And Then There Were None – Agatha Christie

Lelaki Tua: “Berjaga dan berdoalah. Berjaga dan berdoalah. Hari pengadilan sudah dekat.

Buku klasik yang pertama baca saat sekolah. Di tahun 2000 di kelas ada teman yang merekomendasikannya, bersama Inu, CS STM kita ke Perpus Solo. Awalnya kukira berjudul ‘Ten Little Niggers’ dan kovernya sendiri menggambarkan 10 boneka hitam yang berjajar di mana urutan pertama sudah terjatuh. Waktu itu saya benar-benar takjub, sampai bilang kok ada ya novel dengan alur sebrilian ini? Ini adalah buku Agatha pertama yang saya baca. Efeknya luar biasa. Mematri Agatha sebagai Penulis favorit, buku-buku karya beliau pelan namun yakin kebaca. Dan fiksi jadi begitu kugilai, rentetan gelombang pasca baca novel ini panjang, sangat panjang. Dan tentu, And Then There Were None masuk sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa versi saya.

Kalau jeli seharusnya kita bisa menebak siapa dalang pembunuhan beruntun ini. Sayangnya waktu pertama baca saya ga familiar sama sang Penulis, sehingga lengah bahwa poin-poin sederhana pun bisa sangat menentukan. Dan poin itu sudah disebar bahkan sedari awal. Kisahnya tentang sepuluh orang yang diundang ke sebuah pulau kecil nan terpencil dengan cara misterius. Pulau Negro, pulau yang dibeli oleh miliuner Amerika lalu berpindah tangan dari orang kaya satu ke orang kaya lain. Di pusatnya dibangun bangunan megah dan modern dengan beragam advertesi mewah. Sepuluh pendosa diundang lalu Agatha menaruh tragedi di sekitarnya.

Satu: Mantan hakim Tuan Justice Wargrave dalam perjalanan kereta, saat melewati Somerset ia sedang membaca harian The Times. Ia berangkat dari Paddingotn dan akan dijemput di Oakbridge. Ia diundang oleh Constance Culmington, seorang wanita yang suka berpetualang.

Dua: Vera Claythorne, seorang pengajar di masa libur dan sekretaris pribadi. Ia mendapatkan pekerjaan ke Pulau Negro mulai tanggal 8 Agustus dengan gaji yang sesuai harapan, bayangannya tentu saja musim panas di pantai, betapa beruntungnya ia. Vera mendapat undangan pekerjaan yang datang dari Una Nancy Owen. Nyonya rumah?

Tiga: Phillip Lombard, dengan uang seratus guinea sang kapten diundang seorang klien misterius. Tuan Issac Morris menyampaikan pesan itu untuk kepadanya bahwa di Pulau Negro ia baru akan diberitahu tugasnya. “Tidak lebih dari satu Minggu?” Wow, hanya kerja beberapa hari mendapat limpahan uang di pulau impian. Siapa yang berani menolak?

Empat: Miss Emily Blent, berusia enam puluh lima. Mendapat undangan liburan gratis ke Pulau Negro atas ajakan seseorang berinisial U.N.O. Seharusnya ia berprasangka, dari seorang kenalan beberapa tahun lalu di Belhaven Guest House. Walau terasa aneh, ia tetap berniat datang untuk berjemur di pantai tanpa diminta biaya.

Lima: Jenderal Macarthur. Satu-atau-dua orang teman lama Anda datang ingin mengobrol dan mengenang masa lampau. Ia belum begitu kenal siapa si Owen ini. Barangkali teman Spoof Leggard dan Johny Dyer. Ah ia suka nostalgia tentang masa perang di pulau serbamewah seberang Devon.

Enam: Dokter Armstrong. Kesuksesan juga membawa kesulitan. Sebagai dokter dengan pasien melimpah, jamnya benar-benar sibuk. Surat yang diterimanya juga tak begitu jelas, tapi cek di dalamnya tidaklah demikian. Keluarga Owen tentunya orang bergelimang harta, dia diundang untuk memeriksa sang istri yang sakit syaraf. Dengan mobil Morris-nya ia melintasi dataran Salisbury untuk bertugas sekaligus berlibur.

Tujuh: Anthony Marston, seorang pemabuk yang hura-hura. Pemuda berbadan tinggi tegap yang suka pesta. Memandang sinis kehidupan, menyepelekan orang sekitar. Dengan mobil Dalmain-nya ia menuju Pulau Negro atas undangan Owen-who?

Delapan: Tuan Blore yang diminta untuk mendata para tamu ke pulau. “Delapan lebih satu, seharusnya pekerjaan ini cukup mudah.” Ia memandang diri ke kaca, rasanya ia bisa jadi mayor, bukan. Bekas tentara tua? Hhmm… bagaimana dengan Afrika Selatan. Ah tak banyak jenis dan macam koloni, sebagai orang kaya dari Afrika Selatan ia bisa masuk ke klub manapun.

Sembilan-Sepuluh: Mr and Mrs Rogers, sepasang pembantu yang menyambut semuanya. Menyiapkan kamar, memasak dan melayani atas perintah Tuan Owen. Korban tambahan (dalam epilog adalah yang kesepuluh) sebenarnya adalah Morris, tapi ia bukan dalam lingkaran saat serangkain pembunuhan terjadi di pulau.

Setelah semua berkumpul, ada kabar tuan Owen akan datang terlambat sehingga tidak bisa bergabung sesuai waktu yang dijanjikan. Di atas perapian ada kertas persegi yang berisi sajak dengan bingkai krom. Sajak anak-anak yang berbunyi:

Sepuluh anak Negro makan malam; seorang tersedak, tinggal Sembilan | Sembilan anak Negro begadang jauh malam; seorang ketiduran, tinggal delapan | Delapan anak Negro berkeliling Devon; seorang tak mau pulang, tinggal tujuh | Tujuh anak Negro mengapak kayu; seorang terkapak tinggal enam | Enam anak Negro bermain sarang lebah; seorang tersengat tinggal lima | Lima anak Negro pergi ke pengadilan; seorang ke Kedutaan, tinggal empat | Empat anak Negro pergi ke laut; seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga | Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang; seorang terterkam beruang tinggal dua | Dua anak Negro duduk berjemur; seorang hangus tinggal satu | Seorang anak Negro sendirian; menggantung diri habislah sudah

Ternyata bingkai sajak itu bukan hanya di atas perapian tapi juga setiap kamar serta 10 boneka porselen hitam kecil berjajar, satu akan hilang saat satu nyawa melayang. Memberi efek ngeri, tapi dengan santai Vera berteriak, “Lucu! Ada syair Sepuluh Anak Negro di kamar.” Masalah pertama muncul saat acara makan malam. Sang Suara dari gramofon kuno dengan terompet besar tersembunyi terdengar tanpa pemberitahuan, tanpa berperikemanusiaan, menembus tajam…

Tuan-tuan dan nona-nona harap tenang!” Semua orang terkejut dan melihat sekeliling, melihat satu sama lain, melihat ke dinding, siapa yang bicara. Suara itu terdengar lagi, jelas dan tinggi.

“Anda semua bertanggung jawab atas tuduhan berikut. Edward George Armstrong, apa yang Anda kerjakan pada tanggal 14 Maret 1925 menyebabkan kematian Loiusa Mary Cless. Emily Caroline Brent, pada tanggal 5 November 1931 Anda bertanggung jawab atas kematian Beatrice Taylor. William Henry Blore, Anda menyebabkan kematian James Stephen Landor pada tanggal 10 Oktober 1928. Vera Elizabeth Claytorne, pada tanggal 11 Agustus 1935 Anda membunuh Cyril Ogilvie Hamilton. Philip Lombard, pada bulan Februari 1932 Anda bersalah atas kematian dua puluh satu orang suku Afrika Timur. John Gordon Macarthur, pada tanggal 14 Januari 1917 Anda dengan sengaja membunuh pacar istri anda, Arthur Richmond. Anthony James Marston, pada tanggal 14 November tahun lalu Anda bersalah atas kematian John dan Lucy Combes. Thomas Rogers dan Ethel Rogers, pada tanggal 6 Mei 1929 Anda menyebabkaa kematian Jennifer Brady. Lawrence John Wargrave, pada tanggal 10 Juni 1930 Anda bersalah atas kematian Edward Seton.”

Terdakwa, apakah Anda akan mengajukan pembelaan?”

10 orang di ruangan langsung shock. Suara rekaman itu menghantui, menghujat Tuan Owen yang misterius dan memberi efek saling curiga. Ingat di sini ada kapten, dokter, hakim, pengajar, sampai tukang tipu. Dengan hebat Agatha mencampur berbagai profesi penting untuk menantang Pembaca, siapa dalang drama ini. Sampai akhirnya yang dikhawatirkan terjadi juga. Urutannya (seakan) sama dengan sajak 10 Orang Negro. Kematian pertama menimpa sang pemuda urakan dengan cara tragis menenggak sianida. Persis kiasannya ‘makan malam, tersedak tinggal sembilan.’ Teror itu berlanjut sampai lembar terakhir, mengajak kita untuk terus terpaku dan menebak dan mengira siapa sang pembunuh?

Dengan intimidasi terselubung semua karakter dibuat panik seakan dikejar setan, terjebak tak bisa keluar. Satu per satu meregang nyawa. Kematianku harus terjadi di tengah-tengah kejutan dan guncangan. Aku mau hidup sebelum mati. Jelas ini bukan novel hantu, saat akhirnya polisi Scotland Yard Sir Thomas Legge dan Inspektur Maine tiba mereka hanya menemukan mayat-mayat dan misteri tak terpecahkan. “Tapi semuanya sulit dipercaya.” Jadi bisakah kalian menebak dengan tepat siapa itu ‘Mr. UN Owen?’

Setelah 17 tahun berlalu, buku ini tetaplah karya Agatha yang terbaik. Dulu baca pinjam di Perpus Solo dengan kover jadul. Tahun 2011 di ulang tahun May saya berhasil mendapatkannya di Toko Buku Lippo Cikarang dengan kover beda lagi. Tahun ini baru sempat saya ulas. Novel istimewa dengan perlakuan istimewa. Sejak kecil aku merasa suatu dorongan untuk membunuh yang amat kuat di dalam diriku. “Kita harus waspada.”

“Swan Song”

Lalu Semuanya Lenyap | by Agatha Christie | diterjemahkan dari And Then There Were None | copyright 1939 Agatha Christie Limited, a Chorion Company | alih bahasa Mareta | GM 402 08.016 | Desain sampul dan ilustrasi Satya Utama Jadi | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Februari 2011 | 296 hlm; 18 cm | ISBN 978-979-22-3524-1 | Skor 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 240817 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

Iklan

2 thoughts on “And Then There Were None – Agatha Christie

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s