Sihir Perempuan – Intan Paramaditha

“Ibu pernah bercerita bahwa surga dan neraka sama gelapnya dengan bayang-bayang. Kadang-kadang ia menghinggapi kepalamu seperti kupu, kadang-kadang hilang, dan tanpa perlu merasakan matipun mereka muncul silih berganti, begitu dekat dengan tarikan napasmu.”

Sebagai buku keseratus yang kubaca tahun ini, harusnya memang istimewa. Awalnya berencana mau baca karya teman dari buku terbaru Q & A nya Sherina Salsabila yang sekarang kuliah di Turki, atau Hidden Agenda nya Jacob Julain, teman lama di Kemah Sastra tahun 2011, atau Twiries nya si kembar Eva dan Evi yang kebetulan tahun ini karya terbarunya Teh Evi masuk dalam karya layak terbit di Dewan Kesenian Jakarta. Entah kenapa malah ambil Sihir Perempuan, padahal baru kenal Intan tahun ini via Gentayangan, baru berteman di sosial media. Mungkin karena alasan sederhana twit kita direspon, pos ig kita dikomen, atau sekedar klik like sehingga kita tahu sang Penulis tahu karyanya sedang dinikmati. Buku ini kubeli di hari-hari terakhir promo Gramedia BIG Thank You Sale diskon 25% untuk karya sastra terpilih, sekali lagi padahal saya niatnya ke toko buku mau ambil O nya Eka Kurniawan, eh malah membawa kumpulan cerpen ini ke kasir, tolong saya kena sihir!

I have gone out, a possessed witch, haunting the black air, braver at night; dreaming evil, I have done my hitch over the plain houses, light by light; lonely thing, twelve-fingered, out of mind. A woman like that is not a woman, quite. I have been her kind. – ‘Her Kind’, Anne Sexton (1928-1974)

Setelah dibuka dengan kutipan Her Kind, tanpa ba bi bu kita langsung diajak ke cerita pertama tentang misteri penghuni loteng, dan berikutnya, total ada sebelas kisah yang bersinggungan dengan dunia lain, bagaimana cerita mistis terkadang lebih masuk akal ketimbang kenyataan.

#1. Pemintal Kegelapan
Sebagai kisah pembuka, Pemintal Kegelapan sudah terbaca ganjil sedari mula bahwa seorang ibu bertutur pada anaknya tentang hantu penghuni loteng rumah mereka. Sang Aku yang penasaran tumbuh dengan misteri hantu perempuan, berambut panjang terurai yang selalu duduk di depan alat pemintal. Pekerjaan itu tak pernah usia karena si hantu perempuan tidak menggunakan benang untuknya, ia memintal kegelapan.

Sampai akhirnya fakta dibuka di ending. Sang hantu yang tak menyelimuti gaib itu adalah… “Ayo, lihat sekali lagi.”

#2. Vampir
Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku. Cerita unik tentang sekretaris yang tak lazim. Bagaimana ia tahu sang bos yang suka main serong, menggodanya ngajak ngopi ke kafe dan jelas ini ke arah mana. Setelah menolak ajakan mesum pertama, sang bos mengantar pulang di mana Saras tinggal sendirian, tidak tidak, cerita tak mengarah yang kalian duga. Karena ini cerita dengan judul seram: vampir, niatan jahat itu tak meuwujud seklise sinetron. “Ia tidak kerja hari ini.”

#3. Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari
Ini versi gelap cerita putri Disney yang sudah termasyur itu, yang kehilangan sepatu kaca dan sang pangeran mencarinya selewat tengah malam. Ia bernama Sindelarat. Kau mengenalnya? Ia sudah melegenda jadi mungkin kau tak akan percaya kesaksianku. Larat – begitu kami memanggilanya – begitu kotor seolah ia senantiasa berbedak jelaga.
Versi cadas, sesuai judulnya: ada perempuan buta tanpa ibu jari, sang narator kita ternyata sembrono – kalau tak mau dibilang konyol. Demi menjadi putri pilihan melakukan hal-hal diluar nalar. “Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau tak akan terlalu banyak berjalan. Jadi kau tak membutuhkanya.” Cinde-Larat merupa tak hapily ever after?!

#4. Mobil Jenazah
Misterius adalah hal pertama yang terlintas seusai menuntaskan kisah absurd dokter yang menanti taksi. Polanya mungkin sudah mulai terbaca, mengingatkanku pada Alice dalam film Lewat Tengah Malam yang lalu dijabarkan menjadi novel oleh Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena dan kisahnya sendiri diinspirasi dari The Sixth Sense nya M Night. Namun tetap, Mobil Jenazah sungguh nikmat diikuti, tetap tak menduga akan seperti ini.

Dari keluarga kaya yang harusnya bahagia, memiliki suami mapan, dua anak cerdas dan kuliah di perguruan bergengsi, Karin seorang dokter itu menjalani malam aneh ketika mobilnya rusak sehingga ia harus naik taksi sepulang dari kerja, ada mobil jenazah mengintainya? Sang sopir yang aneh tampak tersenyum menawari pulang ketika Karin menanti taksi kosong datang. Riana temannya menemaninya ngobrol sembari menunggu kendaraan. Dan boom! Pembaca (mencoba) terkejut, sang protagonis malah lebih terkejut! “Sebentar lagi, taksi pasti datang.

#5. Pintu Merah
Pintu Terlarang nya Sekar Ayu Asmara dengan modifikasi aneh. Narnia dengan sentuhan misteri. Tempatkanlah hubungan keluarga yang rumit. Pintu merah yang misterius, dibaliknya ada hutan. Ada sumur tua yang terlah berlumut, Dahlia disambut udara sejuk yang mengalir. Srigala, api unggun dan makhluk-makhluk mistis. Lalu ada cermin ganjil.
Kau masih ingat betapa nakalnya, Adit?

#6. Mak Ipah dan Bunga-Bunga
Mungkin yang terbaik. Ada kejutan di akhir. Dendam kesumat dan segala perwujudan amarah, bersama bunga-bunga mawar yang perlu rajin disiram. Pengantin baru yang lelah menyambut tamu, menyatu dengan keluarga baru mertua, menyibukkan diri di dapur untuk berakting ‘istri idaman’. Marini menemukan keganjilan tetangganya yang tak membaur, hobinya menyiram bunga, orang-orang mengatakan ia gila tapi rasa penasaran adalah kutukan anugerah cerita bagus, maka Marini menyapa Mak Ipah. Dengan tawa getir, sebuah rahasia terlontar.
Kupikir dia waras. Dia bercerita tentang anak perempuannya seusiaku, bekerja di pasar swalayan.”

#7. Misteri Polaroid
Di sebuah studio foto bekas tempat angker, tempat bunuh diri gadis frustasi. Sang narator adalah asisten fotografer model. Jose mencipta suasana studio yang akrab, para model majalah pun otomatis mengenal jua asisten, bahkan mengingat namanya. Sampai suatu ketika muncul foto-foto janggal dengan bayang gadis terbakar. “Era polaroid akan segera berakhir.”

#8. Jeritan Dalam Botol
Menyimpan kepedihan dalam botol, tak hanya itu, ia jua yang bertugas mencipta kengerian itu sendiri. Apa yang dilakukan gadis baik-baik sepertimu di tempat ini? Sumarni, kau perempuan atau setan? Demi kehidupan kau harus mematikan yang lain. Ada burung yang harus membakar diri untuk melahirkan generasi baru. Kita menganggap sudah kodratnya terlahir untuk berkorban, untuk menjadi mulia. Tanya suara apa yang terdengar, disimpan dalam botol itu diungkap. Suara neraka.

Kau berada di sebuah ruangan putih, polos, tak berpintu. Kau tahu di mana ruangan itu berujung, tapi kau telah terisap ke dalamnya. Padahal merawat tanaman bagi Bapak adalah memupuk harapan. Sesuatu yang dijaga sejak kecil tidak akan ke mana-mana sewaktu besar.

