Harapan telah Ditegakkan dalam Hidup dan Sajak


Jalan Malam oleh Wachid B.S.

Hatiku jendela yang membuka / Seperti kulihat wajahku ke dalam cermin / Maka di dalam cermin itu kulihat wajahmu juga / Yang menerangi bahwa hari ini adalah puisi indah

Ini baru buku puisi bagus. Sulit memang memahami puisi, tapi memang seyogyanya puisi itu tak harus dipahami, yang penting dinikmati. Jalan Malam memberi rona itu, apalagi di bagian akhir diberi pencerahan beberapa lembar bagaimana puisi harus disikapi. Walaupun sudah baca beberapa kutipan dan ulasan puisi, tetap saja isinya memberi wawasan kepada kita, bagaimana harus bersikap. Aku sendiri sudah mengikrarkan, mulai tahun ini membaca minimal 12 buku puisi. Sejauh ini baru dapat separuh +, melihat isi rak, aku optimis gegayuhan itu bakal terwujud. Dan, mungkin buku ini salah satu yang terbaik tahun.

Jalan Malam terbagi dalam lima, rata-rata benar-benar bagus. Kata-kata dipilih dengan jitu untuk menyampaikan maksud. Temanya beragam, ditulis merentang jauh setak tahun 1980-an hingga 2010-an. Dan yang ditampilkan menghanyutkan.sana Puisi Rumah Kecil misalnya, diambil sudut pandang seisi rumah dan karena syukur yang baik, tak mengapa rumah kecil asal ada kebersamaan. Di puisi RIndu Ibu misalnya, bikin nangis dan gegas ku telpon video call orang-orang rumah di seberang sana.

Atau tentang ziarah yang dilakukan di berbagai daerah ke tokoh-tokoh penting, syahdu dan melibatkan hati. Ziarah tak sekadar tabor bunga dan untaian doa, itu adalah perjalanan spiritual bagi peziarah. Apa-apa yang sudah terjadi di masa lampau bisa dipetik hikmahnya. Nah, apa itu hikmah, ada penjelasan panjang lebar di belakang, aku kutip sebagian di bagian bawah.

Bagian pertama ada enam puisi. Aku ambil beberapa yang kusukai. Pertemuan: bila sepasang kupu-kupu saling / berkejaran di antara bunga-bunga / bertanya lagikah kita / apa itu cinta.

Bagian kedua ada 28 puisi. Wasilah Kekasih: Tersebab engkau cahaya / Barangkali aku tak pernah mampu / Melukiskan puisi untukmu.

Rumah Kecil Untuk Orang Kecil: “Janglah ayah berpusing dengan rumah? / bukankah rumah kita ada di dalam hati / tatkala ayah da ibu selalu hadir / hati senantiasa berdesir / oleh kasih sayang yang abadi mengalir”

Jarak Kau Aku Sedemikian Dekatnya: Di atas kecantikanmu / Di bawah kecantikanmu / Di kanan kiri kecantikanmu / Kemana pun menghadap: kecantianmu

Hari ini Adalah Puisi Indah: Lalu berlalu aku menuju kran air / Kubasuh wajahku dalam urutan wudlu / Kusahadatkan hatiku agar kembali segar / Yang menyaksikan bahwa hari ini adalah puisi indah

Rindu Ibu: Ibu, / di pintu, di ramadhan ini / di pagi di saat subuh berganti mentari / kutelponkan ungkapan ampun nurani kepadamu / batu-batu kali batu-batu hati terkikis / tersedu airmata rindu

Bagian ketiga terdiri sebelas puisi. Anak Batu: Mengapa dia disapa “Anak Batu”? / Apa karena berumah di pegunungan batu / Yang dipanggang matahari dan cinta / Yang kepayang, lalu sujud di sajadah tanah dan sabda.

Sajak untuk Gus Jadul: Terbuat dari apakah hati lelaki yang / Meradang dengan tinju dan lemparan batu? / Terbalut dengan apakah hati lelaki yang / Merangsek dan merusak rumahmu?

Resonansi: Setiap hal di semesta ini, ada / getarannya, adaauranya, ada / gerakannya, sekalipun penuh lembut / sekalipun ada yang penuh kalut

Bagian keempat ada sebelas puisi. Menjelang Subuh Itu: pada akhirnya / di akar kepala itu / kembali ke dalam tanah / berumah di dalam tanah.

