The Spell Bound Book #11


Nikolaus Arborescent: ”Sudah jadi hukum kalau yang lemah akan takluk dan yang kuat akan bertahan. Tidak. Tidaklah baik bagimu bahwa kau melihat Anjing Pemburu dan ya ya kau bisa saja mati, meski jika mengingat kalau kau manusia, cepat atau lambat hal ini memang akan terjadi padamu.”

Yah sekali lagi saya terjatuh saat menikmati fantasi. Jauh dari harapan. Terlalu biasa untuk sebuah buku yang menyangkut sihir. Padahal saat membelinya saya menyingkirkan buku-buku fantasi lain yang lebih berpotensi meledak, nyatanya malah kecewa. Entah kenapa akhir-akhir ini membaca fantasi mulai membosankan, padahal ini genre favoritku. Mulai bosan?

Kisahnya bersetting di Italia, tempat snag Penulis mencipta kisah. Bahwa seorang kakek tua bernama Pak Gaspari mengalami malam yang aneh. Di mana Cornelia sang cucu mungil, anak dari pasangan Rossella dan Daniel seakan mendapat wahyu dengan munculnya cahaya kehijauan, didatangi malaikat kasat mata. Terjadi gempa atau guncangan, dan petir memainkan perannya yang membuat satu keluarga panik, lalu dari kamar Cornelia muncul bayangan besar seperti burung rajawali yang menghampiri setelah beberapa saat pergi.

Kisah lalu berlanjut dengan kalimat, ’10 tahun kemudian…’ yang berarti Cornelia kini sudah remaja. Nenek Gaspari sudah meninggal, Corrado sang paman menghilang dan tak satu warga pun tahu rimbanya. Sehingga mereka akhirnya membuat arsip kematian Corrado Aldrovandi di notaris yang secara otomatis rumah tua mereka nantinya akan diwariskan kepada Cornelia dan Julius, saudaranya. Sebagai kakak-adik wajar terjadi pertengkaran, seperti berebut kamar. Siapa yang lebih layak mendapat ruang yang lebih lebar. Karena hari itu mereka pindah, pulang dari apartemen sewa menuju rumah tua Pak Gaspari.

Untuk menambah kesan mistis, ditambahlah karakter kucing bernama Merlin (yang langsung mengingatkanku pada Tink-nya The Witch Catcher). Ditambah lagi tetangga aneh mereka Bu Perponti bercerita hal-hal mistis tentang rumah mereka. “Maksud Anda, Anda tidak tahu apa-apa tentang itu? Ya Tuhan! Aku dan mulut besarku! Katanya karena Menara ini tidak ditinggali dalam waktu lama. Hantu itu tidak memperbolehkan seorang pun tinggal di bawah atapnya.” Awalnya sempat membuat Cornelia begidik tapi mencoba biasa saja. Maka malam itu ketika ia beranjak tidur seorang dalam bayang mendatanginya.

Nah cerita sebenarnya dimulai dari sini. Seuatu hari ia mendapati Merlin masuk ke dapur dikejar, malah masuk ke dalam ruang bawah tanah. Sesaat Cornelia mempertimbangkan untuk ikut turun atau justru menguncinya, tapi ia putuskan turun. Ada jejak-jejak sepanjang tangga lalu lenyap di balik dua kardus besar. Ada bayang yang berlari di sana yang membuatnya takut. Seseorang? Hantu? “Keluar dari sana!” 

Tak ada respon. Lalu setelah beberapa saat ia pun mendengar sebuah suara tanpa sosok. Dialog mereka membuatnya meneteskan keringat takut, tapi ia terus mengamati dan mencari sumber suara. Ada sejenis anjing kebur. Ternyata yang berbicara adalah sebuah jam! “Aku mungkin bukan salah satu perkakas mengagumkan paling digemari di masa itu, tetapi aku melayani dengan penuh hormat selama 637 tahun dan aku tak peduli semua orang meledekku. Apa sebaiknya aku membiarkan waktu berjalan lagi dan membiarkan teman berbulumu itu pergi? Atau kau lbih suka membuatnya menghilang, mengubahnya menjadi tanaman hias cantik atau semacamnya?”

“Dan semua ini, waktu yang dihentikan. Apakah kau yang melakukannya?”

“Tentu saja, Aku si Horarium! Salah satu tugasku menghentikan waktu, dengan porsi ruang terbatas. Dan juga hal-hal kecil lainnya.”

Setelah diskusi panjang lebar, si jam aneh lalu terdiam dan bari sadar bahwa Cornelia bukan manusia biasa. Saat ia klik si Horarium semua terhenti. Di luar badan jam di bawah lapisan buram dengan tulisan nyaris tak terlihat dia akhirnya membaca: Nikolaus Arborescent Fecit Me—. Dialah yang telah membuat sang penghenti waktu.

Cornelia lalu melacak sang pencipta. Tanya orang tua, tentu saja tak tahu. Kode C.G.A membuatnya berjalan ke perpustkaan kota, sebuah bangunan mengesankan tapi sederhana, tempat Bu Rossela bertugas menyalin dokumen. Setelah masuk, ia mendapati patung-patung penyair. Dalam koridor dan ruang-ruang besar mengintip di balik atap melengkung dengan plat melengkung yang menandakan topik buku. Tempat sunyi, ia masuk ke koridor lain di sana ada pintu tua di bawah jendela raksasa. Cornelia mendekat dan ada plat bertuliskan NIKOLAUS ARBORESCENT 1189. Wow yang dicarinya ketemu. Ia membuka pintu dan bergetar antusias.

Dalam keremangan cahaya, berhembus aroma kuat jamur dan lumut. Setelah menyapa hallo beberapa kali taj ada jawaban ia menemukan seorang kakek, pria paruh baya beruban acak-acak. Yang menjawab, “Oh baiklah… kau di sudah di sini? Aku kira kau… orang lain.”

“AKu mencari informasi tentang Nikolaus Arborescent”

“Oh siapa mencari akan menemukan sesuatu, orang perlu mencari ke tempat yang tepat. Tak diragukan lagi kau telah mencari tempat yang tepat. Namun hal yang adalah mengetahui dan kau… kau adalah orang yang tepat.” Pria itu adalah si tukang jam yang dicarinya.

Para orde pertama adalah makhluk yang tertempa oleh sihir itu sendiri, bagian integral dari sifat alami mereka dan karenanya sihir itu muncul dari dalam terkadang luar biasa dan berbahaya akan tetapi dalam kebanyakan kasus ia akan membias keluar lewat mata! Juga matamu, kalau diperhatikan dengan jeli, bersinar secara khas. Berkilau! Dan ternyata Cornelia adalah peri!

Nikolaus Arborescent mengajari Cornelia tentang kehidupan peri dan bersiap untuk menghadapi seorang necromancer yang jahat. Dalam petualangnya di sebuah taman yang gerbangnya telah terbuka mahkluk-mahkluk dunia lain, kobold, goblin, naga, dan seterusnya mulai menyerbu ke dunia manusia seperti sepuluh tahun lalu dan kali ini, untuk kali ini sebuah buku, kitab peri yang hilang dipertaruhkan. Kepada siapa buku penting itu akhirnya berlabuh? Berhasilkah Cornelia akhirnya menghadapi musuh besarnya? Dimana Corrado?

Hufh, sayang sekali buku ini jelek. Ending-nya menggantung, kemungkinan ada lanjutan. Saya sendiri sudah tak peduli. Sedari awal sudah boring. Bung Miki tak bisa membuat pembaca terkesan, kisahnya loncat-loncat. Pemilihan diksi yang payah, atau terjemahnya? Kurasa enggak. Pastilah dari sumber yang buruk. Saya sendiri sebenarnya lelah, sampai di tengah sudah tak kuasa lanjut. Tapi karena kewajiban saya tuntaskan. Dan hasilnya? Tak banyak kejutan. Jangan berharap Cornelia tewas. Jangan berharap ada twist seru, jangan pula menginginkan musuh besar ala ‘Kau Tahu Siapa’. Semua datar tak berbekas. 

Kisah ini dinukil dari banyak cerita, dari anak yang ajaib tapi tak menyadarinya macam Harry Potter. Dimensi lain yang menyerang dunia kita macam Tinta Emas. Dunia lain yang berbeda durasi waktu macam Narnia. Sampai perebutan buku ajaib seperti dalam The Chronicles of Spiderwick. Sebagai buku terbitan tahun 2000an jelas ini buku sekedarnya dan terinpirasi darinya. Mengecewakan. Huhuhu, tak semua fantasi seru.

Sampulnya juara. Dengan lubang tepat di tengah dimana gambar naga dan seseorang berkerudung menatap jauh ke sebuah air tejun. Ada poster khusus dengan kertas luks yang dulu sebelum baca janji kalau buku ini bisa memuaskan maka akan saya pajang, nyatanya flop.

Kitab Peri Yang Hilang | by Miki Monticelli | copyright 2007 | diterjemahkan dari The Spell Bound Book | illustrator Silvia Fusetti | Penerjemah Ika Nurhayati | Editor Nuraini | Pewajah sampul Zariyal | Layout Fathurrida | Penerbit Puspa Storia | Cetakan 1-Jakarta, 2010 | vi+394 hlm; 20 cm | ISBN 978-602-8290-39-5 | Skor: 2/5

Ruang HRGA NICI CIF, Karawang, 140617 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#11 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s