Death in Venice #25

Death in Venice by Thomas Mann

Untuk mengerti semuanya adalah dengan memaafkan semuanya.

Dilanda waktu, zaman, hening, dan muram. Inilah novel yang penuh renungan, tenang, mencium arima bosan, dan sungguh snob, eh ternyata asyik sekali. Untuk sesaat tenggelam dalam pikiran. Kecenderungan kecil untuk menyelinap dalam keanehan yang tak masuk akal, sebuah sensasi yang tak bisa dia jelajahi sepenuhnya. Kalau kalian suka kisah yang tak banyak gejolak, jelas akan menyukai. Novel yang sastra kata-nya kental. Adegan sunyi sungguh dominan. Penyendiri akut. Emosi yang tepat milik penyendiri; bahwa alam diguncang dengan kegembiraan ketika pikiran memberi penghormatan kepada keindahan.

Seorang manusia masih bisa memiliki resolusi moral setelah menyelami kedalaman ilmu pengetahuan. Saya sudah membaca terjemahan versi Circa, beli bersamaan karena keluar cetakannya juga hampir bareng. Tentu saja ke Dema Buku, gegas sana! Alih bahasanya sama-sama enak, tapi Basabasi terasa lebih gereget. Apakah karena ini bacaan kedua? Jadi (mungkin) pengalaman pertama yang memusingkan, lalu yang kedua (mungkin) ini lebih terasa rapi? Mengikuti alur yang sudah kita tahu. Entahnya, kesunyian yang menjadi balutan utama kisah terasa lebih syahdu, sedap. Rasa kesadaran yang menggigit dan pahit. Satu petualangan kriminal dan sunyi dalam malam yang kelam. Narasinya lebih enak diikuti. Sangat indah, sangat spiritual, sangat tepat, meskipun mengandung kesan pasif yang terlalu besar.

Judulnya jadi beda walau sumbernya sama, ‘Maut’ milik Circa menjadi ‘Kematian’-nya Basabasi. Kehebatan sang tokoh utama juga terasa sekali di sini, disanjung, dipuji, walau hanya dalam pikiran. Seorang seniman hanya dapat dianggap besar dan terhormat jika dia telah sukses dalam semua tahap kehidupan. Persamaan antara nasib personal dari penulis dan rekan-rekan sezamannya. Kebahagiaan penulis adalah pikiran yang sepenuhnya menjadi emosi dan emosi yang sepenuhnya dipikirkan.

Kisah tentang Gustav von Aschenbach, seorang seniman sukses dari Jerman yang melakukan liburan ke Venesia, Italia. Untuk memberikan penghormatan kepada hak aristrokat Dia sudah kaya sejak kecil, dan akan tetap kelebihan materi ketika tua. Lebih banyak keturunan cerdas masuk ke garis keturunan mereka sebelum para penyair masuk ke dalamnya melalui sisi ibu mereka, putri seorang konduktor musik Bohemian. Menanggung beban kegeniusan pada bahunya yang kurus dan keputusan untuk melangkah sejauh ini. Sedari mula keberangkatannya, sudah tampak ragu, sinis. Kebimbangan menjadi tema yang dominan. Maklumi sahaja, tua dan sendiri. Tujuan menjadi tampak remeh ketika proses yang dijalani terasa indah.

Sang seniman tampak memainkan peran santai. Rambutnya disisir ke belakang, menipis di bagian dahi, sangat lebat di atas pelipis dan sedikti bau-abu, alisnya menjulang tinggi, dahinya berkerut. Karena usia dan pengalaman mengata: waktu tak perlu dikejar setelah perjuangan di masa muda yang melimpah. Rasa sakit akibat ketidakmampuan kata-kata untuk menggambarkan keindahan, selain dengan memuji. Di bawah topeng kepasrahan, menyembunyikan ketakutannya seperti seorang bocah yang melarikan diri.

Menara lonceng di mimpinya di tempat ini. Menikmati masa tua, banyak ragamnya. Saya sendiri hanya bisa membayangkan, nantinya gini nantinya gitu, enjoy setiap momen Bung! Menikmati debur pantai, atau alam pegunungan jelas masuk opsi paling depan. “Perhiasan, mandi air panas, dan isitrahat kerap membuat perbedaan.” Tenang, menghanyutkan. Pada usia empat puluh tahun, dia masih hidup seolah dia memulai hidup pada masa di mana orang lain cenderung menyia-nyiakan waktu dan bersenang-senang, memimpikan impian tinggi dan menunda usaha. Kesuksesan itu dia himpun dari lapisan demi lapisan, dalam hari-hari kerja yang panjang, diramu dari ratusan inspirasi tunggal. Setelah beberapa tahun kegelisahan dan banyak mencoba berbagai tempat.

Mungkin lebih baik jika dunia hanya tahu hasilnya, bukan kondisi di mana hal itu dicapai, karena pengetahuan tentang sumber inspirasi seniman mungkin dapat membingungkan mereka dan dengan cara yang sama menghilangkan efek dari karya luar biasa. Liburan ke Venesia ini sejatinya beresiko, kita sudah tahu. Ada wabah sampar yang mengancam dan pihak hotel seolah menutupi, tapi sebuah momen cinta membuatnya mengabai. Benar-benar mengabaikannya ketika dia mendapati pengetahuan itu tidak mampu melumpuhkan, mengecewakan, dan merendahkan. Sebuah lagu multi-sajak yang saat ini sedang populer di Italia. Sungguh terasa, pengambilan keputusan tak dibuat matang.

Ketika tiba di sana sudah tampak rancu, pengantar perahunya bermasalah! Di hotel segalanya memang menjanjikan masa bahagia memeluk sunyi, tapi ada peluang kabur dari maut. Sudah pergi malah balik lagi. Ia merasa lelah, bahkan hancur, dan seolah kesadarannya menuduh dirinya telah berpesta pora. Di luar kasus koper dan serba kebetulan, sejatinya memang Aschenbach terlalu sayang untuk pergi tanpa pamit sama pemuda cantik itu. Sungguh, bukan laut atau pantai yang menantinya, ia akan tetap di Venesia selama si cantik juga ada. Kehidupan mengalahkan diri sendiri, kehidupan yang keras, mapan, dan rumit, yang telah diubahnya menjadi sebuah simbol kepahlawanan kontemporer – dia bisa menyebutnya maskulin dan berani dan baginya tampak seperti Eros.

Tampak janggal, jatuh hati sama pemuda asing yang bahkan tak disapa, tak ada upaya berkenalan, hanya menikmati berjarak. Dasar aki-aki absurb. Tidak ada hubungan yang lebih aneh dan canggung daripada hubungan dua orang yang saling mengenal lewat tatapan mata. Pemuda berambut panjang berumur sekitar empat belas tahun berwajah cantik. Karena manusia mencintai dan menghormati manusia lain selama tidak saling menghakimi, hasrat adalah produk dari kurangnya pengetahuan. Dia merasakan kegembiraan di dalam darahnya, kegembiraan dan rasa sakit dalam jiwa ketika menyadari bahwa perpisahan terasa begitu melelahkan karena Tadzio. Seolah memprediksi. Dia sedikit rapuh, sakit-sakitan, mungkin tidak akan hidup lama. Fanatisme anak-anak yang diarahkan pada bagian paling lunak dari lempengan kehidupan. Keganjilan ini tampak menjanjikan baginya. Hukum moral tidak lagi berlaku. Apakah ini dipengaruhi oleh daya tarik emosi superior pada objek yang lembut dan tak berdaya? Ketampanan membuat seseorang menjadi pemalu.

Nasib dibentuk dari keputusan-keputusan kita yang tampak remeh dan ala kadar, manusia tak tahu mana yang menuju titik nyata dalam senyum ataukah duka? Mungkinkah dia tak tahu atau tak sadar betapa dia terikat pada semua ini? Keindahan layaknya dewa dari anak manusia. Seperti saat ini, kita ada di masa pandemi corona. Siaga, bertahanlah hidup. Di masa lalu, virus ini mengakibat delapan puluh dari seratus orang yang terinfeksi meninggal dengan cara yang paling mengerikan. Perjalanan aneh melewati Venesia mulai membacakan mantranya, roh para tentara bayaran dari ratu yang tenggelam kontribusi menyihir indra dengan cara yang tidak menyenangkan.

Penggambaran fisik dan keadaan sang tokoh juga nampak melimpah. Rambut abu-abu, wajah lelah, dan garis wajah yang lugas. Kelelahan jasmani begitu tak dapat dia terima dan kebutuhan untuk mencegahnya dengan cara apa pun begitu penting. Usia panjang yang berkah adalah anugerah. Jalan hidup setiap manusia berbeda.

Diam adalah emas. Tapi tampak samar udara itu menyeru-nyerukan dengan kata-kata yang terdengar seperti kata sandi. Memeluk kebosan itu, menikmati kebosanan itu. Mengulangnya perlahan dengan puas. Kegembiraan dan rasa lelah di waktu yang sama. Keteraturan yang menyenangkan dari gaya hidup ini telah memantrai dirinya, kelembutan dan pancaran dari perilaku ini membuatnya sangat kagum. Dia melakukan hal itu dengan perlahan dan tekun, pembaca menikmati kebosan juga dengan tekun.

Ada beberapa adegan yang aneh. ‘Penampakan’ di makam, pemakaman yang menjemukan dan perjalanan final tanpa kata. Bicara dengannya dengan hasrat dari orang yang tak bertuhan dan jahat, yang tidak dapat melihat keindahan di balik kesan dan yang bisa dihormati, bicara tentang teror suci yang menyerang bangsawan atas penampakan tubuh sempurna di hadapannya.

Momen juga penting dalam penilaian akhir menikmati karya. Saya sudah lebih mengenal film-film ‘renungan’ sejak terpesona film The Photograph, In The Mood For Love, atau The Table yang full ngobrol. Jauh dari citra membosankan, dan di sisi lain eksentrik, kejeniusannya diperkirakan akan memenangkan perhatian loyalitas dan perhatian masyarakat umum, Nah, Kematian di Venesia terasa sekali eksekusi sastranya tempak kental dan nyata, lebih banyak lingkupan tenang. Warnapucat daging, kontras dengan semangat yang berapi-api di dalam. Bayangkan saat difilmkan, pasti adegan dengan gambar-gambar yang diambil kamera yang perlahan dalam bayang kosong di ruang kosong yang tak dapat diukur itu, indra tentang waktu ikut menderita dan linglung dalam kebingungan yang tak berbentuk.

Sebuah pengandaian yang menentang semua rintangan keraguan dan ironi. Melimpah ruah penggambaran latar sunyi. Langit kelabu, angin lembab. Hampir semua hal besar adalah luar biasa meskipun muncul dalam penolakan, penderitaan, kesakitan, kemiskinan, kelemahan, dan ribuan penghalang lainnya. Langkah yang tidak ia ambil mungkin mengarah kepada hal-hal baik, ringan, dan membahagiakan, mungkin menyembuhkannya. Namun ia sendiri sepertinya tidak ingin disembuhkan, bahwa racun ini dia sayangi.

Saya sendiri suka duduk tenang, menatap langit. Duduk tak melakukan apa-apa. Memecah kabut hampa yang monoton. Tak perlu pusing, nikmati hening. Membingungkan dan memesona, konon pikiran dan ingatan hingga jiwa lupa akan wataknya sendiri karena kegembiraan dan dengan kekaguman yang melekat pada benda-benda yang paling menarik yang menyala. Istirahat yang cukup, lalu sangat tegang namun segar di pagi hari.

Bukan seni secara utuh, tentu saja dia adalah perwujudan seni yang dibicarakan di sini. Dalam dunia Aschenbach, diperlihatkan banyak fase dari tema ini: aristokrat yang memerintahkan kritikan dan untuk selama yang dia bisa sembunyikan kemunduran biologisnya dari mata dunia…

Judulnya memang spoiler berat, kita tahu ia akan mati di sana. Bergurau dengan dirinya sendiri tentang ketakutannya yang menggelikan. Lihat, ragu, takut, geli. Takdir memang misteri Ilahi. Kalimat-kalimat maut ada di paling ujung novel. Dan bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa lebih jujur pada roh waktu? Memang ini bukan tentang akhir kisah, tapi apa saja yang terjadi jelang kematian lelaki terhormat yang sudah mencipta karya-karya bagus. Takdir tampaknya melanggar mahkotanya yang kerap disisir ke samping, namun itu adalah seni yang membentuk fisiognomi.

Ya, kesempatan kedua kubaca memang jauh lebih menyenangkan. Merenungkan sebuah euforia. Sebagai contoh dan cermin keindahan intelektual. Senyum yang sedikit terdistorsi dari keputusasaan. Untuk menemukan kedamaian dalam kesempurnan adalah keinginan seseorang yang mencari keunggulan; dan bukankah ketiadaan merupakan bentuk kesempurnaan?

Kematian di Venesia | by Thomas Mann | Diterjemahkan dari Death in Venice | Terbitan Ecco, 2004 | Penerjemah D.S. Rahayu | Editor Eva Sri Rahayu | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Vitrya | Pracetak Kiki | Penerbit Basabasi | cetakan pertama, Juli 2019 | ISBN 978-623-7290-08-7 | Skor: 5/5

Karawang, 250620 – Bill Withers – Lovely Day

#25 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

#WelcomenbekSerieA #Atalanta3-2Lazio #GajianDay #Rapel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s