Waktu Bergulir Lambat dan Lama

Makan Siang Okta by Nurul Hanafi

Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas.”

Kereeeen. Keren adalah kata pertama yang kuucapkan ketika di tengah babak. Konsistensi mencipta bosan pembaca malah memberi konsekuensi nyaman akan kelambanan. Andai saja kondisi babak satu dan dua dipertahankan sampai babak akhir, buku ini akan sangat memikat, dalam artian tak sekadar keren. Kondisi dalam belitan minimalis setting tempat dan waktu, sebab eksekusi babak ketiga malah merentang masa seminggu kemudian, yang secara otomatis mengikis durasi estetika. Yang menyebalkan adalah mengapa aku memandangi dia setiap hari. Duh! Jelas ada cinta dalam matanya.

Saya suka sekali film A Ghost Story yang menampakkan ‘hantu’ yang bosan menapaki waktu di tempat yang sama untuk rentang kisah acak. Saya juga suka sekali Buried yang membuat Ryan Reynolds terkubur satu setengah jam dalam peti, yang otomatis sepanjang film penonton turut sesak. Saya juga suka sekali Locke, filmnya tentang Ivan Locke ngomong sendiri di mobil via telpon, ia berkendara dan meramu kejadian di sekelilingnya jadi syahdu. Nah, di Makan Siang Okta kita mendapat sisi minimalis itu. Sungguh jantan dan menarik. Kalian diminta untuk terus menyimak dialog sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu.

Sepanjang Okta tak berkata apa-apa tentu saja Okta yang ada di dalam benak Tendy selalu benar. Ia selalu hebat jika sudah berada dalam kepala, dan hanya itulah yang bisa dilakukan oleh orang menyebalkan untuk membuat orang memikirkan dia lelah sendiri tanpa tahu gunanya Okta ada.

Ini kisah sederhana, sebuah kunjungan anak SD ke teman sekelasnya untuk meminjam buku, yang nantinya kita tahu hanyalah alibi. Kedatangan ini memang tak memerlu konfirmasi sebab Okta, gadis itu juga tidak tahu ia bakalan datang, saat Tendy tiba ia sedang makan siang. Kau hampir sama sekali tak tahu bahwa ikan bandeng, sepatu selop, seuntai kalung, dan sebuah buku cerita benar-benar telah tampil sia-sia jika dibandingkan dengan keanehan dia yang memiliki semua barang itu sekaligus. Adegan sepanjang buku akan berkutat di situ. Setelah berputar-putar dalam dialog dan ‘dialog’ dalam kepala Tendy, kita bertemu ibunya Okta yang sedang mengupas kentang, turut sertalah beliau dalam belitan kisah. Tokoh nyata hanya bertiga, walau dalam percakapan menyinggung nama-nama lain seperti teman sekolah atau teman masa kecil ibu, tapi tetaplah tokoh Makan Siang hanya bertiga. Sekolah tidak mengajarkan cara menghabiskan waktu siang yang baik bersama seorang teman laki-laki. Maka muncullah buku panduan ini. Haha…

Dibagi dalam tiga bagian, pertama pertemuan di beranda rumah tempat Okta makan siang di ambang pintu dengan bandeng dan sepatu selop ‘pesawat’nya. Ada listriknya, hanya sebelah. Bagian kedua di dalam rumah, ibunya menengahi, obrolan menjadi lebih variatif menyinggung kentang sampai jenis bacaan, dan bagian ketiga adalah seminggu setelahnya, dalam rangka mengembalikan buku, Okta yang nggak mau makan, main bekel, sertakan pula konflik batin. Lalu buku selesai. Ya, hanya itu. Benar-benar luar biasa bukan?!

Lebih banyak kita menjadi pengamat isi kepala Tendy sebab kisah mengambil sudut pandang orang pertama, apa yang ada di dalam batok kepalanya diungkapkan kepada pembaca. “Ia menggelengkan kepala seperti seekor kucing, kalau kucing bisa menggeleng.” misalnya, adakah pendapatnya tentang Okta yang ia cinta? Apakah aku senang karena bisa main dengan pesawat selop Okta ataukah senang karena mendengar dia tertawa senang? Kata-kata yang berjalinan itu kalah nyata dibanding isi kepalaku. Bocah imajinaf.

Hanya ikan bandeng sajalah yang bisa membawaku kembali pada kehangatan suasana siangku bersama Okta. Ia mencoba menangkap sebanyak mungkin momen bersama orang terkasih. Mainan yang ini – kalau kau boleh menyebutnya mainan – bernapas, membingungkan, dan perempuan. Okta adalah cinta mula, anak SD yang menemukan sesuatu yang disuka dalam kecantikan teman sekolah. Membohongi anak perempuan memang termasuk perbuatan penakut, tapi menyimpan barang-barang milik mereka termasuk perbuatan berani.

Kita tahu kita harus fokus terhadap apa yang ada di depan atau berhenti membicarakan kejelekan kawan kita di belakang, tapi kita tetap melakukannya. Dan itu bukannya karena kita tidak cukup tahu, tapi karena kita tidak cukup merasa nyaman. Ada teman cowok yang mereka bicarakan, namanya Panji yang beberapa waktu sebelumnya diajari main bekel sama Okta, seolah Panji adalah trigger ya/tidak nih kisah kasih ini berlanjut, sehingga terpatik dan dijadikan bidak pion. Kepalaku berada dalam sebuah lamunan ringan Negeri Makan siang, tak ada yang istimewa di negeri ini, karena satu-satunya peristiwa yang ada di dalamnya berlangsung amat lambat dan lama (buku ini).

Beberapa ungkapan juga mewakili. Menjengkelkan sekali melihat anak yang bukan pemalu bersikap seperti anak pemalu. Keakraban adalah satu hal, saling mengenal adalah hal lain. Maka ketika ibunya join in, terciptakan beberapa spekulasi. Apakah Okta menganggapnya anak baik sehingga dipernalkan ibu, ataukah sekadar basa-basi seperti tawaran minum yang penuh retorika? Mengenal Okta di rumahnya memang bukan hal yang biasa, tapi mengenal ibunya akan menjadi lebih tidak biasa lagi. Anaknya memang menarik untuk dipandangi saat dia sedang makan.

Okta sungguh mirip dengan es krim, meskipun dia tidak sadar dan merasa sayang kalau sampai meleleh dan habis terkena angin atau matahari. Aku melihat ia mabuk lantaran sesungguhnya mataku sendirilah yang memandang dari alam ketidaksadaran. Memiliki serangkaian kenangan tentangnya yang aku tak tahu entah sampai kapan bisa kuingat.

Buku kok isinya gambar semua.” Tendy pinjam buku itu bukan karena isinya, melainkan karena suka dengan pemiliknya. Jelas buku hanyalah tunggangan. Teringat doeloe saya mendapat kunjungan sore sepulang sekolah, seorang teman cewek dari desa tetangga tiba-tiba ke rumahku meminjam kaset pita Westlife, lalu hanya berselang dua hari balikin, pinjam lagi kaset BSB, seminggu kemudian balik lagi pinjam kaset N’SYNC yang ternyata di kunjungan ketiga diselipkan surat. Aneh sekali betapa lugunya saya kala itu. Dasar pipi mirip gorila. Kini baru kusadari cewek masa kecilku itu kaya, punya banyak sekali kaset pita di kamarnya. Duh! Tidak sembarangan main demi menghamburkan waktu pada sebuah buku kalau di saat bersamaan aku bisa main dengan pemiliknya, dirinyalah yang kuinginkan.

