5 Detik dan Rasa Rindu #17

“Karena retina yang tak sengaja kutatap selama 5 detik, lahir beribu puisi yang belum juga mati.”

Apa yang bisa diharapkan dari seorang artis yang menulis buku, menulis puisi? Hanya sedikit artis yang sukses menapakinya, sayangnya debut Prilly ini tak sukses. Tertatih, dan biasa sekali. Harapan yang rendah, dan sesuai. Puisi memang sulit dipahami, susah diprediksi, kutipan-kutipan yang pantas di-sher di sosmed biasanya yang berhasil menautkan emosi pembaca, emosi pendengar, penikmat syair. Di sini, tak banyak, atau malah tak ada yang untuk dibagikan. Mengalir saja. Tema cinta dan kerinduan, jatuh cinta memang indah, akan lebih sangat indah bila tak bertepuk sebelah. Mencipta rindu, dan kenangan, yang tak sertamerta merangkul erat para pecinta.

Terbagi dalam tiga bagian: Muasal Puisi terdiri 7 puisi, Lorong Kenangan terdiri 37 puisi, dan Noktah satu pusi akhir. Seperti sebuah lakon, pembagian ini pembuka, inti, penutup. Tema utama adalah cinta, 5 detiknya, seperti yang tertera di pembuka, adalah masa penyair menatap lelaki hingga jatuh hati. Lima detik untuk sebuah pandangan, adalah lama. Bisa karena terpukau akan apa yang dilihat, bisa pula karena takjub sehingga perlu waktu untuk terus terpaku mengamati.

Ditulis besar-besar, dicetak mungil, sehingga seratusan halaman juga gegas kelar. Berikut sebagian yang terpilih untuk kuketik ulang:

Kamu: Kamu sangat populer di kepalaku / Bahkan saat aku tidur / kepalaku tetap disibukkan olehmu. / Karena kamu selalu singgah dalam mimpiku. / Gawat! Kamu itu seperti sel aktif di otakku / tak pernah berhenti.

Tuntutan: Cinta! / Satu kata tanpa definisi. / Tidak membawa Kejelasan / walau dampaknya kuat terasa

Degub Kesukaanku: Jika dia mencintaimu, dia tidak akan membiarkan / kamu berjuang sendirian. / Cinta memang sesederhana itu.

Pilihan: Jika hati bisa memilih. Pilihanku pasti akan jatuh lagi / kepada kamu. Tapi bagaimana bisa memilih kalau sudah / diahncurkan. Tinggal menunggu seseorang yang mau / membenahinya lagi.

3 Detik: Hanya 3 detik. / Retinaku dan retinamu bertemu. / 3 detik yang pernuh kekesalan, / kerinduan / dan beberapa rasa yang sulit dijelaskan. / Sesakit apapun aku karena tatapan itu. / doa terus kususun untuk kamu bahagia. / Dan detik-detikku terus dikepung rindu.

Merindu: Dan tubuh ini pun dingin. Merindu dekap hangat fatamorgana / digantikan sosok yang nyata, tetap gigil.

Tak Bisa Ku Miliki: Bagaiamanapun keadaan sekarang… / kamu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku, / bagian yang ku jaga walau sekarang aku biarkan pergi / Tempatmu di hatiku seperti keharusan yang tak bisa digantikan / rinduku padamu juga enggan dialihkan. / Oh, fatamorgana / namamu akan selalu ada di dalam doaku.

Aku Memilih Mengenangmu: Beruntunglah kamu / jika dicinta oleh orang yang suka menulis sepertiku / Karena kemanapun kamu pergi / namamu, dan semua tentangmu akan abadi / dalam sajakku.

Aku Lemah: Karena sesungguhnya terluka mengajarkan kita satu hal. / Cinta tidak akan pernah salah memilih tempat / dimana dia harus berada.

Noktah: Aku itu seperti hujan ya? / Walau sejuk tetap saja kamu berteduh

Noktah #: kita… / bertemu… / jatuh hati… / hilang… / tidak ada kata perpisahan… / tidak ada akhir… / dan masih aku bertanya… / Mengapa?

Ini adalah buku pertama Prilly, dan buku pertamanya yang muncul di blog ini. dikenal sebagai artis, Prilly memang multitalent. Walaupun di percobaan pertama ini, tak terlalu mencipta kesan bagus di sini, setidaknya percobaan mengumpulkan tulisan, mengumpulkan coretan puisinya untuk dibukukan perlu diapresiasi. Tak semua artis berpikir ke situ, temanya terlalu kecinta-cintaan. Standar sekali.

