Dawuk – Mahfud Ikhwan

Dawuk – Mahfud Ikhwan

Catatan akhir tahun.

Seakan sebuah pengulangan. Tepat akhir tahun lalu saya menulis ulasan Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, Raden Mandasia. Waktu itu saya tak tahu kalau Raden menang, maklumlah HP ku soak dan kudet. Hari ini saya menyelesaikan baca Dawuk, kali ini sudah ada stempel jawara di sampulnya, buku yang sangat bagus. Teramat bagus, karena kisah berlapisnya dinarasikan dengan indah. Bak dongeng yang dituturkan oleh peramu cerita handal. Kebetulan saja sih, bisa tepat akhir tahun. Karena beli Dawuk pas nunggu bonus akhir tahun, dan beli daring PaperbookPlane mendadak karena daftar yang disodorkan tersangkur budget. Kebetulan pula bukunya tak setebal al kitab, sehingga saya selesaikan baca dalam semalam. Diantara laga penutup tahun: Inter 0-0 Lazio. Dari bada Isya sampai Subuh, dengan jeda streaming Serie A dan tidur ayam.

Dawuk: “Kalau anak di perutmu tidak mampu menjagamu, mungkin aku juga tidak bisa menjaga janjiku padamu.”

Kisahnya berlapis walau tak serumit narasi Tarantino, tapi tetap lapisannya sungguh nikmat. Kita disodori sekelumit fakta demi fakta, dibuka lapis bawang demi lapis bawang dengan cara yang unik. Dari pembuka tentang Warto Kemplung yang membual di warung kopi Mbak Siti. Tentang bagaimana ia mendapat julukan si Pembual, alumni rantau Malaysia yang konon dekat sama mantan Perdana Menteri Anwar Ibrahim, sampai kehebatannya berhikayat sejarah desa mereka Rumbuk Randu. Ia adalah tukang bual nomor satu, penghutang di warung kopi yang menderet daftarnya. Dengan modal bualannya, ia menikmati bercangkir-cangkir kopi gratis dan merokok bak lokomotif cuma-Cuma dari para pengunjung yang sembrono menaruh rokok dan korek sembarangan. Ngepul, sekelebat terlihat mantab.

Warno – dijadikan narator utama kisah ini – menarik perhatian seisi pengunjung warung kopi dengan kisah-kisahnya. Ia membukanya dengan adegan pengepungan yang baru terjadi beberapa jam sebelumnya di sebuah rumah kandang dekat hutan, tentang Mat Dawuk – sang protagonis buku ini. Sakti madraguna. Awalnya tak banyak yang memperhatikan, yang main catur tetap bergeming mikir bidak kayu, yang main gaple terus melempar kartunya dengan semangat nampol, yang ngopi santai cuek. Tapi saat jerat kena, ia pun bertutur. Damn you Warto Kemplung! Sialan, aku jatuh hati sejak pembuka cerita. “Hanya setembakan mitraliur dari sini, penyerbuan paling gawat sejak pengepungan tentara Nippon ke Pesantren Kawak baru beberapa jam lalu terjadi, dan warung ini begini senyap? Tak seorang pun membicarakannya? Bah!”

Tentang Mat Dawuk, si buruk rupa yang menikahi primadona desa Inayatul. Nama asli Dawuk adalah Muhammad Dawud, indah sekali bukan? Ia lahir dengan keadaan piatu, ibunya tiada ketika ia hadir di dunia. Bapaknya mati konyol dengan tuak, disambar mobil lewat. Hidup bersama kakeknya Duwali, yang di usianya kelima menghilang. Sebatang kara, ia menggelandang di desa. Tidur di emperan masjid, di kuburan, di tegalan, wajahnya yang buruk rupa makin menjadi-jadi dengan perangainya yang keras. Apa yang lebih buruk dari mukanya? Nasibnya! Hingga suatu ketika ia menghilang. Menjadi Hitman, pembunuh bayaran. Tapi ia membunuh bukan tanpa alasan, ia membunuh para cecunguk yang pantas dibinasakan. Para selingkuh, para bajingan, para koruptor. Dengan ruyung kecil itulah ia melalangbuasa, nasib menghantarnya merantau ke Malaysia.

Inayatul, terlahir dengan kasih sayang keluarga. Bayi menggemaskan, yang jadi idaman ibu-ibu. Sehat, cantik, dan pintar. Sayangnya salah asuh, atau memang gen-nya emang nakal. Nantinya kita tahu, ada kutukan terurun yang mengaris kisah tragis ini. Sehingga saat beranjak remaja ia mendugal, genit dan sungguh celaka: hobi main senggama. Maka setamat sekolah agama, ayahnya Pak Imam rencana mau mengirimnya melanjut ke pesantren, namun Ina menolak. Ia lebih memilih menjauh – lebih jauh, seperti muda-mudi desa, ia merajut mimpi ke Malaysia. Belum cukup umur, ia sudah menikah. Di tanah rantau, ia nikah siri, tak tanggung-tanggung: empat kali. Celakanya, keempatnya tak bener. Pertama bos TKI yang memberangkatkannya, kaya. Punya banyak rumah, banyak mobil dan selurus – punya banyak istri. Ina yang ranum, tak kuasa menahan gejolak. Suami kedua nyaris dipilih secara acak, lelaki rantau yang sebenarnya punya anak-istri di kampung. Penghasilan pas-pasan, belum lagi dikirim sebagian ke keluarga asli, maka tentu saja tak akan bisa membahagiakan jiwa muda Ina. Suami ketiga tak seperti sebelumnya, menikah hanya untuk jaga nama karena seorang homo yang hobi menjamu pemuda tanggung. Hidup dengan harta menimpah, tanpa cinta. Pada akhirnya ia kabur sama salah satu pemuda kelon, yang akhirnya menjelma suami keempat. Yang ini lebih parah, tinggal dengan pemuda kekanakan yang membuat Ina luka fisik, maka ia kabur lagi.

Nasib menggariskan mereka berjumpa, di sebuah stasiun kereta bak adegan film sendu, Mat Dawuk menyelamatkan Ina dari suami wandunya. Mengajaknya tinggal, awalnya berniat sementara tapi nyatanya malah menjadikan mereka pasangan rumah tangga. Yap, inilah Beauty and the Beast versi Jawa. Mereka memutuskan pulang kampung, memadu kasih di tanah kelahiran, meminta restu orang tua yang jelas tak merestui, tinggal di bekas kandang sapi pinggir hutan. Ya, inilah kebahagiaan. Seperti kopi, cepat atau lambat akan habis. Semakin enak, maka semakin cepat habis. Ya, ya, kita kadang ingin berlama-lama menikmatinya, menghirupnya sedikit demi sedikit, mencecapnya lama di lidah, memainkan lama-lama di langit-langit, mengumurnya pelan-pelan, berlama-lama tak ingin buru-buru menelan. Tapi, mak beduduk, tahu-tahu begitu longok ke dasar cangkir, yang tersisa tinggal ampas.

Bagian ketika mereka bahagia sayang ya tak banyak, karena syarat buku bagus harus mencipa tragedi maka kisah kelabu dituturkan satu bab berselang. Dengan analogi sengatan kalajengking di kelobot jagung dan patukan ular gadung hijau di lanjaran kacang panjang, kisah ini menemui jalur liku yang trenyuh, seru dan pastinya sangat kompleks. Hebat ya, penyampaian pertanda buruk itu bisa tersalur rapi. Sebagian ending-nya sudah kita ketahui di prolog-nya yang seperti kata Kemplung, terjadi penyerbuan maut. Tapi tetap kalian akan terus terpaku – dan penasaran, sampai halaman akhir dalam tanya. Yup, “Aku Mat!” Ia bahkan merasa sudah tak punya urusan dengan dunia secara keseluruhan. Ia tak punya rencana dengan sisa hidupnya.

Bagaimana bisa sebuah film cult macam Machete karya Robert Rodriguez yang rilis tahun 2010 bisa menginspirasi sedemikian rupa untuk memberi kisah panjang jagoan lokal dengan iringan sejajar sejarah, legenda, hikayat, apalah segala kearifan lokal dari sebuah daerah di daerah Jawa yang jauh dari pesisir pantai, jauh pula dari daratan sepanjang bantaran Bengawan Solo. Butuh waktu tujuh tahun untuk terwujud, lama juga untuk buku yang tak ada dua ratus halaman. Tapi karya bagus memang harus ditempa waktu, dan Dawuk lahir di waktu yang tepat.

