24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif #17

Njet menepuk jidat, “Sudah, sudah. Berhentilah bertengkar. Lalu bagaimana dengan gadis itu?” | “Ia menangis,” kataku, lalu meletuk beberapa kali. “Dan bagiku saat itu, membuat wanita menangis adalah dosa besar. Untuk meminta maaf keesokan harinya aku menghadiahinya sebuah kotak.”

Kalian pernah dengar cerita tentang setan dan cara kerja mereka? Nah inilah kisah para setan yang seakan njelimet mencampurkan segala unsur genre dengan komedi satir nan kental. Terbitan buku-buku sekarang bagus ya, yang pasti dua event tahunan kita yang bisa diandalkan sehingga setiap sampul bertulisan ini terjamin kualitasnya: Kusala Sastra Khatulistiwa dan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. 24 Jam Bersama Gaspar masuk ke Pemenang Unggulan.

Novel pertama Mojok yang kubaca. Dengan berbagai hype di sosmed tentang detektif Gaspar apakah bisa memenuhi harapan? Untuk kisah cerita selidik menyelidiki local, jelas Gaspar memenuhi. Ya asal ga berharap rekam jejak detail deduksi ala Sherlock Holmes. Dengan label daun-daun di sampul bertulis ‘Pemenang Unggulan – Sayembara Novel Dewan KesenianJakarta 2016’ buku ini jelas punya beberapa keunggulan. Kover belakang mereka bilang, “Ringan dan menyenangkan. Ia menghadirkan individu-individu yang sepintas tampak sepele namun sesungguhnya kaya dan mengayakan; mengandung kesadaran sekaligus kritik atas konversi cerita detektif. Dialog tokoh-tokohnya tambak berbobot, mengena, dengan alusi yang mengarah ke semesta dunia.” Well, untuk kali ini saya setuju. Mencoba untuk melemparkan tema berat namun tak seberat yang diharap, positifnya ya kisahnya menyenangkan diikuti. Tuhan tidak lebih berkuasa daripada cermin itu, saat keu berhadapan dengannya kau tahu seseorang berwajah buruk di cermin itu bisa melakukannya tanpa belas kasih. Ia tidak akan mengampuni siapapun.

Sabda dengan jeli mencipta karakter bagus yang dengan mudah pastinya akan dicintai Pembaca. Bagaimana ramuan sifat mereka menyenangkan (sekaligus bikin geram) diikuti. Semua orang terlahir untuk menjadi keparat dan siapa pun berkata sebaliknya pastilah delusional atau kalau tidak, ya pendusta kelas berat. Jatuh hati sama motor tua yang seakan bisa berfikir dan menentukan arah. Suka sama hippie musisi yang aneh. Jelas ide memakai topeng laiknya Huracan dalam gulat itu bagus sekali. Suka sama sang kakek yang linglung dan tentu saja juara karakter momerable adalah sang nenek pikun yang selalu mengulang reka adegan setiap ceritanya terpotong, terganggu atau jetlag dalam ketiadaan makna. Lucux, aneh, serta bikin geram. Walau Sabda paling jua copas dari tulisan sebelumnya, edit, copas lagi, dan edit lagi, sebagian kecil membautku skip saking kesalnya. “Kau tidak menangkap inti ceritaku, ya? Mencuri itu candu yang tidak akan membawa kita ke mana-mana.”

Premisnya sebenarnya kurang gereget, rencana perampokan yang memberi kejut motif sesungguhnya tak segamplang yang dituturkan. Walau pilihan dialognya OK, tapi para Fan Tarantino pastinya sepakat dialog yang disajikan ga semewah skenario sang maestro. Ingat, ini kisah detektif dimana kita akan diajak berfikir, menebak serta menganalis setiap gerak maju para karakter. “Aku direkrut CIA untuk menjadi mata-mata. Sekarang aku sedang mengusut kasus perdagangan manusia.”

Mungkin karena sudah terbiasa dengan front tulisan penerbit major, 24 Jam dicetak dengan front yang kurang nyaman dibaca lebih lebar dan ngejreeng. Ilustrasinya bagus, kovernya kece, kualitas cetak kuat, hanya ketemu typo dua kata, dapat pembatas buku. Untuk sebuah penerbit baru, ini jelas langkah bagus. Bersaing dengan Penerbit besar yang sudah mapan. Kualitas cerita yang OK serta merambah ke berbagai portal berita daring, rasanya Mojok sudah di track yang pas untuk menjadi Besar.

Ulasan singkatku di ig lazione.budy: ‘Tidak butuh 24 jam untuk mengeksekusi #24JamBersamaGaspar hebat, keren, absurd. Dalam dua puluh empat jam ke depan enam manusia dengan latar belakang yang aneh akan melakukan perampokan toko emas #WaAli, tentu dengan alibi beraneka rupa. Tapi lewat tengah malam, sebuah fakta mengejutkan dibongkar yang membuat misi menjadi lebih tak terkendali. Bersama motor jadul yang bisa berfikir sendiri #Cortazar dengan tutur agen CIA #Gaspar dan nenek ceriwis yang bikin geram petugas interogasi. Misi rumit sebuah kotak hitam yang misterius. Enam perampok bersama sama #Pongo #Pingi #Agnes #Kil #Rahasia #Njet dan tokoh pujaan umat #BudiAlazon alias #SabdaArmando “Kalian pernah dengar cerita tentang setan dan carakerja mereka?” Nah bergegaslah cari tahu sebelum gerombolan penjahat ini melakukan misi berikutnya. Well, siapa #ArthurHarahap langkah kuda ‘L’ for Liberal? Waduh harusnya ‘L’ for Lazio. Kalian sudah dengar cerita tentang…’

24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif | Oleh Sabda Armandio Alif | Penyunting Fahri Salam & Arlian Buana | Desainer sampul Kupi Arif | Ilustrator isi Radityo Wicaksono (RADTHERANDOM) | Penata isi dan sampul Azka Maula | Cetakan keempat, November 2017 | xiv + 228 halaman | 13 x 19.5 cm | ISBN 978-602-1318-48-5 | Penerbit Mojok | Skor: 4/5

Your soul’s a bowl of jokes – Blind Melon, “Mouthful of Cavities”

Karawang, 220618 – Sherina Munaf – Pelangiku

#17 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku