Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #45

Idealnya memang dicatat per lima hari seperti ini, jadi tak terlalu menumpuk. Namun sekali lagi, ini catatan buat memantau perkembangan program sahaja, dibuat nyaman, dibikin santuy.

Hari 41

#1. Cerpen: Malam Hening, Kasih Bening (Ike Soepomo)

Konfliks yang disampaikan berat, penyelesaiannya yang ringan. Pasangan suami istri yang secara ekonomi mapan mengadopsi anak dari dokter sahabatnya yang menangani kelahiran ibu yang miskin dan sudah cerai. Namun setelah tiga tahun, sang ibu menuntut haknya. Ia mencoba merebut anak kandungnya. Inilah pentingnya surat adopsi resmi, maka melalui pengadilan, dan negosiasi alot, mereka dengan berat hati merelakan. Endingnya sedikit dimodifikasi.

#2. Esai: Manusia Indonesia bab Tanggapan-Tanggapan (Mochtar Lubis)

Setelah menikmati bacaan ceramah 82 halaman Mochtar Lubis, muncul berbagai tanggapan di Koran nasional. Ada yang sangat keras menentang menyebutkan sifat-sifat manusia, yang rerata memang negatif. Dibantah langsung oleh yang penulis, lalu tanggapan lain muncul, dibantah lagi, dan diluruskan. Seru sekali, Koran tahun 1970-an ini menyanggah tulisan dan mengkirtisinya.

Luar biasa, tulisan bagus dari ceramah itu memunculkan pro-kontra. Memang pahit mengetahui keburukan sifat mayoritas warga kita, fakta pahit itu diungkap dan wajar saja muncul tanggapan-tanggapan. Di Koran nasional tahun 1970-an ada yang menyanggahnya, lalu disanggah balik, ada yang sepakat, tapi kritis, ada pula yang memberi contoh sifat-sifat kontra yang ada. Seru sekali, buku yang bagus.

#3. Puisi: Kancing Baju Tanggal Seluruhnya (Deddy Arsya)

Dalam topi lakenmu yang bundar / cakrawala tiba-tiba pudar / bukit-bukit baru tumbuh dari balik kabut seperti payudara / anak gadis tiga belas tahun / ladam kuda memercikkan api di jalan raya, dulu para rodi / bergelimang mati di situ / tetapi sebentar lagi lampu-lampu toko menyala di / seberangnya menerbarkan harum / sabun yang tercium dari leher gadis-gadis baru pulang dari / pemandian air panas

#4. Kata: Indonesia

capai: raih, sampai; lelah, letih

Hari 42

#1. Cerpen: Permata Lembah Hijau (Ike Soepomo)

Keluarga yang sejatinya mapan, dengan tiga anak manis. Lalu musibah dicipta, sang suami kecelakaan kerja yang mengakibat kakinya harus diamputasi agar infeksi tak menjalar. Keruntuhan dimulai, suaminya yang insinyur emosi, banyak hal dipertanya, istrinya ditampar, anak-anaknya menjauh, dan begitulah, butuh ketenangan hati untuk memutuskan nasib ke depan. Inilah keluarga.

#2. Esai: Resistansi Bahasa Daerah di Era“Westernisasi” (Komang Budi Mudita)

Upaya menahan gempuran bahasa asing dengan melokalisasikan bahasa daerah. Bahasa daerah yang terancam punah harus dilindungi, dan penggunaan sehari-hari tentu sangat efektif, sebab langsung dipraktekkan. Salah satu yang menonjol adalah bahasa Ngalam, orang-orang Malang yang membalik kata dan ditulis ulas di koran lokal. Patut diapresiasi.

#3. Puisi: Sajadah Panjang (Taufiq Ismail)

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.

#4. Kata: Indonesia

cecak: binatang merayap, biasa hidup di dinding atau langit-langit rumah

Hari 43

#1. Cerpen: Untung dan Rugi (Rabindranath Tagore)

Di India pernikahan zaman dulu memang tampak aneh di mata kita. Keluarga perempuan memberi uang besar kepada keluarga laki-laki, sebab pengantin perempuan pindah rumah ikut suami, yang berarti tinggal sama mertua. Maka kalau suami adalah keluarga kaya, atau bangsawan maka maharnya minta besar. Keluarga perempuan mendapat mantu kaya tentu saja bangga, tapi jua kudu berkorban banyak uang. Pernikahan yang sejatinya menyatukan dua kelurag malah jadi petaka, perkara uang mahar.

#2. Esai: Literatur Gerakan Sufi Barat (Marcia Hermansen)

Bagus banget. Tasawuf di Eropa dan Amerika, di bumi Barat mengalami kebangkita abad 20. Gerakan itu mencipta gelombang Islamisasi, justru setelah kejadian 9/11 banyak yang bertanya-tanya tentang Islam, dan di sini sufisme naik daun.

#3. Puisi: Elang Laut (Asrul Sani)

Ada elang laut terbang / senja hari / antara jingga dan merah / surya hendak turun, / pergi ke sarangnya.

Apakah ia tahu juga, / bahwa panggilan cinta / ada ditahan kabut / yang menguap pagi hari?

Bunyinya menguak suram / lambat-lambat / mendekat, ke atas runjam / karang putih, / makin nyata,

#4. Kata: Indonesia

cendekia: tajam pikiran; cepat mengerti dan pandai mencari jalan keluar; terpelajar, cerdik pandai

Hari 44

#1. Cerpen: Kulit (Roald Dahl)

Mengerikan. Rasanya sulit dipercaya, penulis cerita anak ini memiliki cerpen dewasa yang keras dan sangat kejam, bila dibayangkan. Sebuah pesta mabuk pelukis dan istri dan tentara dari desa yang sama membuat ide gila, menulis di punggung. Lukisan tato itu menggemparkan di masa kini, dan ditawar sangat mahal. Lalu bagaimana menjualnya? Kulit itu dikupas?

#2. Esai: Siasat Struktur “Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi” (Marcelus Ungkang)

Novel pemenang KSK ini dikupas dengan gaya yang berbeda. Atau dalam bahasa literature, ditelisik dengan baik dalam kritik sastra. Walau tetap saja memusingkan menyikapi tata kelola kupasannya, sejatinya tetap asyik. Malah membuatku penasaran dan tertantang menulis kritik sastra yang bagus seperti ini.

#3. Puisi: Keluhan (Mustofa Bisri)

Tuhan, kami sangat sibuk.

#4. Kata: Indonesia

cengkerama: percakapan untuk menyenangkan hati; senda gurau; perjalanan untuk bersenang-senang

Hari 45

#1. Cerpen: Sang Nyonya Rumah (Rabindranath Tagore)

Tentang bullying, dari guru ke murid, dari murid ke murid. Memberi nama aneh kepada murid-murid, seorang anak manja yang sering dikirim gula-gula dan makanan oleh pelayannya di jam makan siang dijuluki Sang Nynoya Rumah.

#2. Esai: Untaian Hikmah bab Tiga Perkara (Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Bab dua ini intinya sama dengan bab satu, berisi hadis dan nasehat agama tentang segala hal berhubungan tiga perkara. Beruntun indah, tapi menyusun kutipan-kutipan seperti ini kurang membekas.

#3. Puisi: Kamar (Sapardi Djoko Damono)

ketika kumasuki kamar ini
pasti dikenalnya kembali aku
suara langkahku, nafasku
dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya
dan kali ini – pertemuan ini
tanpa jam dinding
begitu saja di suatu sore hari
sewaktu percakapan tak diperlukan lagi
tanpa engahan-engahan pendek
tanpa “malam begitu cepat lalu!”
dan kulihat bibir-bibirnya sembilu
menoreh kenanganku

#4. Kata: Indonesia

cengkih: tanaman industri untuk rempah-rempah; bunga cengkih

Karawang, 140422 – Barry Manilow – Can’t Smile Without You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s