Drama cinta. Adu silat. Adat Jawa. Peraduan agama. Nasib para TKI Malaysia. Lagu-lagu India (bagian ini saya tak paham sama sekali, sumpah saya tak ikuti Bollywood dari zaman old sampai now). Dendam turun temurun. Sejarah Indonesia dari zaman Belanda, Nippon hingga Merdeka dengan seteru lokal PKI sampai kisah-kisah legendaris yang sulit sekali untuk ditolak. Pendekar atauakh pahlawan. Paket komplit yang luar biasa. Amat pantas menang buku ini. Salut. Mahfud dengan jeli meramunya dengan menyentil budaya arif Timur tanpa menggurui. Dengan setting rumpian di warung kopi, sehingga begitu dekat dengan kita. Pemenang sastra yang ditampilkan tak serumit laiknya buku sastra. Ini jelas buku untuk semua orang, harusnya bisa dinikmati semua kalangan.

Kisah kelabu dari Rumbuk Randu. Dalam tiga hari terkahir ini saya merampungkan baca tiga buku berkualitas. Jumat: Therese Desqueyroux dari Perancis, Sabtu: Perempuan Di titik Nol dari Mesir dan Ahad: Dawuk, tulisan lokal. Hebat. Hebat sekali, buku lokal sekarang bagus-bagus ya. Saya terkesima sama Mat Dawuk. Masuk dalam daftar Best 100 Novels ketiganya. Penutup tahun yang sempurna.

Dawuk: Kisah kelabu dari Rumbuk Randu | oleh Mahfud Ikhwan | copyright 2017 | cetakan kedua, November 2017 | vi + 182 hlm, 14 x 20,3 cm | ISBN 978-979-1260-69-5 | Penerbit CV. Marjin Kiri | desain sampul Tinta Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 311217 – Sherina Munaf – Tak Usah Cemburu

Festival Akhir Tahun

Festival Akhir Tahun

Desember 2017 segera berakhir, banyak diskon akhir tahun di mana-mana, termasuk buku. Di Karawang ada pameran buku di Gedung Wanita, dekat GOR. Di Carefour juga drop harga. Di Gramedia Karawang lantai dasar ada tumpukan buku murah, walau mayoritas buku lama. Ditambah kemarin sekeluarga main ke Revo Square, Bekasi ada Gudang Buku Bekas yang jual buku harga miring. Sebuah mal ganti nama yang sebelumnya Bekasi Square, sehingga saat saya ikuti Waze petunjuknya salah, nyasar justru mengarah ke Alun-alun Bekasi (Alun-alun – Kotak?). Serangkai itu ditambah beli daring dan pinjam-tukar maka inilah buku-buku yang menemaniku sepanjang akhir tahun.

Beli Daring dari Toko Buku Paperplane Bookstore: 4 –pertama kali beli di sini, puas. Rekomended.

#1. Perempuan Di Titik Nol – Nawal El-Saadawi

Saya baca kilat dua jam di Sabtu pagi yang mendung. Karena buku ini, saya berencana merevisi tiap tahun daftar Best 100 Novels yang kususun tanggal 11-11 lalu. Jelas ini buku istimewa, absurd dan berkelas. Tentang Firdaus, wanita yang menanti hukuman gantung di Mesir. Negara Afrika yang maju itu masih begitu diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keras, pedas dan sangat hidup. Penuturan dengan gaya orang pertama ‘Saya’ yang wajib dinikmati para pecinta sastra.

#2. Rumah Kertas – Carlos Maria Dominguez

Legendaris. Buku tipis ini selalu masuk dalam jajaran buku berkualitas. Sempat mau saya beli beberapa bulan lalu, tapi agak susah carinya. Maka saat ada kesempatan di Paperplane langsung saya masukkan daftar. Menahan baca, menanti waktu yang tepat untuk merangkulnya. Ini ini bisa baca sekali duduk, tak lebih dari 100 halaman.

#3. Ontologi: Sebuah Penuturan Sederhana – Tony Doludea

Kiranya buku terjemahan, ternyata terbitan lokal. Jadi buku pertama terbitan Quark Books, dari CTI – Cak Tarna Institute. Buku yang berusaha menyampaikan filsafat dengan gaya lancar dan sederhana. Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan manusia dan dunianya.

#4. Dawuk – Mahfud Ikhwan

Akhirnya buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kumiliki. Buku Marjin Kiri yang menyabet penghargaan tertinggi lokal tahun ini. Ternyata tak tebal. Tak setebal Raden Mandasia tahun lalu yang padat. Tentang Warto Kemplung di warung kopi yang bertutur masalah cinta Mat Dawuk dan Inayatun.

Beli dari dari Toko Buku Taman Baca Rindang: 2

#5. The Dinner – Herman Koch

Tentang makan malam yang tak biasa, dua keluarga kakak-adik yang berakhir bencana. Sang kakak politikus yang senurut polling adalah kandidat kuat Perdana Menteri Belanda, sang adik adalah mantan guru yang bermasalah jiwanya. Makan malam istimewa di restoran mahal yang sejatinya jadi malam santai berujung debat kusir dan panas setelah kasus masa lalu tentang anak mereka yang bermasalah diungkap. Sebuah buku psikologi yang padat dan krusial.

#6. The Leap – Jonathan Stroud

Dari Penulis The Bartimaeus Trilogy. Buku-buku Stroud sangat bagus kala menyentuh genre fantasi, indah dan sangat menyenangkan memasuki dunia antah yang melalangbuana. Namun ketika beliau banting stir ke versi remaja di dunia asli, terjatuh. The Last Seige yang standar. Nah, buku ini seharusnya terus berpijak di dunia imaji, sayangnya Festival Raya malah memainkan psikologi Charlie yang kehilangan Max, sahabatnya yang tenggelam di danau. Saya baca santai dan berakhir santai, sayang juga endingnya dijelaskan gamblang. Coba bikin gantung pasti akan lebih bikin greget.

Beli di Carefour Karawang: 3

#7. The Ocean at the End of the Lane – Neil Gaiman

Saya tak pernah kecewa baca buku-buku Gaiman. Tak akan jauh dari fantasi imaji, bakal jadi buku keenamnya yang kulahap. Sebuah fabel pembentukan ulang kisah fantasi modern. Kuasa jahat yang terlepas, di dalam keluarga dari kekuatan yang bersatu untuk menghancurkan.

#8. Equal Rites – Terry Pratchett

Buku pertama Terry yang akan kubaca. Ulasan yang kubaca mayoritas positif, Penulis besar di ranah fantasi. Sayangnya saya dapat seri ketiga dari trilogi. Hal terakhir yang dilakukan oleh sang wizard Drum Billet sebelum dewa kematian meletakkan tangan bertulangnya di lehernya adalah meneruskan kekuatan tongkat sihirnya kepada anak laki-laki ke delapan dari seorang anak laki-laki kedelapan.

#9. The Angel At No. 33 – Polly Williams

Ketipu saya. Kukira bakal jadi buku perenungan tapi ternyata jatuhnya malah kisah cinta. “Apakah aku sudah mati? Rasanya sih tidak mati…” Pada suatu malam, Sophie ditabrak bus. Tapi, ia tidak bisa – belum bisa – meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Suaminya Ollie, akan berantakan tanpa dia. Freddie, putra mereka masih terlalu kecil. dan sahabatnya, Jenny? Jenny harus mengetahui sesuatu sebelum segalanya terlambat… kisah duda yang mencoba bertahan ditengah malapetaka. Selesai baca seminggu, berat juga euy baca kisah cinta yang aneh gini. Benar-benar buku tipuan. Haha…

Beli di Pameran Buku di Gedung Wanita, GOR Karawang: 2

#10. Cinta Semanis Racun: 99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia – Anton Kurnia

Wow, harga aslinya 155 ribu di Pameran kena 85 ribu. Jelas ini masuk kolektor edition. Buku tebal bak al Kitab yang memuat 99 cerpen di seluruh dunia yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Sehimpun cerpen terbaik dunia sepanjang masa. “Cinta itu racun. Racun yang manis memang. Tapi tetap saja bakal membunuhmu.” – George R.R. Martin

#11. Comedy Apparition – Ginger Elyse Shelley

Buku yang tertunda. Beberapa tahun lalu nyaris kubeli, sudah kutimang-timang di toko buku untuk kubawa pulang. Tapi malah beralih ke buku Deru Gunung. Ternyata ini adalah buku lokal, tentang penyihir, tentang keluarga penyihir yang beranak-pinak yang unik, aneh dan penuh rahasia. Bagaimana Stephen Haegel masuk dalam lingkaran tak lazim ini?

