Panggilan Telepon #14

Aku tidak tahu apa yang harus kau lakukan di dalam sebuah dapur sastra, tapi aku tahu apa yang seharusnya tidak kamu lakukan. Kau tidak boleh menjiplak. Orang-orang plagiat itu pantas digantung di Alun-alun Kota. Swift berkata begitu, dan Swift sebagaimana yang semua orang ketahui, selalu benar.

Buku pertama dari Penulis kelahiran Chili, Roberto Balano yang kubaca. Terbitan Trubadur dari Ujungberung, Bandung. Tanpa banyak tahu siapa beliau dan tentang apa, Panggilan Telepon adalah kumpulan cerita pendek yang biasa. Kisahnya terlalu standar, tak banyak konflik dan sebagian besar mengetengahkan keseharian sang Penulis dari Chili, migrasi ke Meksiko sampai menuai kesuksesan. Karena syarat cerita bagus ada konfliknya, makin berat makin syahdu maka kumcer kali ini tergolong sederhana. Dari Pemenang The National Book Critics Circle Award tahun 2008, sungguh buku ini kurang memenuhi ekspektasi. Kubaca kilat ditengah liburan Lebaran di Palur dengan kopi dan suasana dingin teras rumah.

Ada 11 cerita yang terkait sebagian selain fakta bahwa kisahnya diambil dari sejarah sang Penulis. Walaupun tak sertamerta bilang ini biografi atau based on true story atau malahan ini kisah hidupku, tapi jelas tokoh dengan nama B mengacu pada Balano, pengalaman kecilnya di toko buku yang suka mencuri juga terang-terangan pengalamannya. Dibuka dengan judul ‘Potret Diri’ yang mencerita riwayat singkat Balano yang walaupun seorang Penulis mengaku bahwa: Di Catalonia, aku belajar tentang seni toleransi yang sangat sulit. Aku jauh lebih bahagia membaca daripada menulis.
Antara usia enam belas sampai sembilan belas tahun, Balano mengalami keseruan remaja mencuri di toko buku. Toko Buku Kaca yang menjadi tempatnya mendapatkan terjemahan The Fall-nya Albert Camus mengubah mindset-nya. Aku ingin membaca semuanya, sesuatu yang dengan kepolosanku sama seperti keinginan untuk mengungkap cara kerja tersembunyi dari kesempatan yang telah mendorong karakter Camus untuk menerima takdirnya yang mengerikan. Pengalaman ketahuan merampok buku bukan di Toko Buku Kaca, tapi di Toko Buku Bawah Tanah. Pencurian tangkap basah yang memalukan, tapi setelah dengan banyak ancaman, Balano dilepas. Siapa yang berani?

Dipengaruhi oleh puisi-puisi terbitan bahasa Spanyol, Balano memang sudah terlihat meyakinkan dalam dunia literasi. Hari-hariya diwarnai penyair Gui Rosey, Desnos, Eluard. Sebuah antalogi dengan kombinasi lebih banyak komposisi Penulis lokal, sebuah langkah cerdas untuk menaikkan pamor. Balano mencerita masa mudanya saat hidup di kontrakan, di sebuah rumah sewa di lantai satu adalah induk semang mempunyai lima anak, empat diantaranya perawan tua yang belum menikah dan suka bergosip, satu lelaki Pepe yang sudah menikah dengan Lupita. Pilot yang rupawan, yang sayangnya setelah bertahun-tahun tak kunjung dikaruniai buah hati. Balano tinggal di lantai dua di antara lantai tiga tempat keluarga kecil sang pilot yang malam-malam sunyi saat menulis kisah mendengar erangan orang bercinta. Perjuangan memiliki anak yang dibuat dengan komedi satir.

Sebuah cerita tentang potret berjudul Labirin mengisah para orang tenar yang dinarasikan. Foto berisi delapan orang Penulis dari kiri ke kanan: J. Hendric, JJ Goux, Ph. Sollers, J. Kristeva, M. Th. Reveille, P. Guyotat, C. Devade dan M. Devade. Tak ada keterangan di foto tersebut, Balano menuturkan jalan bagaimana foto itu diambil dan dibingkai dengan banyak pertentangan batin, saling silang cinta dan nafsu hingga rasa cemburu terisolasi. Dalam foto mereka duduk di kursi mengeliligi meja, meja biasa marmer dengan kaki besi. Mereka semua kurang lebih berpakaian hangat, diambil pada tahun 1977 atau tahun sekitar itu dan mereka semua berkawan, beberapa diantaranya berpasangan. Saya sudah menduga akan ada selingkuh dan ancaman berdasar, sayangnya Balano tak bisa mencerita dengan meyakinkan. Beberapa berujar kira-kira, kurang lebih atau terkaan yang membuat pembaca malah ikut ragu. Kalaupun ini kisah nyata, taruhlah ini hanya imajinya, tak perlu takut sebab Balano memang mengupas dengan analis, ukan penelusuran mengdetail. Pembawaannya pun tak bisa meledak-ledak, standar dan tak mengejutkan. Apakah ini gaya Balano? Entahlah.

Tentang Ulises Lima dan kematiannya dibuat dengan rajutan datar, bagaimana mereka kembali ke Meksiko dengan nama besar dan berencana mengikuti sebuah event penting. Balano sudah berkali-kali diundang untuk datang dan membuka acara, baru kali ini bisa hadir. Sayangnya saat hari H malah batal, tiket yang sudah ditangan diurung niat saat sudah di bandara, Balano tiba-tiba berbalik dan mencari taksi. Di dalam taksi yang terlelap menuju puncak cerita, bagaimana grup band El Ojete de Morelos tercipta di pinggiran kota Meksiko.
Cerpen kedelapan, ‘Clara’ mengisah pengalaman sang Aku yang jatu hati padanya sejak remaja. Bagaimana mereka menjalin asmara, Aku yang ditolak dan Clara yang bermimpi jadi pemenang kontes kecantikan. Sayangnya banyak hal tak terwujud, juara dua bukanlah impian. Penolakan cinta yang halus, mematahkan hati, mencipta jarak. Hidup dalam love-hate dan waktu yang terus bergulir di antara mereka. Clara memang cantik, tapi jelas ia jua sombong, Clara yang tak mencinta, tapi saat patah asa menguhungi Aku. Cewek memang gitu, dicinta ditolak tapi saat terjatuh memelas belaian kasih sayang. Kawin dan hanya dua tahun kemudian cerai, saat kesepian butuh Aku lalu merajut mimpi lagi, hingga akhirnya menikah lagi dengan rekan sejawat, Paco. Menghasilkan seorang anak, seharunya sudah terlihat garis hidup untuk menjadi keluarga ideal, Aku sendiri tetap memendam rasa dan ikut bahagia. Di sini Aku juga sudah berkeluarga, jadi ini kisah cinta sampingan bukan benang utama. Namun tidak, karena suatu hari sebuah telepon dari suaminya yang mengabar Clara hilang dan mengira Aku membawanya, malah menyeret banyak spekulasi. Yah, hidup memang rumit dan waktu terus maju ke depan. Linier menua dan kejam tak peduli apakah kalian sudah memutuskan suatu yang tepat ataukah pilihan salah berantakan.

Di cerpen ‘Kembali’, dan kurasa ini cerpen terbaik di buku ini kita diajak memasuki surealis. Pembuka paragrafnya sudah memberi opsi seru: kabar baik dan buruk, kabar baiknya ada kehidupan setelah kematian dan kabar buruknya, Jean-Claude Villeneuve adalah seorang neklofilia. Atau disebut juga thanatofilia atau nekrolagnia: perilaku seksual seseorang yang senang bercinta dengan mayat. Sang Aku mati di bar saat minum dan tewas seketika di lantai dansa. Aku membayangkan atau mengalami kematian laiknya di film Ghost, nyawanya keluar dari tubuh dan Aku bisa melihat proses kejadian di sekelilingnya, bagaimana mayatnya dibawa dan diotopsi di rumah sakit. Hingga akhirnya perawat nakal meminta imbalan bisnis ielgal dengan membawanya ke sebuah rumah elit seorang perancang busana terkenal. Nyawa Aku yang mengikuti terkejut, karena mayatnya kemudian dijadikan objek seksual. Penampakan suara dan penjelasan mengambang memberikan sebuah kisah pilu nan menyedihkan, dunia ini memang aneh dan tak masuk akal.

Cerpen kesepuluh berjudul ‘Panggilan Telepon’ yang dijadikan judul buku. Kisahnya dengan memakai nama B sebagai sudut pandang dan X sebagai pasangan. B jatuh cinta pada X, dan berakhir tidak bahagia. Ada satu masa dimana B akan melakukan apapun demi X. B diputuskan hubungan lewat telepon, B nelangsa hingga waktu menyembuhkan. Hubungan mereka hanya berlanjut sebagai teman jarak jauh, beda kota. Lewat sambungan telepon mereka mencoba keep contact, hingga suatu ketika dalam percakapan hampa B yang berbicara X mendengarkan dengan dingin lalu kemudian muncul kabar X meninggal dunia, B dihubungi sudara X dan bergegas ke sana untuk menyelidiki eh malah dikira B sebagai pelaku. Pertanyaan janggal muncul, ah konyol juga jauh-jauh datang untuk menelusur kesiaan karena seandainya dibalik B yang meninggal X rasanya mustahil mau datang jauh-jauh. Wuuih, cinta memang pengorbanan serta berlalu kejam kawan.

‘Malam Terakhir di Bumi’ sejatinya bisa lebih menghentak, lebih berbobot andai diselipkan konflik berarti. Sayangnya kisah hubungan ayah anak dimana harus menunggu visa untuk keluar negeri, menginap di hotel dan bagaimana mereka mengisi waktu. Sayangnya enggak, justru tak ada sentuhan hati menyeluruh. Ayahnya yang mencari kesenangan dengan wanita dan minum, Aku yang suka menyendiri dengan buku menjadi kontras saat akhirnya Aku mendapatkan gadis dengan bermodal membaca buku puisi di pinggir kolam renang, ia tanpa mengejar di klub malam dan sang ayah yang kolot menyerahkan kebebasan. Penutup yang biasa.

Pada akhirnya, buku kumpulan cerita pendek ini memang tak memenuhi harap. Entah terjemahan yang kurang OK atau memang dasarnya Balano tak banyak memberi kejut. Atau memang style berceritay emang gini. Kehidupan setelah kematian itu yang terbaik saja masih tangguh, bisa saja meledak, sayangnya datar di akhir. Potert diri sang Penulis yang mencari ide kreatif sampai menyentuh kesuksesan juga tak menjadikan wow. Namun tetap, buku ini termasuk pilihan langka. Saya yakin, ulasan buku Balano yang minim di Indonesia menjadikannya unggul. Snob. Saya sangat berterima kasih atas pilihan bacaan anti-mainstream macam gini. Terkadang kita bosan sama buku-buku umum di toko buku besar. Apalagi buku ini diterjemahkan dari beberapa kisah, bukan satu buku jadi yang tinggal alih bahasa. Keberanian memilih dan memilah kisah mana yang diterjemahkan menurutku sesuatu yang patut diapresiasi.

Semoga buku-buku Amerika Latin, Eropa Timur, Asia Barat yang jarang disentuh penerbit major kita makin banyak yang dialihbahasakan. Makin hari makin kreatif, makin banyak pilihan bagus makin seru dunia literasi kita. Good luck.

Panggilan Telepon | by Roberto Balano | Dipilih dan diterjemahkan dari Between Parentheses (2011), The Secret of Evil (2007), The Return (2010), The Last Evenings on Earth (1997) | Penerjemah Luthfi Mardiansyah | Penyunting Regi Sastra Sena | Perancang Sampul Tirena Oktaviani | Kolase Sampul ‘Phone Calls’ (Rifki Syarani Fachry, 2017) | Penata Isi Feri Hartanto | Penebit Trubadur | iv + 220 hlm.; 13 x 9 cm | ISBN 978-602-50034-0-0 | Cetakan pertama, Agustus 2017 | Skor: 3,5/5

Jatipuro, 170618 – Koes Plus –Kisah Sedih Di Hari Minggu
#14 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

*) dibaca sehari di sela liburan jalan-jalan ke Tempat Wisata Madukoro, Tasikmadu dan diulas ketik di Jatipuro, Karanganyar