Keju #9

Keju #9

Kau tahu kan aku tak kan dapat menerima gaji yang begitu tinggi tanpa kewajian menjaul barang konsinyasi dalam tempo yang sewajarnya. Hal itu jelas amoral.

Novel mini dari Belanda. Dengan kover sederhana, judul sederhana, warna kuning yang juga sangat sederhana, tapi kisahnya di era 1930 jelas tak sederhana. Beruntung sekali saya menemukannya di tumpukan buku obral di Carefour Karawang Februari lalu. Kubaca cepat saat seminar HR di Forum HR SCI saat materi yang disampaikan boring, dan kutandaskan di rumah segera setelahnya. Novel dewasa yang padat dan sungguh bagus, terutama endingnya yang wah salah duga. Detail Belanda era itu yang menakjub dan segala usaha untuk bertahan hidup dalam berjualan dengan keterbatasan skill dan pengetahuan. Sejatinya ini bakal menghentak sebuah kisah sukses seorang pegawai yang merintis karir usaha wiraswasta, menginspirasi banyak buruh untuk mandiri dan menantang kerasnya hidup menjadi seorang pekerja yang tak bergaji rutin tiap bulan. Sejatinya bakal jadi penuturan asli petuah Tum Desem Waringin, Pak Bondan Winarno, Chairil Tandjung atau segala para pengusaha sukses yang menjadi pembicara motivasi di tv-tv yang menggebu untuk bilang ‘ayoooo mulai usaha, sekarang, kapan lagi?’ Sejatinya bakal jadi nasehat bijak untuk mencoba. Nyatanya malah kita dihadapkan sebuah kisah mengharu. Apa itu, yah kejutan utamanya di sana.
Kisahnya tentang seorang pekerja kantor di galangan kapal General Marine And Shipbuilding Company, Frans Laarmans yang mencoba untuk berwirausaha. Dibuka dengan kematian ibunya yang tua, Frans mengantar kita dengan kalimat, ‘… karena ada masalah besar, yang sesungguhnya terjadi akibat perbuatan Mijnheer Van Schoonbeke…’ jadi nantinya segala pusat konflik ini bermula dari sahabatnya itu.
Ibunya yang sudah pikun tak sanggup lagi membedakan kemarin dan hari esok, keduanya berarti sama ‘bukan sekarang’. Bagaimanapun ibu tidak bisa membedakan siang dan malam, terjaga ketika tidur dan tidur ketika seharusnya bercakap-cakap. Maka ketika akhirnya beliau meninggal di hari senjanya, semua keluarga segera berkumpul untuk menghantar ke peristirahatan terakhir dengan khidmat. Ketika semua berkumpul, sebaiknya aku berdiri atau duduk? Kalau aku berdiri kesannya aku segera beranjak, kalau aku duduk keadaan seolah aman-aman saja. Kakaknya Dokter Laarmans tentu saja juga hadir, dan di sanalah saat hari berkabung itu Frans berkenalan dengan Mijnheer sahabat kakaknya, iseng di Gereja itu dia mengundang Frnas datang.
Mijnheer adalah bujang mapan kaya raya, uangnya berlimpah dan semua temannya kaum berada, hakim, pengacara, saudagar, mantan saudagar. Semua temannya punya mobil, kecuali aku, abangku dan tuan rumah yang memang tak berniat punya. Sebagai kerani kapal kalian tahu, posisiku tak dianggap dalam kaum borjius ini saat berkumpul. Komunitas orang kaya ini selalu berbicara tinggi dan tampak mewah. Maka saat aku diperkanalkan, Mijnheer dengan cerdas bilang, “Mijnheer Laarmar dari Perusahaan Perkapalan”, yang ketika diperkenalkan lebih jauh pada bertanya, ‘Anda insinyur? Inspektur?’ Frans pun menyesuaikan diri dengan kaum atas ini, dan perbincangan lebih lanjut malah membuatnya terpesona untuk mencoba jadi pengusaha.
Perbincangan tentang restoran-restoran kelas wahid, Saulieu, Dijon, Grenoble, Digne, Grasse, Nice, Monte Carlo dan akhirnya menyebut Duinkerken, satu-satunya restoran yang pernah dikunjungi Frans, “Restoran Jean-Bart di Duinkerken juga istimewa.” Walau sudah siap-siap, tetap saja aku tertegun mendengar suaraku sendiri. Van Schoonbeke menawarkanku menjadi perwakilan suatu perusahaan besar Belanda di Belgia, maka saat ditanya perusahaan apa? Ia menjawab, “Keju. Produk ini selalu laku, sebab orang harus makan, bukan?”
Menjelang usia lima puluh tahun saat dedikasi tiga puluh tahun meninggalkan jejak di kerani, otak Frans berpacu. Kerani jabatan rendah, selama inikah aku terbelenggu zona nyaman sebagai buruh? Sebagai pekerja kasar dengan penghasilan pas-pasan? Apakah terlambat memulai usaha keju? Tidak! Maka dengan keberanian dan kenekatan sesaat, Frans berkomunikasi dengan istri. Ranjang kami menjadi tempat paling tepat untuk membicarakan urusan genting. Jika menyangkut istri dan anak, kita harus hati-hati.
Maka diputuskan mundur dari bekerja di galangan kapal. Luar biasa! Esoknya ternyata tak berjalan mulus, dia ditahan rekannya untuk jangan resign. “Kau harus kerja keras. Meski demikian kalau aku jadi kau, harus hati-hati. Di galangan kau bisa tenang, bekerja dengan gaji tetap.” Maka berkat ide Hamer, Frans tidak mengundurkan diri, iapun izin meninggalkan pekerjaan sampai batas waktu yang tidak ditetapkan karena sakit syaraf. Surat Keterangan Dokter – SKDnya? Ya dari abangnya. Wew, berani sekali mengambil resiko besar ini. Cuti sakit syaraf, ide bagus juga. Dan terbentanglah dunia keju di hadapanku.
Pengusaha harus mengikuti akal sehat, walau logika kacau. USAHA DAGANG KEJU – Verdussenstraat 170, Antwerpen. Aku bingung memilih alamat telegram, antara tukangkeju, bolakeju, dagangkeju, tempatkeju, kejuLaarma, kejuPrncis, sebab paling banyak sepuluh huruf, maka ga ada yang diambil. Frans memutuskan mengambil alamat telegran Apfa dari Gafpa dibalik tanpa G. Kop surat sudah ada, kantor dan peralatannya sudah siap. Aku tak habis pikir, bagaimana orang sederhana seperti dia dapat dengan cepat menemukan persyaratan yang memberatkan perjanjian kontrak Hornstra.
Kita tak bisa berfikir sementara bertelepon menurutku. Bagiku terlalu cepat. Masalah keju akulah yang menentukan, bukankah aku Gafpa? Kiriman pertama adalah barisan depan pasukan yang harus kukenal secara pribadi. Maka hari demi hari Frans disibukkan dengan bau harum keju akan semangat kerja keras tak mengenal waktu. Ada kebangga tersendiri pada akhirnya saat berkumpul dengan renak Van Schoonbeke, kukatakan keju hanyalah usaha sampingan namun produk-produk lain untuk sementara hanya dijual pada pedagang besar. Kata ‘kita’ itu menyenangkan hati, dia hidup demi dan untuk berbagi tanggung jawab. Berhasilkah Frans Laarmans menemui kesuksesan yang diidamkan pengusaha?
Dalam seni tidak ada percobaan. Jangalah coba memaki jika kau tak marah, jangan coba menangis jika jiwamu kering, jangan bersorak jika kau tak penuh keriangan. Kita bisa saja mencoba memanggang roti tapi kita tak kan bisa menciptakan roti. Kita juga tak bisa mengungkapkan segalanya bila ada kehamilan, pastinya akan ada kelahiran bila waktunya tiba.
Ini novel Belanda yang sangat renyah, enak dan lembur persis sepeti keju tiu sendiri. Nama-namanya agak sulit dieja khas Eropa Barat. Maka kulakukan hal itu, seperti orang sakit yang diam-diam ke dukun tanpa sepengetahuan dokter. Nah, itulah yang terasa. Ingin jadi pengusaha tapi tak ingin melepas gaji tetap di Perusahaan. Ingin tetap nyaman tiap bulan berpenghasilan namun melihat kata ‘Pengusaha’ yang mentereng juga terpincut ingin coba. Yah, inilah dunia. Serba fana. Perasaan Frans tahun 1930an itu masih relevan untuk saat ini, dan akan masih pas satu abad lagi. Dunia bisnis ya gini, penghasilan sendiri, pekerja, atau pasive income? Segalanya punya satu kesamaan: Kerja Keras!
Keju | by Willem Elsschot | diterjemahkan dari Kaas | copyright 1969 | Erven Alfons Jozef de Ridder | Amsterdam, Anthenaeum – Polak & Van Gennep | Publication has been made possible with the financial support of Eramus Huis and Eramus Dutch Language Center (Jakarta) | alih bahasa Jugiarie Soegiarto | Editor Dini Pandia | GM 402 01 10 0031 | Desain sampul Martin Dima | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Mei 2010 | 176 hlm; 11 cm | ISBN-13: 978-979-22-5767-0 | Skor: 4,5/5
Karawang, 090618 – 5 Seconds Of Summer – Amnesia
#9 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Rahasia Di Balik Kesuksesan Para Maestro Penulis Besar Dunia #8

Rahasia Di Balik Kesuksesan Para Maestro Penulis Besar Dunia #8
Sudah kuduga sih isinya bakal kulitnya saja, ga akan detail. Dengan buku setipis ini mencantumkan banyak Penulis mana mungkin rahasia penting beliau-beliau terungkap di sini dengan gamblang. Kubaca cepat di #JanuariBaca tahun ini tanpa banyak ekspeltasi. Ada sih beberapa kutipan bagus, tapi sisanya hanya profil dan keterangan sederhana yang bisa dnegan mudah kita akses di Wikipedia. Sayang sekali di era digital gini buku cetak yang ditawarkan terlalu umum, harusnya disusun dengan lebih berbobot, lebih bervitamin dan menunjang memotivasi pembaca. Lha ini copy-paste dari situs, atau tulis ulang tanpa banyak pendapat, ide atau gagasan dari Penulisnya sendiri seakan buku ini hanyalah Tugas Akhir mahasiswa yang coba susun.
Ada 25 Penulis yang dinukil kisahnya, semua sudah bisa diakses di web. Gampang dan mudah. Sebuah karya seharusnya menyertai pandangan Penulis, ini sih enggak. Sekedar mengambil hikmah dan garis hidup orang lain. bukan, bukan semacam biografi. Kalau biografi butuh penelusuran intens, butuh telaah dan survey dan penelitian. Buku ini sekedar copas, walau daftar pustakanya banyak dan berat naun jelas buku ini ga berat atau bergizi.
Saya ambil saja 25 kutipan setiap ganti bab, yang mana semuanya juga gampang dicari di twitter.
Christie: Seorang arkeolog adalah suami terbaik yang bisa didapatkan seorang perempuan, bila sang istri semakin tua ia akan semakin menarik.
Chekov: Kita seharusnya menemukan kedamaian, kita seharusnya mendengar apa yang disampaikan malaikat, kita seharusnya melihat langit berbicara dengan taburan intan berlian.
Conan: Orang yang berkemampaun rata-rata tidak tahu apa-apa yang lebih tinggi daripada dirinya, tapi orang berbakat selalu bisa menyadari suatu kejeniusan.
Meyer: Walaupun banyak urusan lain yang perlu saya lakukan, saya tidak beranjak dari kastil dan asyik memikirkan mimpi itu. saya paksa diri untuk bangun dan selesaikan urusan di rumah. Selepsa semua selesai, pada sebelah malam saya ke komputer dan menulis beberapa nota kecil di kertas. Saya heran mengapa saya selalu memikirkannya.
Gibran: Sungguh, kesenangan adalah lagu kebebasan dan aku suka engkau menyanyikannya dnegan sepenuh hati meskipun aku tak ingin ikut bernyanyi.
Rumi: Oh Tuhan sudah kutemukan cinta! Betapa menakjubkan, betapa hebat, betapa indahnya. Kuhaturkan puja-puji bagi gairah yang bangkit. Dan menghiasai alam semesta ini maupun segala apa yang ada di dalamnya.
Dickens: Bersikaplah alami ankku. Karena penulis yang alami telah memenuhi aturan seni.
Allan Poe: Tak terlalu penting tentang ‘apa yang telah terjadi’, namun yang terpenting ialah bertanya tentang ‘apa yang telah terjadi pada sebelumnyatak pernah terjadi’
Hemingway: Ayahku berkata kepadaku, jangan membunuh apapun yang kau makan. Pada usia sembilan tahun, aku menembak seekor landak. Itu adalah pelajaran yang paling berat yang pernah kuperoleh.
Goethe: Beribu-ribu pikiran dalam diri senantiasa naik-turun dalam diriku. Jiwaku bagaikan pesta kembang api nan abadi, tak pernah istirahat.
Goenawan: Yang indah memang bisa menghibur selama-lamanya, membubuhkan luka selama-lamanya, meskipun puisi dan benda seni bisa lenyap. Ia seakan-akan roh yang hadir dan pergi ketika kata dilupakan dan benda jadi aus. Tapi apa arti roh tanpa tubuh yang buncah dan terbelah? Keindahan tidak bisa jadi total, ia abstrak, dan manusia dan dunia tak akan pernah menyapa lagi.
