Anak-Anak Tengah Malam – Salman Rushdie

Midnight’s Children – Salman Rushdie

Buku yang sungguh berat. Bukan tidak untuk semua orang, bukan untuk Pembaca umum. Butuh perjuangan ekstra, butuh konsistensi dan dorongan kuat agar menuntaskan nyaris 700 halaman hikayat panjang sejarah India dari pra kemerdekaan, proses proklamasi yang dibuat megah saat tengah malam, sampai India dalam gejolak pasca berdiri sendiri. Memang bukan buku politik, hanya kisah keluarga istimewa yang diseret dengan keluwesan sastra. Tak mudah karena kejadian biasa dituturkan dengan penuh gaya, namun tak rumit juga sebab semua terang tak bertafsir ganda. Pengorbanan waktu-waktu demi sampai akhir itu tak rugi karena memang ini adalah buku yang sangat luar biasa, bervitamin, berbobot sungguh berat. Layak, memuaskan.

Tak ada yang bisa diingat ketika Tai masih muda. Sejak dulu ia berlayar dengan perahu yang sama, berdiri dengan posisi bongkok yang sama, melintasi Danau Dal dan Nageen… selamanya.

Orang datang ke Kashmir untuk menikmati hidup, atau mengakhirinya, atau keduanya.

Napasnya bau tapi hatinya wangi. Kau pikir aku ini siapa? Cuma anjing buduk ‘pendusta yang biasa’?

Hidung yang seperti itu, idiot kecil, adalah hadiah yang besar. Kuberi tahu: percayai ia. Ketika ia memperingatkanmu, waspadalah atau kau akan habis. Ikuti hidungmu dan engkau akan pergi jauh.

Jika seseorang tidak melakukan pekerjaan kelas satu untukku, kuenyahkan dia!

“Aku sudah hidup dua kali lebih panjang daripada usiaku seharusnya,” ia menyiulkan lagu lama Jerman ‘Tannenbaum’. 

“Dalam setiap peperangan, medan perang menderita kehancuran yang lebih buruk dibandingkan pasukan mana pun. Itu wajar.”

“Lupakanlah itu! Seni seharusnya meninggikan, seni seharusnya mengingatkan kita pada warisan sastra kita yang luhur!”

Legenda terkadang menjadi kenyataan, dan menjadi lebih berguna daripada fakta.

Dunia sudah tak waras, apakah kami adalah manusia di negeri ini? Atau binatang? Dan jika harus pergi, kapankah pisau itu akan datang untukku?

Karena ia punya sebuah bom untuk diledakkan: setelah dua tahun perkawinan, anak perempuannya masih perawan.

“Matahari terbit di tempat yang salah!”

Suami pantas mendapatkan kesetiaan tanpa tanya, tanpa syarat, cinta sepenuh hati.

Kalau begitu, di manakah letak optimis? Di dalam takdir atau dalam kekacauan?

Kehamilan ibuku, tampaknya sudah ditakdirkan, tetapi kelahiranku justru lebih disebabkan oleh kebetulan.

“Kunci, simpan, kemas. Itulah syarat-syarat saya. Sebuah keinginan, maukah Anda memperkenankan permainan kecil ini bagi seorang penjajah yang akan pergi?

Times of India edisi Bombay mengumumkan bahwa mereka akan memberi hadiah pada ibu mana pun di Bombay yang dapat mengatur waktu melahirkan seorang anak agar persis pada hari kelahiran negeri yang baru.

“Bukan intuisi Tuan Methwold. Ini adalah kenyataan yang dijamin.”

“Wee Willie Winkie adalah namaku; menyanyi untuk mendapat makan malam adalah ketenaranku!” Mantan pesulap dan tukang pertunjukan intip, penyanyi. Para penghibur akan mengorkestrasi hidupku.

Ada es masa depan, menunggu di bawah muka air. Ada sumpah: aku tidak akan sujud di hadapan Tuhan ataupun manusia.

Mungkin jika ingin tetap menjadi seorang individu di tengah sesak banyak orang, kita harus membuat diri kita fantastis.

Ia temukan: majalah-majalah Jerman lama; What Is To Be Done? Karya Lenin; tikar sembahyang terlipat.

Dua puluh menit berlalu, dengan aaah aaah dari Amina Sinai, yang muncul makin cepat dan nyaring menit demi menit, dan aah aaah lemah melelahkan dari Vanita di kamar sebelah.

Jawaharlal Nehru memulai: “… Bertahun-tahun yang lalu kita berjanji untuk bertemu dengan takdir; dan sekarang tiba waktunya ketika kita akan menebus janji kita – tidak sepenuhnya atau secara menyeluruh tetapi secara substansial… ini bukan saatnya bagi kritikan yang picik atau destruktif. Tidak ada waktu untuk sakit-sakit. Kita harus menegakkan bangunan mulia India uang merdeka, tempat semua anak dapat berdiam.” Sehelai bendera terkembang: jingga, putih, dan hijau. Sementara dunia tertidur, India terbangun menuju kehidupan dan kebebasan.

Dan ketika ia sendirian – dua bayi di tangannya, dua kehidupan dalam kuasanya – ia melakukan untuk Joseph, tindakan revolusionernya sendiri, dengan pemikiran dia tentu akan mencintainya karena ketika ia menukar label nama kedua bayi besar itu: memberi bayi yang miskin kehidupan istimewa dan menghukum anak keluarga kaya dengan akordion dan kemiskinan… “Cintai aku, Joseph!”

“Ibu, saya melihat bayi Anda hanya sekali dan jatuh hati. Apakah Anda memerlukan seorang pengasuh anak?”

Aku belajar: pelajaran pertama kehidupanku: tak ada seorang pun yang bisa menghadapi dunia dengan mata yang selalu terbuka.

“Kelahiran anak pertama akan membuat Anda menjadi nyata.”

“Istri apa yang kudapat ini! Mestinya aku membeli sendiri anak laki-laki dan menyewa perawat – apa bedanya?”

“Dulu ada tujuh pulau,” Dr Narlikar mengingatkannya. “Worli, Mahim, Salsette, Matunga, Colaba, Mazagaon, Bombay. Orang Inggris menggabungkannya. Laut, bung Ahmed, menjadi tanah. Tanah naik, dan tidak tenggelam di bawah air pasang!”

Anda yang memproduksi; aku yang mengusahakan kontraknya! Fifty-fifty; adil seadil-adilnya!

“Aku sudah muak, kalau tak seorang pun di rumah ini yang akan meluruskannya kembali, maka semuanya akan tergantung padaku!”

Untuk setiap tangga yang kaunaiki, ada seorang musuh yang menanti di tikungan; dan untuk setiap ular, ada tangga yang akan memberi kompensasi. Tetapi lebih dari itu, bukan sekedar bermain wortel-dan-tongkat.

Dan betapa itu adalah sebuah gagasan yang jauh lebih maju daripada apa pun yang ada dalam sinema kita sekarang.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, mohon maaf tetapi ada berita yang sangat buruk. Sore ini, di Birla House di Delhi, Mahatma yang kita cintai dibunuh. Seorang gila menembak perutnya, ibu-ibu dan bapak-bapak – Bapu kita telah tiada!”

Dari burung ia belajar cara menyanyi; dari kucing ia belajar sebentuk kemandirian yang berbahaya.

“Simpan rahasia dan mereka akan membusuk di dalam dirimu; jangan katakan sesuatu dan perutmu akan sakit dibuatnya.”

Di gunung Sinai, Nabi Musa mendengar perintah tanpa jasad; di Gunung Hira, Nabi Muhammad (juga dikenal dengan Mohammed, Mahomet, dan Nabi-Yang-Terkahir) berbicara dengan malaikat. (Gabriel atau Jibreel, sesuka Anda) Dan di atas panggung Cathedral and John Connon Boys’ High School, dijalankan ‘di bawah naungan’ Masyarakat Pendidikan Anglo-Skotlandia, temanku Cyrus-Yang-Hebat memainkan peran perempuan sebagaimana biasa, mendengar suara St Joan mengucapkan kalimat-kalimat Bernard Shaw.

“Aku mendengar suara-suara kemarin. Suara yang berbicara kepadaku di dalam kepalaku. Aku kira – Ammi, Abboo, aku benar-benar mengira – malaikatlah yang berbicara denganku.”

Realitas adalah masalah sudut pandang, semakin jauh Anda dari masa lalu, semakin konkret dan masuk akal kelihatanya – tapi ketika Anda mendekati saat ini, tak urung ia akan tampak semakin sulit dipercaya.

Panas, menggerigiti batasan pikiran manusia antara fantasi dan kenyataan, membuat apa pun tampak seperti mungkin; sengkarut setengah-terjaga dari istirahat sore mengaburkan otak manusia, dan udara dipenuhi rasa lengket yang merangsang gairah.

Telepati, kalau begitu: monolog batin dari apa yang disebut jutaan yang berkerumun, massa maupun kelas, berebut ruang di dalam kepalaku.

Bagi anak Sembilan tahun, kesulitan menyembunyikan pengetahuan hampir tak dapat tertanggungkan, tetapi untunglah orang-orang terdekat dan terkasihku tak kurang berhasrat untuk melupakan ceracauku sebagaimana aku ingin menyembunyikan kebenaran.

Aku telah belajar bahwa rahasia tidak senantiasa sesuatu yang buruk.

“Aku adalah kuburan di Bombay… saksikan aku meledak!”

“Aku bisa mengetahui apapun, tak ada sesuatu pun yang tak dapat kuketahui!”

Berbahaya kalau terlalu lama melihat kematian, nanti ada sedikit bagian darinya yang ikut masuk ke dalam dirimu, dan ada pengaruhnya.

Tidak ada bantahan, saat itu juga aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta. Kau bisa saja menyusun stretegimu sehati-hati mungkin, tetapi perempuan akan meruntuhkannya sekali pukul.

Saleem Sinai mencintai Evie Burns; Evie Burns mencintai Sonny Ibrahim; Sonny tergila-gila pada Monyet Kuningan; tetapi apa kata si Monyet? “Jangan bikin aku muak, ya Allah!”

Evelyn Lilith Burns tidak ingin banyak berurusan denganku setelah itu, aneh juga, aku tersembuhkan darinya. Perempuan selalu menjadi pengubah hidupku: Mary Pereira, Evie Burns, Jamila Biduanita, Parvati-si-penyihir yang harus menjawab siapa jati diriku, dan si Janda yang aku simpan untuk bagian akhir, dan setelah yang terakhir Padma, dewi kotoranku. Perempuan mengikatku, tetapi mereka tidak mengambil posisi sentral.

Anak-Anak Tengah Malam | by Salman Rushdie | diterjemahkan dari Midnight’s Children | copyright 1981, 2006 | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | penerjemah yuliani Liputo | penyunting Anton Kurnia | pemeriksa aksara Eldani | pewajah isi Siti Qomariyah | cetakan II, November 2009 | ISBN 978-979-024-145-9 | Skor: 5/5

Untuk Zafar Rushdie yang, di luar dugaan, dilahirkan pada sore hari

Ruang HRGA CIF NICI, Karawang, 081117 – Sherina Munaf – Sing Your Mind

Iklan

Eragon – Christopher Paolini

Eragon – Christopher Paolini

“Kau seharusnya merasa bangga; hanya sedikit orang yang bisa meloloskan diri tanpa terluka sewaktu membantai Urgal pertama merak. Tapi caramu melakukannya sangat berbahaya. Kau bisa saja mengahncurkan dirimu sendiri dan seluruh desa.”

Kubaca saat Harry Potter mencapai puncak hype Reliku Kematian. Eksteptasi tinggi, tentang naga yang bisa berkomunikasi dengan tuannya, tentu saja sangat menarik.

Kisah penunggang naga yang terinpirasi dari berbagai fantasi. Alur dunia ajaib dengan dilengkapi peta laiknya The Lord of The Ring, balutan sihir dari era keemasan Harry Potter, sampai dunia berlapis bak dalam His Dark Materials. Perpaduan itu menghasilkan drama panjang Siklus Warisan, sampai empat buku yang semuanya tebal. Sedari awal rencana mau dalam bentuk trilogy: Eragon, Eldest, dan Brisingr. Tapi karena buku pamungkas itu ternyata jauh lebih rumit dan sungguh tebal maka jadilah penutupnya disampaikan dalam Inheritance. 

Kisahnya, tersebutlah di sebuah desa kecil Calvahall hidup remaja lima belas tahun bernama Eragon. Suatu hari dia menemukan sebuah benda bulat lojong berwarna biru di hutan sata berburu, benda yang semula dikira batu, namun batu yang rencananya dijual itu disimpannya dan ternyata sebuah telur. Telur naga! Dari tuturan si pendongeng tua Brom tentang sejarah naga, tentang sihir, dan ilmu seni bertarung dengan pedang, Eragon menamai naganya Saphira. Eragon adalah penerus klan penunggang naga, klan itu ditumpas oleh Raja Galbatorix. Dahulu kala klan penunggang naga adalah penjaga negeri Alagaesia. 

Makhluk-makhluk Ra’zac yang dikirim sang raja untuk mencari dan merebut kembali telur naga yang hilang, mengobrak-abrik dan membumihanguskan desa, yang untuk menambah seru konflik, mereka membunuh paman Garrow, dan penuh dendam Eragon bertekad memburu dan bersumpah akan kembali membangun klan. Negeri Alagaesia dipimpin dengan kejam, Raja Galbatotix mempunyai tiga telur naga yang dijaga dan dalam rencana nantinya diberikan kepada anak buahnya sebagai penunggang naga. Dan tahulah kita, ternyata telur yang ditemukan Eragon itu salah satunya. Bagaimana telur itu bisa di hutan dijelaskan bahwa lima belas tahun yang lalu putri Arya mencurinya dari Urubean.

Eragon, Brom, Saphira dalam misi besar demi Klan Penunggang Naga. Berhasilkah? Bisa kita tebak dengan mudah, salah satunya tak selamat. Selalu ada konflik rumit untuk sebuah buku besar. Eragon jelas harus memenuhinya.

Saya baru membaca satu seri, tiga lainnya dalam proses. Seperti Bartimaeus yang butuh kesabaran, laiknya His Dark Materials yang butuh perjuangan. Saga Eragon saya nikmati perlahan dan mengalir. Cerita fantasi petualangan yang sangat menarik. Imajinasi itu bisa dipetakan, dibentuk dalam aturan sihir. Naga dalam saga Paolini adalah makhluk supranatural yang bisa berkomunikasi dengan Panunggangnya. Menjadi lebih istimewa karena pengisi suaranya Rachel Weisz.

Adaptasi filmnya gagal total. John Malkovich yang tampak sangar, sangat digdaya sepanjang film, menggambarkan kekuatan besar yang dipegangnya, kekejaman nan tanpa ampun serta kehebatan menata Negara dengan gaya keras itu, di bagian pertempuran akhir tampak sangat mengecewakan. Anti klimak, apalagi adegan pertarungan di udara yang ditunggu-tunggu visualnya, duh terlampau cepat diakhiri. Sayang sekali, berkat pemetaan film yang salah, sekuelnya bernasib tak jelas hingga sedekade lebih. Seperti The Golden Compass yang tenggelam dan respon pasar yang buruk, adakah harapan Eldest dkk ke layar lebar?

“Bantu aku Saphira, aku terlalu lemah untuk melakukannya sendiri.”

Eragon | by Christopher Paolini | diterjemahkan dari Eragon | copyright 2003 | cover art by John Jude Palencer | ilutrations on page 2, 3 and 10 by Christopher Paolini | alih bahasa Sendra B. Tanuwidjaya | GM 322 04.001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam, Januari 2006 | 568 hlm.; 23 cm | ISBN 979-22-0862-3 | Skor: 5/5

Karawang, 071117 – Tasya ft Duta Sheila On 7 – Jangan Takut Gelap

Petualangan Don Quixote – Miguel de Cervantes

Petualangan Don Quixote – Miguel de Cervantes

Buku ini menghantui sudah jauh hari. Segala review dan ulasan positif membuatnya nyaris selalu ada dalam top 100 novel paling berpengaruh sepanjang masa versi manapun. Jadi saat tengah tahun alkisah di sebuah sosmed seorang teman penjual buku daring mengunggah gambar sampul buku yang sangat keren dengan latar utama hitam dan ilustrasi duo penunggang kuda,dengan caption dalam proses alih bahasa, saya tentu saja sangat antusias. Beberapa hari kemudian, muncul lagi treaser yang memperlihatkan betapa tipis buku ini karena dalam gambar diperlihatkan sisi samping vertical pandang. Langsung drop saya, waduh, buku aslinya setebal al kitab, kenapa jadi diciutkan seakan buku saku? Sampai akhir Oktober 2017, saya masih was-was. Dan saat bulan berganti, saya kejar untuk segera memiliki. Dah, yah saat pada akhirnya saya memegangnya, buku tipis sekali, jauh dari ekspektasi, hiks. Saya baca tengah malam bersama segelas kopi yang bahkan belum sampai pada tegukan akhir, petualangan sang kesatria sudah kututup. Kalau ditanya hasil terjemahan yang lebih sederhana apakah mengecewakan? Saya bilang ya. Saya suka detail, saya ingin telaah lebih jauh, saya suka versi original yang dipindahkan ke bahasa lokal. Tapi tetap, rasa syukur dan apresiasi saya apungkan. Sebuah mimpi melahap buku-buku langka dalam Bahasa perlahan satu per satu terwujud. Apalah, saya tetap haturkan terima kasih Immortal Publisher yang sudah merealisasikannya. Kutunggu, akan kutunggu versi gaban. Ayolah, please…

“Kecantikan dan ketidaksopanan tidak baik hadir berbarengan. Tawa yang datang dari pikiran kosong adalah tawa orang bodoh. Jangan sakit hati oleh kata-kataku. Aku tidak bermaksud menyakiti”

“Kau akan menjadi seorang kesatria – seorang kesatria sejati, sehingga tak seorang pun akan mengunggulimu di dunia ini.”

Penjaga rumah menceritakan akibat buruk dari buku-buku tentang kepahlawanan milik Don Quixote. Kemenakannya menjelaskan kebiasaan liar pamannya yang disebabkan oleh apa yang dibacanya.

Sancho Panza semata mengkhayalkan pulau yang dijanjikan tuannya. Don Quixote memikirkan banyak hal menakjubkan hingga ia terbangun dari mimpinya oleh suara pengawalnya, yang menyampaikan takzim, “Aku harap Yang Mulia tidak lupa akan pulau itu.”

“Kaumasih harus banyak belajar tentang petualangan para kesatria. Aku bilang mereka raksasa. Kalau kau takut, menjauhlah dan berdoalah, sewaktu aku berjuang pada pertempuran mengerikan dan tak seimbang ini.”

“Hati-hati tuan dengan apa yang Anda lakukan. Yakinlah bahwa setan itu yang telah merasuki gagasan di kepala tuan.”

Kalau dalam pertempuran kau melihat aku tercacah menjadi dua bagian (suatu hal yang kerap terjadi), kauharus mengangkat bagian tubuhku yang tercecer di tanah itu dengan pelan. Kemudian letakkan dengan hati-hati dan tepat pada bagian yang lain, yang masih ada di atas kuda. Kemudian, beri dua tetes obat ajaib itu, dan dalam sekejap aku akan kembali sembuh.”

“Aku bersumpah sampai aku bisa menghukum orang jahat yang mecederai seperti ini, aku tidak akan makan roti di atas meja, atau tidur di atas atap, atau –“ seruan itu sungguh memperdayainya, tetapi matanya masih membekaskan nyalang karena geram.

“Kita hanya berdua, dan menghadapi lebih dari dua puluh orang? | “Aku sama hebatnya dengan seratus orang.” Mereka terkapar tanpa daya, satria, pengawalnya dan kudanya, kalah oleh para kurir biasa.

“Bagaimana kau bisa memimpin sebuah pulau atau kerajaan? Seorang pemimpin besar harus tidak takut pada apa atau siapapun.”

“.. dan pergilah ke kota Toboso. Di sana kalian harus menemui nona Dulcinea, ceritakan kepadanya tentang petualangan besar ini, yang akan menjadikan kalian orang bebas.”

Dulcinea tidak akan tahu kalai itu tulisanku, karena ia tidak bisa membaca ataupun menulis.

“Ini tempat mengobrol yang cocok untuk kita, ada rumput untuk kuda-kuda, dan semuanya begitu bening. Di sini aku bisa berfikir dengan tenang tentang kekasih yang aku cintai.”

Petualangan Don Quixote | by Miguel de Cervantes | diterjemahkan dari Don Quixote de la Mancha | penerjemah Muajib | penyunting Fahrudin NAsrulloh AM | penyelaras akhir Puput Alvia | tata letak Werdiantoro | rancang sampul Sukutangan | catakn I, Agustus 2017 | ISBN 978-602-6657-62-6 | 124 hlm.; 13×19 cm | Penerbit Immortal Publisher | Skor: 5/5

Karawang, 071117 – Sherina Munaf – Primadona