Gold: Menekuri Gundukan di Gurun

Tidak ada api tanpa asap.”John Heywood

Minimalis fantastis. Drama antara Bagong, Petruk, dan Hawkeye. Saya suka. Keterasingan bisa mencipta halusinasi dan pemikiran liar. Temanya bisa jadi tamaknya manusia, tapi sejatinya ini masalah moral. Sejatinya dia orang baik, dia bertanggungjawab atas tugas yang diemban, potensi kabur ada, kemungkinan legowo ada, tapi sayangnya ia orang baik yang dimanfaatkan. Lihat bagian awal, saat di kereta ia memberi makanan sebagian kepada gelandangan dalam gerbong, itu saja sudah memberi gambaran betapa ia orang baik, dan sungguh apes, ia dimanfaatkan. Emas berhasil membutakan hati manusia di dunia fana ini. Manusia cenderung melakukan hal-hal yang tidak baik saat terkucil.

Semua karakter tanpa nama, Orang Satu kita sebut saja Petruk (Zac Efron) adalah pengelana, ia dalam perjalanan ke sebuah tempat yang dijanjikan untuk mendapat peluang kerja. Setelah turun dari kereta barang, ia mencari sopir di perbatasan yang akan mengantarnya ke tempat tujuan. Orang Kedua, kita sebut saja Bagong (Anthony Hayes) adalah pengantar. Setelah berbasa-basi sederhana, mereka meluncur.

Medannya gersang, lewati gurun luas. Sempat bermalam pula dengan api unggun, dan bergantian nyupir. Saat giliran Petruk nyupir, mobil bermasalah sebab ia melakukan kesalahan, sempat berhenti sejenak untuk mendinginkan mesin, Petruk tak sengaja mendapati sebuah gundukan mencurigakan. Setelah diusap, diraba, dilihat lebih dekat, ditelaah lebih dalam itu adalah gundukan emas.

Bagong dan Petruk tentu saja senang bukan main, emasnya besar sekali, tertanam dalam. Digali sekeliling, tak bisa, ditarik mobil tetap tak bisa. Maka diputuskan bagi tugas. Awalnya Bagong menawarkan Petruk untuk ke kota guna ambil mobil Derek, Petruk yang jaga, jaga dengan nyawamu! Namun Petruk malah meminta tugas switch saja. Tidak ada yang lebih lucu daripada melihat dua manusia yang terburu-buru menentukan pilihan nasib karena terkejut. Dengan penjelasan kengerian yang akan dihadapi, ia meyakini bisa bertahan. Yakin? Iya! Bila lelah dan terpuruk nantinya, bayangkan, emas ini akan mencipta mereka kaya. Berteriak, yuhuiii…. Sampai menggema seantero gurun. Betapa mengerikannya harapan buta. Dan masa-masa mengerikan-pun dimulai.

Sendirian di tempat terpencil. Ia sendirian, hanya ditemani detak jantungnya. Gurun ini ganas. Jauh dari mana-mana, ancaman muncul dari kerasnya alam liar. Burung pemakan bangkai melayang-layang, kalajengking merayapi tanah ditampar debu-debu, suara-suara srigala liar memenuhi telinga, dicumbu badai, dikecup sengatan melimpah matahari. Atau dalam satu kalimat, ini tempat sepi mengerikan. Siang terik, malam dingin. Sepi yang tinggi besar memasuki arena, menghantui jiwa yang terpuruk, sepi yang beringas. Petruk mencoba bertahan.

Ada bangkai pesawat di sekitar situ, lumayan bisa buat tenda besinya. Berlipat-lipat kain coba dibebat untuk menahan cuaca, menghemat air, menahan luka. Bahkan ada titik, kulitnya mulai mengelupas, ganasnya sinar mentari telah melukainya. Ia sampai di masa sulit, pengaturan dan rencana serta tindakan menentukan arah mau tetap menanti Petruk, atau kabur saja dengan bongkahan emas yang ia cungkil?

Pada suatu saat, muncullah wanita asing dengan panahnya. Karakter tanpa nama pula, kita sebut saja Hawkeye (Polly Smyth). Ia menawarkan bantuan, ia memberitahu ada sumber air hanya beberapa kilometer dari situ. Namun Petruk menolak dan memintanya menjauh. Takut emasnya ketahuan, takut Petruk marah, takut dibagi, takut rencana berantakan, banyak faktor tentunya, yang jelas Hawkeye diusir. Petruk terlalu banyak berpikir, dan lihatlah pikiran yang berharga itu telah mencipta petaka. Dan di sinilah segalanya mulai berantakan. Keadaan benar-benar tak memihak orang-orang serakah.

Banyak momen mengesalkan, membuat kita berkerut kening atas tindakan yang diambil manusia. Serakah mungkin bisa diapungkan di tingkat atas atas tema ini, tapi memenuhi janji, melaksanakan tanggung jawab dengan benar juga jadi hal penting yang perlu kita kupas. Petruk dengan meyakinkan memenuhi kewajibannya. Ia punya peluang kabur saat ada sebuah mobil meintas di sekitar, normalnya ia meminta bantuan, ikut tumpangan kek, meminta tolong bahan makanan/minuman kek, atau melakukan seperti apa yang disampaikan Hawkeye. Ada mata air di sekitar, ia bisa ke sana. Akar keberadaannya tertelan dalam hutan labirin. Namun tidak, ia tetap bertahan. Demi tanggung jawab? Ya. Demi uang melimpah? Ya. Yang jelas, menjadi manusia baik saja tak cukup. Kudu cerdas dan mau berbagi, atau bersedekah. Agama kita jelas menyuruh kita untuk berbagi.

Endingnya luar biasa, tatanan dirusak seketika. Mendadak membuat semua tindakan mereka seolah sia-sia dan ini malah mencipta kemarahan, mereka seperti mendapat stempel “pecundang” dengan huruf P besar. Rona kehidupan yang ganas dan dilematis. Karma jelek? Nasib naas? Nasib manusia seharusnya ditimbang setelah titik itu terlewati. Yang jelas salah strategi, peka keadaan dan tahu karakter teman sungguh penting, apalagi teman baru. Tak hanya di gurun, tapi juga dalam ‘gurun kehidupan’ kita yang luas dan panjang ini.

Twist yang ditawarkan menarik. Sebagian besar penonton suka ditipu ‘kan, maka Gold memberi ruang gerak bebas buat penonton untuk menafsirnya, seluas gurun. Teka-teki mengundang teka-teki baru. Minim karakter, hanya tiga sejatinya. One, Two, dan The Stranger. Ada setengah jam tak ada dialog, cuma napas, lihat matahari, nyalain api, waspada badai, dst. Lalu muncul dialog juga cuma buat nanya, ‘aman bos’. Aman. ‘Kapan?’, ‘Bentar lagi’. ‘Aman bos?’, ‘aman’. Gitu saja terus sampai pisah tugas dan Hawkeye muncul. Di sini kelihatannya rasa ingin tahu dan keberanian bergerak bersama.

Menekuri gundukan di gurun. Gundukan itu seolah pusat semesta. Betapa kehidupan telah memerangkap mereka, berempat.

Gold | Year 2022 | USA | Directed by Anthony Hayes | Screenplay Anthony Hayes, Polly Smyth | Cast Zac Efron, Susie Porter, Anthony Hayes | Skor: 4.5/5

Karawang, 240222 – Richard Marx – Right Here Waiting

Coda: Mereka Berciuman, dan Bercakap-cakap, dan Merencanakan Masa Depan

Menjadi penerjemah lisan seumur hidup. Ini melelahkan.” – Ruby

Karena ini film Oscar, saya membayangkan bakal lihat film kualitas dengan perenungan mendalam. Layar hitam dalam kegetiran. Kata-kata mutiara yang menampar logika, atau minimal cerita pahir kehidupan. Ternyata tidak, ini film sejenis FTV dengan kata-kata mutiara ala Mario Tegar, “Kejarlah mimpimu setinggi langit.” Bagian kalimat-kalimat tak berucap yang bagus banget, komunikasi tanpa kata, sayang plotnya sederhana, atau malah sangat biasa. Pilihan mudah dan tertebak, filmnya ringan, tak perlu berpusing ria, benar-benar film fun dengan nikmat popcorn di tengah ruang keluarga.

Dibuka dengan keluarga nelayan dengan perahunya di pagi hari, keluarga ini tuna rungu, hanya si bungsu Ruby Rossi (Emilia Jones) yang bisa mendengarkan, sehingga saat ikut melaut ia menjadi juru bicara dan bahasa isyarat dengan orang lain. Tampak sangat akrab sama ayahnya Frank (Troy Kotsur) dan abangnya Leo (Daniel Durant). Pagi itu Ruby langsung berangkat sekolah bersepeda dari pasar ikan. Di-bully teman-temannya, bau ikan. Di kelas, bahkan ketiduran.

Sepintas saja kita langsung memahami rutinitas ini. Ruby benar-benar menjadi tumpuan keluarga, menjadi penghubung sosial dengan sekitarnya, istilahnya di sini penerjemah lisan. Saat makan keluarga, sang ibu Jackie (Marlee Matlin) complain padanya bahwa mengenakan earphone mendengarkan music itu tidak sopan, sementara abangnya main tinder tak masalah. Kok bisa? Karena tinder bisa dinikmati semua orang. Hufh…

Sementara itu dalam ekstra kulikuler sekolah dengan ragu Ruby mengambil kelas musik. Hobi bernyanyinya ditekuni. Gurunya tampak komikal, Bernardo (Ayana Brown) dengan Rrrr… dobel. Dalam seleksi mula, dipilah dalam jenis suara, menyanyikan lagu ulang tahun Ruby mendapat serangan panik mendadak, dan kabur. Di danau tersembunyi, tempatnya berkeluh dan merenung, kita tahu ia benar-benar memiliki bakat bernyanyi.

Dari ini dengan mudah kita akan menekuri atah cerita, keluarga ini akan menikmati penampilan nyanyi Ruby di sekolah. Tebakanku dengan reflek kuutarkan. Benar saja, di kelas music ia dipilih duet nyanyi dengan remaja tamvan Miles (Ferdia Walsh-Peelo). Di rumah, karena pihak pembeli hasil laut memainkan harga, mereka menentang dan mendirikan koperasi nelayan. Melawan para cukong. Hanya dengan Ruby segalanya lancar, sebab ia menjadi penerjemah.

Permasalahan bagaimana menghadiri latihan rutin berbentur dengan usaha penjualan ikan. Ibunya khawatir ia takkan bisa performe dan memalukan diri sendiri, padahal ia sungguh pede. Lihat, ini pertentangan biasa. Cita-cita versus kondisi keluarga yang tak mendukung. Termasuk saat sedang berlayar, Ruby ngambek, ada seorang auditor ikut melaut, dan bagaimana penggilan pengawas laut tak ditanggapi sebab memang tak bisa mendengarkan, menjadi boom yang nantinya juga malah memicu hal besar lainnya. Dengan kondisi ini, apakah ia tetap nekad ikut audisi beasiswa kuliah musik ke Boston?

Sejatinya Coda, tata cara penyampaian ke penonton sudah sangat bagus, yang jadi masalah malah ceritanya. Memelajari bahasa isyarat tidaklah mudah, ada ilmu khusus. Saya sendiri bisa beberapa saja, dulu masa kecil punya teman tuna rungu. Teman ke mana saja karena seumuran. Dari main kelereng, cari burung dengan ketapel, mancing, ke masjid, mandi di sungai, hingga curhat masalah wanita. Ketika saya putuskan merantau, saya sempat berpikir sempit, bagaimana nasibnya? Bagaimana jodohnya? Hampir dua puluh tahun kemudian, ia masih belum menikah, bekerja kasar apa saja, dari jadi kuli panggung, sampai tukang bangunan. Setiap mudik, saya sempatkan bertemu, dan dia selalu antusias bercerita panjang lebar. Saya bisa menangkap, tapi untuk membalasnya hanya beberapa patah saja yang bisa saya utarkan, ditambah, ia juga tak bisa baca-tulis jadi sebagian ketika tak klik, pakai bahasa Tarzan. Selalu saya doakan yang terbaik, sahabat masa kecilku.

Ada bagian saat Leo di bar marah, dengan bahasa isyarat dan segala miss-komunikasi dan ketersinggungan. Apa yang ditampilkan memberi teriak sangat keras. Dari hal remeh bisa meluap, meningkatkan percekcokan menjadi perkelahian. Rasanya sulit menerima singgung emosi sesaat ini, melukai fisik dan perasaan.

Ada bagian yang mungkin tampak membosankan, di danau dengan ketinggian dan kastil batu du atasnya sejoli ini menikmati riak, berenang dalam romansa muda. Mereka berciuman dan bercakap-cakap dan merencanakan masa depan. Ah, klise sekali. Yang satu tamvan, yang satu luar biasa cantik. Apa yang diharapkan dari kisah-kisah manis seperti ini? Kisah klise sinetron kita merembes ke dalam budaya. Dan malah menjadi memuakkan.

Ada bagian keren juga sekitar tiga menit yang syahdu. Apa yang akan kita dengar? Kekosongan, keheningan? Hanya dengan tatapan bingung ketiga aktor itulah kita secara instan menjelma turut tak mendengar nyanyian indah itu. Saat-saat yang menyentuh. Nah, harusnya film sisanya hening sahaja, bakalan makjleb. Jadi sisa menit itu kita ikutan tak bisa mendengar segala dialog, tak mendengar skoring, nyanyian, atau apapun. Layar hanya menyaji gambar tanpa suara. Penonton diajak tak mendengarkan. Ah, sayangnya film tak se-snob itu. Film berjalan indah mengikuti trek happily ever after. Film keren seharusnya tak bisa diramalkan.

Memang ada teman bilang bagian terbaik endingnya, bagaimana mereka turut menikmati nyanyian di balkon. Terasa keindahan itu memancar, disebar untuk semua yang hadir, untuk segenap penonton, lega, dan menghanyutkan. Namun bagiku bagian paling bagus ada di adegan saat ibunya menjelaskan saat-saat mendebarkan setelah Ruby lahir, bagaimana harapan orangtua tak terwujud, anugerah yang seharusnya disyukuri, tapi malah jadi amarah sebab keluarga ini goyah. Duh, rasanya ingin turut serta mencubit pipi Ruby, ia sudah remaja tapi tetap dianggap ‘bayiku’, orangtua memang seperti itu. Berapapun usia kalian, kalian akan tetap dianggap anak kecil. Limpahan kasih sayang orangtua sepanjang masa.

Ini memang film sweet, akhir bahagia untuk sang cinderalla. Makanya film selembut ini bisa masuk kategori tertinggi sungguh mengherankan. Bakalan dibantai Kekuatan anjing atau Nyupir, bahkan tak ada apa-apanya dengan Jangan Lihat ke Atas. Bisa masuk Oscar saja sudah sungguh bersyukut. Kerasnya persaingan, rasanya Coda bakalan zonk. Hanya di bagian supporting actor yang mungkin sebab bahasa isyarat itu rumit, Troy Kotsur akan ketat dengan Kodi Smith. Goodluck Frank!

Coda | Year 2021 | USA | Directed by Sian Heder | Screenplay Sian Heder | Cast Emilia Jones, Troy Kotsur, Daniel Duramt, John Fiore, Eugene Derbez, Ferdia Walsh-Peelo | Skor: 3.5/5

Karawang, 210222 – Richard Marx – Right Here Waiting

Nightmare Alley: Bermimpi Buruk di Bawah Selimut Mahal

Zeena: “Kau melakukannya dengan baik.” / Stan: “Cara yang sama, hanya aksinya yang berbeda.”

Keberuntungan juga punya batasannya. Sejago-jagonya tukang tipu, suatu hari akan ketipu juga. Karnaval sirkus di tanah lapang di era Perang Dunia Kedua. Kehidupan pribadi para pemainnya menjadi bumbu atraksi yang menawan. Seorang gembel mencipta tampil, belajar banyak ilusi (dia menyebutnya mentalis), lantas memisahkan diri untuk berkarier di tempat-tempat mewah, sampai akhirnya hancur sebab bermain kotor bersinggungan dengan ilmu hitam, bermain di dimensi mistik arwah. Dibantu psikolog dingin, jadilah suguhan menawan karya terbaru sutradara favorit yang pernah menghasilkan Pan’s Labyrinth.

Kisahnya runut, dari kere balik ke kere, gemerlap kemewahan seolah hanya mampir. Stanton Carlisle (Bradley Cooper) meninggalkan tempat di mana ayahnya meninggal, dikuburkan di lantai rumah, lantas dibakar. Ia naik bus hingga lelap, hingga tujuan terakhir perjalanan. Seolah mengikuti arah roda melangkah, Stan hinggap di karnaval jalanan. Sebuah pertunjukan orang aneh, di mana manusia kumal seperti gelandangan ditawan kerangkeng, diperkenalkan lantas diberi makan ayam hidup. Mencipta histeria, dan ia melangkah keluar.

Karena tak tahu mau ngapain, ia ikut saja jadi pekerja dadakan membongkar panggung karnaval, untuk pindah di kota lain, yang lantas membangun ulang di kota singgah. Clem Hoatley (Willem Dafoe) menjanjikan gaji dan makan gratis. Diperkenalkan dengan semua pemain sirkus dari yang berbadan kekar, memainkan ilusi listrik, orang cebol, hingga illusionist. Dari sinilah terjalin kerja sama, dan Stan belajar dengan sangat cepat. Kedekatannya dengan Madame Zeena (Toni Collette) memberi kesempatan mengenal ilmu ilusi. Lantas memohon pada Pete (David Strathairn), suami Zeena untuk mengajarinya trik membaca pikiran, sejatinya itu hanya permainan kata, memaknai bahasa kode dengan asisten memberi berbagai klu, kata-kata itu dipelajari dalam buku kecil yang ditulis sendiri, seolah kitab penting. Maka saat Pete meninggal, buku itulah pegangan Stan untuk berpisah dengan tim karnaval, memulai kariernya sendiri dengan mengajak Molly (Rooney Mara) sebagai pendamping.

Singkat cerita, selama dua tahun profesi mentalis itu sukses, menjelma show ‘The Great Stanton’, teknik ini jelas mengadopsi Pete dan Zeena dengan Molly sebagai asisten. Dalam panggung-panggung mewah, dari hotel-hotel, hingga dipanggil orang-orang kaya untuk membantu terapi. Dalam live show, ada seorang penonton psikolog Dr. Lilith Ritter (Cate Blanchett) yang menantangnya, Molly diminta diam. Dengan tas kecil diacungkan, diminta menebak isinya. Sebuah pistol kecil dengan dramatis disebut, dan benar.

Seorang hakim Tuan Harrington Kimball (Peter MacNeill) lantas meminta bantuannya. Kebetulan istri hakim, Nyonya Kimball (Mary Steenburgen) adalah pasien terapi Dr. Ritter. Maka bocoran info pribadi pasien itu membuat Stan mampu memanipulasi informasi, berpura-pura kerasukan putranya yang tewas dalam perang, lantas menyampaikan kata-kata penghiburan. Mereka merasa telah diperbaharui ketika menemui Stan. Sungguh riskan, dan penuh tipu daya. Dengan bayaran besar, uang Stan melimpah, ditawarkan separuhnya untuk sang dokter, kerja sama ini tampak berdiri di kayu yang rapuh, Dr. Ritter sendiri tampak tak tertarik materi, ia hanya meminta imbalan Stan mencerita masa lalu dalam sesi terapinya.

Tantangan makin memuncak saat seorang pejabat penting Ezra Grindle (Richard Jenkins) meminta bantuan. Ia adalah pejabat dengan dosa masa lalu yang akut. Dengan pengamanan ketat, pengawal ketat, meminta tes kejujuran dengan mesin deteksi tipu, dan karena akting bagus Stan, Ezra percaya. Kali ini uangnya makin besar, memainkan arwah Dory kekasih masa lalu yang telah tewas, dengan bocoran info rahasia.

Kebetulan Molly kangen teman-teman karnavalnya, mengundangnya ke apartemen. Salah satunya Madame Zeena yang benar-benar bisa membaca kartu tarot. Dengan meminta Stan mengambil tiga kartu, dibacanya. Ramalannya mengerikan: kehancuran, keputusan genting, digantung terbalik, semua klik dengan apa yang akan dilakukannya. Dengan peringatan ini, apakah aksi pemanggilan arwah ini tetap dilakukan? Kali ini nyawa taruhannya.

Alkohol berlebih jelas berbahaya. Menjadi manusia yang tak mengonsuminya jelas pilihan bijak, tapi kemudian karena tekanan, lantas meminumnya, ini bisa jadi adalah awal bencana, apalagi tak bisa mengendalikan dan kecanduan. Bermula dari alkohol, berakhir dengan titik terendah. Membuang kebiasaan buruk tidak lebih dari pengerahan kekuatan kemauan. Bereskan dulu pikiran, maka tubuh bisa melakukan apa saja. Ada ironi, terutama sepuluh menit akhir, bagaimana nasib seseorang jadi bagian permainan hidup. Matanya sayu, telinganya luka, rambut awut-awutan, limbung namun tetap sadar. Rasa sakit di mana-mana, tetapi ia hidup. Endingnya luar biasa, titik kata-kata yang sempurna untuk mengakhiri film.

Sejatinya setting dan aura yang ditampilkan film-film Del Toro banyak kesamaan, template-nya mirip. Retro dengan Perang Dunia, karnaval dengan segala keajaiban, para tentara yang terluka, fantasi dengan permainan pikiran, hingga Ron Perlman sebagai tokoh langganan. Saya baru tahu film ini disutradari oleh beliau bahkan setelah menit-menit berjalan, pilihan nontonnya jelas karena masuk Oscar. Peluangnya tipis untuk kategori puncak, ia pernah memenanginya dalam The Shape of Water, dan untuk mengulanginya jelas sulit. Sejatinya film ini jelas jauh lebih menghibur, plotnya bergerak, menawarkan pertanyaan, degub kekhawatiran akan nasib para tokoh, saya bahkan sempat menatap getir setelah adegan ramalan. Pilihan Molly sudah tepat, dan sangat wajar. Ia lebih mengenal teman-temannya ketimbang Stan. Memang dasarnya Stan yang tamak, dan pilihan apa yang sudah dimulai, harus terus berlangsung. Sulit memang. Maka saya bilang, film ini plotnya benar-benar berjalan landai, berpotensi terjerebab ke jurang. Kalau tolok ukur kepuasan dilihat dari keterlibatan emosi penonton, jelas Nightmare Alley sukses besar. Saya tidak dapat membayangkan jalan keluarnya. Sangat menghibur.

Rooney Mara tampak jelita. Luar biasa, seolah princess di tengah keanehan semua anggota. Pakaiannya yang mencolok menambah keanggunan. Sedari muncul sudah tampak istimewa, benar-benar bintang di sini. Cate Blanchett juga makin hebat. Film terakhir yang kutonton Don’t Look Up jadi pembawa acara TV yang ceriwis dan mengesalkan, di sini jadi psikolog dingin, yang sepintas lihat saja sudah bikin keder.

Terperosok ke dalam alkoholisme dan menterahkan pada mimpi-mimpi, mimpi buruk di bawah selimut mahal. Tak ada yang lebih membahagiakan daripada menyelamatkan dirimu dengan jalan sekadar terjaga dari tidur.

Film kedua Oscar yang kunikmati pasca pengumuman, kemungkinan zonk. Kalaupun dapat cinematografi, dan memang sangat cantik, itu hanya bonus. Goodluck Stan!

Nightmare Alley | 2021 | USA | Directed by Guillermo Del Toro | Screenplay Guillermo Del Toro, Kim Morgan | Story William Lindsay Greshan | Cast Bradley Cooper, Cate Blanchett, Toni Collette, Willem Dafoe, Richard Jenkins, Rooney Mara, Ron Perlman | Skor: 4/5

Karawang, 170222 – Billy Holiday – The Best of Classics Masters

Kronik Burung Pegas

“Saat harus naik, carilah menara tertinggi dan mendakilah sampai ke puncak. Saat harus turun, carilah sumur terdalam dan menyelamlah hingga dasar. Saat tak ada arus, bergeminglah saja. Kalau melawan arus, segalanya akan kering. Kalau segalanya kering, dunia ini gelap.”

Buku tebal 915 halaman dengan jumlah 25.000 kata! Di dalamanya terdiri tiga jilid, sama dengan 1Q84, tapi kali ini benar-benar disatukan. Luar biasa melelahkan. Isinya tetap khas Murakami, pria penyendiri yang ditinggalkan istrinya. Kehilangan kucing, lantas hal-hal absurd terjadi di sekelilingnya. Dengan sumur kering menjadi perenungan, dengan cewek remaja tetangganya yang aneh, dengan konfliks dari dalam kepala. Segalanya merumit sendiri. Bagian terbaik jelas saat kilas balik cerita saat tentara Jepang di Manchuria, kengerian akut manusia dikuliti, sejumlah kekejaman juga tergambar nyata saat di kebun binatang, hingga adegan seksual dengan kekerasan disampaikan. Segalanya menarik, megap-megap menyenangkan. Maka tak salah, Haruki Murakami adalah penulis sepanjang masa favoritku, satu-satunya penulis dengan buku segala label lima bintang.

Biar bagaimana pun dunia ini penuh banyak hal aneh dan konyol dan seseorang harus mengisi kehampaan di antaranya. Semua karakter di sini aneh. Jadi kalian kudu siap memasuki dunia tak lazim. Toru Okada adalah suami yang ditinggal istirnya Kumiko, bukan karena ia kini sudah menganggur setelah keluar dari pekerjaan di bidang hukum sebagai pekerja rendahan, bukan pula karena isu selingkuh. Tuan Okada hanya ditinggal saja. Bisa dikatakan Kumiko orang yang cenderung langsung mengucapkan apa yang dipikirkannya. Dia berpikir sambil berbicara. Akar keberadaannya tertelan dalam hutan labirin.

Mereka sedang berduka karena kucing Noboru Wataya hilang. Okada mengira istrinya hanya berangkat kerja menjalankan rutinitas biasa, nyatanya tak pulang. Dia tak pernah bingung, ragu-ragu, atau membatalkan apa yang sudah diucapkannya. Tanpa kabar, tanpa klu, sempat khawatir terjadi kecelakaan, tapi tidak, sebab kemudian kita malah diajak berkenalan dengan kakaknya, politikus ambisius Noboru Wataya (namanya sama dengan kucing yang hilang, nanti pas balik diganti namanya jadi Sawara) yang bilang bahwa Kumiko ingin pisah dan tak mau diganggu. Ia kini bersama keluarga. Aneh sekali, sebab selama ini rasanya tak ada masalah krusial yang mengganggu. Tak ada yang lebih menguaskan saraf manusia daripada usaha yang tak bermakna dan sia-sia belaka.

Sementara perempuan Kreta Kano, adiknya Malta Kano datang untuk membantu mencari kucing yang hilang, ia seperti cenayang (ia menyebutnya pelacur pikiran) yang bisa menggunakan indera keenam. Saudara yang memakai nama belakang sebuah nama Negara Malta ini, lantas makin akrab dan dekat. Selain mencari kucing, ia jadi teman curhat, atau saling curhat lebih tepatnya. Termasuk masa lalunya yang pernah menjadi pelacur, pelanggan terakhir adalah Noboru yang adalah kakak istrinya! Kekerasan seksual yang dialami mencipta titik balik yang rumit. Hubungan mereka sendiri berjalan mengalir lembut, termasuk rencana keluar negeri yang batal, benar-benar terasa feel-nya seperti kehidupan asli yang ragu serta bimbang mengambil keputusan. “Apa pun akibatnya, mempercayai orang lain sepenuh hati adalah salah satu pilihan sikap yang tepat sebagai seorang manusia.” Kata Malta Kano

Sementara tetangga Mei Kasahara gadis sekolah yang tak kalah aneh turut meramaikan konfliks. Ia menjadi sahabat yang membantu mencari kucing. Ada sebuah sumur kering di dekat situ, entah pikiran apa yang merasuki Toru memutuskan merenung di sana, dengan tangga menjulur, bersemadi di dalamnya. “Langit di atas kepala mereka penuh bintang, jangkrik yang tak terhitung jumlahnya berlomba-lomba untuk bersuara. Dan terdengar suara arus sungai. Sambil mendengarkan arus sungai itu, aku pun akhirnya terlelap.”

Esoknya, tangga hilang, jelas ada yang ambil, maka berhari-hari ia menahan lapar dan haus, membuatnya panik, sampai kapan bantuan akan datang? Sampai akhirnya di saat-saat lemas, muncullah tangga bantuan, selamat. Mei nantinya juga memutuskan merdeka, keluar sekolah, bekerja di luar kota, berkirim surat, menjadi sahabat baiknya.

Toru mendapati tamu istimewa, seorang veteran perang masa pendudukan Manchuria seorang Letnan bernama Mamiya. Bagian ini adalah salah satu terbaik dalam novel. Masa panas Jepang-China itu dipenuhi kekerasan. Ada adegan saat ia mencerita menjadi mata-mata, temannya tertangkap dan dikuliti hidup-hidup. Ia selamat berkat sumur yang ada dalam perjalanan melarikan diri. Letnan Mamiya berkata, “Tiap ceritanya menarik dan menggetarkan, tapi sebagaimana biasanya dunia ini, walau seberapa asyik ceritanya, kalau diceritakan berulang-ulang tujuh atau delapan kali, kecemerlangannya cenderung memudar sedikit banyak.” Bagi kita yang pertama dengar rasanya luar biasa. Mengerikan sekaligus mendebarkan. Segalanya terhubung bagai sebuah lingkaran dan yang berada di pusatnya adalah Benua Manchuria, Benua China.

Lalu masa saat di kebun binatang, yang harus membasmi semua binatang penguninya sebab akan datang para militer yang akan membumihanguskan kota, mengerikan cara mematikan binatang, karena peluru begitu berharga, jangan sia-siakan untuk menemabk hewan, mending peluru itu ke kepala musuh. Begitu pula ada adegan pembantaian tawanan, mereka diminta menggali lubang, di mana akan dijadikan kubur mereka. Membayangkannya saja sudah mencipta gidik bulu berdiri.

Sementara perkembangan politik Jepang masa kini yang makin panas, Noboru memaksa rumah gantung di dekat rumah Toru untuk diakusisi. Malahan Toru yang mendapatkannya setelah perjuangan melihat-lihat manusia lewat di jam pulang kerja, berkenalan dengan Nutmeg Akasaka dan anaknya yang istimewa Cinnamon Akasaka, hingga perdebatan manakah yang lebih ideal, hidup sendiri dengan luapan waktu, ataukah bersama pasangan tapi hampa? “Semakin sempit dan semakin statis duniaku berada, kurasa dunia ini semakin penuh dengan hal-hal aneh dan orang-orang aneh.”

Permasalah yang mau disampaikan terlampau banyak. Banyak banget, saking melimpahnya saya tak tahu mau fokus ke mana. mau ke kucingnya yang misterius? Jazz yang menjadi teman santai di rumah? Atau hal temeh seperti suara burung pegas yang ada di depan rumah bertengger di pohon-pohon yang notabene terjadi juga saat pembunuhan para binatang? Remeh tapi justru menjadi perlambang (dan buku ini banyak perlambang), menjadi judul buku. Atau hal temeh lainnya seperti muncul tetiba tompel di wajah setelah menekuri kedalaman sumur? Banyak banget hal menarik. Kelihatannya rasa ingin tahu dan keberanian bergerak bersama.

Mau bahas perpolitikan, males juga. Yang paling menarik memang tata cara mencerita masa lalu. Bagian masa tahun 1930-an itu sungguh menggugah, masa perang yang dituturkan dengan fantastis. Suatu saat pas bikin cerita, saya ingin mencipta dialog-dialog sejenis, narasi panjang melelahkan tapi memukau nalar. Berhasil menempatkan pembaca di tengah situasi konfliks berdarah, mencipta ketegangan yang turut serta ketakutan. Manusia pada dasarnya memiliki simpati untuk orang lain, tuut kasihan dan bersedih atas kematian orang-orang hebat juga menandakan keberhasilan sebuah buku. Tak peduli dari Negara mana, tak perlu jadi bagian dari perang kedua Negara itu untuk menarik empati, ini adalah kisah kemanusiaan. Kalian pasti memposisikan keadaan itu, menyaksi teman seperjuangan dikuliti hidup-hidup demia menjaga rahasia Negara. Ngeri, mual, rasanya nalar tak tega.

Dengan tulisan ukuran kecil, sungguh 900 halaman ini bisa tembus ribuan kalau dicetak normal. Beruntung saya mendapatkannya free, hasil judi Pirlo juara enggak di Serie A musim lalu (thx FOC). Target utama buku ini, buntutnya banyak ternyata, mayoritas Murakami. Menutup semua terjemahannya ke Bahasa Indonesia kumiliki. Sayangnya setelah komplit, muncul dua cetakan baru Membunuh Commendatore. Apakah kudu berjudi lagi untuk mendapatkannya?

Sejatinya kalau kita banyak membaca buku-buku Haruki, karakter Toru mirip dengan karakter lainnya. Lelaki cuek, faceless, legowo, bahkan menganggur. Hal-hal yang tabu di sini, tapi ya biasa saja di sana. “Aku ini tergolong manusia realistis. Aku hanya mempercayai hal-hal yang kupandang dengan kedua mataku ini sampainaku benar-benar yakin.” Maka, lanjutnya, “di dunia ini ada beaneka ragam pekerjaan. Bagai denah tata letak kuburan baru, pekerjaan-pekerjaan itu berjajar rapi dalam kotak-kotak kecil yang membagi-bagi permukaan halaman Koran.”

Begitu juga karakter lain, mirip-mirip. Semua tampak mengalir, sesuai prinsip Haruki saat menulis, ia tak tahu bagaimana nasib karakternya. “Sastra itu susah dijelaskan dengan baik, seharusnya lebih bersifat spontan. Sastra itu tidak untuk dipelajari atau diteliti secara khusus, tapi meluap keluar secara spontan dan alami dari kehidupan yang biasa-biasa saja.”

Ada satu bagian panjang saat komunikasi pasangan ini terjalin lewat chat. Karena novel bersetting tahun 1990-an maka terknologi tak semudah saat ini untuk ngobrol daring. Melalui komputer, mereka melakukan chat. Sempat curiga yang membalas bukan istrinya, sebelum menjawab ditanyai hal-hal pribadi untuk memastikan. Masalahnya, siapa yang menjamin istrinya di seberang sana tak disandera atau ditawan dengan ancaman?

Ada pula sebuah folder berisi file-file cerita, secara acak Toru pernah memilih, setelah ragu-ragu sejenak, memilih nomor #8 tanpa alasan tertentu, isinya variatif, salah satunya tentang lanjutan pembantaian di kebun binatang. Kata-kata itu berpikir, mencari, berkembang, memancarkan panas. Teka-teki mengundang teka-teki baru. “Manusia cenderung melakukan hal-hal yang tidak baik saat terkucil.”

Dalam suratnya Mei bilang, “Seandainya saya menulis sebuah otobiografi suatu hari nanti, saya mau juga menghabiskan satu bab untuk bercerita tentang Pak Okada.” Maka dengan demikian saya bisa bilang, “Seandainya saya menulis sebuah otobiografi suatu hari nanti, saya mau juga menghabiskan satu bab (penuh) untuk bercerita tentang Haruki Murakami.” Siapa tahu, suatu saat nanti. Buku ini selesai baca pada 24.10.2021 jam 19:40 jelang Verona vs. Lazio. Kurang lebih selama setengah tahun kunikmati. Memang santai saja, membuang-buang waktu, tanpa melakukan apa-apa selain menikmati lembar demi lembar novel-novel Haruki Murakami adalah anugerah hebat dalam hidup ini.

Dalam hidup, kita tidak bisa melarikan diri dan kita tidak boleh melarikan diri. Segalanya berjalan lurus ke masa depan. “Semoga umat manusia di seluruh dunia dapat menikmati kedamaian.”

Kronik Burung Pegas | by Haruki Murakami | Penerbit KPG | Judul asli Nejimakidori Kuronikuru | Copyright 1994-1995 | Originally published in Japan by Shinchosha Publising Co., Ltd. | KPG 59 19 01639 | Cetakan pertama, Mei 2019 | Penerjemah Ribeka Ota | Penyunting Ining Isaiyas | Perancang sampul Leopold Adi Surya | Penataletak Harits Harhan | ix + 915 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-481-141-9 | Skor: 5/5

Karawang, 160222 – Manhattan Jazz Quartet – Vocal Jazz Classic

Thx to Ovi Books, Bandung.

Paket Haruki Murakami dipersembahkan oleh FOC700k. Thx to Mr Pirlo Squad: Huang, Sahala, Safin, Arifin, Bagas, Hafis, Jackie.

The Runaway Jury

“Dengar Finch, kau terlalu banyak khawatir. Kau sudah membayar, kau sudah menyewa yang terbaik, sekarang tenanglah dan tunggu vonis. Vonis itu ada dalam tangan yang sangat baik.”

Untuk kesekian kalinya menikmati karya Grisham. Selalu memuaskan. Pengalaman membaca Sidney Sheldon yang berturut mengajarkanku untuk tak terlalu dekat malahapnya. Jadi novel-novel Grisham walaupun penuh di rak, akan kubaca dua tiga bulan sekali agar tak terasa membosankan. Kali ini kita diajak di ruang sidang kasus gugatan karena ada perokok tewas kepada korporat kuat perusahaan tembakau. Untuk menemukan jawaban pemenang sidang, kita diajak melingkar jauh sekali sampai 600 halaman. Para juri yang dipilih dan disaring itu dipimpin oleh Nicholas Easter. Namun yang tampak di permukaan adalah wajah-wajah palsu. Kali ini Grisham kembali berhasil membuat geram pembaca. Dan saya suka…

Tak ada apa pun yang bisa menandingi gairah yang timbul dalam mengantisipasi sidang pengadilan suatu kasus besar. Sebuah sidang akan digelar, sidang berjudul Wood vs. Pynex. Para tergugat melakukan meeting hingga larut malam, juga menabrak hari libur. Dengan slide show ppt menampilkan puluhan kandidat juri. Mereka menyewa frima hukum Whitney & Cable & White yang bekerja untuk menyaring juri, memengaruhinya, sehingga sejarah yang tercatat perusahaan rokok menang akan terus berlanjut. Mengelola firma konsultan juri miliknya sendiri. Dengan bayaran cukup mahal, Carl Nussman dan perusahaannya bisa memilih dewan juri yang cukup tepat.

Pynex masuk dalam The Big Four dan para pemiliknya selalu muncul dalam Fortune 500. CEO yang melakukan lobi-lobi di lapangan golf. Khas konglomerat. Perusahaan ini masing-masing diperdangkan di NYSE (Bursa Efek New York). Tentu saja mereka menyewa pengacara terbaik dan paling tangguh, pakar-pakar paling licin, konsultan juri paling canggih.

Kasus meninggalnya Jacob Wood akibat kanker telah menyeret pusaran perusahaan tembakau pynex. Mereka sudah berpengalaman, mereka selalu melakukan lobi-lobi. Segalanya diatur, kali ini pelobi dipimpin oleh Finch. Ia mengubungkan titik-titik pilihan, siapa saja yang bisa dijadikan juri dan dipengaruhi. Ada yang sukses, sesuai harapan, ada yang melenceng, nah yang melenceng inilah jadi tugasnya untuk mengubah pendapat dan persepsinya sehingga bisa memihak kliennya. “Satu saja anggota juri yang nakal, bisa jadi racun.”

Kedua belas juri setelah disaring, ditelaah dan diteliti lagi, dari masa lalu hingga kebiasaan, dari kemungkinan arah dukungan sampai kecenderungan, bahkan pilihan politik juga jadi dasar penelitian, hal ini tentu saja tak murah. Agen Finch melakukan penyelidikan menyeluruh, mengikuti para juri dari tempat tinggal sampai hal-hal kecil terinci bagaimana pola makan. Termasuk menyebar kuisioner, salah satunya tampak sepele tapi ada benarnya, fakta bahwa wanita menikmati rokok hanyalah bonus kecil.

Pengacara dan jaksa penuntut di sini malah seperti pion. Lucu juga. Walaupun tetap memiliki suara, dan harusnya kuat. Berhubung kali ini temanya juri pilihan, maka kita menelusup di area juri sahaja. Wendall Rohr adalah pengacara penggugat, ia tak pernah memilih perempuan gemuk. Terutama yang tidak bersuami. Mereka cenderung kikir dan tidak simpatik. Gayanya seperti pengacara yang akan melakukan pemeriksaan silang hebat. Lawannya adalah Durwood Cable pengacara tergugat, ia juga sama tajamnya.

Lalu Fred Harkin sang hakim, ia bukan orang yang hangat atau humoris, dan ia dengan cepat berubah serius. Ahli hukum paling cemerlang dan ego-ego terbesar di negeri Paman Sam diadu. Harkin bertekad memimpin sidang dengan tangan besi. Sementara Celeste Wood adalah seorang wanita mungil berusia 55 tahun, ia menuntut keadilan sebab suaminya meninggal.

Juri dipimpin oleh tuna netra Herman Grimes, tapi sejatinya dengan mudah kita tahu yang paling berpengaruh adalah Nicholas Easter. Ia memiliki koneksi perempuan yang tampak serba bisa, Marlee. Dari hari ke hari sidang, suara condong ke mana, segalanya diatur. Lonnie Shaver satu-satunya laki-laki kulit hitam dalam dewan juri. Nicholas menyusun pertanyaan tiap sidang internal juri dalam kalimat orang awam. Ia memimpin kerumunan untuk mengikutinya.

Juri yang sempurna, sudah tentu bukan juri yang adil, melainkan yang akan memberikan keputusan yang sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka meneliti kita sebelum kita dipilih. Mereka menyatakan bisa mengevaluasi anggota juri hanya dengan mangamati reaksi tubuh mereka, betapapun kecilnya, terhadap apa yang dikatakan. Bagaimana seandainya Nicholas memasukkan jari ke lubang hidung dan membiarkannya di sana selama lima menit? Bagaimana ekspresi bahasa tubuh itu akan ditafsirkan?

Setiap Marlee muncul dan memojokkan Rankin Finch, tampak lucu. Sebegitu ngerinya ketakutan kalah di sidang, ia siap membayar jutaan dolar, dan beratus dolar ke berbagai pihak untuk membayar informasi. Kliennya mencari aman, juri-juri nakal disingkirkan. Cara menyingkirkannya unik dan luar biasa membuat jengkel. Bagaimana Negara hukum dengan mudahnya diatur segelintir cukong dan kroninya. Apakah benar ini pengadilan, apakah benar inikah keadilan?

David Lanchester adalah Nicholas Easter. Fakta itu didapat setelah pasukan Finch menyelidikinya. Namun kesalahan mereka adalah tak fokus padanya, Finch menyelidiki semua juri, bahkan ada bab-bab panjang bagaimana Hoppy, suami salah satu juri Claire Clement dibuat kasus korupsi, menerima suap dari sebuah perusahaan property, itu hanya benang yang mengarah pada istrinya yang sedang bertugas. Njelimt, mumet pokoke.*
Dengan laibi bahwa rokok adalah produk yang bertanggung jawab, bila dipakai dengan terkendali. Seperti produk lainnya, alcohol, mertega, gula, dan senjata api, sekadar contoh. Semua itu bisa berbahaya, bila salah digunakan. Siapakah yang tertawa di ujung kisah?

Saya sendiri tertipu. Segalanya diarahkan ke kemenangan pihak konglomerat, sudah diatur dengan manis, kekuatan uang akan menang, dan tatanan sangat rapi. Dan benar, kalian bisa nyaman menyaksi kepingan kisah ini secara jurkir balik. Ada yang mendanai pertempuran melawan industri terbakau. Sampai akhirnya, data-data bermain, saham jadi acuan, dendam pribadi diapungkan, kejutan betapa busuknya birokrasi diungkap. Sekali lagi, Grisham menampar pembacanya dengan sukses.

Padahal saya sudah menonton filmnya sekitar empat belas tahun lalu, menyewa vcd di Odiva Cikarang. Tampak John Cussack memainkan para juri, tapi intinya saya lupa. Mungkin saat itu ilmu hukum saya masih sangat minim sehingga jajaran juri yang ditampilkan tampak tak kumengerti. Sekarang lain soal, berkat buku-buku Grisham (sejauh ini baru belasan yang tuntas baca) saya jadi tahu bahwa pengadilan itu tak adil. Hahaha… beberapa pelajaran penting di sini:

#1. Kalau seorang saksi tidak dapat digoyahkan, pukul dia dengan detail-detail tidak penting.

#2. Jangan main tebak-tebakan dengan orang yang sudah memiliki fakta yang kuat. *

#3. Juri itu mencapai suatu vonis, lebih disukai dengan suara bulat, tapi sedikitnya Sembilan suara lawan tiga. Juri yang tidak mencapai keputusan merupakan bencana. Bila gagal bulat maka akan ada sidang lain. Hakin yang sama, pengacara yang sama, saksi yang sama, segalanya sama, kecuali dewan jurinya. Sekali lagi, hanya Sembilan suara yang dibutuhkan untuk mencapai vonis.

Ingat, perusahaan tembakau belum pernah kalah dalam sidang seperti ini. Mereka pikir mereka tak terkalahkan, maka akankah ini bisa membuktikan sebaliknya? Dan saat melakukannya sedemikian rupa sehingga penggugat lain tidak takut untuk menuntut industri tersebut? Sungguh mengguncang, memikirkan tindakan-tindakan ekstrem yang diambil oleh industri tembakau sekadar untuk menekan seorang anggotan juri. Ending yang menohok. “Inikah yang selalu kau lakukan dalam setiap sidang perkara terbakau?”

Tahun lalu saya membaca empat buku Grisham: The Last Juror, The Street Lawyer, The Summons, dan ini. Peningkatan dari tahun 2020 yang berhasil baca tiga: Bleachers, The Partner, The King of Torts. Bagaimana dengan tahun ini? Mari kita lihat…

Juri Pilihan | by John Grisham | Diterjemahkan dari The Runaway Jury | Copyright 1996 | Alih bahasa Hidayat Saleh | GM 402 96.440 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan ketiga: Desember 1996 | 672 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-440-X | Skor: 5/5

Untuk mengenang Tim Hargrove (1953-1995)

Karawang, 020222 – 150222 – Scorpions – Always Somewhere

Thx to Raden Baben, Bekasi

Sebastian Darke: Prince of Fools

Sebastian Darke: Prince of Fools

Cornelius: “Temanku yang baik, revolusi tidak akan pernah terjadi tanpa pengorbanan. Kita semua harus berani membayar harganya.”

Max: “Ya,ya, hanya saja kadang-kadang aku merasa orang-orang terlalu memanfaatkanku.”

Lucu. Ini memang buku fantasi remaja, maka menempatkan diri ke sana itu penting. Beberapa bagian memang sederhana, beberapa klise, tapi idenya patut diacungi jempol. Seorang putri yang berjuang untuk merebut kembali haknya di tampuk pimpinan kerajaan. Langsung mengingatkanku pada Prince Caspian atau Lion King. Di sini para protagonist hanya ditempatkan sebagai peran pembantu memang, tapi tetap saja menyenangkan. Kunci utama adalah penyampaian kisah yang nyaman dan mudah dicerna. Kita hanya ada di lingkar luar kekuasaan, dan itu justru asyiknya.

Sangat mudah ditebak, saat para jagon luruh dan di titik rendah, dengan simple bisa dipastikan akan tetap menang. Sayangnya, sang pengarang tidak menyiapkan cerita cadangan. Segalanya mengalir seperti arus sungai, tenang ke satu titik, dan alirnya pasti. Tak ada kelok sama sekali, tak ada riak mengganggu, apalagi ini serial, jadi jelas mereka yang terlibat di seri kedua akan tetap selamat. Oh my, lihat, semakin banyak baca semakin sulit dipuaskan ‘kan?

Sebastian Darke dari kota Jerabin adalah pelawak, ia adalah manusia keturuna peri. Bisa dibayangkan tampannya kan. Ia kini dalam perjalanan ke kerajaan Keladon untuk melamar posisi yang ada. Ayahnya sudah meninggal, dan profesi ini adalah turunan. Pamit sana ibunya untuk berpetualang. Ditemani Max, seekor buffalope warisan ayahnya yang bisa bicara, bayangkan saja kuda yang cerewet. Nah, di sinilah tercipta chemistry. Sang binatang menarik kereta lucu dan sukses melengkapi. Nantinya kita tahu, tak semua buffalope bisa bicara, hanya hewan-hewan khusus dan istimewa. Ia memecah kesunyian, menimpali segala hal yang disajikan. Mereka menempuh perjalanan penuh bahaya, mendaki gunung lewati lembah. Makanan juga ala kadar, karena Darke memang laki-laki biasa. Bayangkan, tokoh utamanya adalah pelawak! “Jangan pernah menjelaskan inti sebuah lelucon!”

Suatu malam saat sedang dalam temaran api unggun, mereka kedatangan tamu. Pria cebol bernama Kapten Cornelius Drummel dari kota besar Golmira. Ia juga menuju Keladon untuk melamar menjadi kapten kerajaan, atau jadi bagian pasukan Crismon Cloak. Ia dipecat dari kerajaan sebelumnya sebab muncul aturan baru di pemerintah dengan syarat tentara tinggi minimal, ia tersingkir sekalipun performanya hebat. Miris, mirip di Indonesia yang birokratif ya.

Ia menawarkan makanan, ia membawa hewan buruan siap masak, menawarkan diri bergabung. Awalnya saling curiga, terutama Max. Namun mengingat posisi kini malah saling membutuhkan, mereka memutuskan bersatu. Kebetulan Darke bosan makan sayur, dapat santapan istimewa daging. Bahkan Max yang vege turut serta makan. Malam itu semuanya tidur nyenyak.

Paginya, Darke kaget sebab teman barunya dikira rampok, sudah tak ada, mengecek segala perlengkapan di karavannya, komplit, cek alat-alat lainnya, tak ada yang hilang. Kekhawatirannya lengkap, saat Cornelius datang membawa hewan buruan lagi. hufh, sah mereka kini berteman. Darke terjamin makanan dan keamanannya, Cornelius mendapat teman perjalanan.

Mereka mendengar teriakan dan mendekat, banyak gerombolan rampok Brigand membantai pasukan, dengan kereta di tengahnya. Si cebol langsung gerak cepat menolong, menumpas penjahat. Darke yang penakut, terpaksa turun tangan. Di situlah ia pertama kali membunuh orang, ada rasa takut, tapi karena posisi memang terpaksa dan ia melakukan demi misi penyelamatan. Dan tahulah siapa yang diselamatkan, Putri Kerin dari Keladon! Warbiasa… sang putri yang ketus jatuh hati sama pangeran pelawak, begitu juga Darke, mereka tampak cocok dan serasi. Muda, keren, saling mengisi. Dan keuntungan koneksi tentunya. “Jika kau hanya memiliki satu penggemar, lebih baik memiliki satu penggemar yang memiliki beberapa koneksi. Gunakan dia sebagai langkah awal dan lihat apakah ada perkembangan.”

Di bagian inilah kita diberitahu bahwa Raja Septimus ternyata jahat. Ia adalah raja sementara, ia paman sang putri yang kini berusia 17 tahun. Setahun lagi akan naik takhta. Maka Septimus merancang rencana jahat, membunuhnya. Mengirimnya ke kerajaan seberang untuk dijodohkan, tapi diminta balik untuk merayakan ulang tahunnya, apalagi ternyata pangeran itu hanya tampak tampan dalam lukisan, aslinya buruk rupa dan tua, rencana itu gagal berkat jagoan kita. Dibantu Magna, nenek jahat yang merancang pembunuhan. Salah satu kenyataan yang paling menjengkelkan tentang Magna adalah dia biasanya benar.

Mereka lantas menyusun ulang bagaimana menyingkirkan putri. Septimus diminta menyambut ramah, putri harus mati di luar kerajaan tak boleh di dalam, sebab rakyat akan marah. Akting syukur ponakannya selamat, memberinya hadiah mewah, memberi hadiah melimpah pada para pahlawan. Memberinya kesempatan. Dari Malthus pelayan raja, kita tahu di lingkaran kerajaan-pun tahu Septimus jahat.

Cornelius langsung diangkat jadi kapten tentara raja, dalam tes berhasil mengalahkan raksasa Klart, penduduk asli Mavelia. Malam itu juga ia diberi tugas mengirimkan surat ke kota seberang, sendirian hanya ditemani keledai Phantom. Mudah ditebak, di sana ia harus menghadapi banyak penjahat yang sudah disiapkan. Dan mudah pula ditebak, ia menang mudah. Jelas si cebol ini istimewa, jago banget. Dikepung dalam rumah, dengan pasukan penuh senjata, semuanya disikat habis. Walau ada luka kecil di pundak, ia tetap luar biasa jago.

Sementara Darke malam itu menampilkan lawakan dan sulap. Ditemui Magna, diberi ciu biar mabuk. Pada penampilan perdana langsung kacau. Pantangan untuk tak menyinggung kebotakan sang raja malah disampaikan pas punch-line. Dalam kebisuan yang sangat mencekam, kau hampir-hampir dapat mendengar suara bulu yang jatuh. Riuh, dan mengejutkan semua peserta. Darke benar-benar kepayang, mumet dan tak sadar atas apa yang disampaikan. Di penghujung stand-up comedy, ia menampilkan sulap menghilang.

Inilah lemari ajaib dari Aliminthera, sang putri dijadikan relawan, ia masuk ke dalam lemari dan ta-da… menghilang. Dapat tepuk tangan, tapi ada konspirasi di dalamnya. Pasukan raja telah menunggu dalam lemari, membius putrid an menghilangkannya. Darke yang memanggil ulang, gagal. Dengan pucat pasi, ia ditangkap. Dijatuhi hukuman gantung untuk esok hari. Sang putri ditawan, ditukar pakaiannya dijadikan kumal seperti rakyat jelata. Esoknya akan dijual di pasar budak di Brigandia. “Jadi, akar dari muslihat kita sudah berada pada tempatnya.”

Sampai di titik ini, novel ini menemui titik puncak. Kalau buku dewasa, harusnya satu atau dua tokoh utama tewas. Putrinya dibunuh, atau Darke dipenggal, atau Cornelius tewas kesabet pedang. Namun karena ini novel anak-anak, segalanya baik-baik saja.

Pasukan disusun, rakyat bersatu membela calon ratu mereka untuk berdiri di takhtanya. Pagi itu, kita menyaksi bagaimana hebatnya pengaruh pimpinan, begaimana efeknya rakyat bersatu. “Aku meminta kalian untuk mengambil senjata apapun yang dapat kalian temukan dan ikut denganku menuju istana, tempat aku bermaksud untuk merebut kembali takhta yang menjadi hakku.”

Apalagi buku Sebastian Darke: Prince of Pirates sudah dipromosikan di kover belakang. Jadi kita tahu ini hanya bagian awal. Untungnya saya nyaman-nyaman saja. Cara menyampaikan cerita itu penting, di sini disampaikan dengan komedi yang pas. Benar-benar nyaman dan baca lepas landas seminggu di sela bacaan lain, selesai baca 12.02.22. Dramanya juga dapat, tokoh Max mencuri hati. Ia bisa mengisi segala kekosongan dan jeda waktu. Saat tempak apes ia nyeletuk, “Aku sudah menyarankan Tuan Muda untuk membuangnya sebelum terjadi musibah, namun, seperti biasa, tidak ada yang mendengarkan aku.”

Jadi kalau saya diberi kesempatan melahap Sebastian Darke menemui Sang Kapten di Ocean Sea Star di Callinestra, tetu saja saya akan dengan senang hati. Buku-buku Mizan fantasi jarang mengecewakan. Salah satu penerbit favorit. Masuk ke wish-list, Philip Caveney dari Inggris mungkin tak sampai jadi penulsi favorit. Namun, kesuksesan menghibur dalam buku ini mengesahkan, buku-bukunya laik diantisipasi. “Jangan pernah meremahkan kekuatan agama.”

Oiya, saya suka endingnya. Klise tapi jleb, bagaimana dalam waktu singkat Putri Kerin menjelma dewasa, keadaan telah memaksanya menurunkan ego, mengalah demi rakyat. Beban itu harus ia tanggung, cinta kasihnya tak bisa dituruti. Ia memberikan hatinya bukan pada orang terkasih, itulah tugas ratu. Dan ia memenuhi panggilan. So sweet, walaupun tampak pahit.

Sebastian Darke: Prince of Fools | by Philip Caveney | Diterjemahkan dari Sebastian Darke: Prince of Fools | Terbitan The Bodley Head, an imprint of Random Children’s Book, 2007 | Penerjemah Aan, Penyunting Fransisca Goenarso | Pemeriksa aksara Morien Gloree | Cetakan I, Agustus 2009 | Penerbit Mizan | Penata aksara Iyan Wb. | Desain sampul Tyo | ISBN 978-979-433-562-8 | Skor: 4/5

Karawang, 140222 – Image Dragon – Believer

Thx to Ade Buku, Bandung

Ben & Jody Film: Musuh-Musuh Berjatuhan seperti Lalat

Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini…” – Jody

Sungguh mengguncang, memikirkan tindakan-tindakan ekstrem yang diambil oleh orang-oarng di dunia industri perfilman sekadar untuk mencipta karya lanjutan. Tak perlu memusingkan makna belibet dibalik kenikmatan kopi. Ini adalah film fun di tengah hutan. Misinya terdengar mulia, melawan perusahaan dzalim yang merebut tanah milik warga. Sengketa tanah, berujung perbudakan. Terdengar familiar? Sebuah kebetulan, bulan lalu kita mendengar seorang pejabat melakukan kerja paksa, lengkap dengan penjaranya beredar di sosial media, dan pahitnya di era digital ini, hal-hal seperti itu masih ada. Ben dan sobatnya Jody terseret dalam pusaran, nyali tinggi, aksi tak kalah tinggi.

Si kekar Ben (Chicco Jerikho) membantu warga untuk mempertahankan tanahnya dari penyitaan oleh perusahaan, sengketa itu mencipta demo dan akhirnya membuat Ben diculik untuk dijadikan pekerja paksa di dalam hutan. Secara dramatis, drama culik itu terjadi hanya sesaat setelah menelepon sobatnya Jody (Rio Dewanto) yang lantas melacak, melalui HP Ben yang retak, melalui Pak Hasan (Arswendi Nasution) seorang negosiator demo, Jody menelusur preman palak, yang berakhir pada penculikan yang lain. Apes tak bisa ditolak, Jody malah turut ditangkap.

Di sebuah hutan tersebutkan mereka terpenjara, menebang pohon, mengangkutnya, sistem kerja paksa modern (sejujurnya tidak ada tegang-tegangnya, kelihatan aktingnya), entah hutannya di mana, yang jelas memang tampak natural lengkap dengan nyanyian sunyi. Pemimpin pengawas adalah Aa Tubir (Yayan Ruhian), ia mudah marah, mudah pukul, apalagi saat dibuatkan kopi anak buahnya, kopi apa kolak?

Maka dari usulan Jody, Ben menawarkan jasa membuat kopi. Seorang barista, tentu saja terasa beda, sungguh nikmat. Dari menatap layar saja kita bisa mengecap lezat. Dari sinilah ia dapat akses, dan suatu malam mereka berdua berhasil kabur, berkat peta penghuni lain. Namun ternyata peta itu tak mengarah ke kota, tapi ke sebuah perkampungan kecil dalam hutan. Jody terluka kena tembak, parah, hujan, asing. Misi penyelamatan di tengah hutan yang rasanya mustahil.

Tersebutkan duo cantek Rinjani (Hana Prinantina) dan Tambora (Aghniny) and co. termasuk bocil imut Musang (Muzakki Ramdhan) dengan ketapelnya. Mereka penghuni asli hutan yang kehilangan pemimpin suku, yang ternyata adalah sang pemberi peta Maka disusunlah rencana pembebasan, misi penyelamatan yang memberi kita sungguhan aksi cepat nan lihai. Jadi ini menjadi film penyelamatan tahanan, tema kepahlawanan diapungkan. Disaji dengan rentetan tembak, panah melaju, adu fisik hantam sana-sini. Duduk dan nikmatilah, tak perlu memikirkan blooper, alur aneh, atau kok bisa-kok bisa-kok bisa lainnya. Musuh-musuhnya berjatuhan seperti lalat.

Saya belum menonton Filosofi Kopi, tapi saya sudah menikmati bukunya. dari sebuah kumpulan cerpen Dee Lestari yang tipis, naskah dikembangkan, dan meliar. Tak menyangka, buku terbaik Tempo tahun itu, lantas menjelma film action. Memang adaptasi bukunya tak ada, ini murni ide Bung Angga and co. yang mengubah drama jadi film bak-big-buk. Sah-sah saja, bebas. Namanya ide, boleh dituangkan, boleh dibiarkan.

Filmnya dicipta nyaman, alurnya mudah diikuti dan tertebak, mungkin bagian endingnya terasa kurang, kalau tak mau dibilang sungguh lemah. Sejago itu, seklise itu, sedrama itu. Saat di pemukiman hutan, terlihat sepintas ada warga mendorong bak beroda yang rodanya dibuat dari kayu! Wah seterpencil itukah? Padahal gaas sebentar bermobil kita sudah mendapati jalan raya. Malah tampak aneh sebenarnya, tanggung.

Seluruhnya tampak canggung aktingnya, maaf hampir seluruhnya. Entah tata kelola yang kurang atau memang sudah cukup dibuat seperti ini, taka da tegang-tegangnya. Saat jagoan tertembak, kita sudah meyakini bakal selamat, begitu pula saat jagoan yang satu tertembak, kita sudah antisipasi selamat. Terlihat kalang kabut hanya untuk mencipta air mata saja tidak berani. Maka suguhan di akhir, di mana kejutan yang disusun terasa gagal. Saling tembak dan tusuk, tapi sudah terlambat.

Sulit memang membuat cerita bagus di tengah gempuran hiburan yang meluap. Apalagi film aksi, perlu telaah mendalam, belum lagi koreo dan pengambilan gambar yang tentunya lebih rumit dibanding genre drama misalnya. Cerita bagus memang harus buat beda dan menyenangkan. Yang utama apapun sajiannya, bisa buku atau film jelas adalah cerita, tak perlu hingga hingar bingar padahal.

Tak perlu penuh pertarungan, yang sederhana dan berkesan sudah cukup. Dua film lokal sebelumnya yang kutonton adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas luar biasa indah, yang utama bukan bentuk retro, jelas ceritanya indah menyinggung adi kuasa lelaki yang lemah syahwat; dan Yuni yang drama abis. Tema feminism diapungkan, lalu diumbar menyerahkan ke penonton untuk menefasir sendiri. Keduanya memberi antusiasme, Ben and Jody membuat saya kembali membumi, banyak hal perlu diperbaiki. Film jenis Seperti dan Yuni, rasanya hanya segelintir dari puluhan yang menyedihkan.

Film ini sejatinya punya amunisi bagus dari Yayan Ruhian yang sudah mendunia, jaminan aksi lho, entah kenapa ia malah dikasih skrip ‘ayoooo tembak’, logikanya manusia seperkasa apa yang meminta tembak jarak dekat? Ada pula Fariz Alfarizi, teman Sherina di Wiro Sableng. Entah juga mengapa ia dikasih porsi aneh, mengawal dengan bego para tahanan dan perkelahian ala kadar. Luna Maya bahkan sekadar lewat, diberikan kepada artis cantik lain-pun tak akan beda. Dua cantek Hana dan Aghniny juga tak sayang sekali. Pada dasarnya kembali ke cerita. Dengan modal bagus itu bayangkan saja, orang-orang ini menggelar meja permainan, dan Yayan siap untuk bermain.

Padahal Luna Maya suruh duduk di kafe meresap kopi, berbicara filsafat saja itu akan jauh lebih menarik. Bayangkan, Luna menyilangkan kaki dengan rok pendek, membenarkan letak rambut, dengan senyum mengatakan sebuah kutipan Kierkegaard bahwa hidup manusia baru dimengerti dari belakang, tetapi harus dijalani dari depan. Segitu saja bisa mencipta seisi bioskop secara kolektif menarik napas dalam-dalam. Lalu mengutipnya di twitter.

Jadi kapan film action lokal bisa kembali memukau? Deret kecewa akan jauh lebih panjang. Pertanyaan itu selesu jawabannya.

Ben and Jody | Tahun 2022 | Indonesia | Sutradara Angga Dwimas Sasongko | Naskah Angga Dwimas Sasongko, M. Nurman Wardi | Pemain Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Yayan Ruhian, Hana Prinantina, Arswendo Nasution, Aghiny Haque, Luna Maya

Karawang, 120222 – Linkin Park – P5hng Me A’wy

14 Best Books 2021 – Fiksi/Terjemahan

Ketidakbahagiaanku melindungiku dari kehidupan. Jangan cemaskan aku.” – Ka dalam Snow (Orhan Pamuk)

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi terjemahan kubaca 50 buku dari 130 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa.

Berikut daftar buku fiksi terjemahan terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. The Black Cat by Edgar Allan Poe (Noura) – 2016

Kubaca dalam beberapa tahun, dulu pernah baca dua cerpen pertama lalu terlupakan di rak. Lalu kuputuskan kejar lagi, baca ulang mulai Jumat, 1 Oktober 2021 di Masjid Raya Perum Peruri sampai separuh, dan sisanya kucicil baca saling silang dengan buku lain. Baru benar-benar usai kemarin, 7 November 2021. Hufh… panjang dan berliku. memang kurang nyaman dibaca santai, kisah-kisah detektif terutama. Memakai penelusuran deduksi njelimet nan brilian.

Beberapa kali membaca cerpen Allan Poe, bagus-bagus. Memang penulis gerenasi Old yang luar biasa. Ia tumbuh di Generasi Romantis Amerika, dan karyanya misteri dan ia dikenal sebagai pencipta genre fiksi detektif sehingga disebab ‘Bapak Cerita Detektif’. Dari pengamatannya saja sudah tampak menarik. Ini buku pertama yang kubaca, ada beberapa terjemahan lain yang patut dilahap.

“Makanan apa yang terbiasa, mereka makan di sumur ini?”

#13. Identity by Milan Kundera (Gading) – 1999

Buku tentang cinta dan obsesi membahana. Pasangan dua orang terluka, yang satu kehilangan anak dan bercerai dua kali, yang lainnya drop out kuliah kedokteran, menjadi pekerja kasar dan kere. “Berhenti kuliah bukan suatu kemunduran, yang aku lepas sat itu adalah ambisi. Aku tiba-tiba jadi orang tanpa ambisi…” Dua hati yang terluka itu bersatu, di awal mula sungguh cinta yang membara. Bertemu dalam seminar di sebuah hotel, terpanah asmara, lantas meletupkannya dalam birahi. Namun, seperti cinta dengan pondasi yang tak kuat pada umumnya, lantas hubungan ini goyah. Mereka kehilangan identitas sejati sebagai manusia.

“Aku kecewa dan sedih karena aku merasa tidak kecewa dan sedih.”

#12. Misa Ateis by Honore de Balzac (Odise) – 2020

Kumpulan cerpen yang menggugah, tipis dilahap dalam sehari hanya sebagai selingan ‘Sumur’-nya Eka Kurniawan yang juga selingan dari Memoar Geisha. Keduanya hanya selingan, saat isoman karena Covid-19. Untuk menjadi hebat memang tak selalu harus tebal, tipis semacam ini dengan penyampaian inti kisah, langsung tak banyak cingcong juga sungguh aduhai. Semua konfliks diramu dengan pas, beberapa tanda tanya sempat diapungkan, arti judul juga jadi saling kebalikan, misa dilakukan untuk orang-orang relijius, ateis berarti tidak tes, tak percaya tuhan, lantas Misa Ateis? Tenang, jawaban itu tak menggantung, ada penjelasan runut dan sajian kuat mengapa itu bisa dan harus dilakukan.

“Segala kemarahan akibat kesengsaraan ini aku lampiaskan ke dalam pekerjaan…”

#11. The Time and The Place by Najib Mahfuz (Terawang Press) – 1994

Buku ini akan cult. Rare. Akan susah dicari lagi sebab langka. Sudah dua puluh satu tahun dan belum dicetak lagi. buku-buku pemenang Nobel Sastra akan mahal suatu hari, apalagi dari penerbit kecil, penerbit yang tak survive dimakan waktu. Semoga harga jualnya dua puluh satu tahun lagi akan menembus 10x lipat.

“Zahiya adalah segalanya bagiku, ia adalah pikiran dan tanganku.”

#10. The Memoirs of Geisha by Arthur Golden (GPU – 1997

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

“Sungguh aneh, apa yang dibawa masa depan untuk kita. Kau harus berhati-hati, Sayuri, jangan pernah mengharap terlalu banyak.”

#9. Adu Jotos Lone Ranger dan Tonton di Surga by Sherman Alexie (Banana) – 1993

Cerita-cerita tak biasa di daerah observasi kaum Indian. Menggugah dan menyentuh hati. Disajikan dengan alur lambat, sering kali mengambil sudut pandang Victort, dan sungguh ini fiksi terasa nyata. Jelas ini dinukil dari kisah hidup penulis. Modifikasi pengalaman hidup seorang Indian Spokane bersinggungan dengan warga mayoritas Amerika.

“Kamu sama sekali tidak penting, kamu cuma Indian terkutuk biasa seperti aku.”

#8. March by Geraldine Brooks (Hikmah) – 2005

Ini semacam sekuel tak resmi dari cerita keluarga March dalam Little Women series karya Louis May Alcott, dengan label di muka ‘diilhami’. Karena selama ini yang kita tahu hanya keluarga March yang ditinggalkan perang Marmee dan empat putri kesayangan, maka Geraldine Brooks berinisiasi mencerita nasib sang ayah/suami di medan perang, menyandang sebagai pendeta tentara, kita diajak mengarungi kerasnya masa itu. Cinta dan segala hal esensi kehidupan diramu dengan sangat bagus. Bertahan hidup tentu saja jadi hasrat manusia di posisi tertinggi, demi keluarga yang menanti, demi harga diri.

“Sebagai pendeta tentara, aku tidak diberi perintah, jadi aku berada ditempat yang kuyakini paling bermanfaat.”

#7. Rumah Mati di Siberia by Fyodor Dostoevsky (Balai Pustaka) – 1949

Luar biasa. Sendu. Sedih sekali, menyaksi kejadian mantan narapidana yang menuliskan kisahnya di Siberia. Keras. Sungguh, inilah yang dinamakan neraka dunia, gelap dan penuh kesengsaraan. Sangat menyentuh, orang-orang bersalah ini berkumpul, disatukan nasib, mengarungi hari-hari dengan keraguan, apakah bisa sampai selesai masa hukumannya, atau mati di Siberia. Disampaikan melalui catatan Alexander Petrowitsj oleh sang penulis.

“Benar begitu, tetapi karena jatuh cinta ini saya telah menembak seorang Jerman dengan pistol…”

#6. The Things They Carried by Tim O’Brien (Serambi) – 1990

Keren sekali. Ini seperti memoar, tapi ternyata ini kisah fiksi. Sang penulis memang pernah terjun ke medan laga di Vietnam. Bubuk mesiu tampak sangat nyata, aroma perang yang ditampilkan tercium sangat kuat. Pengalaman-pengalamannya jelas terpampang jelas. Detailnya mengagumkan. Tim O’Brien jelas berhasil memberi kita gambaran kejam perang, ditampilkan dengan sangat bagus. Danau Tak Berbatas-ku baru baca bab pertama lalu dicuri di Masjid Al-Jihad tahun 2011, dan buku inilah yang akhirnya menjadi buku Tim pertama yang kuselesaikan baca.

“Ini bukan kesalahan seseorang, ini kesalahan semua orang.”

#5. The Silence of the Lambs by Thomas Harris (GPU) – 1988

Memecahkan masalah tak ubahnya berburu. Kenikmatan liar dan kita memburunya sejak kita lahir. Ini jenis buku yang butuh kesabaran, menahan tak muntah sebab pembunuh serial ini menyiksa calon korban. Dikurung seminggu, lantas dikuliti hidup-hidup untuk diambil kulitnya, mayatnya dibuang di sungai dengan kepompong disangkutkan di tenggorokan. Blusnya ditemukan dalam keadaan tersayat di punggung. Serangga muda yang belum sempurna, di dalam chrysalis – kepompong yang membungkusnya selama proses metamorphosis dari larva ke serangga dewasa. Jenis bacaan dapat label 18+ untuk kekejaman yang disajikan. Karena saya belum baca buku serial Hanibal, maka terasa sekali plotnya fresh. Filmnya juga belum tonton tuntas, makanya bayangan itu samar, serta mood baca butuh tinggi, beberapa kali ketiduran.

Ada dua hal yang perlu kau ingat. Kita berpegang pada anggapan bahwa Dr. Lecter memang mengetahui sesuatu yang konkret. Kedua, Lecter selalu mencari kesenangan…”

#4. The Dante Club by Matthew Pearl (Q-Press) – 2003

Dante, seorang loyalis sejati pada sastra dan bahasa klasik. Dante dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi. Novel menggebu tentang pembunuh serial yang mengambil buku klasik sebagai acuan, sebagai pijakan melakukan pengadilan. Jelas bukan barang baru, tema membunuh untuk menegakkan penghakiman sudah sangat banyak sekali dibuat. Lebih spesifik lagi, pembunuhan berantai yang didasarkan buku atau kitab. Sedikit diantaranya yang terbesit adalah ‘The Messiah’ karya Boris Starling, lalu ‘Inferno’ karya Dan Brown. Yang terakhir ini bahkan berdasarkan buku yang sama dengan Dante Club! Namun karena rilisnya duluan ini, bisa jadi kali ini Brown yang kalah langkah.

“Setelah kejatuhan Adam, kita menanggung dosa.”

#3. The Wee Free Men by Terry Pratchett (Atria) – 2003

Kalimat pembuka yang jitu dan bagus sekali. Ini adalah kisah Tiffany sebelum dan saat-saat menjadi penyihir. Nama Tiffany sendiri terdengar norak saat disebut ‘Penyihir Tiffany’, maka ia ingin mengubah nama sihir nantinya. Kucingnya bernama Ratbag, kirain bakal punya peran ternyata ia benar-benar kucing biasa. Di sebuah tanah pertanian berkapur yang dipimpin oleh Baron yang kehilangan anaknya Roland. Di pertanian ini, masih ada orang-orang yang punya kebiasaan mengagumi dan menyimpan barang-barang indah yang tidak berguna.

“Beberapa hal terjadi sebelum hal-hal yang lain.”

#2. Snow by Orhan Pamuk (Serambi) –2005

Ka dan kehidupan yang dijalaninya di usia jelang tua. Penyair terkenal yang menjadi pelarian ke Eropa. Terkenal di Turki, tapi juga jadi bulan-bulanan sebab ideologinya dianggap membahayakan Negara, bahkan dianggap ateis, maka ia pergi ke Eropa, ke Jerman yang menampung. Nama aslinya Kerim Alakusoglu, nama kerennya Ka. Judul buku bisa saja Ka dan Cintanya, tapi akan tampak klise. Kepala mereka terasa pusing akibat impian-impian liar itu sehingga mereka tidak lagi merasa malu.

“… mereka mengira Bapak sedang menjalankan sebuah misi rahasia dari pemerintah atau dikirim oleh pihak Barat…”

#1. Kronik Burung Pegas by Haruki Murakami (KPG) –1994

Buku tebal 915 halaman dengan jumlah 25.000 kata! Di dalamanya terdiri tiga jilid, sama dengan 1Q84, tapi kali ini benar-benar disatukan. Luar biasa melelahkan. Isinya tetap khas Murakami, pria penyendiri yang ditinggalkan istrinya. Kehilangan kucing, lantas hal-hal absurd terjadi di sekelilingnya. Dengan sumur kering menjadi perenungan, dengan cewek remaja tetangganya yang aneh, dengan konfliks dari dalam kepala. Segalanya merumit sendiri. Bagian terbaik jelas saat kilas balik cerita saat tentara Jepang di Manchuria, kengerian akut manusia dikuliti, sejumlah kekejaman juga tergambar nyata saat di kebun binatang, hingga adegan seksual dengan kekerasan disampaikan. Segalanya menarik, megap-megap menyenangkan. Maka tak salah, Haruki Murakami adalah penulis sepanjang masa favoritku, satu-satunya penulis dengan buku segala label lima bintang.

“Saat harus naik, carilah menara tertinggi dan mendakilah sampai ke puncak. Saat harus turun, carilah sumur terdalam dan menyelamlah hingga dasar. Saat tak arus, bergeminglah saja. Kalau melawan arus, segalanya akan kering. Kalau segalanya kering, dunia ini gelap.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur para penerjemah. Kalian luar biasa.

Karawang, 120222 – Linkin Park – EnTheEnd

Don’t Look Up: Dalam Segala Hal, Selalu ada Dugaan

Apa pentingnya triliunan dolar ini jika kita akan mati…” – Dr. Mindy

Ingat, di dunia ini, ada seseorang yang akan selalu mencintaimu. Apa pun kesalahan yang telah kamu perbuat, rumah adalah tempat kamu dapat diterima dengan lapang tanpa syarat.

Bagaimana tanggapan kamu bila mengetahui bahwa sebuah komet raksasa akan menghantam bumi, menghancurkan dunia seisinya? Berdoa, bercinta, membaca buku, menghabiskan waktu tersisa dengan orang terkasih, hingga makan malam keluarga senyaman mungkin. Namun bagaimana kalau para ilmuwan terkemuka bilang, kometnya berisi mineral yang bisa bermanfaat untuk umat manusia sebagai bahan teknologi, komet akan dihancurkan, dan puingnya bisa dimanfaatkan. Didukung pemerintah dan semua antek-antek politiknya, diyakinkan oleh ilmuwan terkenal yang jarang gagal. Di sisi mana kamu akan berpihak? Direspon optimis ataukah pasrah menerima takdir? Don’t Look Up menawarkan premis yang bombastis tapi sejujurnya sudah umum, potensi bahaya kubro dan bagaimana melawannya, tapi kali ini para pahlawan Avengers benar-benar sedang terlelap. Keajaiban juga punya batasanya. Komet menabrak bumi?

Seorang mahasiswi astronom Michigan Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence) menemukan objek besar sedang menuju bumi, melalui teleskopnya ia meyakini 100% komet itu akan menabrak dunia. Ketakutannya disampaikan ke profesornya Dr. Randall Mindy (Leonando Dicaprio), secara kalkulasi masih ada setengah tahun untuk menghadapinya. Maka bersama Dr. Teddy Oglethorpe (Rob Morgan) memutuskan menghadap ke presiden.

Ternyata birokrasinya ribet. Informasi segenting ini terlampau lama tertahan. Ada adegan lucu, saat di Gedung Putih menunggu diminta bayar snack dan air putih oleh jenderal yang mengawal. Saat hari berganti, Kate tahu snack itu free. Wkwkwk… bngst!

Sang presiden sendiri ternyata tak kalah kocak. Janie Orlean (Meryl Streep) tampil komikal, menghadapi bencana besar ia malah menghitung untungnya apa buatku? Apa efektif untuk kampanye? Menyelekan banyak hal, ia juga muak sama kritik tentang bahaya rokok, ia dengan santai merokok di depan tamu, atau bahkan di area yang jelas-jelas dilarang. Bad-ass Bund! Meryl Streep memang luar biasa. Fakta bahwa ia menikmati rokok dengan hembusan asap bergaya, hanyalah bonus kecil. Staf presiden sekaligus anaknya, Jason (Jonah Hill) juga tak kalah lucu, seperti inilah wajah asli para pejabat. Menyebalkan, norak, dan melihat segala sisi untung-rugi buat dia dan golongan bila bertindak. Presiden dan jajarannya ini jelas perwakilan politikus yang kalau sudah masuk partai, kepalanya benar-benar kosong, sepenuhnya hampa.

Komet itu diberi nama Komet Dibiasky.

Kate dan Randall lantas tampil di tv, menjelaskan keadaan. Seketika viral, sayangnya nada negatif yang diterima Kate, membuatnya tersingkir, ia muak sama keadaan yang tenang-tenang saja, mengomel di tv. Gadis cantik pirang kita yang bertindik di hidung menambahkan amarah yang sepenuhnya benar serta akurat dalam semangatnya. Ia memutuskan pulang dan menjalani hidup biasa, berkenalan dengan pemain skate board Yule (Timothee Chalamet). Menjalin kasih, saat akan dicium ia menolak, tapi beberapa setik kemudian menjawab ‘persetan, kiamat sudah dekat’, lalu mencium Yule. Sementara Randall yang lebih kalem dan bijak malah diangkat menjadi penasehat proyek Bash. Ilmuwan kaya raya pemilik teknologi Bash, Peter Isherwell (Mark Rylance) merancang rencana menghancurkan komet, dan akan memanfaatkan mineral yang terkandung. Disampaikan dengan meyakinkan, dan seakan semua di bawah kontrol. Begitulah umumnya masyarakat kita, memiliki toleransi luar biasa terhadap fenomena luar biasa.

Randall sendiri malah menjalin kasih sama pembaca acara tv, Brie Evantee (Cate Blanchett). Membuatnya berpisah sama istri June (Melanie Lynskey). Namun berjalannya waktu, perasaannya tak bisa dibohongi. Ini semua salah, lihatlah ke atas, komet telah terlihat. Dan waktu semakin menipis! Dalam live t via bahkan meneriaki segala makian kasar ke semua orang yang punya wewenang dan kekuasaan untuk mencegah kiamat. Menciptanya untuk lebih bijak, dan luruh pulang. Memanfaatkan waktu-waktu yang ada dengan orang-orang terkasih.

Dalam segala hal, selalu ada dugaan. Lantas dunia terpecah dua kubu, jangan melihat ke atas seolah bilang bilang ‘tenang, semua masih bisa diatasi’ dan kubu lihatlah ke atas seolah bilang ‘dunia akan kiamat’. Adegannya sendiri dibuat selang-seling, dengan lagu keras Ariana Grande membahana. Siapa yang bernalar sehat yang bisa memercayainya?

Akankah komet itu benar-benar menghantam bumi? Ataukah para orang cerdas ini berhasil mencegah kiamat? Pastikan kalian menyaksi hingga detik-detik akhir, setelah belasan menit credit title ada adegan lucu walau cuma sekian detik.

Ini adalah film pertama Oscar yang saya tonton setelah pengumuman nominasi. Bagus, pemainnya kakap semua. Cerita mungkin tak original, saat tahu bahwa tema utama adalah komet akan menabrak bumi, saya langsung teringat Armagedone dengan Bruce Willis beraksi bak pahlawan. Di sini dibuat fun, benar-benar naskahnya tak njelimet guna memecahkan masalah, poinnya hanya opsi komet akan tiba, kita mau ngapain? Dah itu saja sepanjang dua jam. Tak ada riak lain yang patut ditunggu. Semakin dekat masa komet ke bumi, maka semakin menegangkan, sebagian besar orang, normalnya. Sebagian lagi nyaman saja sebab Peter terlampau meyakinkan. Bahkan ia bisa memprediksi kematian kalian nantinya hingga di atas 90% akurasinya! Algortitma mencipta cenayang.

Don’t Look Up memulai dengan tertatih, dihajar kritikus saat rilis, di-rate busuk oleh tomat, kanan-kiri bilang film tak jelas, anehnya setelah seminggu, ulasan-ulasan malah mayoritas memuji, melambungkan harap. Saya sendiri seperti biasa di tengah-tengah tenang. Perlu lima kali percobaan untuk menuntaskan, akhirnya ba’da Jumatan tadi usai sudah. Hanya penonton yang sampai garis finish yang berhak menilai utuh sebuah film, dan saya suka. Ini film aneh, ini cerita tak wajar, dan ini memberi kita kemantaban untuk memposisikan jauh-jauh sama politik, isinya rerata memang busuk. Orang jangan terlalu berpolitik. Politik tidak menghasilkan apa pun kecuali politikus. Juga, takdir dan kehendak bebas. Hidup ini singkat, mau ngapain saja kita semua akan mati. Besok, kita semua jadi debu dan tanah.

Satu lagi, dari kasus Don’t Look Up ulasan-ulasan jujur biasanya muncul sekitar seminggu dua minggu. Review awal biasanya terlampau banyak kepentingan. Bisa karena dapat tiket gratis, influen untuk mendongkrak rating, atau orang-orang sinis yang tak suka kesindir. Film ini memang terasa meng-hook banyak pihak. Wajar saja, banyak yang kesinggung. Untung saya netral, pembaca buku nyaman dan penikmat film Oscar yang nyaman pula. Jadi menontonnya seringan bulu, tanpa beban.

Untuk best picture bisa saya bilang, tak akan menang. Pesaingnya berat-berat. Sudah masuk 10 besar saja merupakan prestasi luar biasa. Respon di twitter lebih gila lagi, pada negatif komen atas masuknya film ini di daftar pendek. Saya sekali lagi kesemsem akting Leo, paling keren saat dia marah ke pemirsa, teriak lantang menyampaikan kebenaran, terlihat sungguh emosional. Sikap itu bukan sekadar oke, melainkan sempurna, membayangkan ia gemetar dari seorang bijak jadi ledakan marah saja sudah wooow, itulah yang seharusnya dia bilang saat pertama kali dapat kesempatan di tv.

Pada akhirnya, takdirlah yang berkuasa. Pada saat-saat seperti itulah, ketika harapan telah musnah, ketika saat akhir kian mendekat, doa punya kuasa.

Don’t Look Up | Year 2021 | USA | Directed by Adam McKay | Screenplay Adam McKay, David Sirota | Cast Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep, Cate Blanchett, Jonah Hill, Mark Rylance, Timothee Chalamet, Ron Perlman, Ariana Grande | Skor: 4/5

Karawang, 110222 – Louis Armstrong – Hello, Dolly

A Dog’s Life

Hati-hati! Aku tidak mau kau memegang anjing yang tidak kau kenal.” –seorang wanita

Pada dasarnya kita semua menyukai dongeng. Tak mengenal usia berapapun, tak mengenal laki atau perempuan, selama dongeng itu ditulis dengan baik dan masuk logika, sah-sah saja. Cerita binatang, dalam bentuk apapun potensial mencipta bayangan. Daftar cerita binatang yang menarik sangat panjang, maka tanpa ragu saya ambil buku ini. A Dog’s Life membawa sub judul, autobiografi anjing terlanjar, yang secara sederhana bisa kita tangkap, ini kisah hidup anjing liar dari lahir hingga mencapai titik tertentu. Dan benar, di pembuka kita sudah tahu anjing ini akan makmur. Akan damai, duduk di perapian yang hangat, dengan belai kasih pemilik. Namun, penyajiannya ternyata tak sehebat yang kuharap. Terlalu sederhana untuk novel yang menyandang stempel Newberry honor Award. Oklah kalau untuk kisah menyentuhnya, tapi secara cerita terlampau sederhana.

Al kisah di Linderfield, seekor anjing bernama Squirrel bernarasi. Ia terlahir di gudang milik keluarga Merrion. Bersama beberapa saudaranya, tapi yang bertahan hidup hanya dua. Bersama kakaknya Bone, mereka hidup terpisah dari kehidupan manusia. Ibu mereka memilih sebuah kereta sorong untuk rumah di gudang. Di situlah mereka terlahir. Dengan jerami sebagai alat penghangat. Keluarga Merrion terkenal kesal sama hewan, terutama hewan yang tak menghasilkan. Gudang ini sejatinya untuk ternak ayam, tapi terbengkelai. Maka beberapa hewan yang juga hidup di sana setiap saat terancam, sebab sang pemilik memiliki senapan.

Ada sekelompok kucing, mereka juga waspada, begitu juga tikus, hingga tupai. Mereka hidup dari bak sampah yang ada di dekat gudang. Suatu hari rubah Mine tertembak, dan ini memberi peringatan. Suatu hari, salah seorang anak kutu buku Matthias menermukan mereka. Awalnya, seperti hewan liar pada umumnya, merespon galak. Namun Matthias membawa daging segar, sehingga meluluhkan hati. Dan berulang kali terjadi, kedekatan ini mencipta koneksi.

Hingga di siang yang tampak biasa, memberi Squirrel dan Bone kenyataan pahit. Ibu mereka tak pulang, sehari dua hari membuat mereka panik. Lantas Bone mengambil sikap, pergi ke hutan. Berjalan dengan mantab tanpa menoleh ke belakang. Hal ini mencipta kebimbangan padanya, bertahan di gudang ataukah mengikuti kakaknya. Keputusan cepat itu menuntunnya untuk mengikuti saudaranya, maka petualangan di jalanan dimulai.

Selanjutnya cerita berkutat di kerasnya jalanan. Di rest area, menemukan sampah, berebut dengan anjing lain. Di sungai menangkap ikan, bersembunyi di semak, dinginnya malam. Hingga ditemukan oleh keluarga George dan Marcy yang mencoba mengadopsinya. Sang istri minat, sang suami jijik, hanya semalam, mereka kembali ke jalanan.

Di sebuah restoran, suatu hari Bone diambil orang, sebuah keluarga mengadopsinya. Memilih kakaknya yang tampak lebih imut, membuat Squirrel kini sendirian. Sedih, mulai di sinilah cerita lebih gelap. Ia berjuang dari satu bak sampah ke bak sampah lain, yang memperkenalkan pada anjing liar lain Moon. Mereka berteman. Ke mana-mana saling menjaga. Pernah ada pengeroyokan rebutan sampah sama gerombolan anjing lain, mereka terluka.

Nah, suatu hari terjadi insiden yang mengakibat buruk pada temannya. Menciptanya kudu berkelana sendiri, menghabiskan hari-hari tanpa teman atau pasangan. Pindah dari keluarga satu ke lain. Ke dokter hewan satu ke dokter hewan lain. Waktu berlari, dan ia menua, hingga akhirnya sebuah titik temu nasib menciptanya hingga adegan pembuka. Anjing, seperti halnya manusia juga memiliki garis nasibnya, seperti makhluk lainnya pula, berjuang hari demi hari menjalani kehidupan. Hari esok tak ada yang tahu.

Untuk sebuah cerita binatang, terlihat berhati-hati. Tak ada kekejaman di dalam cerita, padahal jelas kehidupan jalanan keras. Kekejaman sering kali dilewati, dituturkan sekilas seperti kecelakaan, pertarungan antar anjing, memerebut tempat sampah sebagai daerah kuasa, hingga binatang hilang tanpa diperjelas, apakah ditembak pemburu, ataukah terperosok jurang. Bermain aman.

Para tokoh juga taka da komunikasi terbuka, hanya para manusia yang berdialog yang dicantumkan. Sesama anjing hanya pakai kode, atau bahasa hewan tanpa kutipan obrolan. Sehingga kita tak tahu, maksud Bone meninggalkan gudang apa? Secara tersirat, ia berpikir panjang ke depan. Bahwa ibunya mati ditembak di tempat sampah dekat gudang, ia tak mau bernasib sama. Sekalipun ada anak yang baik menyuplai makanan, tapi tetap setiap saat jiwanya terancam, maka ia memutuskan petualang. Dari sini saja sudah memicu pemikiran, bukankah manusia juga sama saja?

Saat lulus sekolah, kita dihadapkan pilihan tetap di kampung halaman atau merantau menantang dunia luar yang liar. Apapun pilihannya, itu konsekuensi hidup. Kebetulan duo anjing memilih meninggalkan zona rumahnya, jelas kita tak tahu andai tetap tinggal. Begitu juga kita, kalau sudah memilih merantau, kita hanya bisa berandai saja, bagaimana nasibnya bila kita tetap di kota lahir?

Nama Squirrel sendiri adalah mula, setiap berganti pemilik ia memiliki nama baru. Dan itu sah-sah saja. Seperti manusia yang memiliki banyak nama julukan, hal ini bisa mencipta banyak hal di setiap tempat yang berbeda. Pengandaian dalam A Dog’s Life sejatinya bisa menjadi pengumpamaan hidup, segalanya dibatasi. Tak ada yang abadi.

Sayang saja, premis cerita di sini terlampau sederhana. Tak meluap, tak disampaikan dengan diksi-diksi indah, berjalan terlamapau lurus. Sulit memang membuatb cerita binatang dengan mencoba menempatkan diri. Yang pasti akhir bahagia di sini seperti memberi kelegaan. Akhir bahagia untuk para pecinta anjing, akhir bahagia untuk para pembaca.

Kisah seekor anjing, membuat kita kembali sadar, mereka laik mendapat kesempatan hidup yang lebih baik. Anjing, kucing, atau semua hewan peliharaan, menghargai hidup kita, menghormati hidup mereka. Manusia menemukan hewan kesayangan, ataukah hewan kesayangan menemukan manusia? Saling melengkapi.

Susan manusia berhati malaikat.

Kisah Seekor Anjing | Ann M. Martin | Diterjemahkan dari A Dog’s Life | Copyright 2005 | Alih bahasa Tanti Lesmana | GM 106 06.013 | Ilustrasi dan desain sampul Satya Utama Jadi | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Agustus 2016 | Cetakan kedua, Agustus 2007 | 216 hlm.; 20 cm | ISBN-10: 979-22-2305-3 | ISBN-13: 978-979-22-2305-7 | Skor: 3/5

Buku ini untuk keponakanku, Henry McGrath, sahabat anjing terbaik

Karawang, 090222 – Toni Braxton – Unbreak My Heart

Thx to Ade Buku, Bdg