The Monogram Murders – Sophie Hannah

image

Dengan embel-embel nama besar Agatha Christie di top sampul, buku pertama Sophie Hannah yang saya baca ini temponya berjalan lambat. Saya terhenti sampai bab 10: ‘Sasaran Fitnah’ sekitar halaman 120-an, lalu buku terbengkelai sebulan sebelum akhirnya saya putuskan harus kelar karena ingin segera kukembalikan kepada yang punya. Barulah benar-benar menarik isi buku ketika sudah 2/3 bagian, menurutku kisahnya terlalu bertele. Ga seperti Christie yang memberi poin-poin penting di awal, tengah dan akhir dengan sangat hidup, Hannah menyimpan ledakan di sesi penutup saja sehingga memang butuh kesabaran untuk mencapai puncak. Untungnya daya ledak The Monogram sukses, sukses mengecoh pembaca, sukses memberi kejut padaku. Yah, ga terlampau rugi keputusanku menuntaskannya.

Sophie Hannah mendapat izin dari ahli waris Christie untuk menuliskan kisah-kisah detektif paling terkenal –nomor dua setekah Sherlock Holmes tentunya – detektif asal Begia bertubuh pendek dan gendut dengan istilah terkenal pemikiran ‘sel sel kelabu’, ilmu deduksi kelas wahid dan analisis luar biasa: Hercule Poirot. Setting masih sesuai zaman beliau, era pasca Perang Dunia I dengan segala kesederhanaannya. Ide yang sebenarnya menarik, di mana tokoh legendaris beda zaman dilanjutkan ditulis oleh orang lain. Membuat imajiku melayang, suatu saat seabad kemudian kisah Harry Potter menemui kisahnya sendiri saat kuliah sihir ditulis oleh orang asing? Menarik, sangat menarik. Memikirkannya saja membuat dahiku gatal. Salamku dari generasi Potter buat anak-cucu Hermione Yumna.

Kisah di Pembunuhan Monogram sejatinya memang kisah yang khas Poirot di mana kasus dipaparkan, link di berbagai sudut, clue diselipkan dengan jeli di setiap momen yang seolah itu kejadian biasa, padahal bisa jadi setiap detail itu semu dengan inti di pusatnya adalah kunci utama. Lalu ketika pembaca mulai menemui pola, dikecoh, Poirot punya jawaban berbeda yang membuat kita semua merasa ketipu setelah dipaparkan potongan puzzle-nya hingga utuh. Begitulah, khas detektif.

Adalah Jennie yang suatu malam pukul 19.30 di tanggal 27 Februari 1927 tiba-tiba datang di kedai kopi Pleasant’s Coffee House, saat itu Hercule Poirot sedang menanti makan malamnya. Jennie masuk ke kedai dengan ketakutan, setelah membuka pintu lama di sana hingga udara malam yang dingin masuk, ia memutuskan duduk di pojokan memesan teh panas kental. Lalu menatap kaca keluar seolah menatap kejadian di sana, padahal di luar gelap gulita sangat kontras dengan keadaan kedai yang terang benderang. Dengan mimik ketakutan, seaakn melihat hantu. Poirot tergugah, meminta bergabung untuk sekedar jadi teman cerita. Terungkaplah sebuah fakta mengejutkan.

“Anda sangat baik, tapi tidak ada yang bisa membantu saya. Saya ingin dibantu – saya sangat ingin. Tapi sudah terlambat. Saya sudah mati, Anda lihat, atau saya akan segera mati. Saya tidak bisa sembunyi selamanya.” Kata-kata sudah mati membuat ruangan berasa dingin, dan langsung menggugah minat Poirot. “Apakah bisa dikatakan pembunuhan apabila saya pasrah dan membiarkan hal itu terjadi? Saya sudah lelah melarikan diri, bersembunyi, merasa begitu ketakutan. Saya ingin semua ini berakhir apabila hal ini akan terjadi, dan hal ini akan terjadi, karena memang hal itulah yang seharusnya terjadi. Itulah satu-satunya cara memperbaiki keadaan. Itulah yang pantas saya terima.” Poirot tentu saja tertarik, sekalipun sudah pensiun dari tugas ia akan selalu tertarik menyelidiki. “Apabila saya ditemukan dalam keadaan tewas, Anda harus memberitahu teman Anda si polisi untuk tidak mencari pembunuh saya. Oh, tolong jangan biarkan siapapun  membuka mulut mereka! Kejahatan ini tidak boleh dipecahkan.”
Lalu Jennie keluar kedai, tanpa membayar teh dengan gemetar.

Besoknya Scotland Yard menerima kabar pembunuhan di tiga kamar hotel Bloxham. Dari sudut pandang polisi, rekan Poirot kisah digulirkan. Edward Catchpool sempat menduga Poirot adalah orang Perancis. Ibu kosnya Mrs Blanche Unsworth mungkin hanya karakter sempalan di kisah-kisah Poirot, namun mengingat bertapa krusial Mrs Hudson di serial Sherlock, jelas karakter ini harus diantisipasi.

Kasus utama buku ini adalah ketiga korban pembunuhan di hotel Bloxham ditemukan di kamar terpisah dengan tubuh terlentang, asupan racunlah penyebab utamanya, di mulut mereka ditemukan sebuah monogram dengan inisial PJI. Tentu saja ini adalah link dari penuturan Jennie. Apalagi ketiga korban Harriet Sippel, Ida Gransburry dan Richard Negus ternyata mempunyai masa lalu yang bersinggungan dengannya di sebuah desa Great Holling. Penjelasan detail korban kurasa terlalu panjang, dan melebar kemana-mana. Apesnya, penuturannya ga semenarik Christie sehingga jatuhnya bosan. Kisah makin jenuh saat Catchpool diminta menyelidiki masa lalu ketiga korban yang memaksanya ke Great Holling bertemu Margaret Ernst, seorang saudara pendeta yang menjaga makam. Sebuah kejadian buruk terjadi tahun 1913, seorang pendeta Patrick James Ive (29) difitnah hingga membuat istri Frances Maria Ive (28) bunuh diri, lalu sang pendeta menyusul mengakhiri hidup.

Di kuburnya terdapat sebuah tulisan soneta karya William Shakespeare, karena terdengar bagus. sangat bagus saya kutip deh.

That thou art blamed shall not be thy deflect, For slander’s mark was ever yet the fair, The ornament of beauty is suspect, A crow that flies in heaven’s sweetest air, So thou be good, slander doth but approve, Thy worth the greater being wooed of time, For canker vise the sweetest buds doth love, And thou present’st a pure unstained prime. Thou hast passed by the ambush of young days, Either not assailed, or victpr being changed; Yet this thy praise cannot ne so thy praise, To tie up envy, evermore enlarged, If some suspect of ill masked not thy show, The thou alone kingdoms of hearts shouldst owe.

Bagus kedengarannya, pusing mengartikannya. Terlampau puitis. Nah diterjemahnya tertulis begini:

Bahwa kau difitnah bukan kelemahanmu, Karena sasaran fitnah selalu mereka yang rupawan; Yang rupawan selalu dicurigai, Bagai burung gagak terbang di langit surga, Maka berbaik hatilah, fitnah akan mengaku, Betapa dirimu sebenarnya; Karena kekejian menyukai pucuk termanis, Dan kau adalah kemurnian tak tercela, Kau telah melewati godaan masa muda, Entah karena tak diserang, atau menang setelah diserang, Namun pujian untuk dirimu ini tidak akan pernah bertahan lama, Untuk menahan kecemburuan, yang terus membesar, Bila rupamu tak tertutup seberkas kekejian, Kau akan menerima seluruh cinta di dunia.

Berdasarkan penuturan Ernst, posisi kisahnya adalah Jennie pelayan setia sang pendeta – sudah melayani Patrick bahkan ketika ia masih kuliah. Ada seorang janda Nancy Ducane yang sering ke rumah pendeta di malam hati saat Frances tak ada di rumah, Jennie bergosip dengan Ida Gransburry – mantan tunangan Richard Negus. Gosip pendeta ada apa-apa dengan Nancy meluas, Harriet Sippel yang juga seorang janda menambah bumbu kabar hingga memuncak seantero desa. Ketika keadaan gosip memburuk bak wabah yang cepat meluas, pendeta dan istrinya tak kuat hingga ditemukan tewas. Begitulah, 11 tahun berselang ketiganya tewas di hotel nyaris bersamaan di Kamis malam.

Jennie yang ketakutan akan jadi korban keempat Nancy – yang kini jadi seniman terkenal malam itu bertemu Poirot bahwa kalau ia mati keadilan sudah ditegakkan. Benarkah? Tentu saja tidak segambalng itu, ingat ini kisah detektif sehingga setiap kalimat yang kita baca bisa jadi palsu. Namun ketika kekuatan kecoh itu membesar, boooom! Jennie akhirnya dikabarkan terbunuh di hotel Bloxham juga. Namun mayatnya tak ditemukan. Nancy sebagai tersangka utama, di Kamis malam itu punya saksi kuat tak sedang di hotel jadi dia aman dari sangkaan. Tapi tunggu dulu sobat, eerrgghhh… sudahlah. Jadi siapa sebenarnya pelaku pembunuhan monogram ini?

Well, diluardugaku. Kisahnya bagus. penuturan 1/3 akhir sangat brilian. Potongan puzzzle itu disatukan, hingga membuat pembaca – dan polisi Catchpool terlihat bodoh. Saya sendiri terkecoh, dan ketika kita dibuat kejut dengan penjelasan nalar yang pas tentu saja kita senang. Bukahkah poin membaca fiksi adalah kepuasan akhir? Begitulah buku ini, setelah jalan terjal yang berliku dan panjang, syukurlah klimak itu ada. Luar biasa. Salute Monsieur Poirot!

Tak ragu lagi, kalau Sophie Hannah berhasil mempertahankan tempo rasanya buku-buku beliau layak diburu.

Pembunuhan Monogram | diterjemahkan dari The Monogram Murders | by Sophie Hannah | Agatha Christie Limited | Agatha Christie, Poirot and Agatha Christie signature are registered trademark | GM 40201140079 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Lingliana Tan | Cetakan kedua, November 2014 | ISBN 978- 602-03-0755-8 | 376 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 2011216 – M2M – The Day You Went Away
Buku pinjaman saudara JokoP di Depok, thanks a lot bro.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s