Scones and Sensibility

Kau tahu, tentang merasa kesepian.” – Polly

Lucu dan menyenangkan. Manis dengan segala konsekuensinya. Sekali lagi terbitan Atria memesonaku. Dengan pijakan novel-novel klasik Jane Austen, kita diajak berkelana dengan sepeda kayuh Polly untuk menghadirkan cinta di setiap dorongannya. Niat yang baik, cara yang salah, hasilnya runyam. Sudah kuduga bakalan berantakan tali temali asmara itu, tapi tetap saja tak menyangka bakal seterpuruk itu. Kita menjadi saksi perjalanan segala cinta dirajut oleh tiga pasangan, dan kita pula yang mengurainnya dalam tawa dan kesedihan. Bagus, novel sederhana keluarga yang menyenangkan. “Aku terkikik membayangkan perjodohan yang akan kulakukan untuk orang-orang yang kusayangi.”

Kisahnya tentang Polly Madassa, mengambil sudut pandang orang pertama dengan cinta membuncah. Berusia dua belas tahun, tapi karena pengaruh bacaan roman jadul, ia jadi terobsesi. Menentukan pasangan ideal buat orang lain, mencoba mambantu menjalinnya. “Dan melihat luasnya pengetahuanku tentang asmara dan percintaan yang kudapat dari membaca Jane Austen, aku sangat bersedia dan siap mengemban tugas itu.”

Dengan kepolosan remaja, misinya besar. Optimism membentuk dunia asmara ideal. “Aku berusaha mambantu orang… jatuh cinta.

Pertama adalah kakaknya. Hanya terpisah empat tahun dengan Clementine, tapi jarak di antaranya tampak makin lebar sejak dia mencapai usia matang enam belas tahun. Memiliki pacar Clint, penampilan Clint enak dipandang, tapi di luar itu daya tariknya berkurang drastis. Walaupun sudah diperingatkan agar jangan campuri urusan orang lain, Polly tetap bersikukuh. “Aku tahu benar cara menenangkan jiwa yang resah dan tertekan, Kakakku sayang…”

Di musim panas tahun itu, Polly tak bisa berlibur sepenuhnya. Ia mendapat tugas keluarga, mengantar pesanan kue Madassa Bakery dari sudut Seventh Street. Di situlah ia menjalani ‘tugas’ barunya, selain mengantar pesanan ia juga menghubungkan para pelanggan dan tebaran kasih. Nah, sore itu ia bersepeda dengan melamun hingga terjatuh, ditolong pemuda tampan bernama Eddie (panggilan Edward), ia sedang berlibur ke rumah saudara membantu menjaga toko selama musim panas. Karena kebaikan dan sopan santunnya, ia memutuskan untuk menghubungkannya dengan Sang Kakak. Edward dan Clementine, sungguh panduan nama mereka bagaikan musik. “Kupikir ada baiknya menambahkan sentuhan misteri romantis pada antaran pertama ini.”

Pasangan kedua adalah ayah sobatnya Fran, kawan kecil. Mr. Fisk adalah duda, ia ditinggalkan istrinya tanpa kejelasan alasan. Hari-hari sepi itu bagi Polly harus diselamatkan. Mr. Fisk adalah maniak komputer, waktunya banyak tersita di depan layar. Acara kencan atau move on untuk mencarikan ibu tiri buat Fran terlihat tidak ada. Maka Polly berinisiasi memerkenalkannya pada Miss Lucy, pegawai kantor yang juga memesan kue di tokonya. Mr. Fisk dengan Miss Lucy Penny, tampak serasi.

Ketiga adalah Mr. Nighquist, seorang pemilik toko kelontong dan mainan, ia hobi memainkan layang-layang di sore hari. Polly melihat ada peluang untuk membantunya mendapat pasangan. Adalah Miss Wiskerton seorang pembaca roman, favorit Jane Austen pula, klop sama Polly. Maka ia pun berinisiasi menyampaikan salam palsu ke keduanya, mencipta janji temu palsu keduanya, bahkan memaparkan latihan menaikkan layangan bersama. Bukan mereka berdua yang meminta, tapi Polly yang menyusun rencana! Pride and Prejudice dengan para tokohnya jadikan pegangan kisah.

Komen pedas kakaknya, Ada benarnya sebab rencana baik, angan indah, tak selalu berujung bagus. “Sejak kau membaca buku tolol tentang prasangka dan harga diri itu, kau benar-benar jadi sinting.”

Segalanya ambyar. Clementine sudah punya pacar, walau sesekali berantem dan membuatnya menangis, tetap saja yang namanya pacaran, itu hal wajar. Polly malah merusaknya, dengan mengirim Edward ke acara makan malam, mengacaukan acara. “Saat-saat ketika kakakku tersayang disakiti oleh air mata.”

Miss Ruthie adalah gadis internet, berkenalan dengan Mr. Fisk secara wajar. Namun bagi Polly itu tak bisa diterima, tak ada sisi romantisnya bertemu dengan orang asing dari dunia maya. Polly mengirim bunga dan salam pada Lucy yang sejatinya sudah punya pacar, nah ditanggapilah pasangannya. Malam berantakan karena pacarnya marah dan ke rumah Fran! “Kekasih yang tersinggung adalah kekuatan yang menakutkan.”

Begitu juga saat malam keakraban setelah kopi darat berjalan mulus, makan malam dengan Fran turut serta. Malam itu intuisi Polly menyala, ia datang mengacaukannya. Melapor polisi, meringkus orang yang salah, salah duga konyol yang mengakibat Fran marah besar. Sobat kecilnya bahkan memutus ikatan kawan.

Pasangan ketiga juga remuk, sebab ternyata mereka berdua dulunya adalah teman sekelas. Reka-reka kalimat yang disampaikan Polly tampak janggal tentu saja, sebab mereka sudah saling kenal walau tak akrab. Anjing Wiskerton Si Jack jadi korban, keduanya saling marah dan tak mau terbuka meminta maaf, walau insiden anjing itu lebih banyak karena kecelakaan.

Kenyataan ini membuat Polly terpuruk. Sedih tak terperi. Meskipun Anne dari Green Gable menyatakan bahwa hari esok selalu baru tanpa ada kesalahan di dalamnya. Polly bangun dengan kesalahan masa lalu melayang-layang di atas kepala bagai selubung hitam kematian. “Kau yang melibatkan kami dalam kekacauan ini dan sekarang kau harus mengeluarkan kami.”

Pedoman Polly adalah orangtuanya. Romansa itu bak dongeng, romantis, saling mencinta, saling menjaga, tak ada pertengkaran, atau dalam satu kata sungguh harmonis. Saat Polly sedih misinya gagal, ditanya ibunya, dicerita ulahnya, ibunya malah memberi nasehat untuk tak mencampuri urusan asmara orang lain. Bapaknya lalu memberi tahunya, bahwa mereka hampir tak menikah sebab orang tua tak setuju untuk mendapat menantu ibunya. Hingga hampir break untuk pisah jalan, tapi jodoh kembali menyatukan dalam momen krusial. “Aku hanya berterima kasih pada kehidupan dalam berbagai bentuknya untuk cinta yang bahkan sekarang pun tengah berjalan.”

Kenyataan itu agak mengejutkan bagi anak dua belas tahun yang polos. Kalau kedua orangtuanya putus, apakah Polly berarti tidak ada di dunia? Yup, kisah kasih tak semulus halaman luks novel Jane Austen, dunia ini keras Polly. Tak sesederhana itu. “Sering kali aku terlena dalam khayalan yang memesona itu”

Tampak Polly adalah remaja kesayangan semua orang, semua menyapa dan gemas sama dia. Padahal dalam hati ia punya ras iri pula sama seseorang, “Aku berharap di atas segala hal lainnya bahwa aku dilahirkan dengan lesung pipit, tapi satangnya, itu tidak terjadi kepadaku. Dan sesering apa pun aku menggigit pipi atau menggambar dekik di wajahku dengan pena tidak pernah cukup untuk mewujudkannya.”

Tetap semangat Polly, waktu akan menempamu. Untuk sementara, nikmatilah masa-masa indah remaja dengan segala kepolosannya. Terutama, dari pilihan bacaan. Betapa beruntungnya di usia sebelia itu sudah mengenal sastra klasik dengan cinta membuncah. “Aku mengambil edisi sampul kulit Pride and Prejudice dan menempelkan ke dada.”

Ini adalah novel di rangkaian baca ulas Atria, setelah Pria Cilik Merdeka yang luar biasa itu, daftarnya panjang sekali. Ini adalah buku pertama Lindsay Eland yang kubaca, temanya menarik, konfliks remaja disajikan dengan pilihan diksi bagus. Tak menye-menye. Penuh kiasan indah, senja, mentari, angin yang berbisik, debur pantai yang menelisik teliga. Kalau diberi kesempatan di masa datang, dengan senang hati kunanti karya-karya lainnya untuk dilahap. Moga makin banyak yang diterjemahkan. Terima kasih Atria.

Scones and Sensibility | by Lindsay Eland | Copyright 2010 publish by special arrangement with Egmont USA | Diterjemahkan dari Scones and Sensibility | Hak terjemah Penerbit Serambi | Penerjemah Barokah Ruziati | Penyunting Ida Wajdi | Penyelaras Aksara Jia Effendie | Pewajah Isi Aniza Pujiati | Penerbit Serambi | Desain sampul lalabohang.wordpress.com | Cetakan I: Maret 2011 | ISBN 978-979-024-469-6 | Skor: 4/5

Karawang, 280122 – Linkin Park – Pts Of Arthry

Thx to Ade Buku, Bandung

Catatan: Karena mengulas karya juga butuh waktu berjam-jam.

Karena blogger buku dan film tak menghasilkan duit. Mulai hari ini, saya buat akun Trakteer. Bagi yang merasa terbantu dengan tulisan di sini, atau merasa tergugah, atau sekadar ingin mengapresiasi blog ini, silakan klik. Biar saya makin semangat mengulas bacaan dan tontonan. Terima kasih. https://trakteer.id/lazione.budy