Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez

Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez

“Inilah penemuan terbesar dalam sejarah kita.”

Save the best for the last. Novel setebal alkitab yang brilian. Hikayat dalam angan. Sebuah kota fiktif Macondo menjadi saksi tempat menyatukan realitas dan fantasi. Sejarah-tak-resmi Amerika Latin bagaimana benda-benda ajaib ditemukan pertama kali dan mengubah banyak pola pikir. Dinasti Buendia dalam tujuh generasi di mana generasi pertama adalah pondasi menuju banyak konflik. “Kau tidak usah mengeluh. Anak-anak memang mewarisi kegilaan orangtua-nya.” Benturan-benturan di lingkungan, keterlibatan dan penolakan sistem politik praktis, hinggap pola seteru dan kawan, pertarungan yang berlarut hingga bisakah keadilan ditegakkan, bahkan di kota fiktif rasa simpati pun tercerabut.

Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenangn suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajak dia untuk menemukan es. Sebuah pembuka kisah yang legendaris. Sangat terkenal, sngat spoiler, sangat fenomenal. Namun cara tutur seperti ini menyimpan daya ledak. “Itu adalah intan paling besar di dunia.” Bukan. Ini adalah es. Jose Arcadio Buendia adalah sosok yang mudah takjub, puja kerang ajaib! Mudah larut akan kehebatan ilmu pengetahuan. Dari orang gipsi yang datang ke kota Macondo ia bertaruh segalanya. “Hidup ini akan membusuk di sini tanpa bisa menerima keuntungan dari ilmu pengetahuan.”

Dimulai dari besi sembrani, magnet yang bisa menarik pot, panci, tang dan kompor. Menarik besi dan baja. Ia takjub dan terpesona. Benda-benda memang memiliki hidupnya sendiri. Ia tukar bagal dan sepasang kambingnya demi dua besi ajaib itu. Ia menyelami sungai mencari emas, namun sampah baju zirah perang yang ditemukan selain besi rongsok tak guna di dasar laut. “Tepat di sana, di seberang sungai itu terdapat segala macam peralatan ajaib, sementara kita di sini hidup seperti keledai.”

Orang gipsi kembali membawa teropong ajaib (lupakan sesaat amber spyglass), di mana orang jauh bisa dilihat seakan dalam jangkauan tangan. Ia tukar lagi barang lagi demi alat itu, bagaimana bisa membakar kertas dengan teropong melalui matahari? Demi hak cipta, mematenkan gaya namun tak kunjung menerima jawab. Lalu balok es yang bak kristal. Bagaimana bisa air terperangkap dalam benda padat yang mengkristal? “Telah dibuktikan bahwa yang namanya setan itu memiliki benda-benda sulfur, dan yang ada padaku ini adalah sedikit sublimat korosif.” Ringkasanya mereka mengambil jalan yang berlawanan dengan jalan ke Riohacha.

Istrinya Ursula selalu mengeluh atas kegilaan Jose. Debat jadi hal biasa dalam keluarga. “Kita tidak akan pindah. Kita akan tinggal karena anak laki-laki kita lahir di sini.” Kata Ursula. | “Sampai sekarang belum ada keluarga kita yang meninggal di sini.” Kata suaminya. “Seseorang tak akan terikat pada suatu tempat sampai ada yang meninggal dan dikuburkan di sini, di tanah ini.”

“Sup itu tumpah.” Cinta adalah perasaan yang sebenarnya lebih Indah dan lebih dalam daripada bahagia itu sendiri, liar tetapi sesaat, seperti mereka telah menjalani malam-malam mereka secara diam-diam. “Biarkan mereka bermimpi. Kita akan membuat alat terbang yang lebih baik dibandingkan yang mereka kerjakan, dengan bahan-bahan yang lebih ilmiah dan bukan rongsokan tempat tidur.”

Ia telah memohon dengan sepenuh hati dari lubuk hatinya yang paling dalam, agar kerinduan akan keajaiban itu bukanlah menemukan apa yang disebut telur filsuf, atau membebaskan pernafasan yang membuat benda-benda menjadi hidup atau kemampuan mengubah engsel-engsel dan kunci-kunci di rumah itu menjadi engsel-engsel dan kunci-kunci yang terbuat dari emas, tetapi adalah apa yang baru saja terjadi: kembalinya Ursula.

Figur ciptaan Marquez adalah manusia-manusia yang kita kenal, yang menakutkan sekaligus lucu, naif, tapi cerdik, gila tetapi sangat rasional, cantik tapi mengerikan, jahat sekaligus simpatik, yang ditulis jujur dan penuh rasa kemanusiaan. “Tak ada seorang pun yang kecewa kalau mereka tidak dibantu Pemerintah.” 

Ringkasnya 100 tahun kesunyian menampilkan ksempurnaan tata seni tulis dalam percobaan kimia yang gila-gilaan, percintaan yang ganas, pelacuran, perang saudara, hukuman mati sampai pada titik temu perabadan modern yang seakan adil. “Kami tidak membutuhkan hakim, sebab tak ada yang perlu dihakimi.”

Inilah novel sempurna, paket komplit segala kisah yang pernah ditulis.

Seratus Tahun Kesunyian | by Gabriel Garcia Marquez | diterjemahkan dari One Hundred Years of Solitude | Penguin Books Ltd., London 1972 | YBB. 163. 03 | Penerbit Bentang Budaya | cetakan pertama, Februari 2003 | penerjemah Max Arifin | penyunting Wendoko | perancang sampul Buldanul Khuri | gambar sampul Alfi | pemeriksa aksara Trie Hartini | penata aksara QAgus W Pambudi | ISBN 979-3062-57-6 | Skor: 5/5

Untuk Jomi Garcia Ascot dan Maria Elio

Karawang, 111117 – Taylor Swift – Red

Iklan

2 thoughts on “Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

  2. Meski bukunya bajakan, dengan kualitas kertas dan cetakan yg buram, tetap ga bisa lepas pas baca novel Gabo ini. Cara menarik untuk mengetahui sejarah Amerika Latin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s