Saya baca hanya dalam setengah jam di pergantian hari jam 00:05 sd. 00:30 dini hari, malam Jumat (17.06.22) kebangun dan tak bisa tidur lagi, gegas baca puisi dan prosa, keduanya kelar! Padahal ini hari kerja. Setelah dua jam nekad, akhirnya coba kupejamkan istirahat. Dini hari adalah masa yang sangat tenang, dengan kondisi pikiran fresh, tetap tak berhasil mengesankanku.

Semoga ke depannya muncul karya-karya lainnya yang lebih tertata dan lebih Ok, semoga artis lainnya yang memiliki bakat tulis membukukan karyanya. Semangat Prilly!

5 Detik dan Rasa Rindu | by Prilly Latuconsina | Copyright 2017 | Penyunting naskah Fuad Jauharudin | Ilustrasi sampul Nafan | Desain Pidi Baiq | Desai nisi Deni Sopian | Penerbit The PanasDalam Publishing | Cetakan V, September 2017 | ISBN 978-602-61007-0-2 | Skor: 2.5/5

Karawang, 170622 – Shane Filan – Beautiful in White

Thx to Sri Wisma Agustina (Literasi Rongsok), Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #17 #Juni2022

Catullus #14

“Wahai, Caelius, Lesbiaku, Lesbia itu, / Itu Lesbia, yang Catullus cintai lebih / Dari dirinya dan semua miliknya, / Sekarang, di perempatan-perempatan dan lorong-lorong, / Menguliti keturunan berjiwa besar dari Remus.” – Catullus 58

Berpuisi, seringkali sulit dimaknai. Ada yang menyarankan, dinikmati saja. Tak perlu berfilosofi sebab kata-kata puisi itu bait, di mana maksudnya sering kali bercabang. Maka, membaca nyaring disertai kenikmatan suara akan lebih. Ada pula yang menyarankan, selama kamu nyaman dan enak menjelajah bait, kamu sudah sukses membaca puisi. Tak perlu tafsir? Tak perlu merumitkan diri? Dunia puisi, memang harus diakui tak selempeng prosa yang berkelanjutan. Narasinya lebih acak, dan bebas. Begitulah, Catullus dibuat buat pembaca sekarang untuk lebih hati-hati, mungkin ada rasa kurang nyaman, judulnya hanya bernomor, pilihan katanya jadul dengan banyak menyeret dewa Romawi, bukan Yunani yang lebih akrab di telinga, ya, ini buku dibuat sebelum masa Masehi, banyak catatan kaki, hingga ternyata ia adalah Penyair yang galau.

Dari catatan tambahan, kita tahu Catullus atau Gaius Valerius Catullus meninggal muda, 30 tahun. Diperkirakan ia hidup tahun 84 SM – 54 SM. Total ada 30 puisi yang diterjemahkan dari 113 puisi. Untuk memberi gambaran, puisi asli berbahasa Latin jua ditampilkan, jadi kini Latin kanan Bahasa Indonesia. Walaupun, jelas saya juga tak paham Latin, dengan mencantumnya orang yang jago di Latin bia memperkira seberapa akurat alih bahasanya. Nama Lesbia, berulangkali disebut sebagai curahan bait. Baik kemarahan, terutama cinta. Siapa dia? Diperkirakan adalah Clodia, saudari Publius Clodius Pulcher. Atau psudonim Lesbia adalah ‘Lesbos’, tempat Sappho berasal. Berbagai tema disampaikan, beberapa ada yang kasar, seperti puisi 36 bari pertamanya bilang ‘Catatan-catatan tahunan Volusius, kertas tahi’. Atau atau curhat karena sedang malesi, puisi 51 kunukil, ‘Kemalasan, Catullus, adalah masalah bagimu; engkau terlalu berlarut bersenang-senang dalam kemalasan’.

Ketimbang makin tak jelas juntrung pemaknaannya, saya kutip sebagian kecil saja puisi-puisinya.

Catullus 85: Kubenci dan kucintai. Mengapa kulakukan, mungkin kautanya /Tak kupahami, tetapi aku merasakannya dan tersiksa.

Catullus 7: Kautanya berapa banyak ciuman milikmu / Yang cukup, bahkan lebih, bagiku, Lesbia? Sebanyak jumlah butir-butir pasir Libia.

Catullus 92: Lesbia selalu berkata buruk padaku, tak pernah bisa diam. / Terhadap hal tentangku: Jika Lesbia tak mencintaiku, aku binasa.

Catullus 106: Ketika seseorang melihat juru lelang bersama anak lelaki tampan, / Apa yang orang itu percaya selain hasrat untuk menjual si anak lelaki?

Kunikmati bisa saja sekali duduk, tapi saya mengingin tiap malam membacainya satu per satu agar meresap, tapi tetap gagal. Kubaca ulang Minggu sore (12/6) secara acak dan cepat, tetap blank. Memang, nyamanan prosa. Tahun lalu berhasil menamatkan 12 buku puisi, sejatinya tetap sama saja, sulit menikmati. Tahun ini lebih selow, dan ini buku puisi pertama yang saya tuntaskan, ini sudah Juni bung. Jauh secara kuantitas.

Padahal buku ini kubeli saat pre-order tahun 2019 bersama enam buku lainnya. Esai, cerpen, novel semua sudah selesai baca. Menyisa ini saja, hufh… butuh waktu tiga tahun untuk membuka dan menuntaskannya. Benar-benar kudu niat, dan dipaksa.

Kututup catatan kecil ini dengan puisi pembuka, Catullus 1 dalam dua baris terakhir: ‘Bagaimanapun; o perawan teladan, buku kecil yang / Semoga bertahan terus-menerus, lebih dari satu abad.’ Dan lihatnya, doanya terkabul. Bukan seabad, sekarang sudah dua millennium, dan orang-orang berhasil menyelamatkan karyanya. Mungkin seribu abad lagi, akan masih dinikmati generasi berikutnya.

Puisi-Puisi Pilihan Catullus | by Catullus | Penerjemah Mario F. Lawi | Penerbit Gambang Buku Budaya | Desain sampul Kaverboi | Ilustrasi sampul “Catullus at Lesbia’s” karya Sir Lawrence Alma Tadema (commons.wikipedia.org) | Desai nisi Kun Andyan Anindito | Cetakan pertama, Agustus 2019 | xii + 67 hlm. 13 x 19 cm | ISBN 978-602-677-85-3 | Skor: 4/5

Karawang, 140622 – Avril Lavigne – My Happy Ending

Thx to Paperbook Plane, Yogyakarta

#30HariMenulis #ReviewBuku #14 #Juni2022

Harapan telah Ditegakkan dalam Hidup dan Sajak


Jalan Malam oleh Wachid B.S.

Hatiku jendela yang membuka / Seperti kulihat wajahku ke dalam cermin / Maka di dalam cermin itu kulihat wajahmu juga / Yang menerangi bahwa hari ini adalah puisi indah

Ini baru buku puisi bagus. Sulit memang memahami puisi, tapi memang seyogyanya puisi itu tak harus dipahami, yang penting dinikmati. Jalan Malam memberi rona itu, apalagi di bagian akhir diberi pencerahan beberapa lembar bagaimana puisi harus disikapi. Walaupun sudah baca beberapa kutipan dan ulasan puisi, tetap saja isinya memberi wawasan kepada kita, bagaimana harus bersikap. Aku sendiri sudah mengikrarkan, mulai tahun ini membaca minimal 12 buku puisi. Sejauh ini baru dapat separuh +, melihat isi rak, aku optimis gegayuhan itu bakal terwujud. Dan, mungkin buku ini salah satu yang terbaik tahun.

Jalan Malam terbagi dalam lima, rata-rata benar-benar bagus. Kata-kata dipilih dengan jitu untuk menyampaikan maksud. Temanya beragam, ditulis merentang jauh setak tahun 1980-an hingga 2010-an. Dan yang ditampilkan menghanyutkan.sana Puisi Rumah Kecil misalnya, diambil sudut pandang seisi rumah dan karena syukur yang baik, tak mengapa rumah kecil asal ada kebersamaan. Di puisi RIndu Ibu misalnya, bikin nangis dan gegas ku telpon video call orang-orang rumah di seberang sana.

Atau tentang ziarah yang dilakukan di berbagai daerah ke tokoh-tokoh penting, syahdu dan melibatkan hati. Ziarah tak sekadar tabor bunga dan untaian doa, itu adalah perjalanan spiritual bagi peziarah. Apa-apa yang sudah terjadi di masa lampau bisa dipetik hikmahnya. Nah, apa itu hikmah, ada penjelasan panjang lebar di belakang, aku kutip sebagian di bagian bawah.

Bagian pertama ada enam puisi. Aku ambil beberapa yang kusukai. Pertemuan: bila sepasang kupu-kupu saling / berkejaran di antara bunga-bunga / bertanya lagikah kita / apa itu cinta.

Bagian kedua ada 28 puisi. Wasilah Kekasih: Tersebab engkau cahaya / Barangkali aku tak pernah mampu / Melukiskan puisi untukmu.

Rumah Kecil Untuk Orang Kecil: “Janglah ayah berpusing dengan rumah? / bukankah rumah kita ada di dalam hati / tatkala ayah da ibu selalu hadir / hati senantiasa berdesir / oleh kasih sayang yang abadi mengalir”

Jarak Kau Aku Sedemikian Dekatnya: Di atas kecantikanmu / Di bawah kecantikanmu / Di kanan kiri kecantikanmu / Kemana pun menghadap: kecantianmu

Hari ini Adalah Puisi Indah: Lalu berlalu aku menuju kran air / Kubasuh wajahku dalam urutan wudlu / Kusahadatkan hatiku agar kembali segar / Yang menyaksikan bahwa hari ini adalah puisi indah

Rindu Ibu: Ibu, / di pintu, di ramadhan ini / di pagi di saat subuh berganti mentari / kutelponkan ungkapan ampun nurani kepadamu / batu-batu kali batu-batu hati terkikis / tersedu airmata rindu

Bagian ketiga terdiri sebelas puisi. Anak Batu: Mengapa dia disapa “Anak Batu”? / Apa karena berumah di pegunungan batu / Yang dipanggang matahari dan cinta / Yang kepayang, lalu sujud di sajadah tanah dan sabda.

Sajak untuk Gus Jadul: Terbuat dari apakah hati lelaki yang / Meradang dengan tinju dan lemparan batu? / Terbalut dengan apakah hati lelaki yang / Merangsek dan merusak rumahmu?

Resonansi: Setiap hal di semesta ini, ada / getarannya, adaauranya, ada / gerakannya, sekalipun penuh lembut / sekalipun ada yang penuh kalut

Bagian keempat ada sebelas puisi. Menjelang Subuh Itu: pada akhirnya / di akar kepala itu / kembali ke dalam tanah / berumah di dalam tanah.

Jum’at Call dari Gus Mus: galilah tanahmu hingga matair / untuk airmata takjub kalbu kau aku / serupa musa di bukit tursina // membaca semesta yang maha / ulurkan tangan dengan cinta /senyum sang nabi menafasi hari

Hamba Membaca: Hamba membaca diri / hamba mengenali / alamat hyang abadi

Bagian Lima ada empat puisi. Cerita Mbah Basyir: di bawah pohon jati sampai akhir nanti / hamba berkawan sunyi

Syekh Siti Jenar: banjir bandang yang / menenggelamkan aku / ke dalam samudera makrifat cinta / sekaligus hujatan sepanjang usia

Jalan Malam: aku tak ingin pulang ke yogya karena / aku tidak akan pergipergi lagi / aku mau menjagamu sepanjang waktu

Kubaca selama dua hari, Sabtu-Minggu, 16-17 Oktober 2021 selaing seling dengan buku lain. Memang paling nyaman baca setumpuk buku dalam waktu bersamaan, gantian. Sebab aura dan feel-nya akan campur aduk, setiap penulis punya gaya dan caranya sendiri dalam bercerita, Jalan Malam di hari pertama dapat dua bagian, satu bagian lagi Minggu pagi, sisanya Minggu malam. Nyaman baik dibaca nyaring atau dalam hati.

Di akhir buku, ada kata penutup yang menjelaskan panjang lebar hikmah puisi. Tulisan bagus yang harus kalian baca snediri. Aku hanya mengutip sebagian kecil sahaja. Enam paragraf berikut aku ketik ulang.

“Pembicaraan tentang puisi, pertama-tama dan terutama adalah memperlakukan puisi sebagai puisi… dengan cara mengungkapkan ciri-ciri kualitatif.” Demikian Maman S Mahayana mengutip Cleath Brooks dan Robert Penn Warren (Understanding Poets, 1967). “Teks puisi menjadi pilihan karena relatif bebas dari latar belakang sejarah, biografi, dan tradisi kesusastraan.”

Jika berorentasi fisik dan duniawi, maka samalah pula dalam menilai apapun, termasuk menilai puisi… sebuah penilaian mestilah objektif, ada bukti fisik, dan bukti fisik puisi tentukah bahasa puisi.

Pencapaian keindahan (estetika) tertinggi dalam pandang keruharian Islam ialah hikmah, sebagaimana Sabda Nabi SAW. Sejumlah puisi mengandung hikmah; hikmah adalah onta orang beriman yang hilang, apalagi dia menemukan kembali, dia memiliki kebenaran terbaiknya. (al-Hujwiri melalui Hadi W.M.; 1985: 31)

Hikmah itu merupakan ‘onta’ (kendaraan) “orang beriman” yang “hilang”, karenanya “harus dicari” sehingga dia menemukan bukan sembarangan “kebenaran”, melainkan “kebenaran terbaiknya”.

Sebagai penyair bahwa realitas alam semesta dan manusia adalah lambang, yang harus dimaknai secara ilahiah.
Muhammad Iqbal, penyair profentik dari Pakistan bilang, “Suara seruling yang indah itu bukanlah karena mutu bamboo dari seruling itu, tetapi disebabkan oleh keindahan yang bergetar sedari hati ruhani si peniupnya.”

Senang rasanya bisa menikmati puisi. Banyak puisi yang kurang Ok (atau akunya yang belum bisa menikmatinya?), trial berkali-kali.

Beberapa kali bisa mendapatkan buku baik,tapi seringnya tidak. Nah, Jalan Malam ini dengan pede kubilang bagus, sebab feel-nya dapet. Bisa membuat terbawa, dan berhasil menautkan emosi pembaca. Senyam-senyum sendiri, sedih, atau mendapat anggukan kepala. Sebagai tambahan, puisi juga enak juga menyentuh agama. Sisi reliji memang jarang kudapati di puisi, makanya bagian-bagian sembah sujud kusuka.

Ziarah juga ada porsinya. Kukira puisi memang bisa untuk sisi apapun, menembus batas bahasan. Segalanya…

Jalan Malam | Oleh Abdul Wachid B.S. | Penyunting Arco Transept | Pemeriksa aksara | Daruz Armedian | Tat sampul Mita Indriani | Tata isi @kulikata_ | Lukisan Cover Widya Prana Rini | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, April 2021 | Penerbit Basabasi | vi + 142 halaman; 12 x 19 cm | ISBN 978-623-305-209-2 | Skor: 4/5

Karawang, 191021 – David Sanborn – The Dream

Thx to Intan P. Thx to Basabasi Store.

Zaman Meleset; Melaju Kencang

Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

… aku membujukmu dengan bibir entah milik siapa: / “di sini, kami sama-sama sedang berbahagia!”… – Doa Para Pasien

Alurnya agak lambat, untung di tengah sampai akhir langsung kebut seru. Bagus banget saat halaman mulai di 50-an. Hufh… lega. Dimula dengan Jembatan Ambruk, meninggi dalam Sapi dari dalam Kitab Suci, lalu meledak bungah dalam Revolusi angsa Putih. Saya memang masih sulit menikmati puisi, tapi setidaknya di Penyair Revolusioner mendapat hikmat dan cumpuan asyik. baca baik-baik ini, “Hidup kadang-kadang saja lembut maka senjatamu teruslah asah, aku berdiam pada gagangnya!” 

Seperti sebelumnya saat ulas puisi, saya ambil beberapa yang memikat. Saya kutip sebagian dan kuselingi komentar. Satu kutipan, satu paragraf komentar. Enjoy it!

Musa di Sinai: Kami telah lewati / badai-badai kecil / diaku pendek saja: / Tuhan, kami ini hendak apakan?

Mungkin yang menjadi saran atau kritik adalah, dalam penyampaian kalimat langsung, sering kali ditutup dengan tanda perintah (!) seolah marah atau meminta perhatian, itu sah-sah saja tapi ya agak mengganggu kalau keseringan. Kutemui, banyak sekali. Seperti penulis mula yang sering menggunakan tiga tanda perintah (!!!), awalnya mungkin biasa, tapi jelas itu kurang nyaman.

Kota yang Terkunci dari Dalam: Pintu-pintu dari baja / engsel-engsel besar / dan kunci dengan gembok berkarat / dinding-dinding berwarna cokelat / lumut-lumut yang menjalar / dipisahkan oleh gang-gang / sunyi seketika menyergap / suara Anda lama bersipongang / seakan sedang berada dalam gua – atau gulag? / ketika melihat keluar, betapa hidup terasa terpisah dari keriuhan…

Janji, sumpah, maklumat. Sering kali kita temui dalam puisi. Cerita yang diberikan adalah sebuah kalimat terlontar yang dipegang, memegang angin? Seolah kata-kata bisa diperas, kali ini terlambat.

Nubuat yang Datang Terlambat: … “Aku bersumpah demi awan gelap ini / yang turun setelah petang hari / Aku sama sekali tidak benci padamu / aku berkata begini agar hatimu senang / tapi Aku mesti menyingkir / tapi bukan pertanda mangkir!”…

Paling suka puisi yang bercerita, maka narasi bagiku penting. Setiap bait yang diketik, memberi aura, bukan sekadar pilihan diksi. Maka saya suka puisi ini:

Membangun Kota: Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong tak sudah-sudah! / Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat, / masa depan hanya diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengangkut / segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang / takut terbang / padahal kelak oto dan sepur akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti anda susah dibawa serta!”

Karya sastra lama juga disenggol, sudah sangat sering kusaksi dan nikmati. Kali ini dari Marah Rusli yang dikomplain oleh tokohnya.

Sitti Nurbaya di Pasar Gadang:Aku bayangkan ruh Nurbaya berkata: / pengarang celaka telah mendorongku ke jurang neraka!…

Beberapa terasa pengulangan, seperti sapi betina yang ada di kitab. Awalnya wah, ayat suci dikutip, tapi terulang di belakang, dan lagi.

Sapi dari dalam Kitab Suci: … Sapi betina yang luka pada pantat / menggoyang-goyangkan telinganya / yang kempis-kembang bagai hasrat pada kerampang / dia terpancang pada tambang / hingga larut malam / di padang-padang kuning / dikebat gelap begini lindap / kau tinggikan obormu ingin menangkap / “wujud, wujudmu, kami hendak!”

Ini yang bagiku ironi, jam 12 tutup saat adzan dhuhur, lantas kegiatan lanjut sampai adzan asar? Bagiku, bait terakhir adalah asar sebab dua adzan disandingkan di tengah hari.

Bank Tutup Jam 12 Siang: Bank tutup jam 12 siang, suara azan bagai bunyi perut lapar, / (banyak kejadian tertuang; puisi ditutup dengan begini) / suara azan terdengar lagi bagai suara kentut yang tertahan

Ini tentang fantasi, tukang bakso yang dikerumun pembeli, merdu sekali gema gentanya.

Gunung Api Fantasi: Ada tukang bakso lewat setiap sore / membunyikan genta sebagai tanda, aku mengira yang lewat / gerombolan sapi, orang-orang memburunya bagai arak- / arakan ke kuburan. Tia ada di antara / riuh karnaval itu, para pembeli berbicara dengan ibu / sambil menutup kedua telinga,…

Nah, narasi itu penting. Tak hanya di puisi, dalam prosa penyampaian yang tepat dan nyaman juga menjadi nilai lebih. Ini juga bagus sekali, bagaimana mudik menjadi petaka. Lantas diakhiri dengan semacam pemakluman kata ‘jihad’, padahal ia melontarkan sendiri dari kereta yang bergerak.

Kereta Lebaran: Dari atas kereta yang lewat malam / seorang pemudik yang penat berdesak-desakan / memutuskan / lompat kea tap rumah, melesat, bagai batu dilontarkan / orang-orang dalam rumah terpekik, ‘sialan!’, ‘anjing hutan!’ / mereka mengira sedang terjadi kerusuhan antarsuporter / sepakbola / mereka mulai menghitung-hitung berapa nilai kerugian / harus mengganti plafond an genteng-genteng yang rusak / sementara ‘si batu’ yang terlontar itu berguling-guling ke tepi / rel / persis batu, beradu dengan batu lain yang lebih besar / nun di kampung, keluarga yang mati berkata: / Dia wafat dalam berjihad!

Kutemui kata baru ‘aur’, belum kubuka kamus, dari web google artinya emas (bahasa Rumania). Namun dari web sinomim artinya: bambu/buluh. Mungkin pulang kerja nanti saya buka KBBI kertas sahaja.

Kau Tebing Aku Aur: … tetap tak bisa ia dilerai / katanya kau tebing aku aur / tiap runtuh padamu / riuh rusuh padaku…

Kenapa saya pilih kutip ini, sebab pagi disiram mentari itu nyaman dan segar sekali. Bahagia itu sederhana walaupun masih ngontrak.

Cinta Musim Panas (1): Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik / yang terus-menerus naik ke kerongkonganmu / tapi aku akan tetap membajak luas sawahmu, menjadi sapi, atau kerbau untukmu… / Kita akan bahagia disiram cahaya matahari jam tujuh pagi, / kita akan bahagia memiliki rumah /  yang bukan milik pribadi…

Sederhana tapi pas, cinta yang dimetamor dalam salak aning malam.

Cinta Musim Panas (2): … Cintaku adalah kasmaran sepanjang waktu. / Cintaku semata salak anjing dalam kegelapan!

Pemilihan kata beriak, lalu berdebur, lalu melipur. Enak didengar bukan?

Selesai ke Laut: … yang aku kira lebih ganas dari ombak memukul / Rasanya tak kutinggalkan engkau / yang beriak, yang berdebur, lebih melipur

Ini lebih ke realistis, ayolah kita hidup di kerasnya keadaan. Omong kosong lebih pas ketimbang angan-angan.

Pulang Malam: … Aku tak percaya pada impian yang menggebu-gebu. / Kita sebaiknya memelihara omong-kosong untuk bisa / berbahagia / aku tidak bisa menangkapmu lebih jauh lagi.

Demikian pengamatan dan komentar penikmat puisi amatir. Semoga berkenan. Seperti biasa pula, setiap buku debut baca kuketik ulang profil penulis/penyairnya.

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Banyak tulisannya di media massa: esai, puisi, cerpen, tinjauan buku dan film. Buku pertamanya kumpulan puisi Odong-odong Fort de Kock (Padang, Kabarita, 2013) merupakan lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013, dan merupakan Buku Satra Terbaik 2013 versi Majalah Tempo. Bukunya yang lain, Mendisiplinkan Kawula Jajahan (Yogyakarta, Basabasi, 2017), Rajab Syamsuddin si Penabuh Dulang (Yogyakarta, Divapress, 2017). Ini buku pertama bung Deddy yang saya baca, dan rasanya laik dinanti buku-buku berikutnya.

