Target Ramadan 2016

image

Marhaban ya Ramadan. Alhamdulillah ketemu lagi bulan suci. Sebagai seorang yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan Muhammadyah, kami tak terlalu pusing tanggal mulai dan selesainya puasa. Segalanya sudah bisa dihitung. Di era modern sekarang, nyaris semuanya bisa dipetakan sehingga hitungan kalender menurutku bisa diandalkan.
Tahun ini target bulan Ramadan adalah menyelesaikan baca empat buku tebal yang kesemuanya gagal selesai di kesempatan pertama, sehingga tantangannya lebih berat. Kenapa saya pilih ya karena kalau ditarget daya tahan baca kita akan nyala terus. Berikut buku-bukunya:
Sultan Mehmet II, Sang Penakluk – John Freely
Ini buku sudah mengendap setahun. Saya ingat sekali pertama mulai baca saat ada acara outing NICI 2015 ke Trans Studio, Bandung. Saya baca di bus perjalanan yang melelahkan itu. Outing itu sudah berlalu lama karena Senin lalu kita juga outing NICI 2016 ke Jungleland, Bogor. Ternyata kisah inspiratif Islam ini baru kebaca satu bab, lalu terbengkalai. Sebuah tantangan berat membaca non-fiksi. Sejarah emas Agama Islam dalam invasi ke Eropa.
Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez
Ini juga novel lama tahun 2014 belinya. Semangat di awal, ngedrop ketika mencapai 1/5-nya. Bukunya tebal sekali, tembus 551 halaman dicetak layaknya al kitab. Dengan embel-embel sastra nobel, harusnya memikat.
Zarathustra – Nietzsche
Sudah kubaca pengantar dan bab pertama, namun tak selesai. Butuh kekhusukan, waktu luang yang pas dan kemauan keras untuk benar-benar lahap. Saya coba pertama bulan November 2015 dengan kopi melimpah, musik sendu dan waktu bakda Mahgrib yang tenang. Sayang terhenti dan keganti buku lain. Gara-garanya, iseng meletakkannya lalu mulai buku lain.
Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer
Beli bukunya saat pergantian tahun ini saat pulang kampung Solo. Beli di Gladak sama Wildan Aziz Pratama, ponakan. Sempat semangat di bulan Maret namun drop karena dapat pinjaman buku yang melimpah dari teman kantor. Baca buku gratis rasanya berlipat antusiasnya. Free dan ingin segera selesai untuk dikembalikan. Akhirnya akhir Mei saya mulai baca lagi. Kini sudah sampai halaman 200an jadi sudah dapat separo. Saya pastikan akan jadi buku pertama dari daftar ini yang akan saya geber. Target sih masuk daftar review bulan Juni dalam #30HariMenulis. Ini mahakarya bro, setiap kalimatnya sangat menggugah.
Selain empat buku itu, harus diimbangi amalan. Taraweh inginnya minimal 23 malam berjamaah. 23 adalah angka keramat, nomor rumahku. Lalu target tahunan, khatam 30 juz. Lalu memperbaiki bacaan sholat. Beberapa hari lalu saya buka buku ‘Tuntunan Sholat Lengkap’, ternyata bacaan sholatku yang setiap hari saya lakukan itu ada yang ga pas terutama panjang pendeknya. Yah, mumpung Ramadan mudah-mudahan bisa diperbaiki. Dan yang terakhir, saya HARUS saat Lebaran 2016 nanti saya hafal Quran Surat Al-Mulk. Surat spesial 30 ayat ini akan saya hafal satu ayat satu hari. Nah dari semua target itu, sesungguhnya ini yang paling sulit. Tantangan itu harus dihadapi kalau ga dipaksa ya ga akan bisa. Kalau ga sekarang, kapan lagi?! Teriaklah NICI dan saya pasti akan balas “BISA!!!”
Oke, mari kita mulai. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan. Selamat datang bulan suci Ramadan. Selamat berjuang berlomba mencari pahala, mudah-mudahan kita benar-benar jadi pemenang dalam pertaruhan 30 hari ke depan. Allahu akbar!
Karawang, 060616/01Ramadan1437 H – Nikita Willy – Surat Kecil Untuk Tuhan

Iklan

Hukuman Yang Tidak Terasa

image

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
_”Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”_. 

_Sang Guru_ menjawab dengan tenang:
*_”Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”_.*

_”Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya Taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal   “_.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *”kekerasan hatinya dan kematian hatinya”*.

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapanNya..?*

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu’ dalam shalat..? *

Sadarkah engkau, *bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an*, padahal engkau mengetahui firman Allah:
_”Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”_. 

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya… 

Sadarkah engkau, *telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang… *

Sadarkah engkau, *bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..?? *

_Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? _
Tidakkah engkau merasakan *beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..??? *

*Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..??? *

*Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..??? *

_Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? _

*Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..??? *

*Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..??? *

_Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya… _

_Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. _

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:
_*”Hukuman yang terasa”* pada harta, atau anak, atau kesehatan._

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: _*”Hukuman yang tidak terasa”*_ pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._

Karena itu wahai anakku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…*

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram pada 22 Rajab 1437)

Dibacakan oleh Rizka Novita
Di briefing pagi Motivasi dan Inspirasi
Pada hari Rabu, 1 Juni 2016

Karawang, 050616 – Happy Ramadhan 2016

Lewat Tengah Malam #5

image

Novel lama. Saya nonton filmnya bersama seorang Inairfa Behrami, teman lama dari Jakarta yang mau menyempatkan diri ke Cikarang. Zaman muda yang hura-hura. Filmnya kuanggap bagus walau kejutannya tak sampai membuat shock, tapi di era itu lumayanlah ada film lokal horor yang sedikit lebih berkualitas ketimbang genre sejenis. Idenya bukan barang baru, mungkin spoiler – kalau kalian sudah menonton The Sixth Sense – nah cerita ini intinya sama. Tapi dibuat lebih nge-pop untuk remaja sehingga tensi kengerian masih level beginner.
Bukunya sama saja, tapi detailnya lebih mengena. Dan yah, saya bisa menikmatinya. Beberapa tanya bisa ditemukan di buku. Seperti apa yang ada di benak sang tokoh saat di lift, kita jadi tahu lebih jelas. Seperti nama Alice, karakter utama. Di film yang kudengar adalah Elis – kebetulan punya teman kuliah saat itu bernama Elis jadi rada salah tangkap.
Saya sudah baca beberapa cerpen Gola Gong yang wara-wiri di koran Nasional di hari Minggu. Kalau Ery Sofid tahu dari grup facebook, Dikusi Novel Cendol. Tapi ya sekedar tahu, tak seperti teman-teman Keluarga Cendol Bekasi (KCB) yang lebih dekat karena teritori.
Bukunya tipis, tak sampai 200 halaman. Tak sampai semalam juga selesai baca. Dibagi dalam 6 bab yang unik. Bab pembuka ‘Mayat Di Tempat Sampah’. Tentang penemuan mayat manusia oleh seekor anjing. Mayat yang sepertinya korban pembunuhan karena penuh luka bacok dan bajunya berlumpuran darah. Mayat yang masih membuka matanya. Mayat yang mengisyaratkan arwahnya tak tenang. Benar saja, bab dua kita dikenalkan karakter utama Alice gadis yang paranoid. Arwah itu terbawa hembusan ke apartemennya. Di sana Alice seperti diikuti hantu. “Apartemen ini ada hantunya!” tapi mama Tara, tak percaya. Ini era modern jadi jangan banyak tahayul. Tara adalah seorang editor buku, saat ini ia sedang membaca draft buku tebal, buku genre horror.
