1984 #24

image

Novel-novel Eric Arthur Blair atau lebih kita kenal sebagai George Orwell sangat menghantuiku beberapa tahun terakhir. Satu per satu saya bacai. Pertama Animal Farm yang luar biasa, sangat ambigu. Kedua Down and Out in Paris and London yang sangat sarat makna kehidupan pribadi sang Penulis. Dan ketiga adalah ini, 1984 yang revolusioner. Kagum akan pemikiran beliau yang jauh ke depan. Anehnya ini adalah buku pertama Orwell yang saya ulas. Ketiganya saya beri rate sempurna, ada sedikit rasa was-was kalau membuat review buku pujaan. Makanya malah berlarut, tahu-tahu udah di penghujung perjalanan #30HariMenulis. Maka dengan kerendahan hati, setelah taraweh yang singkat dan malam tanpa bola Euro di prime time, diiringi lagu-lagu Yusuf Islam di album The Best Of – Footsteps in the Light, perkenankan saya memulai mengulas buku hebat ini.
Kisahnya dibagi dalam tiga bagian yang sangaaaat panjang plus sebuah lampiran penjelasan kaidah newspeak. Butuh seminggu lebih untuk menyelesaikan baca. Beberapa bagian tanpa rancu, buku ini sempat sobek bagian bawah bagian sampul depan karena dimainkan Hermione yang waktu itu berusia 6 bulan. Saat saya baca dan ketiduran, Hermione yang terbangun terlebih dulu menggigiti dan menarik-narik buku ini sehingga robek. Lalu ketika membaca di percobaan pertama gagal selesai, terbengkelai karena tertumpuk buku lain yang lebih ringan. Namun dengan kegigihan dan perjuangan akhirnya kelar juga. Mungkin ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Sangat rekomendasi buat pecinta sastra, layak ditelaah dan digunjingkan seratus atau seribu tahun lagi.
Winston Smith sepanjang hidupnya adalah warga negara yang baik dengan mematuhi segala atuarn partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walau begitu Winston tak berani melakukan perlawanan terbuka, kenapa? Karena Polisi Pikiran, teleskrin dan mikrofon tersembunyi yang membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan sejarah ditulis ulang sekehendak hati oleh Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.
Cerita dibuka dengan sebuah pengenalan setting waktu dan tempat di mana Winston berada. Di bulan April yang cerah dan dingin di tahun 1984, sebuah tahun imaji di masa depan Negara dalam keadaan kacau dipimpin oleh BUNG BESAR yang diktator dan semena-mena. Dengan slogan aneh bertuliskan: “Perang adalah damai. Kebebasan ialah perbudakan. Kebodohan ialah kekuatan.” Negara diatur dalam empat kementerian: Kementerian Kebenaran mengurusi berita, hiburan, pendidikan, dan seni. Kementerian Perdamaian mengurusi bidang perang. Kementerian Cinta Kasih mengurusi hukum dan ketertiban dan yang terakhir Kementerian Tumpah Ruah yang bertanggung jawab dalam masalah-masalah perekomonian. Masing-masing dalam bahasa newspeak: Minitrue, Mimipax, Miniluv dan Miniplenty. Unik, aneh dan sangat nyeleneh-kan. Nama-nama kementerian bernuansa hujatan, artinya sengaja memutarbalikan fakta. Perdamaian tugasnya menyerang, kebenaran malah berbohong, cinta kasih malah menyiksa dan tumpah ruah menyelenggarakan paceklik dan kelaparan.
Tepatnya tanggal 4 April 1984, dengan kepanikan dan sembunyi dari teleskrin ia menuliskan diari. Tentang betapa dokrin partai menghantuinya, memporakporandakan pikiran manusia penuh propaganda. Film-film dokumenter perang penebar kebencian. Dia menghina Bung Besar, dia mengutuk kediktatoran partai, dia menuntut segera berdamai dengan Eurasia, dia memperjuangankan kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan berserikat, kebebasan berfikir, dia meneriakan dengan histeris bahwa revolusi telah dihianati. Tentu saja pemikiran seperti ini berbahaya dan ancamannya mati.
Namun perlahan ia menyadari bahwa Winston tak sendiri. Pemikiran untuk memperjuangkan kebebasan secara sembunyi-sembunyi perlahan mulai dibentuk. Teman-teman sekantornya yang nerd dan mungkin untuk dijalin sepaham pun ditemui.
“Aku di pihakmu,” rasanya O’Brien berkata begitu kepadanya. “Aku tahu persis pemikiranmu sekarang. Aku tahu semuanya tentang kesumatmu, dendammu, muakmu. Tapi, jangan khawatir aku di pihakmu!” Dan kemudian kelipan kecerdasan itu lenyap, dan wajah O’Brien sama kosongnya dengan wajah setipa orang lain. Sepertinya ia mendapat teman seperjuangan.
Dalam kefanaan pikiran tulisan tangannaya tak kaku dan menulis secara otomatis, penanya penuh nafsu syahwat kepada kertas yang halus menorehkan dalam huruf besar dan rapi:
GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR. GULINGKAN BUNG BESAR.
Tapi, kau tidak bisa membuktikan apa-apa. Sama sekali tidak ada bukti dan petunjuk. Hanya satu kali saja sepanjang hidupnya dia pernah menggenggam sebuah bukti dokumenter yang jelas dan pasti mengenai pemalsuan fakta sejarah. Namun memang tugas kementerian untuk mengubah sejarah. Sehingga kepanikan tak terjadi di masyarakat. Pemujaan berlebihan kepada Bung Besar memang sangat tak lazim. Segalanya dikendali dengan keterpaksaan.
Jika ada harapan itu ada di tangan kaum prol. Partai tak bisa digulingkan dari dalam, musuh-musuhnya, kaulah partai yang punya musuh, tidak bisa menggalang diri atau bahkan untuk saling tahu. Pemberontakan berarti kilasan sinar mata, perubahan logat bicara, paling kuat, kata yang kadang-kadang dibisikkan. Kaum prol hanya perlu bangkit dan mengguncang-guncang diri seperti kuda liar mengusir lalat. Disadarinya bahwa hal yang sungguh-sungguh khas pada kehidupan modern bukanlah kekejaman dan ketidakamanannya, melainkan kehampaan, keboyakannya, keloyoannya. Kehidupan jika memandang sekeliling, sama sekali tak mirip, tidak hanya dengan kebohongan yang dibanjiri teleskrin, tetapi dengan ideal-ideal yang berusaha dicapai partai. Ideal yang ditetapkan partai adalah sesuatu yang besar, dahsyat, dan cemerlang menyilaukan – suatu dunia dari baja dan beton, mesin-mesin raksasa dan senjata-senjata mengerikan – suatu bangsa pendekar dan fanatik, maju berbaris rampak dalam kesatuan-utuhan yang sempurna, semua pemikiran pikiran yang sama dan meneriakan slogan-slogan yang sama, tak putus-putus bekerja, berperang, mengalahkan, memburu – tiga ratus juta orang dengan wajah yang sama.
Pada zaman dulu, tanda kegilaan adalah jika orang percaya bumi berputar mengelilingi matahari, sekarang tandanya adalah kalau orang berpandangan masa silam tidak bisa diubah. Mungkin saja dia sendirian yang memegang keyakinan itu, dan jika sendirian, dia seorang gila. Tetapi pikiran bahwa dia seorang gila tidaklah terlalu mengganggunya; yang mengerikan ialah bahwa dia juga mungkin salah. Well, tentu saja Winston tak sendirian. Bagian dua kita pun diperkenalkandengan karakter wanita berambut gelap, suatu siang ketika berpapasan dengannya dan pura-pura terjatuh dekat dengannya si gadis menyelipkan sesuatu yang kecil dan pipih. Ketika melangkah melewati pintu kamar kecil, Winston memindahkan benda itu ke kantongnya dan meraba-rabanya dengan ujung jarinya. Secarik kertas yang dilipat berbentuk bujur sangkar. I love you.
Julia. Gadis itu ternyata memiliki pemikiran yang sama. Berdua mereka merentang bahaya, bercinta dan menentang aturan walau sembunyi-sembunyi. Kekuatan dicoba galang, O’Brien yang memberi tanda pun bergabung. Kesatuan keinginan menentang Bung Besar, berhasilkah misi pemberontakan mereka? Bisakah Bung Besar digulingkan?
Sayangnya cerita sebagus ini diterjemahkan dengan kurang greget. Banyak bagian yang membuat kerut kening terbentuk. Entah apakah aslinya memang rumit atau kualitas terjemahannya yang buruk. Namun Orwell tetaplah Orwell, ga bisa dipungkiri sebuah bayangan masa depan dapat dengan mempesona dari awal sampai eksekusi ending dibuat begitu menakjubkan. Sebuah zaman imaji yang ngeri untuk sekedar jadi maya.
Perasaan nikmat karena dapat meyendiri dengan buku terlarang. Buku-buku terbaik, pikirnya adalah yang mengatakan kepadamu hal-hal yang sudah kamu ketahui. – halaman 149
“Yang aku maksud bukan mengaku. Pengakuan bukanlah penghianatan. Apa yang kau lakukan tidaklah penting: hanya perasaan yang penting. Kalau mereka sampai bisa membuatku berhenti mencintaimu – itulah penghianatan sejati.” – 209
Seluruh penguasa di segala masa telah mencoba memaksakan pandangan keliru tentang dunia kepada para pengikut mereka, tetapi mereka tidak sanggup menghadapi akibat dari penggalakan ilusi yang cenderung merusakan efisiensi militer. – 246
Ada kebenaran dan ketidakbenaran, dan kalau kamu terus memegang teguh kebenaran itu, meski sampai menentang seluruh dunia pun, kamu tidak gila. – 268
Hanya ada enam hal yang dipikrkannya. Rasa sakit di dalam perutnya; sepotong roti; darah dan teriakan; O’Brien; Julia dan pisau cukur. – 286
“Yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa depan: yang mengendalikan masa kini mengendalikan masa silam. Lalu dimanakah masa silam itu ada, kalau memang ada?” – 306
Orang-orang mati karena melepaskan kepercayaan mereka yang sejati. Tentu saja segala kemuliaan menjadi milik korban dan seluruh aib tertimpakan pada Inkuisitor yang membakar mereka hidup-hidup. – 313
Ada tiga tahap dalam reintegrasi: pembelajaran, pemahaman, penerimaan. – 321
Kepada masa depan dan masa silam, kepada suatu masa ketika pikiran bebas, ketika manusia berbeda antara yang satu dan yang lain dan tidak hidup dalam kesendirian –  kepada suatu masa ketika kebenaran berdiri tegak dan apa yang telah dilakukan tidak dibatalkan: dari zaman keseragaman, dari zaman kesepian dan kesendirian, dari zaman Bung Besar, dari zaman pikiran-ganda – Salam! – 33
“Anda telah menorehkan watak dan rona yang tak terhapuskan pada kesusastraan Inggris… Anda adalah satu di antara sedikit Penulis yang tak terlupakan dari generasi Anda.”
Oiya sebelum ditutup saya ingin curhat, beberapa waktu setelah saya kelar membaca 1984 saya sempat demam dan sakit kepala sampai susah tidur. Malamnya bermimpi yang sangat aneh dan ambigu. Mimpi itu sudah saya posting singkat di blog, bahwa saya terlempar di masa lalu di mana pendidikan dikekang, sekolah-sekolah dipagari dinding tinggi dengan duri di atasnya. Tentara berbaris rapi dengan badge di lengan kanan dan meneriakan yel-yel kemenangan, saya terpaku di jendela sekolah dengan dagu ditopang melihat pasukan itu. Para guru menentang, kepala sekolah bersekongkol, saya begidik. Saya bangun dengan ngeri, keringat dingin meresapi kepala dan punggung. Mimpi seram yang entah kenapa menghantuiku, fakta buku ini sungguh menggugah dan membayangi isi kepalaku. Dah itu saja. Tahun 1984 saya berusia setahun dan kita semua tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi ketika kita masih berusia 12 bulan bukan?
1984 | by George Orwell | copyright 1949 | diterjemahkan dari Nineteen Eighty-Four | Cetakan ledua, Mei 2014 | Penerjemah Landung Simatupang | Penyunting Ika Yuliana Kurniasih | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Pemeriksa aksara Intari Dyah P. | Penata aksara Adfina Fahd | Diterbitkan oleh Penerbit Bentang | viii + 392 hlm; 20,8 cm | ISBN 978-602-291-003-9 | Skor: 5/5
Karawang, 270616 – Yusuf Islam – Angel of War
#24 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s