Steppenwolf – Hermann Hesse

Steppenwolf – Hermann Hesse

“Hanya Untuk Orang Gila” – Risalah Steppenwolf. Tidak untuk sembarang orang.

Steppenwolf yang terlunta-lunta, penyendiri, pembenci kesepakatan dalam hidup, selalu memberikan seperempat uangku untuk menyewa rumah ini. Inilah kelemahanku.

Bagaimana aku dulu mencintai kegelapan, petang yang muram di akhir musim gugur menjelang musim dingin, begaimana dulu aku begitu tertarik menyesap rasa kesendirian dan melankolis ketika terbungkus dalam mantel sambil berjalan menghabiskan separuh malam menembus hujan dan badai.

Sesudah dua atau tiga musik dari piano, pintu ke dunia lain tiba-tiba terbuka. Aku mempercepat langkahku menuju surga dan melihat Tuhan sedang bekerja. Aku merasakn luka yang suci.

Tiba-tiba aku mengucapkan syair, syair yang begitu Indah dan aneh sehingga aku tidak berani menulisnya dan kemudian syair-syair itu menghilang.

Kenikmatan massal dan orang-orang yang berperilaku seperti orang Amerika yang gampang puas dengan hal remeh adalah benar, maka akulah yang salah, aku gila. Benarlah bahwa aku Steppenwolf, panggilan yang sering kupakai untuk diriku sendiri.

Di samping rasa sedihku, terdapat kebahagiaan.

Pernikahan untuk menutupi kembali suasana hari-hari masa bujangnya, kegiatan resmi untuk mengenang tahun-tahunnya ketika masih menjadi siswa.

Aku tidak menyukai keramaian, paling tidak untuk setiap hari, anggur yang memabukkan yang menyebarkan daya tarik tertentu dan memiliki rasa tersendiri.

Kesendirian adalah kemerdekaan. Inilah yang selalu menjadi harapanku dan sudah bertahun-tahun aku bisa mencapainya.

Steppenwolf memiliki dua kepribadian, sifat manusia dan sifat serigala. Ada dua sisi dalam satu darah dan satu jiwa yang bertentangan sengit, maka hidup akan didera penyakit.

Manusia mungkin tidak saja semata-mata hewan yang setengah rasional, tetapi juga anak Tuhan dan ditakdirkan untuk mendapatkan keabadian.

Dia membenci hal-hal yang berhubungan dengan kantor, pemerintahan, atau hal-hal konvensional, seperti hal ia membenci kematian, dan mimpi terburuknya adalah disekap dalam barak.

Orang yang berkuasa dikacaukan oleh kekuasaannya, orang yang memiliki uang dikacaukan oleh uang, orang yang patuh dikacaukan oleh kepatuhannya, pencari kenikmatan dikacaukan oleh kenikmatannya.

Secara bebas dia memandang rendah orang-orang biasa dan merasa bangga dirinya tidak menjadi bagian dari orang-orang itu.

Cita-citanya adalah bukan melepaskan melainkan menjaga identitasnya. Dia rela berada di jalan Tuhan, tetapi tidak dengan menyerahkan kenikmatan dunianya.

Selalu ada sejumlah besar kekuatan dan sifat liar yang ada dalam hidup yang terbungkus.

Pertentangan dari formula kehebatan benarlah adanya, dia yang tidak menentangku menjadi bagianku.

Ruang ini adalah ruang khayalan yang rumit dan cita-cita yang memiliki banyak tahapan di mana Steppenwolf menemukan perwujudannya.

Hidup di dalam dunia yang seolah-olah bukan dunia, menghormati aturan tetapi membuat jarak dengannya, memiliki seolah ‘tidak memiliki apa-apa’, meninggalkan seolah-olah ini bukan penurunan takhta.

Angan-angan bersandar pada analogi yang salah.

Dari semua karya sastra hingga kini, drama menjadi hal yang paling dihargai oleh penulis dan kritikus, dan karena ia menawarkan (atau mungkin menawarkan) kemungkinan terbesar dalam menampilkan ego sebagai entitas berbagai jenis, tetapi bagi ilusi optik yang membuat kita percaya bahwa karakter dalam drama merupakan satu entitas yang dimasukkan dalam tubuh yang tidak dapat menolak, tunggal, terpisah, dan satu dan untuk semua.

Manusia seperti halnya bawang terbuat dari ratusan lapisan, sebuah tektur yang terbuat dari benang.

“Kalau aku bisa menjadi anak-anak lagi!” Faktanya tidak ada formula untuk kembali menjadi serigala atau anak-anak. Sejak awal tidak ada keluguan dan keadaan tunggal.

Orang jenius tidak selangka yang kadang kita pikirkan, tidak juga sering muncul di buku-buku sejarah atau tentu saja di koran.

Setiap kali hidupku hancur berkeping-keping, pada akhirnya aku memperoleh sesuatu peningkatan dalam kebebasan dan pertumbuhan dan kedalaman spiritual.

Aku sudah cukup sering memerankan Don Quixote dalam kesulitanku, hidupku yang penuh kegemaran meletakkan penghargaan di atas kenyamanan, dan sifat kepahlawanan di depan alasan. Ada akhir dari semua ini.

Ingatan ini membumbung, bersinar dan kemudian padam. Seberat gunung, tertidur di otakku.

Jalan yang bijak ini tidaklah bagus, tetapi aku membuat resolusiku seperti ini: lain kali aku harus menggunakan cara lain selain opium.

“Di mana di kota ini atau di dunia ini kematian seseorang yang membuatku merasa kehilangan? Dimana orang yang akan menganggap penting kematianku?”

Ketika aku, Harry Haller berdiri di jalan dan tersanjung dan kaget dan bersikap penuh sopan santun dengan tersenyum kepada orang baik, sekilas wajah di sana berdiri juga Harry yang lain, yang juga menyeringai.

Besok atau lusa diriku juga akan dikubur dalam tanah dengan pentas kesedihan yang penuh kemunafikan – tidak, di sana semuanya berakhir, semua perjuangan, semua budaya, semua keyakinan, semua kebahagiaan, dan semua kenikamatan dalam hidup kita – sudah sakit dan segera terkubur di sana.

Di sanalah ia tinggal, melakukan tugasnya bertahun-tahun membaca dan memberi keterangan pada teks, mencari analogi diantara mitologi Asia Barat dan mitologi India, dan ini membuatnya puas, karena ia percaya bahwa hal ini memang berharga.

Bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa kau sudah melalui berbagai masalah hidup ketika kau bahkan tidak bisa berdansa?

“Kau memiliki pandangan yang baik tentang hidup, kau selalu melakukan hal-hal yang sulit dan rumit, tetapi justru hal yang sederhana tidak kau pelajari.”

Steppenwolf | by Hermann Hesse | diterjemahkan dari Steppenwolf | Penerbit Pustaka Baca! | cetakan 1, 2011 | alih bahasa Rahmat Fajar | desain cover Haetami El Jaid | pemeriksa aksara Pritti dan Ratih In. | penata aksara Herry Ck. | ISBN 979-2462-35-X| Skor : 5/5

Karawang, 061117 – Backstreet Boys – Siberia

Iklan