Fortunately, Milk – Neil Gaiman

image

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti: dhuum… dhuumm… aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas jalan Marshall.”
Ini adalah buku ketiga Neil yang saya baca. Setelah The Good Omens – duet dengan Terry Pratchett – yang superb sekali dan Interworld yang rumit karena terbagi-bagi banyak tempat dan karakter namun tetap menawan. Nah, Fortunely, Milk seakan adalah anomali-nya. Buku ini ringan, banyak ilustrasi yang digarap dengan indah oleh Skottie Young. Bertolak dengan namanya yang sering bertutur cerita berat, buku ini buku anak-anak dengan konflik yang sederhana. Tentang sebotol susu yang berpetualangan menjelajah waktu.
Dikisahkan sebuah keluarga, tanpa nama karakter. Sang ibu sedang mengikuti sebuah konferensi, presentasi tentang kadal. Sebelum pergi ia memperingatkan suaminya, apa yang harus dilakukannya saat dia tak ada di rumah. Sudah menyiapkan makanan beku ditandai, sehingga tinggal menghangatkan. Ayah yang terlihat cuek, mendengarkannya dengan santai. Aku – karakter utama dalam cerita ini adalah si sulung mempunyai seorang adik yang suka main biola. Tepat setelah segala pesan itu disampaikan kepada Ayah, ibu menambahkan, “Oh, susu kita hampir habis. Kau harus membelinya.”
Hari pertama berjalan buruk. Kami menghabiskan malam dengan makan di restoran India. Hari kedua di pagi hari, cerita sesungguhnya dimulai. Untuk sarapan sereal mereka memerlukan susu. “Susu habis,” kataku. | “Susu habis,” kata adikku.  | “Kasihan kalian. Aku akan pergi ke toko pojok. Aku akan membeli susu.” Kata Ayah. Dan kita menunggu.
Lama sekali Ayah tak kembali. Si aku sampai mencoba makan Toastio kering, si adik bosan sehinnga membunuh waktu dengan memainkan biolanya. Setelah jeda yang panjang itu, akhirnya Ayah datang dengan sebotol susu. Tentu saja wajar kita bertanya, “Ayah ke mana saja sih, kok lama.”
Dan dikisahkanlah alasannya. Ayah diculik alien, kabur. Terperangkap di lautan, dibawa bajak laut. Sang ibu bajak laut menawarkan bergabung atau mati. Ayah bersikeras pulang, anak-anaknya menunggu. Di atas papan hukuman, muncullah tangga tali dengan ujung atasnya sebuah balon udara. Ayah kabur diselamatkan profesor Steg. Mereka mendarat di sebuah bukit landasan penuh orang aneh. Desa mereka sedang gagal panen, dan sebuah ramalan menyebutkan suatu saat ada bola apung yang turun dari udara. Lalu menunjukkan susu, mereka harus dibawa ke gunung api dan diberi permata hijau Mata Splod.
Mereka berselisih dengar. Kabur lagi. Ditangkap, melewati kegelapan pekat di langit. Ditangkap lagi. Dan penjelajahan ini diakhir dengan happy ending. Kenapa? Karena sang Ayah berhasil kembali ke rumah, bersama susunya.
Tentu saja Aku protes, ada piranha di laut lepas. Oke, Ayah tetap tampak tenang melanjutkan cerita. Adikku meminta ada kuda poni dalam dongengnya, oke Ayah mencipta sekumpulan kuda poni warna pink dan biru di lembah. “Meskinya ada vumvir yang baik dan tampan.” Kali ini Ayah bilang, “Tak ada!”
Petualangan yang unik itu tentu saja sebuah alibi. “Ayah tahu, kami tidak percaya,” kata adikku. | “Sama sekali tidak percaya,” kataku. | “Terserah, tapi semua benar. Ada buktinya.” Kata Ayahku. | “Apa?” | “ Ya, apa?” tanya adikku. | “Hhmm…,” kata Ayah, meletakkannya di atas meja dapur. “Ini susunya.”
Dan ia kembali membaca koran. Hahaha… kisah yang hebat. Cocok sekali untuk dibacakan kepada anak balita. Nanti pasti kubacakan kepada Hermione kisah ini. Petualangan yang tak biasa. Kekuatan utama buku ini ada di ilustrasi yang memanjakan mata. Gambar coret yang tak biasa. Detailnya indah. Digambar dengan hati. Terima kasih Neil, Ayah yang pendongeng. Terima kasih Skottie, ilstrator hebat.
Untunglah, Susu | diterjemahkan dari Fortunately, Milk | by Neil Gaiman | copyright @2013 | ilustrations by Skottie Young | published by arrangement with Writers House, LLC & Maxima Creative Agency | GM 40201140122 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Djokolelono | cetakan 2014 | ISBN 978-602-03-1225-5 | 128 hlm; 20 cm | untuk Ayahku, si pendongeng dan pembuat ketawa. Aku rindu banget. – S.Y. | Skor 4/5
Karawang, 140516 #Coldplay – Spies

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s