Rowling: Apa yang paling saya takuti di usia saya seperti Anda? Bukan kemiskinan, tetapi kegagalan. Kegagalan mengajarkansaya hal-hal tentang diri saya sendiri bahwa saya bisa belajar.
Tolstoy: Saya tahu bahwa kebanyakan orang, termasuk mereka yang malah menghadapi masalah-masalah paling rumit pun, jarang bisa menerima kebenaran yang paling sederhana dan paling jelas.
Iqbal: Melodi perpisahan boleh menggema atau tidak. Bunyi nafiri boleh bertiup lagi dari hijaz atau tidak. Saat si fakir telah sampai ke batas terakhir. Pujangga lain boleh datang atau tidak.
Mahfouz: Setiap orang memeluk rahasianya sendiri, memilikinya untuk diri sendiri. Setiap waktu yang kita lalui membutuhkan kesabaran dan kebijaksanaan.
Gogol: Pokok dari ‘Jiwa-Jiwa Mati’ tidak ada hubungannya dengan penggambaran mengenai kehidupan pedesaan Rusia ataupun segelintir tuan tanah yang memberontak. Untuk sementara waktu itu adalah suatu rahasia yang harus dengan mendadak dan menakjubkan setiap orang (karena hingga sekarang tak seorang pun pembacaku yang telah menerkanya.
Pamuk: Tak satupun yang berubah dalam hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menghabiskan 30 tahun dalam menulis fiksi. Selama 10 tahun pertama, saya kuatir tentang uang dan tak seorangpun bertanay berapa banyak uang yang saya hasilkan. Dekade kedua saya menghabiskan uang dan tak seoarnpun bertanay tentang hal itu.
Coelho: Kalau kau merasa takdirmu, pergi dan carilah. Hanya manusia yang bahagia yang dapat menciptakan kebahagiaan di hati sesamanya.
Neruda: Carilah, hanya ada satu benda yang berbahaya untuk kalian di sini, puisi.
Pramoedya: batu-batu kali, kerikil, dan cadas pun bisa menyatakan perasaannya. Jangan meremehkan satu orang, apalagi dua. Karena satu pribadipun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.
Tagore: Ketika semua dawai kehidupanku akan dimainkan, maka pada setiap sentuhanMu akan muncul musik cinta.
King: Jika anda ingin menjadi penulis, Anda harus melakukan dua hal di atas segalanya, membaca yang banyak, menulis yang banyak.
Morisson: Karya dan kata adalah agung, sebab ia generatif, dia menghasilkan makna yang menjamin perbedaan kita, perbedaan manusiawi kita, inilah jalan yang membuat kita tidak sama dengan kehiduapn orang lain.
Shakespeare: Beberapa orang dilahirkan besar, beberapa meraih kebesaran, dan beberapa meraih kebesaran yang dipercayakan pada mereka.
Rendra: Hidup tidak untuk mengeluh tetapi untuk mengolah hidup, bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan semesta serta mengukir sejarah demi kehormatan seorang manusia.
Sungguh aneh sekali, lima besar best novel 100 ku ga masuk dalam daftar! Kok bisa? Memasukkan Goenawan Muhammad ketimbang George Orwell, memasukkan Muhamad Iqbal ketimbang William Faulkner. Makin menurunkan rate. Sebagian besar dari 25 Penulis yang tertera sudha kubaca karyanya. Sebagian jelas sudah kuulas jua di blog ini.
Yah, anggap saja ini sekedar tamasya santai menikmati kisah sekilas lewat para tokoh literasi. Jelas buku ini ga ‘Inspiratif & Menggugah’ seperti yang diiklankan kover depan. Ini juga menjadi buku pertama terbitan Parasmu. Baru tahu ada penerbit indi bernama ini. Saya sarankan Penulis membaca 100 novel paling berpengaruh yang ditarik timeline dari SM sampai abad milenium. Recomended!
Rahasia Di Balik Kesuksesan Para Maestro Penulis Besar Dunia | disusun oleh Jingga Gemilang | editor Adhon MK | layout Deriko Arter | desain kover Alfa | cetakan I, Februari 2014 | 13,5 x 20,5 cm, 188 hlm | ISBN 978-602-1676-47-9 | Penerbit Parasmu | Skor: 2/5
Karawang, 0800618 – Can’t Remeber To Forget You
#8 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku