Ontologi: Sebuah Penuturan Sederhana #2

Ontologi: Sebuah Penuturan Sederhana #2

Ontologi adalah keheningan sekaligus permainan bahasa itu. – Sartre

Pada masa cahaya bintang | Belum disalin ke dalam bahasa | Ilmu dan puisi belum membanjiri dunia | Cukup mengikuti hukum alam | Manusia bisa menjadi bijak dan bahagia | Sebagaimana burung-burung terbang | Dan ikan-ikan berenang – Faisal Kamandobat, Kisah Kemurungan Adam

Karena beli daring, kukira ini adalah buku terjemahan filsafat. Eh ternyata lokal, ini seperti kumpulan pelajaran dasar seri filsafat. Berhubung saya masih awam untuk hal ini wajar buku Ontologi lumayan bervitamin, apa yang disampaikan memang sangat dasar. Banyak mengambil referensi lain, banyak menguntip dan menulis ulang dari era sebelum Masehi, abad pertengahan sampai yang tergres. Ga masalah, mending memberi sumber dan mencantumkan itu kata dan tulisan siapa ketimbang ke gap, suatu ketika. Saya mengira akan jadi sebuah penuturan boring, eh enggak jua. Dilahap cepat dalam stabilo warna untuk hal-hal yang bagus. Sayangnya banyak typo, untuk buku yang berhalaman tak lebih dari seratus, tim Quarks Book harus punya proof reader mumpuni guna mengantisipasi kesalahan ketik di kemudian hari.

Filsafat muncul karena manusia merasa heran (thaumasia) dan sangsi (skeptis) atas segala hal baik di dalam maupun di luar dirinya, juga merasa diri terbatas di hadapan ketidakhinggaan di sekeliling.
Metafisika sering disalahartikan dengan cara dipaksakan oleh para penggunanya. Kesalahan tersebut kira-kira sama seperti istilah politik diartikan sebagai kekuasaan dan ekonomi sebagai uang dan keuntungan yang sebesar-besarnya. Padahal politik dan ekonomi sesungguhnya adalah moralitas yaitu kebiasan baik (phronesis) yang didasarkan pada keutamaan (arete) untuk mendukung terciptanya kehidupan yang sejahtera, penuh dan utuh (eudaimonial well being) secara bersama-sama dalam sebuah komunitas.

Protagoras (480 – 411 SM) menyatakan bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya, baik yang ada maupun yang tidak ada. Bagi Aristoteles, kenyataan atau benda konkret adalah benar-benar ada dan tidak ada kaitannya dengan ide-ide yang ada di atasnya.

Epikuros (341-271 SM) menyatakan bahwa alam semesta ada dan berjalan karena gerak atom-atom. Para dewa tidak menciptakannya dan tidak ikut campur tangan dalam urusan dunia. Manusia bertanggung jawab sendiri atas diri dan dunianya. Oleh sebab itu tidak perlu takut pada dewa.
Kaum Neophytogorean yang memegang teguh dualisme Plato yang menentangkan antara yang rohani dengan bendawi. Mereka percaya tidak ada hubungan antara yang Ilahi dengan dunia ini. Yang Ilahi adalah yang ada, tak bergerak, realitas sempurna, subtansi yang bukan benda. Yang Ilahi itu terlalu tinggi dan terlalu jauh untuk dijangkau umat manusia. Ia tak terhampiri sehingga tak dapat dipujasembah. Bagi mereka alam semesta ini tidak diciptakan oleh Yang Ilahi melainkan dibuat oleh perantara, yaitu demiurgos. Dinatara Ilahi dan manusia ada dunia demon dan manusia setengah dewa.

Plotinos (204-269 SM) dari Lykopolis, Mesir bahwa Yang Satu (to Hen) merupakan asas pertama dan terdalam dari pikiran serta segala sesuatu yang ada. Yang Satu bukanlah pikiran, bukan Ada dan bukan juga sesuatu yang ada, melainkan Adi-Ada, Yang Tak Terhingga, dan Absolut.
Hakikat sejati dunia materi adalah bersifat rohani. Posisi jiwa sama dengan demiurgos, dengan dunia material sebagai taraf terendah emanasi dan Yang Satu. Adapun tujuan dunia material adalah remanasi, yaitu kembali ke Yang Satu. Ada tiga cara remanasi, Kembali ke Yang Satu: Manusia harus menyucikan diri dengan melepaskan diri dari dunia materi; Mendapat penerangan dari Nous tentang Yang Satu; dan menyatukan diri dengan yang Satu dalam ekstasi.

Konsep adalah suatu tanda alami (signum naturale) yang diungkapkan dalam suatu sebutan atau nama (nomen) atau dalam suatu istilah khusus tertentu (terminus) melalui bahasa yang bersifat konvensional. Tidak ada hubungan antara kenyataan dengan penamaannya; kalaupun ada hanya dugaan saja.

Tujuan Kung Sung-Lung adalah berusaha mengubah dunia ini dengan cara membenahi pemahaman manusia mengenai hubungan anatar nama dan pemahaman manusia mengenai hubungan nama dan kenyataan. Baginya terdapat kesalahan pemahaman terkait ini. Misalnya, manusia ingin damai di negaranya, namun tak jarang mereka melakukan perang demi kedamaian itu. Maka sebuah kekeliruan, harus diperbaiki sebagai langkah pertama dengan mengubah keadaan tersebut.

“Wacana tentang Kuda Putih” dia membuat penyataan utama bahwa ‘Kuda putih adalah bukan seekor kuda’. Alasan pertama bahwa kata kuda menunjuk pada suatu bentuk, kata putih menunjuk pada suatu warna. Apa yang menunjuk warna tidak dapat menunjuk pada benda. Maka kuda putih bukanlah seekor kuda. Alasan kedua, bahwa seekor kuda akan selalu memerlukan sebuah warna, bukan memerlukan seekor kuda berwarna putih. Alasan ketiga, kuda pastinya memiliki warna, tidak ada kuda yang tanpa warna. Oleh sebab itu menurut Kung-sun Lung, kuda putih adalah bukan seekor kuda (yang tanpa warna).

Filsafat identitas berusaha mendamaikan antara subjek dan objek, yang tidak terbatas dengan yang terbatas, pada zaman itu menjadi problem dan skandal dalam filsafat. Dengan filsafat identitasnya, Spinoza berhasil melebur-hilangkan perbedaan subjek-objek. Realitas kemudian dipahami sebagai satu keseluruhan yang utuh, di mana subjek sekaligus merupakan objek.
Manusia dengan tubuh (extensio) dan pemikirannya (cogitato) merupakan ciri hakiki dari subtansi Allah. Dalam filsafat identitas ini Spinoza, Allah yang tiada batasnya dipahami sebagai aktivitas yang tak terhingga, meliputi pemikiran murni, dan menghendaki yang murni. Allah adalah pikiran yang sedang memilikirkan dan menyadari pikiran dan diri-Nya sendiri.

Bagi Schelling, Yang Mutlak tidak memiliki prioritas atau lebih utama daripada yang tidak mutlak. Atau sebaliknya, yang tidak mutlak tidak lebih unggul dibandingkan dengan Yang Mutlak, karena keduanya bersumber yang sama dan bersifat sama sekali netral, yang oleh Schelling diberi nama sebagai Identitas Mutlak atau Indiferensi Mutlak Murni.

Pyrrho of Elis (365-270 SM) menyatakan bahwa sikap hidup yang skeptis akan membawa seseorang kepada kedamaian jiwa dan ketenangan batin (ataraxia) yang membuat seseorang tak tergoyahkan dalam segala kekacauan situasi kehidupan. Orang yang hidup tenteram adalah orang yang hidup mandiri dan swasembada (autarkia) karena bermental dan bertekad kuat.

Materi adalah data indrawi dan bentuk adalah a priori yang ada dalam pikiran. Bentuk a priori ini oleh Kant disebut sebagai ‘kategori’. Ada 12 kategori Kant: Kuantitas (kesatuan, kejamakan, dan keutuhan); kualitas (realitas, negasi dan perbatasan); modalitas (kemungkinan, keniscayaan, peneguhan); hubungan (subtansi-aksidensi, kaulitas dan resiprositas); setelah itu barulah akal budi mengatur pengetahuan rasional ke dalam kesatuan dan kesempurnaan, yaitu menarik kesimpulan dan membuat argumentasi-argumentasi tentangnya. Inilah yang disebut sebagai putusan sintetis a priori.

Pengetahuan manusia terbatas pada realitas dunia alami. Oleh karena itu Allah ‘berada’ diluar jangkauan pengalaman manusia, maka tidak mungkin kita mengetahui secara teoritis tentang Allah. Namun Kant juga menegaskan bahwa penyangkalan kemungkinan pengetahuan teoritis tentang Allah sekaligus berarti keberadaan Allah juga tidak dapat dibantah.

Menurut Hegel, sejarah manusia kemudian hanyalah mengulang bentuk dan tahapan lama, tidak ada lagi peristiwa yang sungguh-sungguh baru akan terjadi.

Heidegger melihat Ada bukan sesuatu yang terisolasi pada dirinya dan lepas dari manusia. Manusia tidak terisolasi pada dirinya dan lepas dari Ada. Hakikat Ada dan hakikat manusia berkaitan satu sama lain. Untuk menyingkap Ada membutuhkan manusia. Manusia adalah ruang tempat Ada mengambil tempat untuk berada. Manusia adalah tempat (statte) Ada menjelma, tempat Ada mengambil tempat. Hanya melalui perantara manusia, Ada yang tersirat pada berbagai adaan, dapat memberita.

Tetapi Ada bukan produk sama sekali hasil pikiran manusia. Pikiran adalah pemberian, rahmat Ada (Gnade des Seins). Berfikir adalah membantu Ada tampil sebagaimana mestinya. Karena itu berfikir adalah bentuk terima kasih dan berbicara adalah mendengarkan. Tugas pemikiran adalah menjaga terjadinya peristiwa Ada dengan penuh rasa kasih.
Menurut Jacques Derrida, manusia adalah teks yaitu tanda sekaligus sekedar pengganti yang untuk sementara menunda hadirnya Ada, bahkan mempertegas ketidakhadiran Ada.

Penyataan tertinggi Wittgenstein adalah bahwa mempertanyakan atau meragukan kenyataan pun harus didasari keyakinan/keyakinan bahwa kenyataan itu harus diragukan atau keraguan itu adalah suatu hal yang harus meyakinkan dan pasti.

Waktu sebagai sebuah entitas adalah sebuah momen yang memiliki ciri khusus tersendiri. Namun sebagai sebuah bukan-entitas, waktu merupakan bagian dari sebuah kesatuan rangkaian, di mana ketika seseorang mengatakan ‘sekarang’ namun pada saat waktu yang sama ‘sekarang’ itu sendiri telah berlalu.
Inti pemikiran Nagarjuna (150-250 M) adalah bahwa hakikat keberadaan realitas adalah kekosongan (emptiness/sunyata). Bahwa tidak ada sesuatu di atas sana, bahwa seseorang tidak dapat lagi pergi ke sana dan tidak dapat lagi yang digapai.

Lao Tzu (604 M) bahwa jalan yang dapat dijalani bukanlah jalan. Nama yang dapat disebut adalah bukan nama. Jika diungkapkan dengan kalimat lain, “Yang tahu tidak bicara, Yang bicara tidak tahu.” Wittgenstein juga mengulangnya bahwa, “Apa yang seseorang tidak dapat katakan, harus dibiarkan dalam diam.”

Secara langsung Budha berhadapan dengan variasi logika Jainisme, atau juga boleh disebut sebagai variasi logika catuskoti Madyamika. Pandangan ini dikenal dengan nama teori ‘Belut Berkelit’ (amaravikkhepavada, ‘theory of eel-wrigglers’). Mereka berdebat apakah ada kehidupan setelah kematian? Sanjaya Belattputta (6-5 SM) yang hidup pada tahun yang sama dengan Budha dan Mahavira menjawab: Tetapi saya kira itu tidak ada. (1). Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak ada, dan (2) Saya tidak mengatakan sebaliknya. (3) Saya tidak mengatakan itu tidak ada, dan (4). Saya tidak tidak mengatakan itu tidak ada.

Kaon adalah permainan kata-kata di mana bahasa dibolak-balik untuk menggoncangkan pemahaman subjek tentang sesuatu. Kaon berusaha menyadarkan seseorang terhadap keterbatasan bahasa dan sifat ilusif bahasa dengan cara mengejek dan mengolok-olok sifat dan hakikat bahasa. Ada dua jenis kaon: (1) Tidak ada jawaban atas suatu pertanyaan yang sesungguhnya kosong. (2). Jawaban pertanyaan itu harus ditemukan dengan meditasi yang mendalam. Singkatnya menurut Zen bahasa dapat dan selalu menjadi penghalang terhadap pengalaman langsung. Bahasa adalah simbol, lambang, tanda atau jari menunjuk, namun tidak pernah membawa seseorang kepada apa yang ditunjukkannya.

Jika seseorang sudah mengenal dirinya sendiri maka dia sudah tidak jauh mengenal Tuhannya. Manusia selalu terkecoh dengan keinginannya sendiri.

Ontologi: Sebuah Penuturan Sederhana | oleh Tony Doludea | cetakan pertama, September 2017 | Penyelaran bahasa Faisal Kamandobat | Perancang sampul dan tata letak Faisal Kamandobat | gambar sampul Melanncholy (1891) karya Edvard Munch | Penerbit Quark Book | bekerja sama dengan Cak Tarno Institute (CTI) | ISBN 978-602-61928-1-3 | Skor: 3/5

Karawang, 020618 – Nikita Willy – Maafkan

#2 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s