Beli di Gudang Buku, Revo Square Bekasi: 2

#12. The Secret #2 – R.L. Stine

Ini adalah buku incaran sejak zaman Sekolah! Wow, sampai tak coba kuingat karena perseteruan keluarga Fier dan Goode yang penuh api di seri pertama The Betrayal. Jeda bacanya satu setengah dekade, maka saat tahu ada buku ini tak perlu dua kali pikir untuk kubawa pulang. Ada dua versi di Gudang Buku, English yang kutinggal.

#13. The Burning #3 – R.L. Stine

Akhir dari trilogi. Asal mula Fear Street itu sudah dalam genggaman. 

Beli di Gramedia Karawang: 2

#14. Therese Desqueyroux – Francois Charles Mauriac

Buku pemenang nobel sastra lagi. Saya selesaikan baca hanya di sela-sela kerja seminggu ini: pagi sebelum aktivitas, istirahat pasca makan siang dan satu jam setelah pulang menunggu Magrib. Luar biasa. Sangat menyentuh, memainkan emosi dengan brilian.

#15. 3 Tahun – Anton Chekov

3 Tahun yang kubaca kilat tak lebih dari 3 jam. Buku kedua Chekov yang kulahap. Dari Penerjemah Sapardi Djoko Damono, kisah cinta dari Rusia yang menyorot perkembangan masyarakat di masa 1880an. Dinamika relasi antar manusia.

Dari diskon Telkomsel 50 ribu Intano – Bandung: 1

#16. Kumpulan Cerita Pendek Terbaik – Leo Tolstoy

Intano, rekan kerja yang sedang berbaik hati membagi poin provider selulernya untuk sebuah buku, untukku. Uuhh.. makacih. Melalui chat WA serba instan untuk memilih dan memiliah buku mana yang akan dibawa pulang, saya menetapkan harus Sastra. Bukan fantasi remaja, apalagi Ika Natasha. Dan ini bakal jadi buku pertama Leo yang akan saya lahap.

Pinjaman dari sahabat kantor Widy Satiti: 2

#17. Trologi Soekram – Sapardi Djoko Damono

Dibaca kilat dalam tiga babak. Tentang Soekram, seorang tokoh fiksi yang menjelma hidup menuntut pilihan kenyamanan. Babak pertama sangat hebat di era Reformasi, babak kedua bagus banget di zaman Orde Lama, babak tiga keok. Terjatuh, tersungkur di masa Siti Nurbaya. Marah Rusli berhak marah.

#18. Cuckoo’s Calling – Robert Galbraith

Alhamdulilah. Sempalan buku pertama JK Rowling sukses. Setelah tak berkesan dalam Kursi Kosong, JKR memakai nama lain dalam sampul – dan sukses. Beberapa bagian memberi kejut, banyak bagian biasa. Tapi pemilihan genre detektif modern patut dikasih jempol. Apalagi Cormoran Strike yang ternyata sakit fisik – veteran perang yang juga sakit batin. Novel berkelas yang layak dinikmati kelanjutannya. Makacih Mbak Widy, ditunggu Ulat Sutra dan selanjutnya.

Selamat tinggal tahun penuh buku dan kenangan, 2017 yang berwarna.

Karawang, 301217 – Richard Marx – Until I Find You Again

Pekan Ke 19: Inter Vs Lazio 

Pekan Ke 19: Inter Milan Vs Lazio

PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1): Strakosha;
Wallace, de Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Immobile.
LBP
0-3
Immobile
Laga akhir tahun yang tenang karena Inter tak banyak konflik. Ini lebih kepada siapa striker terbaik Serie A saat ini. Hanya berharap laga berlangsung seru. Immobile dong yang cetak gol. Forza Lazio.
Damar irr
0-2
Immobile
lini depan Lazio akan selalu menakutkan,  ditambah gelandang yang padu menjadi daya topang buat mereka, hanya DI yang sedikit memprihatinkan, jual De Vrij beli Lukaku akan menjadi salah satu solusinya.
Immobile only.
Emas calciopoli
Inter 2 – 1 lazio
Icardi
2 motivasi berbeda dari hasil piala italia. Sayang the great NANI belum bisa diturunkan. Ini faktor utama kekalahan emprit ibukota.
Ikardi doang yg bikin gol
Widi-nya Widi
Inter vs Lazio : 3-2, Icardi
Inter sedang terluka. Inter butuh mangsa. Lazio akan binasa.
Keduanya akan cetak gol.
Arief
Inter v lazio 1-0
Icardi
Inter sudah 2x kalah beruntun. Inter kembali mengalami kolaps  di akhir tahun. Inter harus bangkit
Yang bikin gol: Icardi
Siska
Inter 1-1 Lazio
Icardi
Performa Inter sedang menurun, sedang Lazio kebalikannya. Bermain di kandang tidak menjadi jaminan. Apalagi jika melihat head to head yang saling mengalahkan.
Keduanya (Icardi dan Immo) cetak gol.
Takdir
Inter 1-3 Lazio
Immobile
Analisis: Gamelagio. Soton primavera Liverpool. Dortmund primavera Muechen. Lazio primavera Inter. Inilah duel para pengharap juara Serie A musim ini. Diantaranya Napoli dan Roma, lebih meyakinkan Lazio-Inter untuk melengser Juventus. Jadi adilnya seri, tapi hidup tak pernah adil.
Striker TOP: Immobile
Giana Jun Prayitno
Inter 1-2 lazio; Immo
Inter lagi loyo. Mojonya telah habis. Sebaliknya degrit kembali menguat. Immobile baru saja terpapar kuku bima. kesaktiannya sulit dihadang.
bonus: hanya Immobile yang golin, Icardi mah cuman assis doang.
DC
Inter 1-1 Lazio
Immobile
Walo Inter  main kandang. Hasil imbang pas untuk partai ini. 2 tim yang tidak terlalu superior kali ditandingkan.
Hanya Immo yang golin
Indah Santika
Inter v Lazio 2-0
Icardi
Inter jadi sulit menang. Periode kolaps ini sering terjadi di Desember. Bila Inter kalah lagi, jangan harap bisa finis di 4 besar.
yang bikin gol: Icardi
Jj
Inter 3-1 Lajio
Ikardi
Gini ya, walo Inter lagi apes, tak menyurutkan fahri untuk tetap menjadi malaikat. Apalagi ditambah Tatjana Saphira yang ngintili Fahri udah kayak Icardi ketemu perisik. Simpan argumenmu.
Bagas
Inter 2 – 2 Lazio, Immmo
Laga Inter vs Lazio ini pun bakal menarik dengan adu ketajaman dua mesin gol andalan masing-masing kubu. Mauro Icardi kontra Ciro Immobile. Dan keduanya akan cetak gol
JK 🇮🇹
Inter 3-0 Lazio
Icardi
Duel dua club ini sering dinamakan GEMMELAGIO. Bagi Boys San maupun Irriducibilli selayaknya dua sodara kembar jauh yg berjumpa. Yang tak terlupakan ketika Inter cukup menang vs Lazio di laga akhir agar bisa jegal Juve.
Suporter Lazio pun teriak-teriak dukung Inter.
Tapi payah, Inter malah grogi meski Lazio main asal-asalan.
Imoenk
Inter 2-3 lazio, Immobile
Gini ya, inter kemaren kalah sama tetangga. Ahhh mereka susah move on kok. Bakalan lama mereka move on. Kalahnya juga bakalan lama. Pokoknya Immobile bikin gol. Titik gak pake koma, yang lain gak boleh ngeyel, gak boleh protes, dan gak boleh udur.
Jabo
Inter 0-1 Lazio, Immobile
Seperti biasa aku menjagokan Lazio yang menang karena mereka adalah “de grit”. Seperti biasa pula Immobile yang akan bikin gol. Dan seperti biasa seseorang akan senang membacanya.
Karawang, 301217

Pekan Ke 18: Lazio Vs Crotone

Prakiraan Skuat 

LAZIO (3-4-2-1):
Strakosha;
Patric, de Vrij, Wallace;
Marusic, Murgia, Parolo, Lukaku;
Luis Alberto, Milinkovic;
Immobile.
LBP 3-0
Amarah The Great akan tumpah di sini. Hanya tiga poin yang bisa menyelamatkan persaingan Scudetto. Seraaaaang!
AW
Lazio 4-0 Crotone, Immobile
Immobile is back! Felipe Bale is Back! Lazio strikes again!
DC
Lazio 2-0 Crotone
Immobile
Lawan tim yang lebih lemah. Menang lagi setelah imbang. Dan Immobile​ golin.
bgs
Lazio 3 – 1 Croto, Immobile
Lawan tim antah harusnya tidak jadi masalah buat lazio, apalagi juru gedor udah kembali, yakin Immobile hetrik… Forza lazio
Nikita Willy Prayitno
lazio 2-1 Crotone, Immobile
Inilah statusku tahun lalu. Njir sama persis gak ada yang berubah. Lazio menang tipis dan yang nonton 5 orang ya sama persis orangnya itu itu juga. Ini seharusnya dah kelipatan ke 7 tapi bandar bilang 6 ya apa boleh buat. Ini namanya rezeki yy terpancur.
Arief
Lazio v Crotone 2-0
Luis Alberto
Immobile kembali. Lazio harus menang. Crotone buruk di tandang
Jj
Lajio 2-2 kroton Imobille
Gini ya. Lajio nga mungkin menang. Simpan argumenmu.
Imoenk fans indah
Lazio 5-0 Crotone, Immobile
King Immo wis siap mbedal meneh. Pelipe bale bale yo wis siap pancal.
Lucas senggol bacok yo lagi apik2e. Trus opo meneh alesan gak ndukung Lazio?
Sudahlah, simpan argumenmu kawan.
Jabo
Lazio 4-1 Crotone
Gol : Immobile
Lazio pasti menang.  Pasti menang. Menang.
Arifin
Lazio 1-0 Crotone
Gol: Immobile
Lazio menang.  Crotone tumbang. Om Budy girang. Pulsa pun datang.
Takdir
Lazio 4-1 Crotone, Immobile
Analisis Apa jadinya sebuah tim memiliki Pencetak gol mumpuni dibarengi bek begundal? Miris. Tim juara adalah tim yang punya pertahanan sekokoh semen tiga roda, Yunani sudah kasih bukti. Mending menang menang tipis ala Mou ketimbang di satu partai menang besar di banyak partai gagal karena defennya bobrok. Tim produktif Serie A musim ini kedua adalah The Great dengan 39 gol. Bandingkan dengan Inter yang baru 34, atau Napoli, apalagi Roma. Perlu dicatat juga, jumlah laga Lazio masih 16, menyimpan satu pertandingan ke Udine. Bastos, Wallace, Radu dkk lah yang mengirim Biancoceleste gagal Capolista. Musim lalu Lazio SELALU membabat semua tim semenjana, Crotone adalah anomali berkat kekonyolan Balde dan Lombardi, keduanya berakhir di meja transfer. Kalau Inzaghi berani bertaruh dengan Luiz Felipe Ramos harusnya mulai diberi menit. Anak muda yang lebih menjanji ketimbang Patric, misalkan. Atau Radu yang jelas sudah ngos ngosan fisiknya. Kembalinya Immobile adalah jaminan gol, fitnya Felipe Bale adalah jaminan suplai melimpah ke depan gawang. Isu De Vrij hengkang jaminan panik Laziale. Kalau kalian masih ingin melihat pos foto foto exclusive Lazio di FOC dalam euforia Budy di papan atas, berdoalah Bek bek The Great tak berjamaah me-Lorven-kan-diri. Fandom sejak Jaap Stam tahu bagaimana membentengi diri. Simpan argumenmu!
Emas calciopoli
Lazio 1 – 1 Crotone
Gol Alberto
Biar bagaimanapun absennya Nani sangat berpengaruh buat tim. Kembalinya Felipe Bale tidak banyak membuat perubahan.Satu poin dikandang cukup membahagiakan Laziale.
Damar
Lazio 4-1 kroto
Gol Alberto
Pertahanan yang kurang baik masih menjadi kendala, lini tengah masih menjadi andalan dan sms, Luiz Alberto, Immobile masih menjadi trio yang menakutkan. non mollare mai.
Wao
Lazio 2-2 Crotone, Immobile
Lazio is back. Maen laga home diyakini mudah. Ternyata draw 2-2. *AM*

Lazio 5-1 Crotone, Immo

Waktunya lazio kembali menang dgn meyakinkan. Lazio bisa. Lazio hebat.

Karawang, 231217

Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

Di padang pasir, tidak ada larangan untuk memakan pasir. Kemerdekaan adalah laut semua suara, bawalah aku kepadanya. Petani itu tersungkur, darah di dadanya. Matanya masih menyala juga. Tidak akan kumaafkan setan-setan ini. tidak boleh berkeliaran setan-setan ini.

Sayang sekali, setelah terpukau di seri satu, meningkat keren di bagian kedua, buku ini ambyar di akhir. Benar-benar berkeping, luluh lantak. Kisahnya amburadul di seri penutup. Padahal susunan kalimat puitis dan narasi padat yang nyaman disajikan dalam kelezatan bak sereal nikmat di pagi hari. Makan siang istimewa yang mengenyangkan, dan seribu kali sayang makan malamnya memuakkan. Soekram yang diceritakan seorang dosen, lulusan luar negeri itu begitu meyakinkan sekali dalam menjalani masa-masa genting ’98. Soekram yang kisahnya ditarik mundur dalam masa kuliah dan penggambaran masa genting menuju ’65 itu begitu seru dan mendebarkan. Dan entah kenapa tiba-tiba bak sebuah piring yang dihempaskan ke lantai, bagian ketiga berkeping-keping. Ambyar. Buruk. Penutup yang sangat buruk, di mana saat pembaca digiring ke imaji liar gejolak cinta yang semi malah kita diajak berwisata ke masa antah di negeri dongeng Siti Nurbaya. Anti klimak. Padahal saya sudah meletup-letup mau bilang salah satu buku lokal yang keren, tapi saat pena Soekram yang memilih jalan sendiri semua rusak.

Sebenarnya ekspektasiku juga ga tinggi apalagi pasca menyusun best 100 novels jadi sedang ingin santai, dan cerita sangat bagus sedari awal sampai tengah. Trilogi ini memuat kisah panjang Soekram yang galau, tentang cinta dan selingkuh dan perjuangan hampa meraih sesuatu yang (rasanya) menjadi tak terlalu penting untuk umat, baca bagian akhir. Sebenarnya ia ke Sumatra untuk apa dan akhirnya menjadi apa. Karakter yang begitu bagus bagian satu-dua mendadak konyol di ending. Punya Ida yang mencinta, ada Rosa yang menakjub, ada Menuk yang menunggu di rumah. Lalu ada Maria yang memanja, ada Nengah yang berbakat. Dan pada akhirnya Siti Nurbaya merobohkan susunan bata cerita yang Indah itu.

Bagian pertama Pengarang Telah Mati. Jadi penulis kisah Soekram ini sudah meninggal, karyanya masih terbengkelai. Istri atau ahli warisnya menemui editor untuk mengotak-atiknya untuk dijual yah, klasik karena alasan ekonomi, dan Soekram inilah karakter fiksi yang menggugat. Seorang lulusan Amerika yang selingkuh dengan Ida, mahasiswi lokal yang jua menimba ilmu di negeri Paman Sam, punya istri pasif Menuk dan seorang anak. Kisah keluarganya tak digali bahkan saat anaknya sakit, Soekram tak nampak benar-benar khawatir di saat punya pilihan: keluarga atau karir? Dibiarkan datar karena kita diajak merongrong isi kepala Soekram ke masa lalu, ke orang-orang sekitar di kampus. Rosa adalah salah satu yang melonjakkan imaji. Sering mengantar pulang dengan VW Kodok Merah dan sesekali makan bareng. Dengan setting Jakarta di gejolak Indonesia 1998 di mana demo besar menggulingkan kekuasaan, kita benar-benar diajak berwisata menikmati indahnya nuansa sisi lain menuju peralihan pemerintahan. Kampus, rumah tangga, hubungan-hunungan Soekram dan sitrinya. Soekram – Ida. Soekram – Rosa. Minuk dan Yatno (sayang tak berkembang lebih jauh). Dan cinta iseng Ida menjadi puncak kisah ini dengan surat kasih, bukan email tapi surat tertulis dari seberang jauh. Jika cinta mengajakmu, ikutilah saja. Meskipun jalannya sulit dan curam.

Bagian kedua Pengarang Belum Mati. Soekram menghidup, setting ditarik jauh ke belakang. Di era ia kuliah di Yogyakarta, di mana proses membentuknya menjadi manusia yang open minded. Di zaman pergolakan menuju akhir era Orde Lama, bagaimana Nasakom mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pilihan politik yang memandu konsekuensi, mau jadi apa kamu nantinya? Adiknya yang kiri, ayahnya yang nasionalis, orang-orang sosialis kanan, teman-temannya yang berbeda keyakinan. Soekram sendiri muslim, atas ‘perintah’ neneknya. Walau Sholat lima waktu bolong, mentok hafal Qulhu, dan sekedar meraya setiap Jumat Berkah. Kan orang harus punya pegangan. Gejolak politik, darah muda yang gemuruh. Dan hiruk pikuk, apa yang harus dikejar setelah studi selesai. Sangat bagus, sangat indah menikmati percabangan pikiran dan keraguan mewujud harapan mana yang akan direalisasikan, sampai akhirnya terpekur dalam goa sakral. Sayangnya tak tuntas. Kenapa Maria tidak hadir waktu aku wisuda? Jangan kunyah pasir itu Soekram, jangaaaan…! 

Bagian ketiga Pengarang Tak Pernah Mati, nah inilah bagian yang saya sangat sayangkan. Susunan apik itu menjadi kacau gara-gara kita diajak meluncur ke masa Siti Nurbaya. Kisah abadi karangan Marah Rusli itu diacak-acak, dimodifikasi, disusupi Soekram dan menjadi amburadul seakan sentuhan tinta masterpiece itu harus merevisi. Niatnya bagus, out of the box. Tokoh fiktif masuk ke dunia imajiner karangan Penulis besar lain, berdiskusi, menyapa dan mengilhami gerakan melawan penjajah. Sayangnya, boomerang. Soekram yang kita kenal cerdas dalam dua bagian itu menjadi konyol. Mencinta Siti Nurbaya, mengikut ragu di masa Indonesia belum merdeka. Menjadi bimbang, awalnya ikut trenyuh tapi di bagian ini muak. Why oh why? Biarkan Datuk Meringgih, Samsul, Hanafi dkk memiliki kehidupannya sendiri. “Datuk telah membohongimu Kram.”

Bagian pertama dan kedua masih related. Karena seorang dosen tahun 1998, di era 1960an mahasiswa bisa diterima. Apalagi ia dosen senior, melanjut studi luar dan menjadi idola kalangan pelajar yang berarti ia sudah mengabdi, memberi banyak contoh baik kehidupan dan makan asam garam. Bagian kedua masih bisalah disambungkan, masa perjuangan masa muda. Cinta itu mau dibawa ke arah mana. Perjuangan kehidupan. Bagian ketiga seharusnya kalau mau related Soekram masih balita, atau setidaknya anak-anak di era Pra-Kemerdekaan atau masa-masa Perang Soerabaya. Sayangnya, era ditarik terlalu jauh ke belakang dan Soekram posisinya sudah dewasa. Bisa saja itu era bayangan, era mimpi, era fiktif tapi secara logika tetap saja tak masuk akal. Sekalipun ini kisah palsu, tapi tetap nalar harus tetap dipegang. Apalagi merusak karya Penulis besar kita. Sayang sekali anti-klimak. Entahlah…

Siapa yang bisa menghalangi lebah bergantung di tubir bunga? Siapa yang bisa menghalangi capung berkeliaran di udara? Siapa yang bisa menghalangi siput merambat di tepi sungai dengan beban waktu di cangkangnya? Siapa yang berani bertanya kenapa waktu seperti tak peduli bertengger di ujung cangkangnya? Siapa pula berani berkata, Sudahlah Datuk, segalanya sia-sia? Siapa gerangan yang berani mengatakan bahwa ada yang bisa sia-sia?

Siapa yang berani bertanya, kenapa bagian ketiga amburadul?

Ping-pong-ping-pong-ping-pong-ping-pong… harus berakhir di tiang gantungan bahwa revolusi mulai merasa mual bahwa revolusi telah meludah di sembarang tempat. Bahwa di negeri ini memang tidak disediakan tempat istimewa untuk meludah. Juga tidak untuk ;ing-pong. Juga Maria. Juga.

Trilogi Soekram | oleh Sapardi Djoko Damono | copyright 2015 | GM 201 01 15 0014 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan keempat Juni 2016 | editor Mirna Yulistianti | desain sampul Suprianto | setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-1478-5 | skor: 3/5

Karawang, 13-171217 – Sherina Munaf – Simfoni Hitam

Pekan Ke 17: Atlanta Vs Lazio

Perkiraan Line-up

Strakosha;
Bastos, De Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Caicedo.
LBP 0-3
Serie A yang sulit, drop poin dari replay VAR tak guna. Memang menyedihkan kompetisi kelas satu, wasitnya buruk. Hanya dengan mengutamakan dan memperbaiki diri yang bisa menjuarakan Lazio. Kami selalu bersama. #ForzaLazio
AW
Atalanta 2-2 Lazio, Gomez
Atalanta bukan lawan enteng. Lazio abis keok kayak dendeng. Gomez bakal golin serenteng.
Arifin
Atalanta 2-1 Lazio, Gomez.
Atalanta menang. Lajio tumbang. Om budi borong buku.
Bagas
Atalanta 1 – 1 Lazio, Felipe Caicedo
Dengan tidak adanya Immobile sangat terasa bagi Lazio, hasil 1 – 1 sudah bagus bagi tim tamu, yang penting tidak kalah. Forza Laz.
Mariana R. Prayitno
Atalanta 2-0 Lazio, Cristante
Dalam 9 pertemuan terakhir, hanya ada 1x hasil draw. Itu artinya kedua tim tak punya hobi menggambar. Mungkin keduanya lebih suka menyanyi.
Arief rindu Siska
Atalanta v Lazio 1-0
Ilicic
Atalanta sedang semangat tinggi gara-gara lolos ke fase gugur Liga Europa & melawan BVB. Ada yang tidak suka melihat Lazio di 4 besar. Atalanta baru kalah 1x di Atleti Azzuri d’Italia.
Takdir
Atlanta 1-3 Lazio
Skorer Savic
Analisis: Tanpa Immobile Lazio bisa apa? Inilah pertandingan pertama The Great musim ini di Serie A tanpa sang bomber. Bisa apa tanpa goal getter andalan? Bisa menunjukkan Lazio bisa menang dengan fair play!
Karawang, 171217


Murder On The Orient Express: You’ll Never Guess Whodunnit

Murder On The Orient Express: You’ll Never Guess Whodunnit

Mary HERMIONE Debenham: “I am sleeping here where everyone can see me. And I can see everyone.”

— Catatan ini mungkin mengandung spoiler —

Bah. Sebuah kisah detektif kalau belum menikmati sebaiknya memang jangan baca apapun, jangan lihat apapun, jangan dengar dari siapapun. Preview, ulasan, review, trailer, kutipan, tagline, bahkan potongan tulisan sekecil apapun di poster. Karena bocoran sesepele remeh temeh berpotensi merusak kejutan. Walau sejatinya setelah kalian membaca ulasan ini kalian jua tak akan (gamblang) menemukan siapa pembunuhnya.

First impress, sudah saya pos di ig @lazione.budi: Wow, just wow. #MurderOnTheOrientExpress is movie of the year. It completely my expectation and beyond. I was pleased and surprised. Balance, imbalance, justice. Everyine is a suspect. E.V.E.R.Y.O.N.E…

Menikmati kisah detektif harus hati-hati, sehati-hati dalam proses penyelidikannya sendiri. Dari judulnya kita tahu ada pembunuhan di kereta, kalau ada pembunuhan maka pasti ada pembunuh. Hidup ini penuh masalah, menonton film bisa jadi masalah, menikmati alur bisa saja menjadi masalah. Saya memutuskan cara memecahkan masalah ya, menutup segala kemungkinan bocor informasi masuk. Saya sudah punya bukunya tiga bulan lalu, tapi tak kuputuskan membaca tuntas. Saya hanya baca 2-3 bab awal dan meninggalkannya demi dapat merasakan feel, mendapatkan kepuasan menonotn dalam layar besar. Menahannya. Teaser poster sudah tersebar, trailer sudah wara-wiri. Saya bergeming, semakin sedikit klu yang didapat (seharusnya) semakin besar ledakan akhir. Bum! Saya merasakan klimak cerita, sungguh beruntung bisa meluangkan waktu di Kamis malam (9/12) hanya dengan 25,000 Rupiah bersama belasan penonton lain. Film paling bagus tahun ini, so far.

Kisah dibuka dengan setting tahun 1934 di Yerusalem, Palestina. Hercule Poirot (Kenneth Charles Branagh) meminta sajian santap dua buah telur sempurna, sampai diukur. Bagian ini hanya coba memperlihatkan sebuah perfectionist style. Ia ke sana diundang untuk memecahkan kasus pencurian sebuah benda keramat keagamaan zaman old. Ada tiga terduga pencuri yang dijajar di pelataran Tembok Ratap: priest, rabbi dan imam. Imam, Pendeta Yahudi, Pendeta Kristiani: sebuah perlambang kota ini adalah kota suci tiga agama. Setelah menancapkan tongkat di tembok, Poirot mulai membuka detail proses penyelidikan. Dan dari sebuah jejak di TKP (Tempat Kejadian Perkara) ia dengan lantang bisa menemukan pencurinya yang ternyata adalah (jreng jreng jreng…) sang pelapor sendiri, seorang polisi. Massa langsung merespon mengejarnya, dan tongkat yang ditancap itu ternyata sudah diperhitungkan. Hebat. 

Dalam proses kepulangan yang dibuat dengan suguhan sederhana, kita diperkenalkan beberapa karakter yang nantinya ikut dalam perjalanan kereta dari Istanbul, Turki. Dari Mary Debenham, Dokter Arbuthnot, kepala kereta api sekaligus sahabat Poirot, Tuan Bouc sampai Hardman. Dari perkelahian aneh Countess Rudolph Andrenyi, sampai sajian roti yang mengembang. Tuan Bouc-lah yang membooking satu tempat duduk, awalnya penuh karena sedang musimnya. Tapi seorang penumpang bernama tuan Harris, tak muncul. Aturan 1,5 jam melapor sudah dilanggar sehingga satu kursi itupun kini milik Poirot. Semua itu dalam gerak cepat menuju Orient yang di-stater. Poirot dapat teman sekamar MacQueen, pria gendut yang tampak gugup.

Kereta berjalan dengan kebimbangan, aura tegang memang sudah dicipta sedari bunyi tut tut tut -nya. Para penumpang sudah tampak mencurigakan, sebuah suguhan suspence untuk membuat penonton menduga, untuk membuat penonton memilah, menebak. Salju turun untuk bersatu dalam kepulan asap kereta.

Setelah malam pertama berlalu tanpa insiden, Poirot yang sedang menikmati kesendirian dengan tawa novel Charles Dickens: A Tale of Two Cities, saya sudah membacanya tak banyak agedan lucu, entah apa yang membuatnya terbahak. Cinta sejati, mati demi cinta? Ahh… Catherine! Didekati oleh Ratchett, dalam adegan makan satu kue berdua kita tahu, ia membawa pistol. Meminta tolong dan menawari Poirot sejumlah uang untuk menjaganya, karena terus terang musuhnya banyak dan dia diancam. Poirot yang sedang ingin santai menikmati perjalanan, agak terkejut juga ada pistol di atas meja. Monyongnya mengarah padanya walau tak diancam. Marah, “I detect criminal. I do not protect them.” Penolakan yang mengakibat kematian sang gangster. Saat kereta melaju di daerah Vinkovci, Kroasia longsoran salju menghantam kereta dan sebagian badan oleng. Lebih ekstrem lagi, gerbong sebagian masih di atas jembatan. Scene mencekam, setting yang bagus. Waktu kematian diperkira dini hari, sebelum kejadian Poirot beberapa kali terbangun dan menyaksi kejanggalan dengan gerik aneh sang kondektur Michel.

Setelah kematian tuan Samuel Ratchett, semua penumpang seakan tampak meyakinkan sebagai tersangka. Saya urutkan dari kanan nama-nama (potensi) tersangka itu saat duduk di ‘Jamuan Terakhir’, biar nyaman merunut. Kenapa ga sesuai pandangan meja dari the professor sampai the princess, saat diumumkan ada pembunuhan? Yah, karena gambar dua belas manusia duduk dalam deret meja di terowongan itu adalah gambar paling mengesankan dalam film 2017. Cucok dijadikan wallpaper.

My name is Hercule Poirot and I am probably the greatest detective in the world.

#1. Sang asisten, Hector MacQueen (Jos Gad): “Hard to believe, you talk to a man… and only the next morning, he’s blue.

Sebagai sekretaris sang korban, sebagai orang yang mencatatkan semua kegiatan tuannya, asisten yang baik, awalnya. Si gendut yang pengugup, ini terbukti tak sebaik lapisan luar. Melakukan beberapa kecurangan dalam pencatatan keuangan, memanipulasi data demi kepentingan pribadi, pencurian terencana, dan menyeret masalah menjadi makin rumit. Apakah hanya kejahatan material saja yang ia lakukan? Ataukah lebih parah lagi?

#2. Profesor, Gerard Hardman (Willem Dafoe): “In this case I consider that justice has been done.

Turin.” Satu kata yang berarti banyak makna. Ia adalah orang pertama yang setelah bilang semua dari kalian akan diinterogasi yang dengan berani bilang, ‘Emang lu siape?’. Tiap muncul dia saya selalu membayang wajah jahat Green Goblin. Muka kodok yang patut dicurigai, apalagi ia jua tak bisa tampak secerdas seorang professor.

#3. The  Countess, Elena Andrenyi (Lucy Boynton): “I reached for my husband as soon as I heard.

Tatapan Lucy yang tajam, tampak sakit. Ia tak ada di meja saat diumumkan ada pembunuhan, nantinya kita tahu ternyata ia kecanduan narkoba. Apa yang kamu takuti? “Everything!” dalam kisah-kisah thriller, orang macam gini patut dimasukkan sebagai kandidat utama pelaku kejahatan. Egoism seorang puteri.

#4. The Count / Pasangan Countness, Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin): “He is a dangerously handsome man, with his back to the world.”

Ketika di adegan pembuka, tak dijelaskan detail kenapa ia tersulut saat ada fotografer yang mengambil gambarnya dan marah sampai berkelahi. Sesuatu yang disimpan, karena ia sebenarnya defensive. Ia akan marah jika ada yang mengusik, pesohor introvert. Tatapannya sama seram dengan sang putri.

#5. Pelayan, Hildegard Schmidt (Olivia Colman): “The Princess entrusted my skills to serve her well.”

Saat diinterogasi Poirot, ia tak tampak meyakinkan dengan bahasa Jerman. Rautnya khawatir seakan takut salah jawab dan wanti-wanti kemarahan sang Ratu. Bagi yang pengalaman menikmati kisah-kisah Christie, peran pelayan jadi begitu penting. Sangat penting, banyak kejadian krusial diambil sudut pandangnya. Nah raut Schmidt bisa menampilkan daya asli pelayan yang terintimidasi. 

#6. Sang Ratu, Natalia Dragomiroff (Judi Dench): “It is not my place to be troubled.”

Seorang putri dari Rusia. Akting asisten Bond ini tak pernah mengecewakan. Menjadi orang penting, bersama anjing-anjing kerajaan yang harus diperlakukan istimewa. Sudah tampak mengesalkan sebelum Orient bergerak, seharusnya memang harus dicurigai ini orang karena saat tahu Sang Gangster tewas, ia faceless dan setiap nama korban saat disebut seakan ingin meludahi, ‘fppuuuf…’ Jelas ada sesuatu yang besar dibaliknya. Orang penting, kaya yang berlagak, sombong.

#7. Janda, Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer): “Anything for an audience.”

Saya selalu kesulitan nulis namanya, alamat typo kalau ga jiplak. Seorang wanita berkelas, berbicara tentang putrinya, seorang aktris, performer. Termasuk akting-nya saat bicara dengan sang detektif, penuh kepalsuan. Sangat elegan, tapi sebenarnya ketika twist diungkap ialah yang paling rapuh, bahkan dibanding sang kepala pelayan sekalipun. Angelina Jolie sempat masuk kandidat utama untuk menerima peran ini, tapi sampai batas waktu taka da klik. Michelle jua sumbang suara untuk lagu closing credit, seminggu lebih saya putar ulang bersanding dengan Sherina Munaf.

#8. Dokter, Dr. Arbutnot / Kolonel Arbuthnot (debut istimewa Leslie Odom): “There’s a very ill patient waiting for me.

Si jago tembak, si keling yang jatuh hati sama Hermione. Awalnya tampak annoying, gerak-geriknya kaku. Membantu memperbaiki kapal yang rusak, membantu mendeteksi dan analis kematian korban dan sebagai mantan tentara, ia memiliki pistol. Seorang terpelajar yang bisa dipercaya, sekaligus paling berbahaya. Agak mengkhawatirkan saat dia sering bersama Poirot dalam mengupas fakta demi fakta.

#9. Pengajar, Mary HERMIONE Debenham (Daisy Ridley) : “Who would do such a hideous thing?”

Sudah berkenalan dengan Poirot sebelum naik kereta, lebih pasnya sebelum naik kapal. Kekasih sang dokter. Seorang wanita idaman Inggris Raya, pengajar sekaligus pengasuh anak yang ‘aman’ dari tuduhan, awalnya. Adegan interogasi minum teh di bentang salju dengan latar kereta itu salah satu adegan paling menakjubkan cinema tahun ini, Hermione disebut, ada nada khawatir mengambang di udara. “I like a good rose.” Dan pada akhirnya Mary gemetar masuk pusaran kemungkinan terlibat, akting jempol Daisy yang cantik. Bisa kita saksikan aktingnya saat ini di bioskop dalam #TheLastJedi.

#10. Kepala pelayan, si tua penggerutu Edward Masterman (Derek Jacobi): “A valet and his master should be as strangers.”

Wawancara dengan Poirot alasan berkereta mau berobat, operasi gigi. Tapi sakit gigi tak harus sampai hopeless gitu kan. Pasti ada sesuatu yang membuat hatinya khawatir, atau setidaknya menanggung beban. Seorang tua yang makan asam garam pengalaman, masa lalunya diungkap dengan pilu. Dan rasa muak kita lalu berubah sedih.

#11. Penjual, Biniamino Marquest / Antonio Foscarelli (Manuel Garcia-Ruflo): “I’ve become well established in America.”

Ceriwis, maklumlah sales. Penjual mobil yang dulunya sopir, tampak sangat meyakinkan, orang yang Pede. Latar belakangnya seorang keturunan Latin yang membuatnya patut diwaspadai, bahkan nantinya seorang penumpang mengarahkan Poirot untuk menempatkannya di posisi pertama sebagai orang yang patut dicurigai. Rasis sih, tapi mau bagaimana lagi?

#12. Sang misionaris, Pilar Estravados (Penelope Cruz): “On their death, all good men are greeted by an angel’s laughter.”

Sedari awal hingga akhir, wajah Cruz tampak tak bahagia. Ngomongin al kitab terus, seakan cenayang nasib buruk. Setiap fakta yang terkelupas, ia berpaling ke Tuhan. Dosa masa lalu yang tertumpuk di punggung, jelas ada yang salah dengan tindakan masa lalu pahit menghantui. “Wine is where the devil finds his darling.”

Ditambah yang berdiri dua: 

#Kondektur yang siaga, Pierre Michel (Marwan Kenzari): “No assassin could have moved through the car without me seeing him.”

Tampak aneh, setiap Poirot keluar kamar di malam kejadian, Michel siaga dan menyapa. Siap melayani, kenapa selalu ada dalam gerbong itu? Apalagi nantinya saat sebuah kancing baju ditemukan ternyata menyeretnya. Tapi wajah Michel tampak tak berdosa, ia seakan hanya menjalankan tugas.

#Pemilik dengan pistol teracung, M. Bouc (Tom Bateman): “This is luxury my friend, not some new trend.

Si tampan yang memuja kemewahan kereta Orient inilah yang langsung meminta Poirot untuk memecahkan kasus ketika tahu ada pembunuhan saat kereta terhenti longsor. Ini mengenai reputasi Perusahaan miliknya, sebelum kereta kembali berjalan ia memohon kepada Poirot agar sang pembunuh sudah ditemukan. Tapi mengingat kasus pembuka yang ternyata polisi pelapor sendirilah pelakunya, bukan hal mustahil pemilik jua sutradara kasus bukan?

Dua belas tersangka, plus dua penanggung jawab Orient Express. Berhasilkah kalian menebak siapa pembunuh sebenarnya? Ketika semua karakter mencoba merancang kebohongan, hanya dua sosok yang tak bisa kena tipu yaitu Tuhan dan Poirot!

Dari novel Penulis favorit Agatha Christie, Murder On memang sebuah remake, karena tahun 1974 Sidney Lumet pernah mengadaptasi. Konon bagus, dan sukses sehingga jasi semacam tolok ukur. Termasuk klu yang di akhir menuju ‘Death On The Nile’, itu juga sudah dibuat. Proyek berikutnya Branagh berpotensi memecah belah kubu lagi. Memang kenikmatan sejati di dapat kalau esensi kejutnya kena, men-jab muka penonton. Karena saya belum lihat versi jadul dan menahan baca novelnya, kejutan peraga dengan mimik sempurna bak lukisan Leonardo Da Vinci, The Last Supper sukses besar.

Keluhan utama film ini, (mungkin) yang paling krusial. Misscast Branagh, dia jelas jauh dari penggambaran Christie seorang Poirot yang kenal. Gendut, kumis yang terawat baik, mengerucut dan tebal (tapi tak seekstrem itu juga kali), dan agak pendek. Branagh terlalu tampan, walau kumis palsunya merambah wajah, kegagahannya tak hilang. Tapi apalah, era sudah banyak berubah. Sherlock saja bisa sukses di tangan Robert Downey Jr., yang juga tak ada mirip-miripnya sama seni tulis Sir Arthur Conan Doyle, bahkan harusnya lebih parah karena aksen British khas itu lenyap, Branagh orang Irlandia dan aksennya masih ada. Jadi jelas, saya menerima dengan tangan terbuka Poirot pertama yang saya tonton di bioskop ini. Lagian Branagh adalah produsernya, satu tim sama Ridley Scott, Mark Gordon, Michael Schaefer jadi yah, dia yang punya duit biarin aja. Apalagi tahun 2015, James Prichard, cicit sang Penulis sekaligus CEO Agatha Christie Ltd. sudah memberi hak adaptasi ke Kinberg Genre, dan rancangan sekuelnya pun dipersiapkan. Dia yang punya duit, dia juga yang bikin, dia pula yang main peran utama. Narsis banget. Hay whatever Purist, karena poin yang dipuja penikmat layar lebar first thing first, ya cerita. Kisahnya harus kita akui, bagus banget. Walau tentu saja ini semua berkat sang Penulis, Dame Agatha Mary Clarisa Christie yang bisa membuat plot berlapis. Michael Green tetaplah harus diapresiasi. Ini adalah film ketiganya tahun ini yang ia tulis setelah Logan yang muram itu dan Blade Runner 2049, belum kutonton. Jelas masuk daftar antri.

Saya mencatat ada lima adegan keren:

#1. The Wailing Wall

Walau tak ada adegan ini di novel manapun karya Agatha Christie mana pun, opening ini sudah pas. Terlepas saat ini Yerusalem sedang berhawa panas terkait penyataan Presiden Trump yang sepakat memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv. Bagian ketika ketiga terduga pencurian berjejer di pelataran Tembok Ratap. Sempat was-was juga Poirot akan menyebut salah satunya, karena kalau script itu menunjuknya pasti kena cekal di negara yang mayoritas. Dan syukurlah, sang pelaporlah yang kena. Apa kalian kira tongkat yang ditancap itu sekedar iseng?

#2. Hermione

Nama ini istimewa. Jadi sebuah trivia sederhana yang berubah mewah saat nama putriku disebut. Jamuan minum teh, salju yang tipis, kepala kereta yang oleng, senyum Poirot yang ambigu serta mimik cantik Daisy. 

#3. TKP

Pagi saat tahu ada pembunuhan, Poirot meminta sang dokter untuk ikut memastikan bersama jua sang Pemilik yang khawatir dan proses analisis deduksi yang Indah. Yang istimewa dari bagian ini adalah, bagaimana kamera menyorot ada di atas, bergerak lambat menyusuri gambar-gambar lokasi kematian. Bagus, sangat bagus. Gaya pengambilan gambar bak tatapan Tuhan kepada umatnya, dengan palu untuk menghakimi.

4. Analis Scan Tersangka

Setelah analisis mayat korban, Poirot yang mendapat info dari Bouc ada dua belas orang penumpang dalam gerbong yang kemungkinan sebagai pelaku, Poirot berjalan pelan untuk mengumumkan. Sarapan khidmat itu menjadi mencekam karena, sambil berjalan menatap kanan kiri meja Poirot men-scan setiap orang. Satu orang absen, setiap wajah tampak mencurigakan, setiap orang wajib diwaspadai, acting semua actor pas. Cara pengambilan gambar, juga istimewa seakan kamera itu adalah mata sang detektif. Scan itu ditutup dengan hening tanya. ‘Kalian semua adalah tersangka’

5. The Last Supper

Suara tembakan, dan dalam ringkus maya. Dua belas penumpang dalam jamuan terakhir. Dan kita masih bertanya-tanya, sebenarnya siapa pelakunya? Nyaris semua Fakta karakter diungkap, Poirot memegang pistol, moncong-nya mengarah kepada ssetiap orang, bergantian. Dengan tenang membuka final act dan taaa-daaa… seluruh penonton terkesima, tepuk tangan menggema, convetti diterjunkan, dan tempik sorai terdengar sepanjang terowongan. Bagaimana bisa ada cerita se-brilian ini?

Spoilert Alert! — Gatal saya tak menjelaskan bagian ini, seakan ada eek yang tertahan kalau ga dilepas. Satu paragraf ini tak menjawab siapa pembunuhnya, tapi jelas memberi banyak jawab. Kita hanya duduk menyaksikan kepeningan Poirot, semua dipecahkan olehnya. Jadi baca dengan bijak.

Nama Lanfranco Cassetti jadi kunci utama kasus ini yang menyambung ke kasus penculikan, pemerasan disertai pembunuhan Daisy Armstrong. Keluarga Armstrong yang terpukul kehilangan buah hati berefek panjang sekali. Ayahnya bunuh diri, dan semua elemen penumpang menyimpan dendam. Dendam membara. Identitas Cassetti diungkap sesaat setelah pembunuhan. Lalu kulit bawang orang-orang terkasih sekitar keluarga Armstrong dikupas satu per satu. Berikut masa lalu para penumpang. Huruf H yang dicari dalam klu ternyata adalah identitas dari Elena – yang berarti Helena Goldenberg alias Countess Andrenyi aka tantenya Daisy! Sonia Armstrong ternyata nyonya Hubbard alias Linda Arden! Wow, silakan terkejut. Dragomiroff adalah ibu baptis Sonia. Schmidt adalah koki keluarga. Artbuthnot adalah rekan seperjuangan dalam perang. Mary adalah guru privat Daisy. Marquez adalah sopir keluarga. Masterman adalah kepala pelayan. Pilar adalah pengasuh. Ayah MacQueen adalah pengacara kasus dan membuat kacau segalanya karena mengakibat matinya Susanne. Sudah? Belumlah, harus ada tembakan penutup. Dan dalam terowongan itu memang terdengar tembakan pada akhirnya, walau tak menggelegar. Kalian masih tak akan bisa menebaknya?!

Ada iklan cokelat Godiva di film, dengan setting tahun 1934 terjadi ketidaksingkronan dengan fakta. Karena bungkus cokelat itu menggunakan logo baru, dan tokonya sendiri hanya ada di Brussel tahun 1950. Bagaimana bisa ada dalam perjalanan kereta Orient Express? Dalam novel uang yang ditawarkan Rachett adalah 20,000 Dollar di film sebesar 10,000 lalu menaikkan tawaran 15,000 Dollar, tapi akhir dari dialog itu sama. “Gue ga suka tampang lu!”

Skoring Patrick Doyle bagus sekali, walau rasanya sulit masuk nominasi Oscar tapi benar-benar bernyawa mengiringi setiap percobaan pemecahan kasus. Saat credit title, saya seorang yang menikmati Lagu ‘Never Forget’ yang dinyanyikan dengan indah oleh Michelle Pfeiffer. Tulisan biru dengan latar hitam, mencoba nyeleneh, tak lazim.

Saat akhirnya kereta menurunkan Poirot di stasiun Brod, saya sudah mematok satu hal yang pasti. Pembunuhan di Sungai Nil, kutunggu dengan tak sabar. Dan segala adaptasi Christie layak diantisipasi. Termasuk menyaksikan versi lama? Go ahead!

Menonton bersama tetangga meja kerja. Bagaimana pendapat Rani Skom? “Murder On itu apa ya, eerrgh… kalau yang belum tahu ceritanya sih mungkin apa, eeergg… bagus. Tapi karena sudah tahu ceritanya gmana ya? setiap film, eh setiap film yang diadaptasi dari buku yang udah gue baca itu selalu errgh… (jeda beberapa detik). Beyond my expectation, gitu. Tapi untuk nilai, 1 sampai 10. Murder On The Orient Express itu dapat nilai 8. Dah, udah!

Transformasi hebat dari seorang guru pekok, aneh dan narsis Gilderoy Lockhart menjadi detektif hebat, menjadikannya Poirot kelima belas yang muncul di layar setelah Austin Trevor (1931-1934), Francis L. Sullivan (1937), Heini Gobel (1955), Martin Gabel (1962), Tony Randall (1965), Horst Bollman (1973), Albert Finney (1974), Peter Ustinov (1978-1988), Vidas Petkevicius (1981), David Suchet (1989-2013), Anatoliy Ravikovich (1981), Alfred Molina (2001), Konstantin Raykin (2002) dan Mansai Nomura (2015). Apalagi yang dikomplainkan? Mau membanding-bandingkan mana yang terbaik? Semua Poirot ada di masanya, semua punya keunggulan dan kekurangan. Waktu mengubah banyak hal, pengalaman adalah pelajaran paling bermakna. 

I just loved everything and every bit of this film, it’s just was amazingly director and perfect story. Ujarannya, “I see evil on this train.” Berujung pemecahan kasus berkelas, sangat menyenangkan menyaksikan Poirot pertamaku di layar lebar. Scary, and yes I thoroughly enjoyed this movie. What a journey. For great escapism and a reminder of a simpler time, Murder On achieves this goal for audience that truly appreciate its greatness!

Well Done.

Murder On The Orient Express | Year 2017 | Directed by Kenneth Branagh | Screenplay Michael Green | Cast Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Leslie Odom Jr., Tom Bateman, Penelope Cruz, Richard Clifford, Josh Gad, Johnny Depp, Derek Jacobi, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, Olivia Colman, Willem Dafoe | Skor: 5/5

Duh, saya belum bahas Herkules dan Image Dragon, believer!!!

Karawang, 08-09–91217 – Sherina Munaf – Ku Disini