Tahun ini target melahap 12 buku puisi, masih empat bulan lagi, dan percayalah, akan kukejar walau para ‘Penyair Revolusioner.’

Penyair Revolusioner | Kumpulan Puisi | by Deddy Arsya | 57.17.1.0037 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | Penerbit Grasindo, 2017 | ISBN 978-602-375-961-3 | Cetakan pertama, Juni 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 310821 – David Sanborn – The Dream

Thx to Dea (GK)

“Adakah Kau Juga Menjual Doa?”

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering by Hasan Aspahani

Aku tanya, “Adakah kau juga menjual doa?”Penjual Bunga di Jalanan Kota Bangkok

Dibuka oleh ulasan maestro penyair Tanah Air Sapardi Djoko Damono, dan ditutup oleh Goenawan Moehammad yang lebih sederhana. Hebat, kalau empunya puisi sudah mau turun gunung memberi sambutan atau kata pengantar, berarti ada sesuatu yang istimewa sehingga perlu ditelaah lebih lanjut. Beliau berujar: “… Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Dalam khazanah sastra modern kita, restoran adalah tempat yang sering muncul, baik sebagai sekadar latar maupun sebagai penanda. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna…”SDD

Rangkaian puisi yang berselibat narasi rasanya lebih kusukai ketimbang syair-syair pendek penuh rima. Ada jalinan utas kisah yang nyambung dari tiap sisinya, maka Bagian III. Penjahit Telanjang dan Sosok-Sosok Lainnya terasa biasa, yang lainnya dengan total empat bagian besar, tak jadi soal. Atau bisa kubilang Ok lah.

Kumpulan puisi yang lebih banyak bertutur dari sudut pandang orang pertama lebih nyaman dan asyik disenandungkan, karena melibat pembaca langsung, kata-kata boleh runut atau ditebar dalam petak lurus kanan per bait. Maka wajar, saya menyukai buku ini. Sempat berujar ‘huuufhhh… so typical…’ pas bagian tiga, tapi langsung membuncah lagi, bagian keempat mungkin yang terbaik selain awal-awal yang bersinggungan dengan kematian, terasa janggal dan absurd. Metafora yang membalikkan posisi kata dalam larik itu merupakan sumber keterampilan berbahasa sekaligus ambiguitas.

Karena saya ga romantis, dan ga terlalu bisa menikmati atau mencipta puisi, sajak-sajak pujian sakral bagiku, saya kutip sahaja sebagian yang menurutku bagus atau setidaknya menarik hati. Monggo dieja dengan kenyamanan tersendiri:

Sajak Ini Kuberi Judul: Buku: Diam-diam aku sedang mempersiapkan /

sebuah kematian yang paling sempurna: / dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu? /Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati! – (h. 40)

GMT, The Home of Time: Akhirnya aku memilih sebuah jam yang / bisa menangis setiap pergantian hari tiba. (h. 44)

Skenario Untuk Klip Video Lagu Rock: “Beri aku lirik yang lebih keras!” / “Tuan, beri aku hingar yang lebih meraung!” / “Beri aku gelap yang tak tembus suara…” (h. 49)

Tawa Untuk Karikatur Lainnya: “Hasil jepretanmu itu kartun atau gambar biasa?” tanyaku / Kau tertawa. Aku juga tertawa. Tawa untuk karikatur lainnya: / Negeri tak kelar berkelakar, yang tak akan habis kita gambar. (h. 67)

Sungai Yang Mengalir di Negeri Kami: /1/ Inilah sungai yang mengalir di negeri kami. Arusnya berlapis tiga: di permukaan ada pedih kenyataan, di tengahnya harapan yang kadang-kadang beku, lebih kerap buntu, dan di dasarnya darah yang masih deras dari hulu: luka lama itu. /2/ Inilah sungai yang mengalir ke petak-petak sawah tua, mengentalkan lumpur, yang berabad-abad lekat di kaki kami. (h.71)

Rapsodi Pembunuh Lembu: Ya, aku harus pergi, Pak, bukan karena takut itu, tapi hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku. (h. 77)

Melangkah Aku Seperti Langkah Seorang Lelaki: Kalau nanti kusaksikan letak paksi ke arah paksina / aku harus pulang ke sana, melipat peta, lalu / melangkah seperti langkah kaki seorang lelaki – / seperti lagu yang aku dengar dari Springteen – dan / menuliskan puisi yang aku takut pada bait-baitnya. (h. 79)

Mimpi, Sajak Apakah Ini: Kalau aku menangis, ikan di dalam mataku pasti / ada yang terperangkap ke luar. Di kulkas ada / garam. Dengan sedikit luka di pangkal sisiknya, / kukira cukup nikmat rasa pedih itu untuk kusantap, / sekadar penahan laparku. Lagi pula perutku / sendiri, mungkin aku bisa lain melihat diriku. (h. 82)

Kamus Yang Sangat Tidak Lengkap: II. ada sebuag panggung, dan kau berada di panggung / itu melakonkan dirimu sendiri, kau juga duduk di kursi / penonton, menyaksikan dirimu sendiri. Ketika terbangun / kau tak tahu pasti, “Aku ini adalah aku yang tadi berlakon, ataukah aku yang duduk sebagai penonton.” (h. 87)

Relikui: Apa yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui / Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentakkan relikui (h. 92)

Pemetik, 2: Kalau sudah teramat rimbun waktu / aku duga itu dari serbuk air matamu / menempias sejuk ke hutan usiranku (h. 103)

Pendayung, 1: Lautku mendayungkan perahumu, berlabuhlah / Anginku menunjukkan ke pelabuhanmu, berlayarlah / Malamku memperada kerlip bintangmu, berianglah! (h. 107)

Pelupa: Tidur lama, dan lupa, membebaskan kita dari maut dan tua. / Tapi, kita terkurung sawang, menebal di pintu guha. Tak / terbaca tanda waktu, di tulang anjing dan kerangka kuda (h. 130)

Ia Menulis di Linimasa: Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / Ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telahg / memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa… // Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap / memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat. (h. 134)

Lelaki Ke-15 dan Seorang Perempuan yang Tak Sempat Ia Ajak Menulis Sajak Bersama: 6. Saya di rak buku itu? nama kita, nama yang melupakan kita. / Tiap napas: sepasang hirup dan hembus, adalah kalimat tidak / sederhana, dengan gumpal tanda tanya di ujungnya, Kita tak bisa / berhenti bertanya, kita terus mempertanyakan pertanyaan kita.

7. Kita yang lama mengawani sunyi, tak pernah baik mengenal / sunyi. Berpapasan denganya, kita ragu dan kecut, tapi talk / bisa menghindar, “Kesunyian dan kesendirian adalah cabang / filsafat yang tak pernah selesai dirumuskan.” Kata profesor yang / tertinggal ajarannya, padahal sudah beberapa jam lalu dia pulang / entah ke rumah yang mana. (h. 151)

Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya: Aku pernah mencoba melacak apa sebenarnya / rahasia, dibalik bait-baitnya. Diam-diam aku pun / menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait / sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian, / ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang / ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana. (h. 159)

Tak banyak buku kumpulan puisi yang kubaca, selain memang agak sulit tune in dengan aliran kata dan diksi dan segala yang spontan, saya tak bisa runut nikmat dari awal hingga kalimat terakhir. Saya langganan Koran Kompas Minggu doeloe, bagian puisi nyaris skip semua. Tak seperti novel yang ada klik dalam sebuku, atau kumpulan cerpen yang walau mungkin terpenggal-penggal tiap ganti cerita namun masih ada aliran benangnya. Buku Kumpulan puisi masihlah oase gurun dan menjadi sekadar selingan baca, dulu sempat merencana sebulan sekali baca kumpulan puisi, tapi pas ada tragedi awal tahun, mencipta kesedihan akut yang merusak tatanan, yang akhirnya kembali ke habitat. Pena Sudah Diangkat, setidaknya memberi banyak narasi, jalinannya masih nyaman, seperti kumpulan puisi terakhir yang kunikmati: Kitab Para Pencibir yang juga nyaman karena naratif, sama-sama terbuka segala tafsirnya.

Mungkin karena memainkan waktu, usia, dan beberapa kejanggalan linier masa, menurutku yang terbaik di kumpulan puisi ini ada di judul: Aku Belum Tua:

Segala rupa puitik selama alirannya mendegub jantung dan berhasil menelisik telinga, sah-sah saja untuk dilahap. Nyaring atau lirih? Ah itu sekadar pilihan lahap. Demi waktu baca dan segelas kopi, mari gegas bersajak! Penasaran kumpulan puisi apa lagi berikutnya yang tersedia untuk kudedah?

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering | by Hasan Aspahani | GM 616202048 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, September 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Proof read Sasa | Desain cover Kuro-neko | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-3402-8 | Skor: 4/5

Judul buku ini diambil dari kalimat terakhir hadist ke-19 dari kumpulan 40 hadist yang dikumpulkam oleh Imam An-Nawawi, yang sangat termahsyur sebagai Hadist Arba’in.

Karawang, 150520-210520 – Bill Withers – Railroad Man / Katy Perry – Last Friday Night