukan dengan dalih penyeragaman, dengan aturan yang diberlakukan. Lalu telinga itu diserahkan saking lelahnya.
“Pak Lurah, betapa enaknya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Bukan korupsi atau manipulasi, tapi kolusi dan monolpoli.”

2. Setro Wagu

Setro Wagu yang diminta jadi dagelan. Awalnya ragu, tapi akhirnya dia menyadari bahwa semua yang dianugerahkan Tuhan dapat dijadikan senjata untuk mencari makan. Para petinggi yang melucu dan dibayar mahal.
“Lucu! Lebih lucu lagi, petinggi yang harus memikirkan nasib dua ratis juta manusia masih diberi tugas untuk mengurus PT. Lucu.”

3. Topeng

Sudah jadi kebiasaan pemimpin-pemimpin di Negara ini, Den Lurah juga akan bersikap ramah ketika dia berkunjung ke dusun-dusun di wilayah kekuasaannya. Suatu hari setelah berdebat dengan istrinya tentang zaman keterbukaan dan segala amanah dalam menjalankan tugas, dan memberi ceramah yang menggebu di depan khalayak, ada topeng barongan tergeletak di lantai. Lantas ia iseng mengenakannya. Dan mengubah banyak hal…
“Pakkk…! Ternyata kau yang melahap gadis-gadis itu!”

4. Sal

Pembangunan dan efeknya, Bambang bisa merasakan itu. Dulu para pegawai hanya memiliki satu sepatu, kini semua pegawai mimiliki rerata dua sepatu dengan harga mencengangkan. Ia lantas memiliki ide untuk membuka tender dengan Pak Kepala tentang menyediaan sepatu di instansi. Ia mencoba melobi Pak Kepala. Namun syaratnya membagongkan diri.
“Bapak harus menjadi anak pejabat terlebih dahulu. Karena ide-ide seperti itu hanya berhasil untuk anak-anak pejabat.”

5. Jakarta Berbunga

Klimin dan kawan-kawan dengan harapan di tanah ibu kota. Proyek yang dikerjakan dengan teman-temannya pembayaran tertunda, dan ia berencana protes sama bos-nya yang sebagain hanya tahu bernama Bas. Borongan rumah yang dikerjakan sudah selesai tapi uangnya belum cair, kebutuhan sehari-hari tidak bisa ditunda, apalagi istrinya menanti dengan segera butuh uang untuk operasi kanker. Sementara mereka pening, di jalanan ada karnaval dengan bunga-bunga melimpah, saat tahu bujetnya Bas kesal, sebab pemerintah membuang-buang uang sementara rakyatnya untuk makan saja sulit.
“Pawai… pawai bunga!”

6. Tik

Susastra yang dipanggil Pangeran yang misterius. Hanya hal berbau Jawa, mulai dari budaya, sastra, seni, sosial, semuanya. Lalu disarankan untuk menonton dangdut, dan bergeser kegemaran. Tawaran TIK yang dimaksud masih absurd, apakah gerangan?
“Dhimas, kini aku memiliki sebuah TIK.”

7. Kepala Dewan

Lakon dan istrinya yang sengit berdebat tentang jabatan dan nasehat-nasehat. Lakon ingin menjadi anggota Dewan, padahal sebagai pengusaha bus ia sudah mapan. Keinginan Lakon yang kuat akhirnya dilakukan, ia lalu menjual beberapa armada, dan masuk ke partai, lantas kampanye. Dan mudah diduga, jabatan itu sungguh menggiurkan sekaligus memuakkan.
“Kau tidak pernah berpikir Pak, karena kau tidak berkepala lagi.”

8. Tivi

Dengan niat baik, merantau ke Jakarta dengan menjual dua lembu sebagai modal, ia bertekad akan menggantinya suatu saat nanti, lima tahun pertama terpenuhi, lantas tahun ketujuh ia membelikan tivi, dan segalanya berubah sejak kotak ajaib itu masuk desa. Banyak hiburan dan segala hal keterbukaan mencipta kebebasan kebablasan. Si Nur yang cantik hamil di luar nikah.
“… warga desa kita ingin meniru yang dilihatnya di tivi kita. Kuning dan kuning semuanya.”

9. Kongres

Undangan kongres yang mendadak membuat Den Lurah malas datang, tapi ia harus. Syaratnya harus tanpa gigi. Karena memang menggiurkan dalam lawatan itu, ia datang juga. Bancakan kongres dengan tampang srigala di depan cermin.
“Hebat! Berpuluh-puluh pembuat gigi palsu ada di tempat itu! Heibat!”

10. Calur

Mas Guru setelah lima belas tahun emngabdi, ia memutuskan mengubah haluan. Ia ingin kaya, dan itu dianggap kesalahan oleh istrinya. Ia mencalonkan diri sebagai lurah, biayanya tinggi. Ah jabatan yang menggiurkan, dan segala kemudahan yang akan didapat, mencipta dilemma.
“Siapa bilang? Aku jelas tidak membagi uang, yang membagi adalah kader-kader kita. Jadi kita tidak bisa dituntut dalam hal ini.”

11. Bakiak

Bakiak dan filosofinya. Pak Lurah dan Pak Kiai yang penasaran akan suara bakiak yang dipakai. Lanta gadis dengan pakaian minim di sana, si Ita penyanyi dangdut. Pergi ke masjid dengan bakiak akankah tergoda?
“Ih pak lurah sombong amat. Tadi tidak menjawab salamku ketika berpapasan.”

12. Kaki

Wanita muda yang menikahi suami tanpa kaki. Cinta mendadak dengan adegan tabrak telah membuanya menerima pinangan, keputusan itu sejatinya tak matang sebab ia tak tahu kepribadian suaminya. Suaminya terlalu bergantung sama ibunya, dan itu membuatnya kesal. Lantas ia meminta bantuan dukun.
“Suamiku tidak berkaki!”

13. Theplo

Pembunuhan bocah gelandangan, dan segala kepahitan hidup di kota besar. Tragis memang, dunia anak jalanan yang keras. Theplo yang update berita di Koran merasa isi kepalanya berbeda. Tapi semua itu bagai angin lalu, ia hanya tukang semir sepatu yang miskin. Lantas nasib buruk menimpanya, dari seorang yang dipandang hina dan tak seberap, ia menjadi headline berita sebab ditemukan tewas. Semua mata tertuju pada kasusnya.
“Dunia akan kiamat jika bermimpi dianggap sebagai pekerjaan tetap.”

14. Hiperopia

Lakon yang menjadi anggota dewan telah berubah, itu dirasakan oleh istrinya dan itu sebuah kesalahan. Suka berbohong dank has pejabat korup yang memanipulasi.
“Sebagai seorang wakil rakyat, aku harus tampail sebagus mungkin.”

15. Pintu

Cerita lucu untuk tragedi. Pintu di belakang rumah yang dikeluhkan istri Pak Lakon, lantas diusulkan, dan diwujudkan menjadi petaka keluarga. Memang hidup terkadang kejam, dan lucu sekaligus.
“Untuk sebuah arti demokrasi, meski aku sendiri tak yakin bahwa pendapat itu terlontas oleh nalar yang benar.”

16. Kemin

Pak guru dengan gaji kecil yang pusing menghadapi hari sebab anaknya yang lulus SMA akan kuliah dengan biaya mengerikan, tak terjangkau oleh gajinya. Pinjaman di mana-mana dan gali lubang berikutnya terasa sulit diwujudkan.
“Terpujilah… wahai… engkau, bapak ibu guru…”

17. Reuni

Temu kangen sekolah yang direncana dengan berat dan langkah gontai, hanya nama Rini yang membuatnya semangat. Apalagi banyak teman-teman lamanya sudah sukses secara finansial, xx datang dengan minder. Lantas dapat kabar Rini tak muncul. Hiks,…
“Rini yang duduk di bangku depan kita itu?” / “Ya… kini dia jadi dosen.”

18. Namaku: Asu!

Memang waktu mengubah banyak hal, hidup ideal dengan pemikiran lurus dengan sendirinya bisa dibengkokkan oleh pesona dunia, jabatan di sini harta menjadi salah satu pemicu tertinggi. Lakon yang menjabat kini tiap mendaku nama jadi Asu. Lantas ia ke dukun untuk mengubah kebiasaan itu, malah kejadian berat yang terwujud.
“Bu… Ada apa? Aku sudah sembuh! Namaku Lakon.”

19. Sinden

Penutup yang bagus. Setelah kita dijejali segala adegan memuakkan pejabat, penutup kita malah sungguh bijaksana. Yu Trinil yang nyinden, kesulitan keuangan untuk mudik menjenguk ayahnya dan keperluan lain. Muncul penawaran tanggapan khusus dari Gimin yang berani bayar separuh gajinya. Atau menjual sepedanya saja?
“Hhmm, jika ayah tak sembuh… dan aku sudah memasuki dunia yang sakit? Apa arti semuanya?”
Terlihat banyak sekali kelanjutan, tokoh Lakon berulang kali muncul. Tema korupsi dan kritik sosial sungguh dominan, dan itu bagus. Pejabat yang bijaksana jauh dari harapan, kumpulan cerpen yang memang laik dibaca di sekolah-sekolah. Buku ini milik Perpustakaan SMP PGRI 2 Ciledug, tidak diperjualbelikan. Ada kartu perpus di kover dalam belakang.
Lahir di Yogyakarta, 17 September 1957. Guru matematika beberapa kali menyuimbang puisi atau cerpennya untuk antologi bersama sastrawan Yogyakarta. Antologi cerpen daerah ‘Ratu’ (1995) sempat terbang hingga Leiden University, Belanda. Cukup banyak buku fiksi remaja yang telah ditulisnya, diantaranya ‘Aku Tak Akan Kembali’ (1999) dan ‘Hantu-hantu Hutan’ (2000). Tulisan ini saya ketik ulang dari biodata penulis di halaman akhir, buku bagus dan layak disebar. Ini adalah buku pertama beliau yang kubaca, dan andai ada kesempatan menikmati karya lainnya, tentu akan kukejar dan kuulas di sini. Moga bisa.
Bibir | oleh Krishna Mihardja | Penyunting Agustina Purwantini, Zulaicha Hanum | Desain sampul Atif Prabowo, Wajyu Tri P. | Ilustrasi dalam Budianto, S. Pd. | Tata letak Achmad Budi Y., Rahmat Janary | Kode penerbitan GM 053.9193.01 | Tebal buku 14 x 20 cm | Maret 2001 | Cetakan 2008, edisi khusus | Penerbit Gama Media | ISBN 979-9193-59-1 | Halaman isi 176 halaman | Kertas isi HVS 70 gr/putih | Kertas kulit AC 180 gr | Skor: 4/5
Karawang, 021121 – 091121 – Manhattan Jazz Quartet
Thx to Bapak Saut, Jakarta

Satu komentar di “Kritik dalam Cerita

  1. Ping balik: Penjual Bunga Bersyal Merah | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s