Frankenstein – Mary Shelley

Frankenstein – Mary Shelley

Kutipan-Kutipan

Apakah aku memintamu, hai, Pencipta, untuk menjadikanku manusia dari tanah liat itu? Apakah aku memohon padamu untuk mengeluarkan dari kegelapan? – Paradise Lost

Ekpedisi yang kuimpikan sejak kanak-kanak. Aku melalaikan pendidikanku, tapi aku sangat gemar membaca.

Gerakan kereta menyenangkan, dan menurut pendapatku rasanya jauh lebih nikmat daripada naik kereta kuda di Inggris.

“Sungguh mulia hatinya.”

Kenanglah aku dengan penuh kasih sayang, seandainya kau tak pernah mendengar apa pun lagi dariku.

Apa yang bisa menghalangi kebulatan hati dan tekad manusia?

Mustahil aku akan menemukan seorang sahabat di tengah samudera luas. Tapi ternyata kini aku bertemu orang yang sebelum semangatnya patah karena penderitaan tentu sangat menyenangkan sebagai sahabat.

Perasaannya sangat halus, bicaranya mengalir dengan cepat dan fasih, kata-katanya terpilih.

Hidup-mati satu orang tak berati apa-apa demi penemuan pengetahuan yang sedang kuselidiki ini. Sebab penemuan yang sedang kucari ini sangat besar menfaatnya bagi seluruh umat manusia.

“Kita semua makhluk yang tidak sempurna, hanya separuh jadi.”

Kau punya harapan, dan dunia luas terhampar di hadapanmu. Kau tak punya alasan apa pun untuk berputus asa. Tapi aku… telah kehilangan segala-galanya dan tak bisa memulai hidup dari permulaan lagi.

Dengan sungguh-sungguh aku berharap semoga kelak impianmu tidak berubah menjadi ular berbisa yang akan menggigitmu.

“Aku punya hadiah yang sangat Indah untuk Victor-ku. Esok pagi dia akan mendapatkannya.”

Kabarnya Sir Issac Newton pernah menyatakan merasa seperti anak kecil yang sedang memunguti kulit kerang di tepi samudera kebenaran yang luas dan belum terjelajahi.

Konstruksi jiwa kita memang sangat aneh. Kita hanya dihubungkan oleh ikatan yang sangat tipis menuju kebahagian atau kehancuran.

Tekadir terlampau kuat, dan hukumnya yang tidak tergoyahkan telah menentukan kehancuranku yang mengerikan.

Berat sekali rasanya berpisah serta saling mengucapkan kata-kata “Selamat Tinggal!” tapi akhirnya perkataan itu keluar juga.

Mereka telah menjelajahi surga. Mereka telah menyelidiki bagaimana darah beredar dalam tubuh kita, serta hakikat udara yang kita pakai untuk bernapas. Mereka telah menemukan kekuatan baru yang hampir tak berbatas besarnya. Mereka bisa memerintahkan halilintar di langit, meniru gempa bumi, dan bahkan mencemooh dunia yang tidak kelihatan dengan bayangannya sendiri.

Kecuali pernah mengalaminya, tak seorangpun yang bisa memahami godaan ilmu pengetahuan. Dalam pelajaran lain, orang hanya bisa maju sejauh yang sudah diketahui orang sebelumnya. Tapi dalam penyelidikan ilmu pengetahuan selalu ada bahan untuk memperoleh penemuan dan keajaiban baru.

Dari mana sebenarnya asal nyawa setiap makhluk hidup. Pertanyaan ini memang lancang. Sebab masalah ini sudah dianggap rahasia abadi.

Bagiku kuburan hanyalah tempat menyimpan tubuh yang sudah tak bernyawa, yang dari tempat bersemayam kecantikan dan kekuatan kemudian berubah menjadi makanan cacing.

Aku melihat bagaimana kematian berhasil mengalahkan kehidupan, aku mengerti bagaimana cacing mewarisi keajaiban mata dan otak.

Kau bahkan mampu menghidupkan benda tak bernyawa.

Sadarilah betapa berbahayanya orang memiliki ilmu pengetahuan. Dan juga yakinlah betapa lebih bahagia orang yang menganggap kota kediamannya sebagai dunianya, daripada orang yang ingin menjadi lebih besar daripada yang diizinkan kodratnya.

Manusia ciptaanku akan kubuat dalam ukuran raksasa. Tinggi badannya akan kubuat sekitar dua setengah meter, dengan bagian-bagian tubuh serbabesar.

Kelak suatu jenis makhluk baru akan menunjunjung diriku sebagai pencipta mereka. Ciptaanku akan menjadi manusia sempurna dan bahagia.

Kepada harapan inilah aku membaktikan diriku.

Waktu musim panas terindah yang pernah kualami. Belum pernah ladang memberikan hasil bumi begitu melimpah ruah dan kebun anggur menghasilkan buah demikian bagus.

Terhentinya surat-surat yang kau kirim merupakan bukti bahwa tugasmu yang lain juga kauabaikan.

Orang baik harus selalu menjaga ketenangan dan ketenteraman pikirannya serta tak pernah membiarkan ketenteramannya ini terganggu nafsu atau keinginan sementara.

Kalau orang tidak boleh mengejar pengetahuan yang akan merusak ketenangan dan kasih sayang, Yunani takkan pernah diperbudak, Caesar takkan menyia-nyiakan negerinya, Amerika takkan segera ditemukan, serta Kerajaan Mexico dan Peru takkan dihancurkan.

Olahraga dan bersenang-senang. Aku berjanji kepada diriku sendiri akan segera melakukan kedua hal itu setelah pekerjaanku selesai.

Pada suatu malam di bulan November yang suram, kulihat jerih payahku akan membuahkan hasil.

Dalam mimpi aku melihat Elizabeth sehat, cantik berseri-seri, sedang berjalan di Ingolstadt.

Bahkan Dante sekalipun takkan bisa mengkhayalkan makhluk semacam ini.

Ia menganggap belajar sebagai tugas yang sangat berat, belenggu yang sangat dibencinya.

Tapi kekhawatiranku muncul kembali saat aku mengakhiri suratku.

Dia anak muda yang beberapa tahun berselang masih menaruh kepercayaan kepada Cornelius Agrippa seteguh orang mempercayai Injil.

Kalau kau membaca tulisan mereka, hidup rasanya terdiri atas hangatnya matahari di taman bunga mawar, senyuman dan kerut dahi musuh yang jujur, serta api yang membakar hatimu sendiri.

William sudah meninggal! Ya anak yang begitu manis yang senyumannya menggembirakan serta menghangatkan hati.

Jangan menyimpan rasa dendam terhadap si pembunuh.

Rasa takut menguasai diriku. Aku tidak berani terus. Aku takut pada ribuan bencana tanpa nama yang membuat tubuhku gemetar, walaupun aku tidak bisa mengatakan bencana apa yang membuatku takut.

Pikiranku tak bisa lepas dari makhluk ciptaanku yang kulepaskan di tengah manusia.

Waktu enam tahun telah berlalu seperti mimpi, kecuali satu perubahan yang tak bisa dihapuskan.

Para juri yang mau menjatuhkan hukuman kepada seseorang penjahat hanya berdasarkan prasangka belaka, betapapun jelasnya.

“Aku tidak takut mati. Rasa takut semacam itu sudah tidak kurasakan lagi. Tuhan sudah membuang kelemahanku serta memberiku kekuatan dan keberanian untuk memanggul cobaan terburuk.” Keesokan harinya Justine dihukum mati.

Menangislah kau orang yang bersedih hati, tapi ini bukan air mata penghabisanmu!

Sering kali saat seluruh keluarga sudah tidur, aku mengambil perahu dan selama berjam-jam berperahu di tengah danau.

Dulu aku mengenal kejahatan dan ketidakadilan dari yang kubaca di buku atau kudengar dari orang lain sebagi dongeng atau cerita khayal.

Aku tidak pernah menyetujui pembunuhan terhadap sesama manusia dengan alasan apapun.

Kalau kepalsuan dapat kelihatan begitu sama dengan kebenaran, siapa yang bisa yakin akan kebahagiannya sendiri?

Kini aku sudah merupakan barang rongsokan, sedangkan pegunungan dan alam masih liar ini tidak ada yang mengubahnya.

Tapi kemana larinya semua ini ketika aku bangun keesokan harinya?

Seaandainya insting kita hanya terbatas pada rasa lapar, haus, dan berahi pasti kita hampir bebas dari segala-galanya.

Waktu itu aku juga pertama kalinya menyadari tugas pencipta kepada ciptaannya.

Aku makhluk malang, tak berdaya dan sangat menyedihkan.

Kalau makhluk yang cantik saja bisa bersedih hati tak aneh lagi kalau aku – makhluk tak sempurna yang sebatang kara – susah dan merana. Jadi benarkan aku makhluk mengerikan, sampah dunia, yang dihindari dan dibenci smeua manusia?

“Terkutuklah ketika aku menerima kehidupan. Pencipta terkutuk, mengapa kau ciptakan makhluk yang begini mengerikan sehingga kau sendiri membuang muka karena jijik? Tuhan karena kasihNya menciptakan manusia yang cantik dan menarik menurut citra-Nya sendiri.”

“Jangan khawatir, tidak punya teman merupakan kemalangan besar. Tapi hati manusia, kalau tidak mementingkan diri sendiri, selalu penuh persahabatan dan belas kasihan.”

“Dan bisakah aku mengasihi musuhku? Tidak! Sejak saat itu aku menyatakan perang abadi terhadap bangsa manusia.”

“Aku bersumpah! Demi matahari, demi langit biru dan demi api cinta yang membakar hatiku kalau kau meluluskan permintaanku, selama manusia hidup mereka takkan melihatku lagi.”

“Untuk inilah aku hidup. Sekarang aku benar-benar bisa menikmati kehidupan.”

Tapi masih saja kegembiraanku diracuni kenangan pahit masa lalu serta bayangan gelap masa depan.”

“Kau penciptaku, tapi akulah tuanmu. Patuhi perintahku!”

Sementara itu khayalanku membayangakn ribuan gambaran yang menyiksa dan mengahntui.

Aku akan datang kepadamu pada malam perkawinanmu”

Alangkah anehnya perasaan kita. Kita merasa begitu mencintai hidup saat-saat kita terancam oleh bahaya maut!

Tapi buah terlarang sudah kumakan dan tangan malaikat melintang menghalangiku dari setiap harapan.

“Bung! Kau membanggakan diri sendiri sebagai orang bijak, padahal sebenarnya jiwamu kosong.”

“Demi tanah suci tempatku belutut, demi arwah yang berkeliaran di dekatku, demi kesedihan abadi yang kurasakan, aku bersumpah…”

Dalam tidur, mimpiku sering kali mendatangkan rasa bahagia.

Alangkah cintanya aku pada mereka!

“Waktu aku masih muda, aku yakin ditakdirkan untuk menghasilkan karya agung! Sejak kecil aku dididik untuk bercita-cita setinggi bintang.”

“Oh! Jadilah manusia atau lebih dari manusia.”

Yang kurasakan waktu itu hanya keputusasaan tanpa batas. Kejahatan sudah menjadi perbuatan yang biasa bagiku.

Akulah makhluk buruk yang harus dibenci, disepak, diinjak-injak.

Frankenstein | by Mary Shelley | diterjemahkan dari Frankenstein | alih bahasa Anton Adiwiyoto | desain cover dan ilustrasi Satya Utama Jadi | GM 402 01. 09. 0073 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | pertama terbit Desembr 1994 | edisi yang diperbarui cetakan keempat, November 2012 | 312 hlm.; 20 cm | ISBN 978-979-22-5096 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – NICI – Karawang, 021117 – 031117 – KGV V5/23 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Iklan

Messiah – Boris Starling

Messiah – Boris Starling

“Anda pasti telah melihat ribuan orang keluar masuk tempat ini sepanjang waktu itu. Bagaimana Anda bisa mengingatnya dengan jelas?”

Di tahun 2007, ketika fantasi menyerang daftar baca di masa lajang, Messiah muncul terselip dan sukses menghantui. Saat itu memang ada aura detektif jua tapi tak ekstrem, masa itu jua tak lama setelah terpukau nonton film The Silence of the Lambs yang dibintangi Anthony Hopkins. 

Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri daripada kesukaran (Amsal 21:23)

Kisahnya ala ala detektif Poirot dan Holmes, tapi sudah di era akhir abad dua puluh, tepatnya tahun 1998 jadi pengungkapan, proses kejar dan seni pola menangkap tersangka menyesuaikan teknologi. Yang sama dari era Victoria, Raja Edward sampai zaman milenial ya AGAMA. Kitab suci adalah pegangan umat dari zaman batu dengan tulisan di atas sabak sampai digital, ayat-demi-ayat yang tertera persis. Yang bercabang hanya penafsirannya. Nah buku ini menawarkan alih bahasa tafsir versi Helloween yang berdarah dan membuat gidik.

Detektif Red Meltcalfe  bersama tim investigasi Jez, Kate dan Duncan harus memecahkan kasus dua pembunuhan dalam semalam. Korban pertama dibunuh dengan sadis Phillip Rhodes seorang pemilik usaha catering tewas digantung, korban kedua James Cunningham sang uskup Wandsworth tragis babak belur kena pukul bertubi, keduanya ada kesamaan di mana dalam mulutnya ditemukan sendok perak dan lidah terpotong. Kasus ini berjuluk ‘Silver Tongue’. Kasus pembunuhan berantai berlanjut hingga membentuk pola. Dengan setting di London, Inggris tahun 1998 kriminal itu semakin lama semakin mengerikan dan mengejutkan karena korban yang seakan dipilih acak ternyata tak se-random yang kita kira, dan degub jantung Pembaca makin kencang saat tahu korban target berikutnya justru mengarah kepada sang detektif Red. Wow, dikejar waktu, diburu pengungkapan secepatnya berhasilkah si pembunuh itu diringkus?

Ada satu bagian yang digambarkan dengan begitu hidup, ketika para penyidik ini mencoba meringkus penjahat dengan menunggu di suatu tempat malam-malam dengan sangat sabar. Bagian itu menjelaskan bahwa mereka bersembunyi, mengamati dan mengintai sosok misterius yang diduga sang pembunuh. Waktu seakan berjalan lambat, dan sungguh manusiawi mereka juga orang biasa yang saat menghadapi fakta tak menentu jua galau. Bagus, sungguh pas.

Untunglah saya membaca terbitan Ufuk cetakan satu, karena dalam cetak ulang di bawah judul ada sub yang spoiler berat: ‘Pembunuhan Atas Nama Tuhan’. Duh! Kenapa poin sepenting itu dicantumkan, di kover depan pula! Saya benar-benar shock saat tahu identitas sang pembunuh dan alibi utamanya, nah ke-shock-an itu kalau dibocorkan gitu, ya walau tersamar tetap kenikmatan akan sangat berkurang. Sayang sekali.

Saya memang bukan pem-prediksi adaptif buku ke layar lebar yang baik. Kehebatan Messiah kala itu membuatku yakin tinggal masalah waktu untuk difilmkan. Tapi pas saat ini, sedekade berselang masih nihil hasilnya, isu-pun tak ada. Justru adaptasinya hanya ke TV seri di BBC dalam empat episode dengan bintang utama Ken Stott sebagai Red. Malahan buku-buku detektif yang lebih soft yang baru muncul dengan cepat masuk ke Hollywood, semisal The Girl On The Train yang bertutur pembunuhan sederhana dan menawarkan thriller ala Christie. Arah hidup menang sulit ditebak kawan.

Kisah Messiah memang Agatha Christie banget. Kita diberi sebuah kasus, sang Penulis menyimpan rapat sang dalang pembunuhan berantai. Kita diajak membuka tabir, selapis kulit bawang demi selapis kulit bawang. Fakta-fakta itu dituturkan dengan hati-hati, seakan mengajak pembaca bermain tebak-tebakan. Saat lapisan makin sedikit, semakin jelas intinya. Namun tidak, kita dikecoh, kita ditipu di mana data-data yang dibeberkan tak sejelas kelihatannya. Dan saat tabir terbuka, inti bawang itu terbaca; kita shock karena motif, dan sang pembunuhnya ternyata sudah sering bersinggungan dan tak terduga. Yah, plot macam itulah yang ditawarkan Messiah. Pengulangan yang masih saja manis dan berhasil.

Boris Starling, seorang Penulis Inggris. Nama yang masih asing di telinga Pembaca Indonesia. Lahir tahun 1969 lulusan Eton College dan Trinity College, Cambridge. Pernah menjadi jurnalis di The Sun dan The Telegraph lalu beralih profesi dalam agen khusus menangani negosiasi penculikan dan penyelidikan rahasia. Messiah (1999) adalah debut karya tulisnya dan langsung memukau publik sehingga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa serta mencetak penjualan 8 juta kopi. Buku keduanya Storm (2000) juga mencetak sukses jadi best seller New York Times dan memenangkan W.H. Smith ‘Thumping Good Read’ Award. Buku ketiga berjudul Vodka (2004) tentang epik Rusia dan situasi sekitarnya. Selanjutmya hingga kini karya-karya beliau: Visibility (2006), Soul Murder (2010), City of Sins (2011), White Death (2012) dan yang terbaru terbit tahun ini Unconquerable. Lumayan banyak juga, namun kenapa terjemahannya sulit sekali ditemukan di toko buku konvensional? Semacam Dean Kontz-nya Inggris nih.

“Mobil Volvo itu berhenti di pertigaan Evening Road… sepertinya akan belok ke kiri… ya belok ke kiri… ke Evening Road sekarang… Sam melambaikan tangannya… mobil berjalan perlahan di seberang Helen dan Sam… mobilnya berhenti, diparkir… mesin dimatikan… pintu mobil dibuka… tersangka mulai keluar… tersangka sudah di luar… SERGAP!” segalanya terjadi secara bersamaan.

Messiah | by Boris Starling | copyright, 1999 | diterjemahkan dari  Messiah | penerjemah Eka Santi Sasono dan Rahmawati Rusli | pewajah sampul Eja-creative 14 | pewajah isi Ahmad Bisri | penyunting Eka Santi Sasono | Penerbit UFUK Press | cetakan I, Januari 2007 | ISBN 979-1238-25-1 | Skor: 5/5

Untuk Keluargaku, atas semua cinta dan dukungan mereka

Ruang HRGA CIF NICI – Karawang, 021117 –Virgoun – Bukti

Rani Skom, Iyul, Intano menikmati bunga rose di taman bersama Virgounwho