Witch Catcher – Mary Downing Hahn #1

image

Juni datang lagi. Bulan spesial ulang tahun Gadisku, Sherina Munaf. Momen #30HariMenulis #ReviewBuku kembali hadir. Aturan tak ada yang beda sama tahun-tahun sebelumnya. Dalam 30 hari ke depan saya akan menulis review buku, 15 buku impor 15 buku lokal. Diusahakan selang-seling, objektif. Tahun ini akan lebih berat untuk konsistensi karena bersamaan bulan Ramadan. Daftar buku luar negeri sih sudah panjang, kalau hanya 15 buku pasti bisa, yang berat adalah bacaan lokal. Atau adakah teman-teman yang mau rekomendasi buat ku-review? Saya harus paksakan karena kalau bukan kita yang angkat karya anak bangsa, siapa lagi. #SayaIndonesia #SayaPancasila.

Event tahun ini kita buka dengan sebuah buku fantasi.

Dunia fantasi memang tak berbatas. Kisahnya mencipta aturan sendiri, tapi logika tetap harus main saat aturan itu dicipta Penulis. Konflik harus ada, semakin berat semakin mendebarkan dilahap dan penyelesaiannya pun menentukan penilaian akhir. Perangkap Sihir, buku fantasi young adult terbaru yang saya baca memberi dunia peri dari dunia lain yang sebenarnya berpotensi meledak. Sayang banyak tindakan yang diberi para karakter tak memberi ketegangan, Mary Downing Hahn terlalu bermain aman sehingga, layaknya kisah-kisah Disney yang happy ending, Perangkap Penyihir dataaaar sekali. Happily ever after.

Kisahnya sederhana. Tentang keluarga kecil yang dibalut dengan fantasi rumah baru yang dibumbui kejutan. Jennifer adalah seorang piatu. Bersama ayahnya mereka mendapatkan warisan dari pamannya sebuah rumah di puncak bukit. Rumah aneh yang penuh misteri, karena paman Thaddeus seorang nyentrik yang kata tetangganya terlibat sihir. Jen punya seekor kucing unik bernama Tink yang sering menemaninya dalam sepi. Karena anak tunggal, jelas Jen butuh teman bermain.

Nah cerita dibuka dengan perpindahan mereka ke rumah baru. Di bulan Juni yang hangat, mereka memulai kehidupan baru jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah di puncak bukit itu memiliki menara, seperti di kisah-kisah fantasi. Menara itu dikunci karena sudah lama tak digunakan, dan untuk keperluan observasi lebih lanjut serta memastikan menara itu aman maka Jen dilarang memasukinya. Tapi yang namanya remaja tentu saja penasaran. Begitu naif dan tidak sadar akan bahaya. Suatu pagi yang cerah, saat ayahnya sedang menerima tamu, berbekal kunci bersama Tink ia memasukinya. Sambil bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh tinggi Jen memasukkan anak kunci ke dalam gembok dan memutarnya. Butuh mengerahkan seluruh tenaga namun akhirnya kunci bergerak dan ia pun mendorong daun pintu yang berat hingga terbuka.

Mereka sempat ragu saat di ambang pintu. Udara panas, tidak bergerak dan penuh debu. Bau apak, kotoran tikus, kotoran burung merpati dan hal-hal tak jelas yang akan membuat hidung mengerut. Tink bergerak maju terlebih dulu menaiki tangga, Jen mengikuti. Di puncak itulah menemukan banyak benda-benda kuno, lukisan klasik, buku-buku tebal penuh debu, patung-patung bergaya Romawi dan Yunani. Tink terus bergerak tanpa beban, sementara Jen mengamati sekeliling. Nah akhirnya mereka tiba di bagian bola kaca kristal kecil yang tergantung di sebuah kait tinggi di atas kepala dan berputar perlahan di udara musim panas yang malas. Bola itu sekotor benda lainnya, tapi di bawah lapisan debunya terlihat pola spiral samar-samar berwarna-warni. Jen memutuskan mengambil kursi reot lalu menumpuk buku-buku tebal buat pijakan mengambil bola kaca itu. Setelah dalam genggaman, ia berujar pada Tink yang penasaran, “Apa yang begitu menarik perhatianmu?” Tink tentu saja hanya bisa mengeong dan berusaha meraih bola itu. Dibawanya bola itu kembali ke rumah dengan perasaan penuh tanya.

Ayah Jen seorang duda, berteman dengan Moura Winters seorang kolektor benda kuno. Tahu ia menjadi pewaris rumah tua, Moura lalu mengajukan penawaran. Semakin dekat keduanya semakin muak Jen, karena Moura adalah wanita aneh dan bertampang judes. Bayangan ibu tiri yang jahat merasukinya. Dan benar saja, mereka berencana menikah. Tentu saja Jen panik, dan mencoba menggagalkan rencana itu.

Moura ternyata mengincar bola kristal yang disimpan Jen. Semakin Moura menginginkan semakin erat Jen menyimpan. Moura memiliki rumah aneh nan kuno. Kliennya Ciril Ashbourne adalah kolektor lukisan dan benda kuno, pemilik toko barang antik The Dark Side Of The Moon – nama norak yang mengingatkanku pada seri kedua perang robot Transformer. Mereka memiliki anjing penjaga bernama Cadoc. Dalam bahasa Wales, Cadoc artinya adalah prajurit penyerang. Susunan kisah memang sudah diatur, sang jagoan memiliki kucing manis sang musuh memelihara anjing galak. Pas sekali.

Misteri kenapa Moura sangat menginginkan bola itu disimpan rapat sampai pertengahan. Namun saat akhirnya bola itu pecah tak sengaja, dan muncullah peri penghuninya. Keadaan makin membingungkan. Ke arah siapa Jen bersisi? Mengikuti perkataan ayah dan calon ibunya? Ataukan Para Peri yang terlihat aneh dan tampak berbohong? Berhasilkah Jen membatalkan pernikahan yang tak diharapkan itu?

Saya adalah pembaca buku-buku terbitan Atria. Karena saya suka sekali fantasi. Namun untuk kali ini sangat disayangkan, kisahnya terlampau sederhana. Aturan waktu di dimensi lain yang lain dengan dunia manusia bukan barang baru. Penyelesaian masalah yang terlalu ringan hanya cocok dinikmati para remaja. Berasa tua ya sekarang, hiks. Dan para karakter yang mudah sekali menemukan solusi membuatku ingin cepat-cepat ganti baca buku lain. Jelas saya sudah menduga ini happy ending, dan Hahn ga akan berani mematikan karakter penting, dan buruknya dugaan itu benar.

Seperti kata Jen, “… hati-hati kalau menyebut (nama), karena nama memiliki kekuatan, kau tahu itu?” dan benar saja, nama-nama peri itu terdengar konyol. Kalau makhluk gaib itu yang bisa berubah wujud sih mungkin masih bisa diterima nalar, buruknya Jen bisa shapeshifter juga. Ala Oolong. Mantranya sederhana, tak perlu ramuan polijus yang rumit dan bertapa 40 hari. Yah, sekali baca lupakan. Puf!

“Bagi kami, menipu sudah mendarah daging, sungguh kami tidak bisa menahan diri. Bahkan walaupun sebenarnya tidak adil bagi orang yang telah berbuat baik padaku, seperti kau”

Perangkap Penyihir | by Mary Downing Hahn | copyright Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt Publising Company, 2006 | diterjemahkan dari Witch Catcher | Penerjemah Ferry Halim | Penerbit Atria | cetakan I, Juli 2012 | ISBN 978-979-024-498-6 | Untuk tetangga-tetanggaku, Kathleen dan Sarah yang sangat suka membaca | Skor: 2,5/5

Karawang, 010617 – Sheila On 7 – Hingga Ujung Waktu
#1 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s