Naura & Genk Juara

Naura & Genk Juara

Juara adalah kita yang menang melakukan banyak kebaikan bukan hanya menang dalam suatu lomba.

Bernyanyi di bioskop. Film musical lokal terbaru yang saya tonton bersama keluarga di hari Minggu, 19 Nov kemarin adalah hiburan film keluarga yang jualan utamanya nyayi dan nari. Lupakan plot dan konflik berat, jelas ini adalah hiburan anak-anak dengan segala keceriaan yang terkandung di dalamnya. Sedari awal memang ekspektasiku tak setinggi musical terbaik Indonesia sepanjang masa Petualangan Sherina, tapi jelas segala promo material dan tawaran nyanyian anak-anak bak Sherina Munaf dan Sadam-lah magnetnya. 

Di tengah gempuran sekumpulan superhero di Liga Keadilan dan promo kencang film festival Marlina, Naura memberi tawaran keceriaan di tengah kemuraman keduanya. Sebuah opsi lain untuk liburan bersama keluarga dengan mengajak si kecil untuk berdendang di bioskop.

Kisahnya dibuka dengan animasi yang memperlihatkan para karakter utama. Macam main game adventure Sonic, mereka menemukan item dalam dendangan lagu. Dalam live action, SD Angkasa sedang mengadakan lomba sains. Khas anak-anak Sekolah Dasar, dari mainan sembur cola, drone modifikasi sampai GPS system. Semua disajikan dalam gerak tari dan lagu. Pemenang lomba? Tentu saja Naura (Adyla Rafa Naura Ayu) yang sekaligus menjadi ketua kelompok mewakili sekolahnya bersama Okky (Joshua Rundengan) dan Bimo (Vickram Priyono) dalam Kemah Kreatif lomba di kawasan hutan tropis Situ Gunung, Sukabumi. Pembuka yang lumayan.

Di hutan lindung itulah kita bertemu komplotan pencuri satwa lindung, Trio Licik, sindikat perdagangan hewan liar. Mereka melakukan kejahatan pencurian hewan yang dilindungi dengan senjata bius, berkendara mobil trail macam di lomba Dakar. Kebetulan tempat kejadian pencurian bersanding dengan tempat kemah lomba. Kebetulan juga, Noura dkk memergoki. Kebetulan lagi dalam proses melarikan diri dengan salah satu teman mereka dalam sekap (coba tebak siapa? Yang pasti bukan Naura), hujan turun sehingga jalanan becek dan sulit untuk keluar dari kubangan.

Tahu ada anak hilang, para penanggung jawab mengerahkan penjaga hutan (ranger who?) untuk misi pencarian. Sang kepala pelaksana yang bertanggung jawab Pak Marsono yang menggantikan sang ketua (acting kaku Shelomita) karena sedang ke Jakarta tampak selalu konyol. Menggoda ibu Laras (hi ibu Yayas) memberi instruksi salah karena meminta pencarian ke arah Timur, padahal menurut info ranger cilik Kipli (Adryan Sulaiman Bima) yang melihat langsung, para penjahat ke arah Barat. Malam gerimis itu, menjadi makin menggelap karena saat trio jagoan ini mencoba melakukan penyelamatan justru tertangkap dan terpenjara. Ga perlu plot rumit, karena antagonis utama sudah diperlihatkan di sini.

Nah, saat itulah monyet usil milik Kipli bernama ‘Cepot’ melakukan aksinya yang sebelumnya merepot karena membawa tool drone bagur kini memberi harapan, melempar kunci lewat lubang bawah pintu sehingga mereka berhasil lolos. Karena terdesak waktu, trio jagoan membangungkan pasukan peserta kemah demi menyelamatkan sahabat mereka ke arah yang benar. Berhasilkah? Siapa dalang sesungguhnya kejahatan ini?

Secara keseluruhan film, jelas ini film yang biasa banget. Tak ada yang istimewa kecuali gerak tari dan lagu. Cerita anak yang benar-benar buruk. Trio Licik super duper konyol, dan yang sedang booming yang bilang mereka sering iqtifar saat aksi pencurian, emang patut disayangkan. Sangat disayangkan, aksi mereka bukannya lucu tapi benar-benar menjemukan. Ok, dalam Petualangan Sherinaku ada juga penjahat bertindak aneh dengan memunguti permen Sherina yang jatuh dan berkoar jahat tapi tetap aliran plotnya masih sangat bisa diterima. Lha ini? Astaga, tak ada logika.

Sebelum booming pesan negative yang viral itu, First impress saya pas peserta berkumpul juga mencermin tak fair. Anak-anak perempuan, tak satupun berjilbab. Padahal fakta kalau ditelusui saat ini banyak lomba anak SD yang berprestasi, banyak sekali pesertanya sudah mengenakan hijab sedari kecil. Pendidikan agama dari usia dini. Jadi yah, menambah nilai minus. 

Pengambilan gambarnya juga buruk, sering kali blur saat kamera menjauh. Iklan di mana-mana dari Okky Jelly Drink, Indomilk sampai Tini Wini Bity. Cara berpromosi produk yang menjalar di layar lebar. Animasi campuran juga sangat biasa, di era kartun serba wow, pembuatan animasi lokal di bioskop memang harus diapresiasi tapi di film ini sangat biasa, tak istimewa. Adit dan Sopo Jarwo what? Bahkan saat Naura dkk terperangkap dan imajinya melalangbuana memisah realita menjadi kartun, terasa sekali masih kasar geraknya, bagian saat ia menatap pintu dan terasa putus asa, feel sedihnya jua ga dapat. Jangan-jangan. Sayang sekali.

Buang jauh-jauh ekspektasi the next Sherina, buang jauh-jauh logika tema penyelamatan hewan langka, buang jauh-jauh logika, buang jauh-jauh pesan moral pendidikan berkelas, buang jauh-jauh harapan seru nan menghibur. Naura dan Genk jelas film gagal, hanya musical-nya yang lumayan, ‘Jangan Jangan’, ‘Kita Adalah Juara’, ‘Berani Bermimpi’. Album produksi Trinity Optima Production, yah layak diburu – Andi Rianto menyelamatkan hari. Naura, putri penyanyi Riafinola Ifani Sari aka Nola ‘AB Three’ dengan segala keceriannya (dan imut) memang menjanjikan, moga ga salah jalan. Terus berkarya ya. Dengan bakat dan kerja keras, kesempatan akan tercipta. Bernyanyilah dengan hati. 

Be Positif, ambil yang baik buang jauh yang buruk. Or is it just me?

Naura & Genk Juara | Tahun 2017 | Sutradara Eugen Panji | Penulis Naskah Asaf Antariksa, Bagus Bramanti | Pemain Adyla Rafa Naura ayu, Joshua Rundengan, Shelomita, Vickram Priyono, Andryan Bimo | Skor: 2/5

Karawang, 231117 – Sherina Munaf – Lihatlah Lebih Dekat