#9. Sejak Porselen Berpipi Merah Itu Pecah
Ini juga salah satu yang terbaik. Dituturkan dengan luwes dan nyaman sekali, tentang porselen oleh-oleh saudara yang menemani pasangan renta. Sejak porselen berpipi merah itu pecah, keadaan tak banyak berubah. Bapak dan ibu senja yang melewatkan rutinitasnya, nonton televisi, minum kopi dengan baca koran dan pisang goreng yang mengepul. Sampai suatu hari Si Manis, kucing kesayangan memecahkan Yin Yin, boneka penunggu ruang tamu.

Jangan sedih Bude, boneka seperti ini banyak di toko suvenir. Dua bulan lagi saya akan ke sana. Nanti saya carikan gantinya buat Bude, ya…”

#10. Darah
Aku hanya sekrup yang bisa diganti ketika terlepas. Darah perawan? Darah menstruasi? Darah kejahatan? Aku mulai frustasi. Pernahkah darah perempuan menjadi subjek yang puitis? Meeting mencari ide untuk iklan pembalut yang inovatif. “Kalian bisa mulai dengan brainstroming. Mari kita kumpulkan jawaban tentang apa yang dirasakan perempuan saat menstruasi.” Darah dan hantu, mereka selalu hadir dalam cerita. Dan tumbuh-tumbuhan selalu membuatku mengantuk.

Aku ingat pertama kali tidur dengan kekasih pertamaku dengan jantung berdebar-debar sebab berada di batas antara perawan dan pelacur. Aku adalah keduanya: aku dan bayanganku di cermin yang serupa namun mendua.

#11. Sang Ratu
Sayangnya buku ditutup dengan cerita yang kurang nendang. Ratu Pantai Selatan dan bentuk lain pengorbanan di era modern. Persembahan, kekayaan, nafsu dan usaha klise perwujudan ambisi lelaki hidung belang. Cerita ini berakar dari ramalan. Herjuno, lelaki petualang yang menikah anak konglomerat karena hamil duluan. Aku menunduk. Kata-kataku lebih merupakan penyesalan daripada pertanyaan.

Kehidupan membosankan itu berubah kala ia mimpi liar, mimpi basah dengan klimaks tak terperi. Mimpi yang dicerita ke Gus, sang pencerita dan menghantar ke Ki Joko Kuncoro, dukun milenial yang meramal makna ganda: keberuntungan atau kehancuran karena perempuan dalam mimpi itu adalah Ratu Pantai Selatan. Nah! “Aku bilang kepada istriku kalau ada rapat di puncak.”

Dalam 158 halaman hanya kutemukan satu typo: ‘karana’ di halaman 15. Good! Suka sekali sama ilustrasinya Emte, ngena, mewakili kisah, goresannya cakep, luwes tampak nyata, dari 12 gambar (termasuk sampul) paling suka ilustrasi di Misteri Polaroid. Tampak samar seorang gadis yang terbakar dengan latar kobaran api dan tampak tangan kirinya terentang. Karena memang polaroid ini misteri utama cerita, sebenarnya sebelum membacapun kita tahu ke arah mana nantinya. Gambar berbicara, sang ilustrator membungkusnya dalam visual manis.

Setelah puas dengan Gentayangan (masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018), dan Sihir Perempuan (masuk lima besar pula Khatulistiwa Literary Award 2005), selanjutnya apa? Ditunggu tulisan berikutnya dengan tak sabar… banyak yang menginginkannya, kata Ustadzah. Ia sumber malapetaka!

Sihir Perempuan | Oleh Intan Paramaditha | GM 617202018 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Pernah diterbitakn oleh Kata Kita | Editor Eko Endarmoko | Desain sampul dan ilustrasi buku Muhammad Taufiq (Emte) | Tata letak Fitri Yuniar | Cetakan pertama April 2017 | ISBN 978-602-03-4630-4 | Skor: 4/5

Karawang, 081218 – Sheila On 7 – Buat Aku Tersenyum

Ditulis di Sabtu dini hari dengan rentetan mp3 kompilasi lagu lama (dengan player winamp klasik), dalam kegerahan udara karena kipas angin di ruang baca, mati!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s