Buku snob yang berisi setting minimalis tempat dan waktu. Enak diikuti, nyaman dibaca, pas digenggaman. Selamat Bung Nurul, Anda berhasil memenangkan hatiku. Bukti dipakai demi kepentingan-kepentingan nilai Tuhan, bukan sebaliknya. Kusala Sastra Khatulistiwa bagimu mungkin sudah berakhir tahun ini, sebab tak masuk daftar pendek, yang jelas karya-karya yang lainnya patut diantisipasi. Pengalaman pertama yang mengasyikkan sekali. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan membuat cerita seintens mungkin. Makan Siang berhasil memenuhinya.

Ketidaksadaran tentang awal dan akhirnya sebuah permainan mirip dengan ketidaksadaranku tentang pangkal dan ujungnya sebuah lamunan. “Bicara banyak tentang dirimu sendiri dapat juga menjadi cara untuk menutupi dirimu.” Begitu kata Nietzsche. Tendy adalah presentasi karakter yang introvert, kalimat yang diucapkan lebih sedikit ketimbang percakapan banyak sisi dalam kepalanya. Dunia luar mendorong-dorong Tendy supaya keluar dari cangkang keluguan ini, namun kenyataannya dia masih sangat menikmatinya. Ia menikmati setiap konflik fiktif yang ia cipta sendiri. Detail yang mewarnai hangatnya persahabatan, sebagaimana aku yang ingin meminjam salah satu barang milik anaknya.

Bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bertikai untuk perbedaan-perbedaan kecil. Ya, hal-hal yang disampaikan di Makan Siang hanyalah remeh, hal yang tak akan mencipta ledakan di Irak, tak membuat Amerika sabotase ekonomi China, atau UU Omnibus Law batal. Namun jelas, kesederhanaan inilah kuncinya, yang malah membuatnya terasa nyata, sedikit bumbu nostalgia, letupan kecil emosi yang sejajar akan makna penting di mana kenangan harus disimpan dalam. Di hadapan fotonya aku hanya bisa membayangkan.

Makan siang Okta memang tidak pernah selesai. Khusus untuk eksekusi akhir, ketika pertanyaan spontan dilontarkan, itu sejatinya melegakan. Perasaan lega itu terasa hebat, sehingga ia ingin menangis. Namun bisa apa anak kecil? Menjulur lidah dan senyum kecut? Banyak sekali keputusan hidup dilapisi ironi, juluran lidah hanya contoh kecil. Aku selalu menjawab pertanyaannya, tetapi sebaliknya ia tak selalu menjawab pertanyaanku. Seolah menjadi bumerang, sebab ia malah tak menjawab pertanyaan paling krusial sepanjang 165 halaman. Kita merasa sudah tenggelam dalam inti peristiwa. Hanya anak penakutlah yang berani berbohong pada anak perempuan. Jadi mengapa tak langsung Kau Bilang Ya?

Jadi anak SD itu menyenangkan. Lalu muncul pengandaian lain, membayangkan seandainya Okta bermain ke rumah, akankah ibu menceritakan kebiasaan tidurku pula? Nah! Seperti Before Sunset yang muncul pula lanjutannya Before Sunrise plus happy ending dalam Before Midnight, kisah Makan Siang Okta akan sangat memukau di masa depan, kelak bila dilanjutkan. Fakta kecil bahwa Tendy dan Okta anak tunggal semakin bagus untuk dijadikan pijakan kasih. Ditunggu sekuelnya, pembaca bersemayam dalam kepala Okta, menyaksi Makan Malam Tendy?

Makan Siang Okta: Sebuah Cerita Tiga Bagian | by Nurul Hanafi | Penyunting Ipank Pamungkas | Tata letak Werdiantoro | Rancang sampul Sukutangan | Cetakan I, 2019 | ISBN 978-602-5868-51-1 | vi + 170 hlm.; 13 x 19 cm | Penerbit Shira Media | Skor: 4/5

Untuk Rama Dira (1980-2018)

Karawang, 091020 – Hank Williams – I’m So Lonesome I Could Cry

Thx to Rani skom, Dema Buku, Tokopedia

Sembilan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s