Upaya Menangkap Kenangan Sepakbola

Sepakbola Tak Akan Pulang by Mahfud Ikhwan

Tak ada yang lebih tabah dari Pendukung Liverpool.”

Kumpulan artikel dari Geotimes dari awal musim 2018 sampai akhir musim 2019. Lumayan bagus juga ternyata, tulisan yang mencatat sejarahnya sendiri, semacam ringkasan kisah-kisah terpilih per minggu sehingga cocok buat menelisik kenangan. Saya pribadi menjadi lebih dalam tahu apa hal-hal menarik di pekan tersebut. Sejatinya tak istimewa tulisannya, tapi menanam memorinya lah yang mencipta kesan, sehingga buku seperti ini akan seperti buku kenangan sekolah. Semisal lima atau sepuluh tahun lagi ketika dibuka baca akan ketawa sendiri, oh dulu detailnya gini toh. Oh dulu terjadi drama yang konyol itu. Oh dulu pendapatku tentang pemain ini ternyata syahdu, dst. Ini bukan tentang kualitas tulisan, tapi bagaimana menangkap momen untuk disimpan. Terbakar!

Dari penulis Dawuk yang dahsyat itu, kita diajak mengenang musim kompetisi Eropa musim 2018/2019. Lha, baru kemarin? Iya. Tapi jelas ini ditulis dan diolah dengan kejelian pengamat. Sempat tercipta momen malesi di kepala, tapi setelah dalam tiga kali kesempatan duduk tuntas, ada kelegaan. Justru setelah membacanya saya terpatik, kenapa saya ga bikin tulisan sendiri semacam gini saja, toh ini kompetisi Eropa, yang tertutama lima liga terbaiknya yang tentu saja sudah akrab. Ketimbang bikin artikel Lazio seribu kata yang pembacanya segmented – kata William Loew – maka akan lebih lebar pangsa baca dengan menggores cerita lebih luas. Itu yang terpikir, yang jelas artikel Lazio sudah off semusim karena kzl ga naik-naik peringkat, tapi justru selama saya off nulis ulasan dan menepi dari hingar bingar Serie A, Lazio menggila.

Dibuka dengan tulisan yang dijadikan judul yang dibuat 14-07-18, masa ketika liga belum dimulai, Inggris yang menjadi sang penemu permainan malah diolok, sepak bola yang sulit dibawa pulang pialanya setelah sekian tahun berjibaku. “Itu salah salah Bapak menaruh bola.” Tulisan kedua yang justru bagus. bagaimana Juventus yang kita kenal, sebagai pecundang Champions League mencoba menaikkan harap dengan membeli pemain bekas berusia 33 tahun dengan banderol mahal bernama Ronaldo. Ketika isu ini berhembus, saya ingat sekali saya tertawa ngakak. Incaran Savic, kebanyakan nawar dan Lotito keukeh di angka 150 juta, justru mereka malah membawa pulang CR7, yang harus diakui terbaik di dunia, tapi udah kepala 3 woy. Masih ingat betapa frustasinya dibuat Radu? Dua kali beruntun kita babat 3-1.

Artikel ketiga tambah lucu dengan judul Yang Aneh, Yang Lumrah. Bagaimana Liverpool yang punya pertahanan buruk, dan kiper yang hobi blunder musim dimulai dengan gemilang. Tiga pertandinagn mereka di puncak, lumrah. Tiga pertandingan tanpa kebobolan, nah baru aneh. Harus diakui pembelian Virgil Van Dijk dan Alisson adalah sebuah langkah jitu. di Juventus Stadium, di depan kursi penuh sesak, di pertandingan keduanya Serie A Ronaldo mencetak assist pertamanya – sebuah bola liar yang gagal dimasukkannya ke gawang kosong. Ganjil? Sama sekali tidak, jika kalian cukup mengenal Liga Italia, dan sedikit paham soal betapa sulitnya menjadi striker di sana. Artikel keempat tentang Leeds United, tim yang kita kenal hebat di sebelum dan sesudah pergantian Milenium ini punya sejarah besar, dan menunjuk mantan Pelatih Lazio (dua hari yang absurd), Marcelo Bielsa demi mendongkrak kasta.