Jum’at Call dari Gus Mus: galilah tanahmu hingga matair / untuk airmata takjub kalbu kau aku / serupa musa di bukit tursina // membaca semesta yang maha / ulurkan tangan dengan cinta /senyum sang nabi menafasi hari

Hamba Membaca: Hamba membaca diri / hamba mengenali / alamat hyang abadi

Bagian Lima ada empat puisi. Cerita Mbah Basyir: di bawah pohon jati sampai akhir nanti / hamba berkawan sunyi

Syekh Siti Jenar: banjir bandang yang / menenggelamkan aku / ke dalam samudera makrifat cinta / sekaligus hujatan sepanjang usia

Jalan Malam: aku tak ingin pulang ke yogya karena / aku tidak akan pergipergi lagi / aku mau menjagamu sepanjang waktu

Kubaca selama dua hari, Sabtu-Minggu, 16-17 Oktober 2021 selaing seling dengan buku lain. Memang paling nyaman baca setumpuk buku dalam waktu bersamaan, gantian. Sebab aura dan feel-nya akan campur aduk, setiap penulis punya gaya dan caranya sendiri dalam bercerita, Jalan Malam di hari pertama dapat dua bagian, satu bagian lagi Minggu pagi, sisanya Minggu malam. Nyaman baik dibaca nyaring atau dalam hati.

Di akhir buku, ada kata penutup yang menjelaskan panjang lebar hikmah puisi. Tulisan bagus yang harus kalian baca snediri. Aku hanya mengutip sebagian kecil sahaja. Enam paragraf berikut aku ketik ulang.

“Pembicaraan tentang puisi, pertama-tama dan terutama adalah memperlakukan puisi sebagai puisi… dengan cara mengungkapkan ciri-ciri kualitatif.” Demikian Maman S Mahayana mengutip Cleath Brooks dan Robert Penn Warren (Understanding Poets, 1967). “Teks puisi menjadi pilihan karena relatif bebas dari latar belakang sejarah, biografi, dan tradisi kesusastraan.”

Jika berorentasi fisik dan duniawi, maka samalah pula dalam menilai apapun, termasuk menilai puisi… sebuah penilaian mestilah objektif, ada bukti fisik, dan bukti fisik puisi tentukah bahasa puisi.

Pencapaian keindahan (estetika) tertinggi dalam pandang keruharian Islam ialah hikmah, sebagaimana Sabda Nabi SAW. Sejumlah puisi mengandung hikmah; hikmah adalah onta orang beriman yang hilang, apalagi dia menemukan kembali, dia memiliki kebenaran terbaiknya. (al-Hujwiri melalui Hadi W.M.; 1985: 31)

Hikmah itu merupakan ‘onta’ (kendaraan) “orang beriman” yang “hilang”, karenanya “harus dicari” sehingga dia menemukan bukan sembarangan “kebenaran”, melainkan “kebenaran terbaiknya”.

Sebagai penyair bahwa realitas alam semesta dan manusia adalah lambang, yang harus dimaknai secara ilahiah.
Muhammad Iqbal, penyair profentik dari Pakistan bilang, “Suara seruling yang indah itu bukanlah karena mutu bamboo dari seruling itu, tetapi disebabkan oleh keindahan yang bergetar sedari hati ruhani si peniupnya.”

Senang rasanya bisa menikmati puisi. Banyak puisi yang kurang Ok (atau akunya yang belum bisa menikmatinya?), trial berkali-kali.

Beberapa kali bisa mendapatkan buku baik,tapi seringnya tidak. Nah, Jalan Malam ini dengan pede kubilang bagus, sebab feel-nya dapet. Bisa membuat terbawa, dan berhasil menautkan emosi pembaca. Senyam-senyum sendiri, sedih, atau mendapat anggukan kepala. Sebagai tambahan, puisi juga enak juga menyentuh agama. Sisi reliji memang jarang kudapati di puisi, makanya bagian-bagian sembah sujud kusuka.

Ziarah juga ada porsinya. Kukira puisi memang bisa untuk sisi apapun, menembus batas bahasan. Segalanya…

Jalan Malam | Oleh Abdul Wachid B.S. | Penyunting Arco Transept | Pemeriksa aksara | Daruz Armedian | Tat sampul Mita Indriani | Tata isi @kulikata_ | Lukisan Cover Widya Prana Rini | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, April 2021 | Penerbit Basabasi | vi + 142 halaman; 12 x 19 cm | ISBN 978-623-305-209-2 | Skor: 4/5

Karawang, 191021 – David Sanborn – The Dream

Thx to Intan P. Thx to Basabasi Store.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s