Di kamar, Alice mamasang bawang putih sebagai penangkal. Mamanya tentu saja tak setuju, udah gede kok penakut. Tara dan Alice pindah ke apartemen itu untuk bisa lebih dekat dan tenang. Pasca bercerai dengan Yuga, hak asuhnya ada pada Tara. Dia sendiri terlihat depresi dengan mengkonsumsi obat-obat penenang, walau dalam sebuah adegan obat itu lalu dibuang ke kloset. Sementara untuk menjernihkan pikiran Alice jalan-jalan dan bertemu temannya Ramon. Dari situlah Alice tahu, Ramon sudah jadian dengan cewek lain, Melvi. Sudah seminggu ini Alice tak masuk sekolah dan menghilang dari peredaran pasca pindah ke apartemen.
Di bab tiga kita disuguhkan sebuah kasus baru, Yuga masuk rumah sakit jiwa (RSJ). “Maaf kami terpaksa ikat dia. Dia berusaha memotong telinganya dengan pisau makan. Maaf, kami tidak dapat menyelamatkan matanya karena sudah tercecer waktu kami temukan dia tidak sadarkan diri di lantai.” Yuga berhalusinasi melihat arwah sehingga dicekam ketakutan.
Berjalannya waktu, Alice dan Ramon malah kembali dekat. Melvi dan Alice yang dulunya sahabat baik merenggang, kini Melvi lebih banyak curhat ke sahabatnya Triska. Dan Alice yang alpa tak masuk sekolah berlanjut. Akhirnya kebiasan bolos itu diketahui Tara, Alice yang ketakutan dihukum dimasukkan ke gudang. Gudang gelap yang menantangnya untuk lebih berani.
Bab empat tentang hukuman di gudang, Alice menemukan darah kering yang berasal dari kulkas. Darah siapa? Berjalannya waktu, Alice tetap tak masuk sekolah. Malah jalan sama Ramon, curhat apa saja yang membuatnya nyaman. Suatu kali di sebuah mal saat makan, Alice menemukan banyak keganjilan. Pelayan yang tak sopan membersihkan kursi yang ditempatinya, seekor anjing yang nyalak hanya ke arahnya. Dan keinginan selalu yang dingin, “saya mau es krim.” Bagaimana akhir kisah kelam ini? Bisakah Alice (dan Tara) mengusir hantu di apatemennya? Bagaimana nasib Yuga yang gila itu di RSJ yang suatu hari berhasil kabur? Apakah Ramon memilih Alice ataukah Melvi? Selepas tengah malam, banyak hantu bergentayangan. Bagaimana kalau hantu itu ternyata malah akrab dan jadi bagian dari kita? Semua tersaji dalam kisah yang runut dan asyik diikuti.
“Jika keajaiban mengantar kapal ini kembali ke tempat dia diberangkatkan, semoga dia membawa cinta untukku.” – halaman 29
“Aku emang sayang Alice, tapi hanya ada satu cinta dan harapan di hati aku, yang nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dan orang itu sekarang… ada di hadapan aku…” – 159
“Papa kamu itu bajingan, mama ga tahan hidup sama dia.” teriaknya | “Tapi cerai bukan solusi,” Alice menanggapi masih dengan suara ketakutan. | “Dengar Alice, jangan kamu kuliahi mama! Lebih baik keluarga ini hancur daripada nggak ada kedamaian di dalamnya.” – 151
Hantu itu semakin mendekat. Langkahnya teramat berat, jalan terhuyung bagaikan hendak rubuh. Sekilas tampak persendian hantu yang kaku. Setelah dekat di depan Alice, hantu perempuan itu berhenti. Alice hanya bisa berusaha bertahan dengan nafas yang hampir habis. Sementara hantu itu hanya diam saja. Baru kemudian hantu itu menjerit nyaring dan panjang. Urat leher yang tadinya tidak kelihatan, saat menjerit bermunculan. Dari balik kulit wajah yang pucat muncul garis-garis urat berwarna biru. – 131
Lewat Tengah Malam | oleh Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena | Design sampul Maxima | Penulis script Ery Sofid | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, 2007 | iii + 170 hlm; 11,5 x 19 cm | ISBN 979-780-095-4 | Apa kabarmu Inarfa di Priok? | Skor: 3/5
Karawang, 030616 – Train – If It’s Love
#5 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku