Ketika Segalanya Berantakan

Lazio was one of the most enjoyable teams to watch this season. Contains 89 goals! Wow…

Kalau jumlah gol yang jadi komparasi. Musim ini Lazio adalah Barcelona-nya Serie A, City-nya Serie A, PSG-nya Serie A, Bayern Munchen-nya Serie A. Minus gelar Liga doang. Lini depan Marchedes lini belakang Agya. Apapun yang terjadi serang serang serang, ofensif siapapun lawannya. Sayangnya mesin Agya diajak kecepatan 120 Km/jam saja sudah bikin spion kader. Sport jantung tiap pekan. Apalah daya, bek-bek kita amburadul. Duh, segalanya berantakan…

Lazio hanya butuh imbang! Main di kandang, penonton penuh. Optimis tinggi sebagai tim pencetak gol tertinggi, Immobile pun kembali setelah absen cedera. Lalu dalam tiga menit segalanya berantakan…

Sebagai Laziale saya memang tak muluk-muluk mendesak tim dalam meraup pencapaian akhir musim. Dengan tim keuangan pas-pasan, walaupun sekarang mulai sangat membaik berkat salary cap dan surplus transfer tapi tetap skuat kita ya kalah telak jika dinominalkan lawan Milan, apalagi Juventus – jangan sebut dua El Clasico. Loyalitas, dedikasi, dan doa yang khusuk tiap pekan adalah sebuah keharusan saat kamu menjadi fan sebuah tim yang bahkan untuk sekedar ingin ikut di Liga Tertinggi Eropa saja ngos-ngosan, ingat sekedar berharap ikut meramaikan, menggeser jadwal tengah pekan dari Malam Jumat ke jadwal tarung tim tim elit, belum minta membungkam Barca apalagi juara. Pun akhir musim ini, segalanya berantakan…

Dengan poin sama di ambang jalur Champions, kita tersingkir. Kita bisa saja menyalahkan wasit, menghujat tim lawan sekedar diuntungkan, bisa juga maki-maki personel yang down performe tapi tetap hasil akhirnya tak akan bersulap ke nomor empat. Bukan jumlah gol atau gap-nya yang dipakai Lega Calcio untuk merunut aturan baru 4 Besar siapa saja yang lolos ke Eropa tapi hasil head-to-head. Inter sendiri sebenarnya ga bagus-bagus amat semusim ini, terutama setelah ganti tahun. Walau beberapa pekan di puncak mereka langsung klepek-klepek setelah di depan Interisti, berkah kebangkitan Udinese dengan Masimo Oddo-nya pamer kekuatan, dan beruntun terjerebab, terjungkal, terbenam tanpa daya. Beda dengan kita yang konsisten di posisi empat besar, namun sekali rontok di pekan terakhir. Nyesek, tower rubuh seminggu. Entah kenapa aturan h-2-h yang dipakai, padahal Serie B menggunakan selisih gol. Sungguh disayangkan leg satu kita kalah sederhana dengan mereka, segalanya berantakan…

Immobile sudah tancap gas menjadi pemuncak top skorer sedari liga bergulir. Tak terkejar oleh siapapun, tak tersentuh oleh waktu berpekan-pekan. Juve boleh punya Dybala, Napoli boleh jadi moncer bersama Dries Mertens, Lupakan Dzenko yang ndobos musim ini. Inter memiliki Icardi yang membuntuti Immobile, sedang on fire juga. Apes, Immobile cedera jelang garis finish. Apes pula, Luiz Alberto menyusul. Dan saat pertandingan tinggal satu di mana Immobile lead hanya satu gol dan langsung berhadapan Icardi, startegi aneh kala menit 75 Ciro ditarik saat sudah unggul 2-1. Hanya unggul dua-satu dan Ciro sedang berlomba sepatu emas. Wasit pun bersorak dalam hati atas keputusan Inzaghi ini dan otomatis sinyal FIGC menyala, segera bereaksi atas subtitusi, hadiah pinalti buat menyamakan jumlah gol, segalanya berantakan…

