Menjemput Rezeki #12

Menjemput Rezeki #12

Orang-orang yang tidak mengenal saya secara personal, mungkin langsung menuduh saya narsis…

Benar. Saya tak mengenalnya lebih dekat, saya sekedar lewat lihat akun beliau di sosmed dan nasehatnya pun juga sebagian kecil yang nempel di kepala, maka saya tidak menuduh Pak Ippho narsis tapi memastikannya narsis berkat buku ini. Kalau sudah feeling buruk kenapa juga masih dilakukan? Dengan buku setipis ini, berisi foto-foto pribadi dan jual mahal bagaimana bisa nekad dicetak dan dijual bebas. Astaga… sungguh mengerikan. Ini salah satu buku paling tidak berbobot yang pernah kubaca, CD nya juga unfaedah, standar doang. Lalu bagaimana bisa meyakinkan Penerbit untuk mencetak dan menyebarluaskan kenarsisan akut gini? Jawabnya ya mungkin karena trust, nama besar Ippho masih bisa menghasilkan uang sekalipun kualitas diredam lumpur terdalam. Mengabaikan segala logika dan analis, tak peduli nantinya hostori dan segala ulasan pembaca, yang penting hasilkan duit maka jadilah buku ‘Menjemput Rezeki’ terpajang di toko buku.

Ini buku kedua beliau yang kubaca, sebelumnya juga masuk ke tomat busuk: Success Protocol yang isinya alamak biasa banget. Buku motivasi seharunya memotivasi, bukan jual diri, pamer materi dan hikayat juang ala kadar bahwa sudah ini itu. Kecuali sudah sehebat pak presiden, lha ini ‘cuma’ motivator bagaimana bisa pede bikin album foto dijual bebas.
Isinya selain foto narsis juga kutipan-kutipan orang terkenal yang mana bisa dengan mudah kita copas dari twitter. Selain itu? Sekedar fun fact dunia dari olahan data orang lain yang lagi-lagi bisa diambil di web manapun. Dengan modal Google, saya bisa bikin buku saku ‘Menjemput Rezeki’ 10x lebih tebal dalam sehari! Ya ya ya… selain itu? Ga ada. Sungguh, buku full colour yang tak guna.

Dalam review singkatku di ig lazione.budy tertanggal 30 Januari 2018 bahkan saya bilang pengen muntah bacanya. “Hahaha… Agak curang ini buat kejar deadline baca. Garbage book yang dilibas tak lebih dari 10 menit. #MenjemputRezeki jelas salah satu buku terburuk yang pernah kubaca. Seharusnya ke-Narsis-an #IpphoSantosa biarkan tetap di sosmed, jangan dicetak, full colour lagi. Duh! Tak ada hal baru yang kudapat saat sampai halaman akhir. Kutipan, survey, foto narsis (lebih pas norak sih), nasehat. Yah senyap. Ini jelas bukan buku #motivasi ini album foto hahaha… #JanuariBaca Mbak @wuland.rani silakan lihat, muntah tanggung sendiri.”

Yak, anehnya esok hari setelah makan siang saya muntah beneran. Kata Iyul, teman semeja, saya kena kutuk sebab pos itu. Kok bisa? Tapi beneran ini buku payah banget, ga layak disebut buku. Saya yakin bukan saya aja, bukan pula karena kaum Adam, mereka yang lawan jenis pun melihat cowok narsis berselfie pastinya pengen muntah pula. Betul?
Sudahlah, mari kita tulis ulang beberapa kutipannya.

Anda tdak harus memahami everything untuk memulai something. Jika Anda berusaha menguasai everything, jangan-jangan Anda malah jadi nothing.
Anda tidak harus didukung everyone untuk menjadi someone. Jika Anda ingin menyenangkan everyone, jangan-jangan anda malah jadi no one.

Cara Anda melakukan something, mencerminkan cara Anda melakukan everything.

“I don’t know if we are the best team. I am lucky to br playing alongside the best players around.” – Zinedine Zidane

“Everybody knows two-pus-two is five.” – Shaquille O’Neal

“The most important decision I’ve made in business… the choices of people.” – Snoop Dogg

“Pergilh dari rumahmu demi lima faedah, yaitu menghilangkan kejenuhan, mencari bekal hidup, mencari ilmu, mencari teman dan belajar tata karma.” – Imam Syafi’i

Sepenting-pentingnya uang, lebih penting lagi ilmu dan akhlak di balik uang.

Menjemput Rezeki | oleh Ippho Santosa & Tim Khalifah | Penerbit Elex Media Komputindo | EMK: 236141381 | ISBN 978-602-02-4097-8 | Skor: 0.5/5

Karawang, 120618 – Sherina Munaf – Primadona
#12 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan