The Rest of Us Just Live Here

“Dunia ini tak menentu, Mikey. Waktunya singkat.” – Mel

Nama Patrick Ness sudah melekat di hatiku setelah menuntaskan novel bergambar “A Monster Calls” yang luar biasa. Ini berrati buku keduanya yang kubaca. Kubaca dalam satu hari 22.01.2022 selepas Subuh, kelar selepas Isya, dengan selingan baca tiga buku lain. Karawang hujan, betah mendekam. Yang Biasa-Biasa Saja bagus, walaupun ada beberapa tak kumengerti. Bagian pembuka tiap bab, ada satu-dua paragraf yang ceritanya antah, dengan narasi semacam acak tentang Finn, Para Abadi, azimat, Satchel, sampai kehebohan anak-anak indie. Di akhir buku dijelaskan tautannya, tapi tetap saja tampak rumit. Ada vampire, dewa, hingga manusia macan.

Buku dibuka dengan kutipan ini: “Kupikir aku bisa mengorganisir kebebasan. Betapa Skandinavia-nya aku.”Bjork

Apa yang terjadi ketika kau menua? Nah, ini tentang masa coming of age yang rentan pencarian jati diri. Kisahnya mengambil sudut pandang orang pertama, Michael Mitchell yang jatuh hati sama teman sekelasnya Henna Silvennoinen. Wanita berkulit keling yang baru putus sama pacarnya Tony. Mereka kini di masa ujung sekolah, sedang ujian kelulusan, dan menyusun rencana mau ke mana setelah lulus? Dengan setting London di era masa kini, kita dapat memahami betul, usia remaja yang galau hari-hari tak menentu di masa depan. Apa masa depan akan cukup baik baginya untuk bahagia dan terlindungi?

Mikey memiliki kakak Melinda (dipanggil Mel) yang juga satu angkatan sekolah, lebih tua tapi sekolah bareng. Pacarnya dokter Panggil Aku Steve, sering nimbrung. Adik mereka yang imut berusia 10 tahun, Meredith seorang fans berat band Bolts of Fire, band kesukaan remaja putri, yah mungkin bagi kita tampak alay, tapi setiap orang pernah mengalami masa alay ‘kan? Hehe, apa kabar Backstreet Boys, Westlife, NSYNC? Lagi demen bahasa Jerman, makanya kursus dan sering mempraktekkan sama teman-teman Mike. Ia kesal kalau dipanggil ‘Merde Breath’, terutama sama Jared. Ayah mereka Ed alkoholik akut, hingga akhirnya menyerah untuk masuk rehabilitasi. Ibu mereka Alice, adalah politikus yang sedang di puncak karier, sampai akhirnya mencalonkan diri untuk menjadi orang nomor satu di kota itu setelah ‘seterunya’ tumbang lebih awal. “Itu kan politik. Kotor dan menjijikkan dan mencemari semua yang disentuhnya.”

Henna tampak luar biasa, ia adalah karakter favorit di sini. Rencana akan ke Afrika Tengah selepas lulus, melakukan kewajiban misionari. Teman-temannya coba mencegah, tapi bisa apa? Keputusan break dengan Tony juga dijelaskan dengan emosional, bukan karena ada penghianat, bukan pula karena tak lagi cinta, sang pacar ingin selepas sekolah langsung menikah, permintaan yang sulit diwujudkan, dan di sinilah Mike masuk. Nama belakangnya keren, Silvennoinen, itu nama Finlandia.

Dalam perjalanan malam, mereka berdua kecelakaan. Seekor rusa melintas dan tertabrak. Ternyata tak hanya satu, tapi gerombolan rusa. Mengakibatkan tangan Hena patah hingga harus pakai gip di sisa semeseter, wajah Mikey memar, meninggalkan luka permenan goresan. “Aku mengaku pada Henna aku mencintainya, persis sebelum kami menabrak rusa.”

Anak baru, pindahan dari Negara bagian lain, Nathan jadi sering dicurigai. Dia muncul dan anak-anak indie mulai terbunuh. Sebab tampak aneh, pindah di kelas tiga SMU, di masa tinggal ujian akhir! Apakah ia dibalik bencana? Ataukah juga korban? “Apa itu akhir dunia?” kata Nathan, dan ditimpali Jared, “Aku ragu akhir dunia akan dimulai dari kota kita, meskipun mungkin bisa saja, sebenarnya.”

Nah, satu lagi tokoh utama yang menyita perhatian. Sahabat kental, terbaik Jared yang gay. Ia tumbuh dengan unik. Di tengah-tengah keajaiban, seolah kontradiksi dengan segala isi buku ini yang katanya biasa-biasa saja. Ia ternyata memiliki kekuatan istimewa, bisa menyembuhkan luka, punya ‘pegangan’. Ia sering ada di samping sobatnya saat dibutuhkan, ia bukan manusia, ia adalah makhluk super! “Tidak semua orang harus menjadi sosok pilihan. Tidak semua orang harus menjadi sosok yang menyelamatkan dunia…”

Lantas, pusaran kisah memenuhi banyak tanya. Seperti di tiap awal bab yang abu-abu, ada vampire yang mengintai. Kematian demi kematian anak-anak indie, pembunuhan atau bunuh diri? Hingga serangan teror di konser musik amal Bolts untuk penderita kanker. Konser yang sangat dinanti Meredith itu gagal total, menodai banyak hal, termasuk nama baik kota kecil mereka. Namun, serangan teror yang beralibi gas pipa itu bukan yang terakhir, di akhir kisah malah lebih besar ledakannya, lebih menyeramkan. Kengerian terbesit bahwa ini akan jadi kesempatan emas untuk meledakkan banyak orang lagi!

Tema remaja sejatinya tetap menarik kalau dituturkan dengan bagus. Saya tak anti sama berbagai genre. Tak melulu cinta dan kegalauannya. Itu bisa jadi sisipan saja, jangan jadi tema utama. Seperti buku ini, cinta wajar di usia belasan, tapi hanya jadi tunggangan. Orang dewasa, bagaimana mereka hidup di dunia? Atau mungkin begitulah cara mereka hidup di dunia. Makanya, saya tetap menikmati buku-buku remaja, termasuk fantasi. Kalau ditulis dengan baik, tak kalah dahsyat sama sastra.

Michael digambarkan murid cerdas, ujian dianggap biasa saja. Dia sudah belajar keras selama ini, jadi ujian kelulusan tinggal jalani. Bisa melewati masa sekolah dengan selamat saja sudah syukur. Jangan lupakan pula, tradisi prom, dansa jelang kelulusan di dunia Barat yang sakral bagi kebanyakn orang. Di sini jadi momen menyenangkan juga, akan dikenang di kemudian hari. “Kuliah merupakan semacam formalitas – aku tahu aku takkan gagal – tapi senang juga melihat formalitas itu terpampang nyata. Kehidupan baru, aku datang, kurasa.”

Di negeri Barat yang maju, kecelakaan mobil bagi remaja bisa tetap tenang. Salut sama bagian, mobil dibiarkan saja tergeletak di pinggir jalan. Yang utama adalah korban diselamatkan. Setelah beberapa hari, Mikey balik lagi ke sana, HPnya yang tertinggal masih ada! Bayangkan, kalau di sini, bisa-bisa kecelakaan, barang-barang korban jadi rebutan warga. Karena pernah kejadian, temannya temanku, kecelakaan kereta api, tas berisi dompet dan HP raib diambil saksi di TKP!

Ada satu bab penuh, isinya dialog Mike dengan seorang psikolog Dr. Luther. Full kalimat langsung. Seolah tak penting, tapi tampak eksotik. Bayangkan, satu bab penuh isinya orang ngrobrol! Sederhana, menarik.

Selain bagian-bagian awal bab yang membingungkan, ada sikap Henna yang yang juga tak langsung klik. “Gara-gara perasaan perut Henna padanya.” Perasaan perut itu apa ya? Hingga ujung buku tak kutemukan jawab, lebih bingung daripada sebelumnya. Atau bagian saat debat akan sebuah kegagalan, bagi kalian dan orang lain beda-beda persepsi. “Pasien kanker tak menyebut kemoterapi adalah kegagalan. Pengidap diabetes tak menyebut insulin adalah kegagalan.”

Di bagian catatan pengarang di akhir buku, kalian akan makin jatuh hati sama Patrick Ness. Dua nama penting di sini dipinjam dari dua orang luar biasa, sungguh motivasi tribute sempurna. Salute!

The Rest of Us Just Live Here | by Patrick Ness | Copyright 2015 | “Hunter” written by Bjork © 1997 | GM 617164001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Angelic Zaizai | Editor Barokah Ruziati | Desain sampul Robby Garsia | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-3546-9 | 288 hlm: 20 cm | Skor: 4/5

Untuk saudariku yang jempolan, Melissa Anne Brwon, yang baik hati sekaligus kocak, kombinasi sifat terbaik

Karawang, 240122 – Linkin Park – P5hng Me Awy

Thx to Ade Buku, Bds

Satu komentar di “The Rest of Us Just Live Here

  1. Ping balik: Januari2022 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s