Thomas Strakosha menjadi satu-satunya pemain Serie A musim ini yang bisa menjalani 38 pertandingan tanpa putus. Bayangkan kiper muda baru promosi ke senior langsung diserahi posisi penting! Kalau kalian mengira karena dia setangkas De Gea, Anda salah. Ya, sesekali memang tampil memukau tapi seringnya blunder. Ditopang bek-bek sembrono macam Wallace, Bastos, Radu dan Patric (keempatnya boleh dilepas, monggo), duh lengkap sudah. Jumlah kebobolannya sebelum pertandingan final adalah 46. Sangat kontras untuk tim yang sedang berjuang di papan atas. Gol terakhir musim ini jelas kesalahannya yang tak bereaksi saat bola lambung depan gawang, tak memotong atau setidaknya melakukan lompatan. Dia kiper Bro, bukan bek dimana tangannya bisa bergerak jauh lebih tinggi untuk menghantam bola. Gol ke 49 Serie A musim ini yang menghancurkan hati Laziale. Dengan total gol mengerikan 89, tertinggi dibanding siapapun. Lazio tersingkir berkat tiga bola mati, segalanya berantakan…

Ketika Roma sudah berhasil menghantam Barca tiga gol di Olimpico, kita masih sangat sekedar hanya ingin berjumpa. Ketika Roma sudah kebantai tujuh gol berulang kali sebagai Badut Eropa, kita sekedar tampil mbadut saja belum terwujud. Ketika Juventus sudah bolak-balik masuk final dan tak juara di Liga Champions, entah Zebra iki dikutuk apa ya? Kita sekedar menyodok posisi Liga Para Juara saja minta ampun susahnya. Ketika Milan sudah pamer honour tujuh piala tertinggi kita hanya punya piala abadi Winner cup. Ketika Immobile sampai berujar, “Saya lebih baik tampil di Liga Champions ketimbang sepatu emas.” Beliau mencipta total 41 gol dan 11 asis. Ketika Felipe Bale Anderson berujar, “Saya akan pergi jika Lazio gagal tampil di Liga Champions.” Beliau mencipta 8 gol dan 11 asis. Ketika Luiz Alberto berujar, “Sebuah kehormatan Barcelona tertarik kepadaku dan akan sangat mempesona tampil di Liga Champions.” Beliau mencipta 12 gol dan 21 asis. Ketika itu pula Sergej Milinkovic-Savic dihajar isu transfer paling panas musim panas ini. Beliau mencipta 14 gol dan 9 asis. Dengan banderol ‘hanya’ 150 juta Euro, setara satu setengah trilyun Rupiah. Ga ada setengahnya harga Neymar yang overated itu. Angka yang termasuk murah untuk talenta luar biasa, usia muda usia emas 23 tahun. Sekarang pertanyaannya empat bintang HEBAT dan megah ini apakah masih mau berbaju Lazio musim depan untuk kembali tampil di Liga Sparing? Liga buruk sekedar latihan karena bahkan para buangan Champions saja jadi seakan raksasa tertawa ngakak di hadapan kurcaci. Atletico, MU, Sevilla sejatinya para pupuk bawang UCL yang kena reject. Duh… segalanya berantakan…

Ya Allah apa salah kami, apa dosa Laziale untuk sekedar melihat logo Elang Biru Langit sejajar logo bintang bintang perak berjingle ikonik ‘champioooonn…. jrreng jreng jreng….’ gitu aja bertahun-tahun ga kesampaian. Entah siapa yang paling dikutuk laga pekan ke 38 ini, terpeleset di pekan krusial itu sakit. Makan ga enak, kerja ga nyaman, tidur ga pules. Cuma gajian tanggal 25 ini yang bisa membangkitkan semangatku. Tapi drop lagi saat tahu siapa yang dipercaya orang-orang di balik Bumi Manusia. Duh, segalanya berantakan…

Satu paragraf ini saya dedikasikan kepada Stefan De Vrij. Yang mau muntah silakan, yang mau misuh juga monggo, yang tetap kalem biasa saja juga persilakan. Saya Laziale Independen yang terikat erat nama besar Lazio era 1990an, pemain besar datang dan pergi. Pemain semenjana datang dan menghilang. Pemain ga jelas sudah banyak kita kenal berbaju Biru di ibukota Italia. Nama-namanya akan panjang, sepanjang tol Cipali, yang serta merta membuat kerut fan City bertanya-tanya ini daftar pemain bola di salah satu tim Lega Calcio apa pemain bola timnas Kepulauan Faroe yang bahkan main bola sekedar hobi buruh tani yang diangkut ke lapangan bola saat istirahat makan siang. Dan jelas, De Vrij masuk golongan orang-orang kualifikasi pertama. Jadi cerita runut singkatnya seperti ini. Sejatinya Stefan bukanlah pilihan utama tahun 2014. Dia dibidik Tare berkat kegagalan mendatangkan target utama bek (alm) Astori yang malah berlabuh ke tetangga. Lazio kala itu sebelum Piala Dunia hanya bersaing sama tim-tim lemah, yang tak degradasi saja sudah syukur. Stefan sudah dihubungkan sebelum kejuaraaan yang mencatat Brazil menuai malu sekali. Stefan tampil mempesona sepanjang perhelatan, dan disebut bek terbaik turnamen. Seusainya barulah tim-tim elit melakuakn penawarannya, MU yang sedang kalang kabur berkat performa amburadul Moyes pun kalah saing sama Lazio dengan alasan yang sangat menyentuh hati fan sejati, “Lazio adalah tim yang percaya kemampuan saya saat (sedari) kejuaraan belum dimulai, maka saat bisa membuktikan maka saya tentunya menuju ke sana. Saya hanya akan bermain untuk tim yang mempercayai kemampuan saya.” Nah! Di bandara Fiumicino, Stefan disambut Laziale bak seorang bintang rock sedang naik daun, meriah dan akan membuat fan MU kaget, ‘itu nyambut pemain bola apa menyambut kedatangan Paus Franciscus?’ Sesuatu yang wajar, Laziale sudah lama tak bisa mendatangkan pemain bintang yang benar-benar sudah jadi di usia emas. Saya sendiri juga euforia bahagia, seakan lupa sejarah pahit bersama Kompeni. Musim pertama berjalan bagus, Pioli yang dikasih skuat keren ini memang gagal di kualifikasi Champions, dan tumbang di final Copa. Kontribusi Stefan jelas besar untuk pencapaian perdana ini menyumbang 30 laga Serie A. Musim kedua Pioli malah mendatangkan bek jagal Mauricio yang tiap lihat bola masuk kotak pinalti seakan melotot papah pisang yang harus ditebas, ‘lesh lesh lesh…’. Kocar-kacir menuju musim terakhir Klose. Stefan De Vrij lebih banyak murung di bangku cadangan, dirawat, disembuhkan, dan dipuk-puk agar kembali mencapai penampilan terbaik. Bayangkan semusim hanya tampil dua kali, dan tertatih di akhir kompetisi! Ini yang kau beri balasan kompeni! Hiks. Musim ketiganya berjalan lebih hebat lagi menjalani gol perdananya di liga pada 11 September 2016 kala bertandang bersua Chievo Verona, Inzaghi menjalani musim penuh pertamanya dan mencapai final Copa jelas bukanlah sebuah kebetulan. Walau kalah, beliau berhasil membalas di awal musim ini dengan menyabet piala Super Copa dengan gol istimewa Murgia. Stefan menjadi bek tengah tak terganti musim ini dengan 36 penampilan dan enam gol. Di musim terakhirnya ini Stefan terasa diistimewa. Saat pemain bintang banyak yang menolak perpanjangan ditahan dalam kulkas, diparkir di bangku cadangan, Keita Balde jadi korban keganasan kebijakan ini setelah tak dimainkan di final yang akhirnya cabut ke Perancis, Stefan ajaibnya terus dipercaya main. Sepanjang musim panas sampai akhir tahun, Tare sampai gatal karena negosiasi draft kontrak gagal tergores pena. Maka saat jendela transfer Januari 2018 ditutup, maka berakhir pula segala segala kata ‘andai.. andai… andai Stefan De Vrij dibekukan’ dia bebas memilih klub, free! Yang secara resmi diumumkan Igli Tare bulan Maret 2018. Gilax, langka sekali Lotito Crab melakukan blunder duit sedahsyat ini. Liverpool, MU, Madrid dan tentu saja Inter Milan menggoda. Sungguh biadab, saat pertandingan jelang akhir muncullah pernyataan yang menyakitkan bahwa De Vrij sudah dideposit ke Meazza! Wow, twist yang membuat Nolan saja kejang-kejang. Kalau orang normal jelas, dia diparkir karena akan terjadi konflik batin, perang malaikat dan setan di ubun De Vrij. Namun Inzaghi memang tak normal, bahkan seusai laga dia berujar kalau ada laga rematch terjadi – waktu bisa diputar lagi bak kalung Time Turner-nya Hermione Granger di seri ketiga Potter, dia akan pasang dia starter lagi. Mungkin setelah diputer sepuluh kali dan masih kalah, Inzaghi tetap saja memasang De Vrij saking menaruh cinta. Sebegitu percayanya kepada pemuda yang pernah main ke Indonesia setengah tahun lalu ini? Kepercayaan itu ditertawakan Interisti dengan tekel ga perlunya ke Icardi yang diving. Satu terjangan untuk gaji talangan 4 juta Euro menghasil dua kerugian besar tercipta. Istilah ekonominya Deadweight Loss dimana modal lebih besar dari yang dihasilkan. Pinalti untuk gol penyama skor sekaligus penyama top skorer dan drama ala Raam Punjabi yang disutradarai Paolo Tagliavento. Ketika menit 84 Pangeran Pupuk Bawang Nani masuk, Stefan De Vrij ditarik, berakhir pula cerita kompeni ini di tanah Olimpico. Enyahlah! Empat tahun dipuja puji endingnya tak khosnul khotimah. Segalanya berantakan…

Saya adalah Laziale, entah kalian mau menyebutnya Laziale apa. Member Karawang ga punya, member Cikarang sudah alumni, member Lazio Indonesia mungkin sudah kadaluarsa. Saya Laziale yang terdaftar di Italia sejak 2010. Namun bukan itu esensinya, saya penikmat Lazio sebagus dan seburuk apapun bentuknya, siapapun pemainnya. Saya sudah men’syahadat’kan istri yang saat masih cantik dan langsing seorang Romanisti pemuja Montella. Saya selalu menanamkan ke putriku Hermione untuk teriak ‘Forza Lazio’ sedini mungkin, sesering mungkin. Suatu malam saat saya beranjak akan keluar rumah dia bertanya, ‘Ayah mau kemana?’ saya jawab, ‘Mau menonton para bintang berlaga, mau mendukung Lazio Sayang’ sambil kutunjuk dada berbordir Elang Biru. Dan dia reflek membalas berujar, ‘Forza Lazio.’ Untukku, untukmu Lazioku tercinta, untuk kalian semua yang setia mendukung tim kesayangan selamanya. #LazioTiAmo

Karawang, 23-250518 – Space Girl – Viva Forever

Hei kalian semua yang tertawa terbahak-bahak kala akhir, kita punya piala musim ini Super Coppa, kemang kalian punya apa? Selama sepuluh tahun ini kita punya empat piala, emang kalian punya apa? Avanti Lazio!

Pekan Terakhir: Lazio Vs Inter

Pekan Terakhir: Lazio Vs Inter
Perkiraan pemain

LAZIO: Strakosha; Caceres, Luiz Felipe, Radu; Marusic, Murgia, Lucas Leiva, Milinkovic-Savic, Lulic; Felipe Anderson; Immobile

INTER: Handanovic; Cancelo, Skriniar, Miranda, D’Ambrosio; Gagliardini, Brozovic; Candreva, Rafinha, Perisic, Icardi

LBP 3-0
Laga final Immobile Vs Icardi. Laga final tiket Liga Champion. Laga final Stefan De Vrij. #ForzaLazio

Bgs
Lazio 2 – 1 Inter, Immobile
Imo sudah fit. Sudah bisa maen. Sudah bisa cetak gol. Forza lazio

AP
Lazio v Inter 0-1
Icardi
Final akan terjadi di Olimpico. Lazio hanya butuh hasil imbang untuk lolos ke UCL. dalam 27 duel terakhir, Lazio hanya bisa menang 9x. Icardi tentu ingin menyamai atau bahkan melebihi gol Immobile.

Luciano De Cecconi
Lazio 1-2 Inter
Joao Cancelo
Lazio bermain menyerang Nan atraktif, namun Nerazzurri lebih cerdik memanfaatkan peluang.

Minions
Lazio v inter 1-2
Icardi
Duel capocannonieri. Duel perebutan tiket UCL. Inter di atas angin.

Takdir
Lazio 4-2, Immobile
Pertandingan akhir musim Lazio Inter mengingatkan kita pada musim panas 2002. Akhir tragis buat Ronaldo, Vieri dkk. Sejarah terulang.

DC
Lazio 0-2 Inter
Icardi
Dari Misura. Kemudian beralih ke Fiorucci. Dan sampe sekarang ada Pirelli di dada jersey biru item. Itulah Internazionale.

AW Kyaputen Suki-Suki
Lazio 1-3 Inter, Icardi
Inter siap mengamuk. Icardi mengangguk-angguk. Immobile mantuk-mantuk.

Damar IRR.
Lazio 2-0 inter. F Anderson
Ketemu uler kadut di Olimpico. Lalu malam ane mimpiin F Anderson cetak goal lewat umpan dari L Alberto. Moga terwujud di match ini. Grande Lazio.

Siska
Lazio 2-2 Inter
Icardi
Banyak yg jagoin Inter 😅. Mau jagoin Lajio kok ya ga begitu yakin 😅. Yaudah sih seri aja biar adil 😅

Shailene Woodley Prayitno
Lazio 2-4 Inter; Gol Icardi
Saya mencium aroma balas dendam di sini. Ini murni adalah karma. Hasil ini juga pengaruh dari pemilik kedua tim yang sangat bertolak belakang. Pemilik lazio pelit dan suka menunggak hutang, sedangkan pemilik Inter cukup royal meski belakangan tidak pernah lagi muncul di hadapan publik.

Green Green – Karawang, 200518

Black Panther: Wakanda Forever

King T’Chaka: “The world is changing. Soon there will only be the conquered and the conquerors. You are a good man, with a goes heart. And its’ hard for a good man to be king.”

Dalam seminggu ini euforia di segala lini sosmed, akhirnya saya berhasil sempatkan waktu nonton di Selasa sore yang gerimis. Dengan bekal kabar bahwa film ini mencetak rekor opening week terbesar kelima, segala bocoran wow nya. ‘Eh filmnya mirip Prince Caspian lho.’, ‘Ini kok jadinya Lion King versi live action ya?’, ‘Wakanda Forever!!! Jelas itu mirip teriakan ‘Narnia Forever’, ‘For Aslan, For Narnia’ dst. Pas setengah jam sebelum mulai, saya sempatkan baca bab-bab akhir Kealpaan-nya Milan Kundera. Novel nostalgia, kerinduan akan kampung halaman. Akan sebuah arti kehadiran dengan orang terkasih.

Pembukanya adalah prolog dialog tentang sebuah asteroid berkekuatan dahsyat metal vebranium dahulu kala ada lima Warga Afrika yang memperebutkannya, empat diantaranya bersatu dan membentuk Wakanda. Benda itu memberikan banyak dampak, salah satunya Wakanda jadi daerah maju secara teknologi. Tapi banyak pertempuran dan kepentingan membuatnya mengisolasi diri. Lalu setting tercipta jauh ke tahun 1992 di Oakland, California di mana ada warga Wakanda ke Amerika yang melakukan kejahatan terkait pencurian penjualan vibranium, N’Jabu ditangkap dan akan diadili, tapi sebuah tragedi terjadi – apa itu akan diungkap di akhir kisah. Dengan tatapan bocah-bocah main basket ke angkasa, cerita Black Panther sesungguhnya dimulai. ‘Its a Bugatti Spaceship’. Pembuka ala Marvel berunculan di layar, panel-panel komik para superhero.

Present day adalah sambungan dari pembuka kisah Civil War, raja Wakanda T’Chaka (John Kani) tewas dalam serangan teroris, tampuk pimpinan kosong. T’Challa (Chadwick Boseman) didapuk naik, tapi sesuai tradisi. Untuk jadi raja ada pengesahan dengan memberi kesempatan bagi para penantang, saat itulah salah satu kepala suku mengajukan diri. Pertarungan one-on-one disajikan dengan gaya keren – relevan dengan kejantanan. Bagaimana pertarungan fair harus dijaga. Di sebuah air mancur, disaksikan warga. Sesempit apapun kesempatan lawan, kita pasti bisa prediksi Challa bakal menang. Seolah ini hanya alur have fun. Kaget juga ada aktor besar Forest Whitaker bermain sebagai Zuri, sebagai tetua dan pengesah kekuasaan. Sayangnya nantinya beliau mustahil melanjutkan peran dalam sekuel.

Dengan luka yang ada raja baru Wakanda itu ‘dikirim’ ke sebuah dimensi antah, sebuah set dunia antara untuk bertemu dengan almarhum ayahanda dan seluruh raja yang telah tiada. Dalam bentuk macan hitam – black panther. Adegan penuh petuah, penuh nasehat ditampilkan. Bagus. pinter. Imajinatif. “A man who has not prepared his children for his own death has failed as father.’

Sementara di Inggris sebuah pencurian seolah artefak vibranium terjadi di museum. Kiranya dipimpin oleh Klaue (Andy Serkis) Dengan gaya para perampok menyikat barang curian secara elegan. Adegan macam gini sudah sangat banyak dibuat, sering penjahatnya pura-pura sakit didorong paramedis yang menunggu di ambulance dan ternyata semua penjahat. Sudah sangat umum, sehingga jadinya biasa saja. Laiknya Joker atau Bane yang menyerahkan diri tersamar lalu booom melawan. Yah, setidaknya Killmonger (dimainakn dengan jantan oleh Michael B. Jordan) menjaga kelas karena sampai akhir ia memberi sentuhan semangat antagonis berperasaan yang luar biasa. Kasus pertama sesungguhnya film ini muncul, Klaue diburu warga Wakanda atas kejahatannya. Kita diajak ke Korea Selatan. Dalam pemburuan aksi megah bak film-film James Bond, sang villain rencananya mau transaksi, para CIA Amerika mencoba cegah, jagoan kita coba seret Klaue pulang. Bentrok kepentingan ini mengacaukan segalanya. Dengan pertarungan jalanan penuh balap, ini seperti summer movie. Action dan ledakan di mana-mana, penjahatnya gagal ditangkap, Challa kena omel warga. Agen CIA Everett K. Ross (Martin Freeman) terluka dan dibawa ke Wakanda untuk diobati. Obat herbal what?!

Sementara diluarduga Klaue malah dibunuh oleh Killmonger. Penjahat utama kisah ini ternyata adalah warga Wakanda jua yang dengan kantong berisi mayat Klaue membawanya ke Wakanda. Bertemu dengan W’Kabi (ih Daniel Kaluuya – kamu ngeselin banget di sini) dan mengklaim hak raja. Karena ia punya garis keturunan, ia adalah orang yang terbuang. Taaa-daaa…. Ia adalah anak kecil yang ada di adegan pembuka. Maka saat rapat sambil ngopi, ia meminta pertarungan one-on-one.Hey auntie…”

Permintaan itu dipenuhi, pertarungan tersaji. Kini lebih seru dan menegangkan, dan saya menebak jagoan keok terbukti. Hero falls. Sayangnya, harapan Challa tewas terpenggal gagal (haha… imposible jagoan ini tewas lha di Civil War dan akhirnya Infinity muncul kok). Karena kita tahu, sang Black Panther sesungguhnya ya dia, dan seperti di Civil War ia punya andil jadi kalau Challa tewas maka Invinity War ya wassalam. Raja dilempar dalam debur air terjun. Di sini sekalipun keadaan genting, raja oleh sang kekasih dan penjaga dibilang tewas, saya tahu itu tak mungkin. Civil War sudah memberi bukti siapa sang Kucing Hitam. Yang jelas bukan Killmonger ‘kan? “I’ve waited my whole life for this. The world’s going to start over. I am burn it all!

Killmonger sebagai raja baru memerintahkan membakar segala obat herbal heart-shaped setelah dengan gaya bertemu almarhum ayahnya. Menanyakan akar masalah masa lalu, dan kekecewaan itu disajikan (mencoba) terlihat sangar. ‘People die every day. That’s just part of life around here.’ Karena di sini Killmonger adalah antagonis maka ia sebagai raja baru langsung memerintahkan invasi ke dunia luar. Pokoknya dibaut jahat, ambisius dan tak ada logika. Mengerahkan armada untuk menyerang keluar Wakanda. Bak sebuah episode perebutan takhta dalam serial A Game of Throne semua serba cepat dan kejam. Dan sangat ambisius. Dan seperti yang kita duga, raja selamat. Recover instan heart-shaped udah diselamatkan sebagian, lalu menyiapkan serangan balik. Dalam adegan dua black panther kisah ini menemui epic ending. Seru, tegang dan amburadul!

Filmnya memang bagus, tapi tak original. Banyak hal keren di kisah lain, dicomot, dimodifikasi lalu dibentuk lagi seakan perubahan panel komik ke layar lebar adalah murni aplikasi penggeseran. Padahal kisah utama Black Panther bukan barang baru. Apalagi banyak adegan ngantuk, hype itu berlebihan. Bagus namun tak istimewa. Film ini dibintangi Lupita Nyong’o sebagai Nakia, kekasih sang jagoan. Perannya ga signifikan. Mau diperankan Jenifer Lopez atau Kiki Fatmala tak terlalu berpengaruh. “I would make a great queen, because I am so stubborn.” Justru peran Shuri (Letitia Wright) yang membantu menyiapkan segala peralatan dan kecanggihan Wakanda yang berhasil mencuri hati. Seolah ia adalah Iron (wo)Man versi Afrika. Canggih dan sangat membantu. “Much more for you to learn.” Lalu sang panglima perang Okoye (Danai Gurira) juga menonjol, sangat pas dan benar-benar efisien membuat laga dan drama perang menjadi sangat hidup. Kegamangannya akan membantu sang raja yang terjatuh atau mengabdi pada raja baru yang sah tampak sungguh natural. Seakan ia seorang Winterfall yang bingung mau dukung Raja Robert kesruduk babi atau ikut dalam pertaruhan perebutan Takhta. “I am loyal to that throne, no matter who sits on it.”

Jangan lupakan juga Stan Lee, cameo beliau di setiap film Marvel patut diacungi jempol. Maestro ini muncul di sela-sela judi yang haus dan sebenarnya kalau kita tak tahu siapa beliau akan tampak annoying. “You know what? I am just going to take these chips and set them over here.

Kesuksesan komersial film ini diluarduga, banyak mematahkan rekor dan melaju tak terkendali karena tayang di bioskop lama. Di Karawang bahkan tembus dua bulan! Tayang sejak Februari dan baru turun bulan lalu jelang Infinity. Gilax! Memang ini seakan adalah selebrasi kaum kulit hitam, acuan pahlawan mereka yang punya hajat di bioskop, borong tiket, nonton berkali-kali. Luar biasa, sungguh rekor box office yang sangat mengejutkan.

ACSnya jelas menjadi jembatan menuju Infinity karena Shuri bertemu Bucky Barnes. Aksi sang Black Panther yang akan membantu dunia untuk kemajuan teknologi padahal dari warga petani, senyumin aja. ‘Its a third world country. Textiles, shepherds, cool outfits.’ Dan kalimat akhir yang sangat jelas: ‘Black Panther will return in Infinity War’ dan seperti yang kita lihat saat ini, Wakanda jadi ajang perang yang menggelegarkan Thanos.

Black Panther 2 dalam pengembangan, Marvel semakin hari semakin menggila, seakan teriakan Okoye ke telinga fan DC mengencang setiap menitnya: Wakanda Forever!

Glory for Hanuman.’

Black Panther | Year 2018 | Directed by Ryan Coogler | Screenplay Ryan Coogler | Cast Chadwick Boseman, Michael B. Jordan, Lupita Nyong’o, Danai Gurira, Martin Freeman, Daniel Kaluuya, Letitia Wright, Forest Whitaker, Andy Serkis, John Kani | Skor: 4/5

Karawang, 2602 – 2203 – 1505 2018 – Sherina Munaf – Simfoni Hitam

Ditulis pada 26 Februari, saya hold karena kejar Oscar. Dan baru saya lanjutkan, edit Maret, terhenti lagi. Dan saya lanjutkan bulan Mei ini.

Pekan Ke 37: Crotone Vs Lazio

Pekan 37: Crotone v Lazio
PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1):
Strakosha;
Caceres, de Vrij, Radu;
Marusic, Murgia, Leiva, Milinkovic, Lulic; Felipe Anderson;
Caicedo.

LBP 0-3
Inter haha. Icardi haha. Saatnya memastikan ke Liga Para Juara.

Bagas
Crotone 0 – 4 Lazio, Nani
Lazio mampu mengandaskan Crotone dengan skor 4-0 kala mereka bertemu Desember lalu. Gol Lazio kala itu dicetak Jordan Lukaku, Ciro Imobile, Senad Lulic serta Felipe Anderson. Semoga skore terulang kembali.

Siska X
Crotone 1-3 Lazio
Luis Alberto
Dengan selisih hanya 2 poin dari peringkat 3 dan 5, mau tidak mau Lazio harus bisa mendapat poin sempurna. Selain untuk memantapkan posisi di 4 besar, raihan 3 poin juga bisa menambah jarak dg posisi kelima. No Ciro no problemo, kan ada Luis Alberto 🤭

AW X
Crotone 1-2 Lazio, Alberto
Lazio akan degradasikan Crotone. Mungkin Lazio tanpa Immobile. Alberto siap rame-rame..

Kirana
Croto 0-2 Lazy, Savic
Lazio pasti menang. Dua gol akan disarangkan ke gawang lawan. Kalo gak percaya tanya aja Budi.

Michelle Trachtenberg Prayitno
Crotone 0-2 Lazio; Marusic
Matahari hampir terbenam, ketika kami berdua menikmati suara Samudera, yang dengan lembut menyapu tanah. Kita sedang tidur, kamu dan aku. Dengan aroma pohon tulip di bawah langit berbintang di balkon yang romantis.

DC
Crotone 2-1 Lazio
Simy
Partai hidup mati bagi ke 2 tim. Satu menghindari relegasi satunya mengamankan tiket UCL. Tuan rumah unggul tipis

Damar IRR
Croto 0-1 Lazio. Radu
Tuan rumah akan kalah. Lazio tanpa Immobile masih akan menang di laga ini. Bisogna Vincere.

Agustino Calciopoli
Crotone 2 – 2 lazio
Nani
Lazio kembali tersandung pekan ini.Membuat peluang bermain di UCL semakin tipis.Setipis pantyliner.

AP
Crotone v Lazio 0-1
Felipe Anderson
Lazio harus menang di Ezio Scida. Pekan terakhir akan menjalani playoff UCL melawan inter. Tanpa kehadiran no 17 & 18 akan membuat Felipe Anderson jadi pahlawan kali ini.

Takdir
Crotone 1-2 Lazio, Felipe Bale
Tahun lalu jelang akhir kompetisi kejadian mirip ini. Crotone berjuang lolos degradasi, Lazio berjuang ke liga juara. Akhirnya kita tahu Crotone bertahan di Serie A, Lazio main di Liga Sparing. Tahun ini Lazio punya laga lebih menentukan di akhir dengan Inter. Sejatinya laga lebih menentukan ada di Inter V Sassoulo makanya Jak-Lazio TV pilih mereka yang live. Leg satu dicukur tujuh gol, kalau gagal poin penuh Inter emang tim labil, kayak Arif yang menanti ketidakpastian Sis. Jadi Lazio ke UCL musim depan? Ya. Segrup dengan Barcelona langsung. Manteb to.

Cibitung, 140518
Nella Kharisma – Ninja – Gnd and Gnz

Pekan Ke 36: Lazio Vs Atlanta

Pekan Ke 36: Lazio Vs Atlanta
Prakiraan formasi

3-5-1-1
Strakosha
Caceres-De vrij-Ramos
Marusic-Murgia-Leiva-Sergej-Lulic
FA
Caicedo

LBP
3-0
Pekan pekan krusial. Penting untuk menjauh Inter. Apakah Berisha akan berpelukan dengan Radu di akhir laga?

Chloe Grace Prayitno
Lazio 2-2 Atalanta; gol by Immo
Degrit terlalu bernafsu untuk mengejar kemenangan. Meski lawan cuma Atalanta, tapi mereka sudah membayangkan seperti sedang berhadapan dengan Barcelona. Alhasil ketika Josip Ilicic gocek sana gocek sini, mereka seperti sedang melihat Messi. Tahu tahu eh udah gagal menang. Mereka harus konsentrasi lagi pekan depan agar posisi 4 tak lepas.

AW
Lazio 2-1 Atalanta, Alberto
Lazio bakal greng. Atalanta lagi greng. Alberto golin biar ganteng.

Bgs
Lazio 1 – 0 Atalanta, Luis Alberto
Menang tipis gak masalah, yang penting menang, Lazio lolos UCL.

Massimo Agustini
Lazio 1 – 1 Atalanta
Alberto
Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekali. Semua semua dapat dikabulkan, dapat dikabulkan oleh mas Nani.

DC
Lazio 2-0 Atalanta
Lulic
Main dikandang. Menjauh dari jejaran Inter buat 1 tiket UCL. Itu cukup jadi motivasi buat Lazio. Menang.

AP
Lazio v atalanta 1-0
Sergej Milinkovic-Savic
Lazio kini punya tabungan 4 poin dr Inter. Posisi Lazio nyaman untuk lolos ke UCL. Fokus, Lazio !

Indah Santika
Lazio v atalanta 2-0
Sergej Milinkovic-Savic
Lazio harus memenangi 2 laga versus Atalanta & Crotone. Para pemain semangat untuk lolos ke UCL. Savic harus bermain bagus lagi jika mau di beli MU

Kirana
4-2 , immobile
Lazio pasti menang.
Lazio pasti menang.
Lazio pasti menang.

Takdir
Lazio 1-0 Atlanta, Caicedo
Tanpa Immobile bisa apa? Mustahil pesta gol, tapi menang pasti. Saatnya kunci Posisi Champion?

Purwakarta, 060518