Kinderjaren / Pengharapan

Featured image

#30HariReviewBuku #5

Lagi, kekejaman nazi dilukiskan dalam cerita, kini dengan sudut pandang anak kecil. Novela karya Jona Oberski ini menceritakan era saat Nazi berkuasa yang mencoba membumihanguskan kaum Yahudi. Bersetting di Belanda tahun 1938. Dengan sudut pandang ‘aku’, seorang anak tunggal dari pasangan Yahudi yang menjadi korban keganasan perang. Buku yang berdasarkan kisah nyata ditulis atas ingatannya semasa kecil di kamp konsentrasi Westerbork di Belanda dan Bergen-Belsen di Jerman. Sayangnya kata pengantar yang ditulis oleh Pengajar Bahasa dan Sejarah dari Universitas Indonesia (UI) oleh Dr. Lilie Suratminto, memberikan bocoran besar atas cerita ini. Jadi kejutan yang disimpan terungkap saat buku belum mulai ku baca. Beliau dengan entengnya bercerita sejarah buku ini dan bilang, karakter penting akhirnya mati. Duh, sungguh disayangkan cerita bagus ini bocor, sehingga kenikmatan cerita berkurang.

Aku, dalam kisah ini diawali dengan kebahagian bersama kedua orang tuanya. Dari keluarga berada, merayakan ulang tahun dengan kue dan hadiah-hadiah, tumbuh dengan kecupan sayang setiap hari. Kebahagian masa kecil yang terenggut karena perang, saat Nazi berkuasa kaum Yahudi disingkirkan dari masyarakat lalu dikumpulajn di kamp konsentrasi. Westerbork adalah kamp konsentrasi yang didirikan Belanda untuk menampung pengungsi Yahudi dari Jerman. Aku dalam kisah ini tak disebutkan nama, hanya aku anak kecil yang bersama ayah dan ibu terpaksa mengungsi. Terdiri dari lima bab yang dijelaskan secara kronologis dan dipisahkan sub bab yang dinamis.

Bab pertama mengenai keluarga yang bahagia. Bab kedua mengenai pengungsian. Bab ketiga mengenai kehidupan di kamp konsentrasi. Bab keempat mengenai keruntuhan Nazi yang berarti mereka kembali merdeka. Bab kelima mengenai pengharapan di masa depan. Alurnya maju terus, kekejaman perang tak digambarkan secara detail. Hanya disebutkan sepintas, seperti saat serdadu memanggul bedil, lalu menembaki para tahanan yang mencoba kabur. Lalu dalam sebuah sub bab yang panjang, dijelaskan mayat-mayat yang ditumpuk dalam ruang ketel (knekel) yang sudah mulai membusuk. Ga ada yang implinsit dan berdarah-darah, buku ini sangat aman dikonsumsi remaja.

Dalam sebuah cerita yang singkat, Aku dalam kisah ini ditipu oleh Trude, teman seperjuangan bertahan. Bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi, nanti saat kamu dewasa akan mengerti.  Dan buku ini ditutup dengan sangat manis, bahwa saat kita terpuruk pun, selalu ada harapan.

Detail ini tak ada dalam cerita, namun sebuah fakta yang terjadi di akhir bab: tanggal 9 april 1945 sebanyak 2500 tawanan diangkut dari Bergen-Belsen ke Theresienstadt. Nasib tawan tak menentu karena pertempuran antara sekutu dan Jerman semakin seru. Kereta pengangkut ini sulit mencapai tujuan selama, dua minggu berganti-ganti arah sebentar ke utara, lalu balik ke selatan. Ke timur, lalu tiba-tiba kereta terhenti di hutan dekat desa Trobitz di Jerman Timur. Tawanan inilah yang kemudian dibebaskan oleh tentara Rusia. Titik akhir kereta adalah Mokum, sebutan lain kamun Yahudi untuk kota Amsterdam yangartinya “tempat berlindung yang mana”. Inilah yang terjadi saat tokoh Aku kebingungan mengapa kereta terhenti di hutan tanpa kejelasan. Aku sendiri akhirnya tertidur lama, setelah terserang demam saat tahu fakta yang menyakitkan.

Sekali lagi, bukti bahwa perang banyak membuat orang menderita.

Pengharapan / Kinderjaren | a novela by Jona Oberski, Amsterdam copyright 1978 First publised by Uitgeverij BZZTOH, Den Haag, 1978 | Penerjemah: Laurens Sipahelut | Penerbit Pionir Book | cetakan pertama, Maret 2012  | x + 86 hlm; 14 cm x 21 cm | ISBN 978-979-15417-4-9 | Skor: 3/5 Karawang, 120415

Iklan

Kiss The Lovely Face of God: Aku Adalah Rahasiamu

image

#30HariReviewBuku #4
Hanya dalam semalam, novel ini selesai kubaca. Setiap lembarnya memberi  tanya apa yang akan terjadi berikutnya. Salah satu syarat buku bagus adalah, pembaca penasaran dan ketertarikan itu diganjar dengan kejutan yang bagus. Hebatnya buku ini mewujudkannya, padahal ketika beli saya ga tahu siapa itu Mustapa Mastoor. Hanya karena ada embel-embel ’23 kali cetak ulang’ dan ‘pemenang kalam Zarim award’ dengan hiasan daun khas penghargaan tentunya.
Dengan sudut pandang orang pertama, Yunes mengalami kehampaan hidup dan menghadapi pertanyaan besar semesta ini, ‘Apakah Tuhan ada?’. Cerita dibuka dengan Yunes menjemput sahabat lamanya di bandara, sahabat karib yang sudah 9 tahun tak bertemu. Mehrdad ke  Amerika setelah terjerat cinta sahabat pena sehingga harus keluar dari kuliah. Suka puisi dan romantis. Tak berubah, saat Yunes menyambutnya di pintu bandara dia dipeluk dengan bunga mawar dalam genggaman. Dua sahabat lama itu lalu bernostalgia. Bahwa di Amerika sama saja, banyak orang gila. termasuk Julia, istri Mehrdad yang ditinggalnya sementara. Ternyata Julia kena kanker, yang membuat frustasi. “Apa yang hilang dari mayat yang ada pada orang hidup. Apa yang membedakan mayat dengan orang hidup?”
Yunes yang kini sedang terjerat tugas akhir doktoral tentang motivasi bunuh diri yang dilakukan seorang fisikawan senior. Sedang dilema, mau sampai kapan tesisnya selesai? Padahal gelar tersebut adalah syarat mutlak dari orang tua Sayeh untuk meminangnya. Hidupnya seakan tergantung pada seonggok mayat. Keharusan segera lulus tersebut membuatnya stress. Suatu malam dia mengalami panas yang hebat. Terjaga dari tidur, dia mencoba mengambil minum. Rasa panas bertubi-tubi mengalir di sekujur tubuh. Keringat mengalir, rasa haus mencekik. Namun sebelum mendapati minuman dia terjatuh, seperti ada yang mengayun ke atas dan ke bawah. Perlahan dia mencoba duduk lagi, lalu mengambil air untuk meredam kakinya. Suhu dingin mulai menjalar, namun tak lama tiba-tiba kembali panas menusuk. Apakah aku akan mati? Sampai sekarang aku belum manjadi apa-apa, sebelum mati aku harus mendapatkan posisiku, menancapkan kuku-kuku ini ke bumi agar jika nyawa merenggutku ada yang tersisa di bumi. Jika hari ini tidak ada prestasi yang kuukir, di hari mendatang siapa yang akan mengenang keberadaanku? Jika jejak langkahku tidak dapat lagi dilacak, artinya aku tidak pernah ada. Aku tak ingin seperti kebanyakan orang yang datang dan pergi tanpa melakukan apa-apa, terpinggirkan oleh sejarah. Tidak, Yunes tidak meninggal. Belum, masih banyak hal yang harus diperbuatnya.
Dengan bergulirnya waktu, Yunes mulai mempertanyakan agamanya. Mulai menggunakan logika dalam menganalisa kenyataan hidup. Salah satu puncak yang membuat greget adalah ketika Yunes akhirnya bertengkar hebat dengan Sayeh sampai akhirnya pernikahan mereka terancam kandas. Yunes mempertanyakan ‘dongeng’ nabi Musa saat berdialog dengan Tuhan. Apakah itu nyata ataukah cerita pengantar tidur? Sayeh sebagai seorang muslim yang taat tentu saja marah besar. “Aku yang mana, aku yang sekarang sudah begitu berjarak dengan aku yang dulu. Yang sekarang kupahami semua hanyalah dongeng belaka.”
Yunes yang tinggal pasangannya mencoba bangkit dengan memberi bukti bahwa dirinya harus segera lulus. Kembali ditelusurinya kasus kematian sang fisikawan. Penelusuran yang menghantarnya kepada Doktor Mirnashr. Doktor muda yang berfikiran open minded namun punya disiplin tinggi , “Di dunia yang begitu besar ini masih banyak hal menyenangkan ketimbang radio dan televisi, setuju?”
Lalu muncul karakter ali yang religius yang katanya bisa mencium bau kematian. Karakter paling cool dalam novel ini. Dalam sebuah adegan Ali mendengar bisikan lirih dari sebuah tembok yang berlubang, lalu dia pun mengamatinya ternyata ada kecoa yang berbalik sambil memegang makan berusaha bangkit. Dengan sekali sentuh Ali membalikkannya, bisikan tersebut adalah erangan kematian yang bisa didengarnya. Lalu ketika ketemu seorang perempuan frustasi yang ditinggal suaminya, dia dengan suka rela memberikan seluruh uang yang ada di kantongnya. Dan muncullah dialog yang membeberkan arti judul novel ini.
Akhinya apakah Yunes berhasil menyelesaikan gelar S2 nya? Apakah Mehrdad bisa bangkit dari keterpurukan rumah tangga? Apakah arti tagline “Oh.. neraka lebih baik asalkan bersamamu daripada surga tanpamu”? dan pertanyaan besar semesta, “Apakah Tuhan ada?” semuanya disimpan rapat sampai lembar akhir yang mengejutkan. Sungguh buku yang komplit. Selain ilmiah, novel ini juga romantis. Berikut puisi yang dibacakan Yunes yang luar biasa disadur dari karya Furugh Farakhzad:
“Aku bermimpi melihat seseorang, aku bermimpi berkencan dengan bintang kejora, bola mataku seakan berloncatan, lalu diriku membuta, mungkinkah aku berdusta, seseorang itu datang, seseorang yang berbeda dan lebih baik, seseorang yang tak mirip siapa pun, seseorang yang demikianlah adanya, wajahnya bersinar terang laksana wajah para Nabi, namanya kerap disebut ibuku di setiap akhir salatnya, wahai yang memenuhi setiap hajat, dengan mata terpejam ia mampu mengeja aksara, kuseka tangga tangga menuju atap rumah, kutuang perasaan anggur merah dalam cawan dan aku sedang bermimpi”
Overall tanpa ragu saya memberi nilai 5 dari 5 bintang. Setelah membacanya saya sempat berujar ini sepadan novel Dan Brown, ‘Da Vinci Code’. Menukil salah satu review-nya, “Novel yang akan mengguncang iman Anda!” dan kurasa tak berlebihan. Kalau yang ini versi Islam, namun dibawakan catchy tanpa membuat kening berkerut. Sebagai penutup, Meski keberadaan Tuhan sama sekali tak ada hubungannya dengan keimanan kita, tetapi untuk dapat merasakan kehadiranNya sangat dipengaruhi oleh kadar kayakinan kita. Catat itu!
Kiss The Lovely Face of God | a novel by Mustafa Mastoor copyright 2006 | cetakan pertama April 2010 | Penerjemah: Bundahakim | penerbit Ufuk Press | ISBN 978-602-8224-88-8 | skor: 5/5
Karawang, 080415
Laz4-0Emp

Dikatakan Atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta

image

#30HariReviewBuku #3
Kumpulan sajak yang sangat biasa dari penulis produkstif Tere Liye. Ga tahu kenapa awal tahun  buku ini bisa masuk daftar beli, padahal sudah sering dikecewakan bung Darwis. Dan buku ini menambah daftar tersebut. Berisi 24 sajak pilihan disertai ilustrasi, ga ada sesuatu yang wah sama sekali dari buku tipis ini.
Dibuka dengan ‘Sajak UN’, isinya sepele “Jangan mengeluh, jangan risau, hanya orang-orang terbaik yang akan lulus”. Lalu kedua ‘Saat Hujan’, ini juga bukan sesuatu yang baru saat Tere bilang, “Dan menangislah saat hujan, ketika air membasuh wajah agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan”. Ratusan cerita, puluhan lagu sudah mengulas orang membiaskan diri menangis di bawah hujan. Lalu ‘Rahasia Kecil’ yang sederhana sekali, “sssttt tapi ini rahasia kecil, jangan bilang siapa-siapa” sampai diakhiri ‘Bilang’, “Dan tidak mengapa kita tahu persis, tidak berkurang nilainya”.
Dari empat sajak itu saja kita sudah tahu ini akan mengecewakan. Dan benar saja setelah 30 menit membacanya, rasanya hambar. Saya heran apa daya jual buku ini? Ilustrasinya? Juga biasa. Dari 10 gambar hanya 2 yang ku suka, ‘Angin, Hujan, dan Sakit Hati’ dengan gambar seorang gadis menatap bintang di tepi telaga dengan posisi membelakangi. Ini misteri, apa yang ada dalam pikiran si gadis? Dan saya memang suka memandang langit. Satu lagi ilustrasi, ‘Sendiri’ dengan pose (lagi-lagi) membelakangi kita, ada 4 orang sekeluarga: ayah, ibu, 2 orang anak sedang memandang purnama. Kalau yang ini ga misteri karena sudah dijabarkan (penjabaran yang klise dan berulang ) mereka melihat bulan yang indah namun (berprasangka) bulan itu kesepian. Selain dua gambar itu ga ada yang istimewa.
Sajaknya? Jelas tidak. Sajak sederhana seperti ini bisa dibuat dalam semalam, dan bisa lebih dari 24 buah, kalau mau… Ga ada yang ambigu, ga ada penafsiran ganda. Ga ada yang puitis, padahal sajak kan nilai utamanya di sana. Lurus dan klise. Kalau mau baca puisi atau sajak indah, baca Rabindranath Tagore. Tulisannya jleb dan berarti sangat mendalam. Eh kejauhan ya pembandingnya, yah karena saya memang jarang baca puisi jadi ga tahu mau bandingin siapa. Nanti deh akan saya review salah satu buku Tagore.
Tere? Ya bisa jadi. Dengan nama mentereng daya jual buku ini jelas bung Darwis. Ibaratnya beliau nulis resep makanan saja pasti laku. Namun tetap, yang utama adalah kualitas. Saya jadi ingat salah satu penulis favorit saya, Jonathan Stroud. Karena keterpukauan saya terhadap ‘Bartimaeous Trilogy’ saya beli banyak buku lainnya. Tapi ternyata memang nama penulis ga sebuah jaminan sepenuhnya. Seperti piring yang terhempas di lantai, saya kecewa berat dengan ‘The Last Seige’. Amburadul.
Yang mengherankan, buku dengan 72 halaman ini dijual dengan bandrol Rp 35.000,- termasuk mahal. Sebagai pembanding, bulan lalu saya beli ‘A Russian Affair’ nya Anton Chekhov dengan 174 halaman hanya Rp 25.000,- jadi penasaran pakai resep apa ya beliau. Jadi apakah buku ini worth it untuk dibeli? Nope! Kecuali Anda adalah fan berat Tere dan menginginkan koleksi lengkapnya di rak. Lebih baik silakan ke toko buku dan baca di sana. Sederhana. Dan ‘Kesedihan Dihabisi Oleh Waktu’
Dikatakan Atau Tidak Dikatakan Itu Tetap Cinta | Kumpulan sajak oleh Tere Liye terbit tahun 2014 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama cetakan ketiga, November 2014 | ISBN 978-602-03-0718-3 | 72 hlm; 20 cm | Skor: 1/5
Karawang, 090415
Lazio the Great