Selalu ada yang pertama adalah cerita kehebatan Parma, bagaimana bisa mereka terpuruk ke Serie D karena bangkrut lalu per musim naik terus, promosi tiga kali yang artinya sekarang sudah di kasta tertinggi lagi! Gilax. Sang kapten Lucarelli menjadi legenda karena itu, “Ini tak nyata.” Lalu pensiun. Jorge Mendes adalah tukang sulap di bisnis agen pemain/manager sepak bola, menjelajahi klub-klub dengan gelontor talenta, menjajahnya menjelma kekuatan tim. Bekas pemain sepakbola gagal, bekas pemain DJ klub malam, dan segala kiprahnya di Wolve dalam gelimang pemain Portugal. Pantas Rui Patricio gagal ke Lazio, di sana ternyata tercipta gurita. Liverpool dan penantian gelar juara EPL adalah minyak dan air yang sulit akur. 28 tahun tahun, dan masih berjalan. “Mungkin musim ini saatnya kalian (wartawan) menuntut mereka juara.” – Mou

Yang kekal, yang dikocok ulang. Jeda international memang malesi, semenarik apapun permainan timnas, tetap malesi ikuti. Dan terasa aneh ketika tahu spandung di Bernabeu, “Ronaldo tak lagi dibutuhkan.” Hantu Fergie yang membuat Moyes dipecat, Van Gaal jadi olok-olok, dan kita tahu Mourinho dipecat, kali ini terbukti Baby Face juga babak belur. Mou dan MU, keduanya saling menghancurkan. Emery dan Arsenal adalah lelucon, di artikel ke-10 ini, mencatat Unai pernah mencetak kemenangan beruntun yang luar biasa ternyata, oh iya saya ingat moment itu, fan Gunners melambung dan memujanya, ‘pilihan yang tepat’ katanya. Walau ketika dibaca sekarang, sungguh lucu menyebut Arsenal Baru.

Lopetegui dan Madrid adalah lawakan berikutnya. Drama Piala Dunia 2018 di timnas Spanyol, dan Madrid memecat seenaknya, ga ada yang aneh, justru lumrah di Bernabeu hal macam gini, sebuah rutinitas, yang bikin berang adalah Madrid tak pernah lupa menjadi juara. Dan itulah kenapa banyak orang tak pernah kehabisan alasan untuk membenci mereka. Ini adalah cerita sedih, tragedi helikopter di atas stadium Leicester City menjadi berita kabung. Vichay Srivaddhanaprabha adalah presiden klub paling bahagia ketika The Foxes mengejutkan dunia di musim 2016 karena sejarah juaranya, kali ini beliau kembali mengejutkan dunia atas kepergiaanya yang dramatis bersama putrinya.

Oh Milan itu tim semenjana toh, yang kata Bung Mahfud adalah tim yang hanya berebut posisi empat besar, atau justru tiket Liga Malam Jumat. Begitu juga MU sekarang. “Bersiap menghadapi kesemenjanaan atau biarkan Jose Mourinho merombak tim.”Jamie Jackson (Guardian). Menurut kamus, tim atau sesuatu yang biasa, rata-rata, di tengah, disebut medioker.

Chelsea dan Sarri yang tampak tak menemukan klik itu, berantakan di Wembley. Pelatih nirgelar yang tampak aneh dipilih Roman. Dan Bayern yang tampak kacau di tangan Niko Kovac. Bom, bir, babak belur menjadi tema yang sebenarnya hanya dikait-kait membentuk pola, bagaimana Jerman vs Inggris menjadi laga tak pernah tak seru. Akhir kisah Mou di MU, dalam big match memalukan. “Secara fisik, kami tak sanggup menandingi Liverpool. Aku bahkan ikut lelah hanya dengan melihat Andy Robertson (berlari).” – The Special G(one).

Ole Gunar Soljaer memberi harapan fan MU dengan kembali mencetak lima gol di debutnya sebagai pelatih magang. “Kami bermain dengan keasyikan melimpah…” Jesse Lingard. Arsenal kembali medioker setelah awal musim yang cerah, setelah unggul cepat dengan Pool, mereka digelontor lima gol. Itu Arsenal lama, Arsenal yang sama, itu-itu saja. Sementara City kembali ke kehebatannya lagi. Liverpool yang fokus ke Liga menurunkan pemain antah di FA Cup. Ada yang kenal Ki-Jana Hoever, siapa Rafael Camacho? Siapa pula Curtis Jones? Siapa yang ingat kalau Alberto Moreno masih di Pool? Dan mereka melaju.

Cerita Hudderfield Town dan David Wagner yang akhirnya berpisah setelah timnya jadi juru kunci, tak ada pemecatan karena memang dia adalah legenda. The Terriers mencapai ‘kesepakatan bersama’. “Ini hari yang menyedihkan.”Dean Hoyle. Dulu pernah menimang-nimang jersey Hudderfield untuk kubawa pulang ketika sang penjual salah mengambilkan jersey Brighton yang kupesan. Tapi ga jadi beli juga akhirnya, sekarang tim ini sudah tenggelam di divisi bawah, sayang sekali.

Di tulisan ke-20 ini, Si Gila Bielsa menguliahi tim dengan video bejibun. Dan Frank Lampard yang belajar melatih di Derby Country memberi harapan ke EPL. Sala adalah sebuah keanehan di dunia sepakbola yang sulit dijelaskan. Pemain Nantes yang dibeli mahal Cardiff City hingga memecahkan transfer klub itu hilang dalam perjalanan udara. Berharap membantu Cardiff keluar zona merah, ia tak pernah tiba. Sarriball adalah istilah permainan sepakbola ala Maurizio Sarri, di Chelsea performanya bak yoyo, berpendulum liar. Di bulan Februari 2019, mereka dihajar Bourne 4-0 lalu City 6-0, skor memalukan The Blues. “Sarriball telah gagal, aku tak melihat ada Plan B di sana.”Chris Sutton, mantan pemain Chelsea yang gagal. Saya ingat ini pemain posisi striker tapi malah jadi bek. Bisa juga lu ngeritik ye. Haha…

Dari Keppa untuk Pep, ini baru setahun lalu tapi ternyata ingatanku akan moment-moment penting sepakbola tak setajam dulu. Saya sempat lupa apa yang terjadi, oh ternyata ini drama final Carling Cup yang mana Keppa tak mau diganti jelang pinalti, padahal cedera, seolah dia adalah penentu starting line-up. Mau jadi pahlawan, justru malah gagal memberi gelar pertama Sarri. Padahal drama besar, tapi kenapa saya bisa melupakannya ya? dengan membaca artikel ini, goresan itu terlihat kembali. Benar-benar di usia ini, saya memang memilah mana kenang bagus yang bisa disimpan, mana kenang buruk yang harus dilepas, dan ternyata berhasil, sesaat. “Ini kejadian yang baru saya saksikan setelah sekian lama.” – komentator final.

Zidane pulang. Pas dengar ia resign setelah tiga gelar legendaris UCL, saya sudah yakin ia akan kembali. Tapi ga nyangka secepat ini. Babak belur dengan pelatih timnas Spanyol, lalu pelatih magang itu mencipta nirgelar musim ini, Zidane kembali ke Bernabeu. Sepakbola ‘kacau’ a la Zidane yang tenang dan mematikan. Penunjukannya adalah kelegaan besar yang mendekati kesempurnaan. Dan ‘debut’nya memang 2-0 vs Celta Vigo, Madrid yang normal. Virgil melakukan blunder yang jarang dilakukannya, lalu Ole yang ditunjuk menjadi pelatih tetap langsung terhempas dua kali.

Ternyata di April 2019, Juventus sudah mengunci gelar Serie A. Waduuh… separah itu ya musim lalu. Lazio sedang fokus Copa dengan gengsi sehingga terlalu banyak melepas laga, Atalanta menjelma kekuatan baru. Kalian bosan melihat Zebra juara, musim ini Lazio akan merebutnya. Siapkan sampanye terbaik kalian! Ronaldo yang dibeli untuk UCL, gagal di musim pertamanya di Italia.

Dan apakah senja tak jadi turun? Sehingga Liverpool, ia yang telah sekian lama menjalani puasanya, yang melintasi milenia dalam dahaga, dan masih terlarang menyentuh piala? Musim ini harus diakui Liverpool tak sekadar bagus, tapi menghebat di semua lini. Punya mental juara, punya poin tertinggi di era EPL dan ga juara, sungguh ironis. “Kami gagal juara bukan tak beruntung, kami gagal juara karena Manchester City.”Klopp. Berbagai kalimat perpisahan akhir musim, Robben – Riberry pamit dari Bayern, Barcelona juara tapi tak semeriah yang diharapkan, Valencia menjelma kekuatan baru karena menyodok zona Champions, jangan lupakan Atalanta yang akan melakukan debut di Liga Para Juara. Ada dua paragraf penuh tentang Lazio – akhirnya – hufh… saya ketik ulang sekaligus penutup ulasan ini. Ciao

Lazio, dibawah pelatih Simone Inzaghi, memenangi Copa Italia, tropi besar pertama mereka sejak 2013. Diperkuat pemain-pemain bekas macam Senad Lulic, Milan Badejl, Ciro Immobile, dan Lucas Leiva, atau pemain-pemain yang hanya menunggu waktu untuk pergi seperti Sergej Milankovic-Savic, dan Luiz Felipe, Lazio mengalahkan tim paling menarik dan paling banyak dibicarakan di Italia musim ini, Atalanta.

Gelar ini, juga kesanggupannya membuat Lazio stabil di klasemen liga membuat Simone Inzaghi masuk daftar pelatih baru Juventus. Ia bisa saja tetap di Lazio atau justru ke klub lain, AC Milan misalnya. Tapi sudah semakin jelas, di kepelatihan karier Simone tampaknya akan lebih cemerlang ketimbang Fillipo.

Dua paragraf ini membuatku teringat draf ulasan juara yang sudah kuketik panjang, ternyata sudah setahun dan belum jadi kupos. Bagaimana teriakan juara para Laziale Karawang membahana dalam peluk keceriaan di rumah Bung Adit – ketua Lazio Region Karawang. Mungkin bagi fan lain ini gelar minor, tapi bagi kami ini adalah catatan sejarah besar dekade 2010 menjadi dua kali Copa, sementara Roma nol besar. See…, setiap moment menjadi sangat berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda.

Setelah menyelesaikan baca dan ulas ke-30 tulisan ini, apakah saya ke web geotimes.com? nope. Saya kurang suka berita daring, ga nyaman. Mayoritas ya gitulah, malesi. Buku ini cukup jadi menaikkan pamor, tapi jelas tak cukup tergerakkan jari meng-klik-nya. Saya juga bisa nulis ngoceh sepakbola semacam ini, tentang Lazio di blog ini. Justru berkat Sepakbola Tak Akan Pulang, saya berniat bikin tulisan tandingan, seminggu sekali? Bisalah, apalagi bikin gerah Lazio di sini hanya disinggung sesekali. Bayangkan semusim, Lazio itu tim, maka menyedihkan Biancoceleste disebut tak lebih banyak dari pemain atau pelatih macam Ronaldo, atau Klopp. Mungkin akan kumulai ketika Serie A resmi dilanjutkan lagi bulan ini? #ForLazio #Scudetto

Sepakbola Tak Akan Pulang | by Mahfud Ikhwan | Copyright 2019 | Penyunting Aria Duta B | Tata Letak Werdiantoro | Ilustrasi Sampul Bambang Nurdiansyah | Rancang sampul Katalika Project | Cetakan pertama, 2019 | Penerbit Shira Media | ISBN 978-602-5868-88-7 | vi + 210 halaman | 13 x 19 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 030520 – Hanson – A Song to Sing (live and electric)

2 komentar di “Upaya Menangkap Kenangan Sepakbola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s