5 CM #25

image

Ini adalah contoh sebuah buku yang beruntung. Buku biasa yang sukses mencetak uang, dicetak ulang berpuluh-puluh kali, best seller, diadaptasi film dan banyak dibicarakan banyak orang (awam). Terkadang memang kualitas diabaikan untuk menjadi hit. Entah apa menariknya kisah yang datar, konflik cerita kualitas rendah, penuturan biasa serta susunan yang tak ada kejutan, buku ini bisa menarik Rupiah yang berlimpah. Padahal kalau diperhatikan 5 Cm tak memunculkan hal baru, segalanya ide usang dengan disertakan kutipan orang-orang besar zaman terdahulu, lirik lagu yang berlimpah yang dengan mudah kita cari di internet, hingga hiperbola nan lebai tiap karakter. Yaitu tadi, ini adalah buku yang beruntung. Tak lebih.
Bukunya tebal, untuk ukuran lokal ya lumayan tebal. Saya belinya enam tahun lalu di saat ada bazar buku di Pujasera, Cikarang bareng teman kerja yang waktu itu sedang melanjutkan kuliah sehingga minta ditemani cari buku. Ketika dia mendapat textbook buat memulai sementer baru saya menemukan buku ini dan a modern classic Botchan karya Natsume Soseki. Kukira 5 cm itu apaan, ukuran pensil mata usang? Ukuran xxx? – wah apa ini? Pikir sendiri! Atau panjangnya seekor cacing yang terjebak di laboratorium untuk dibedah sehingga sang cacing yang menunggu maut berfikir bahwa hidup ini singkat? Ternyata bukan. 5 cm ternyata ‘hanya’ semacam pemikiran sederhana, seperti yang dijelaskan di ending. “… 5 cm di depan kening kamu…”
Biar terlihat keren, buku ini menggunakan daftar isi bahasa Inggris. Yang lagi-lagi sebagian kutipan. Sebuah prolog dan sepuluh bab yang didaur ulang laksana pemikiran Penulis. Padahal sedari pembuka kita sudah disuguhi kutipan-kutipan. Bayangkan baru dibuka tiga halaman kita sudah diganjar (minimal) 17 kutipan. Padahal aturan buku yang bagus, kasih pembaca sesuatu yang mempesona tapi ini malah saduran berlimpah layaknya ‘kumpulan nasehat’ yang dibacakan untuk anak SD. Dialog pembukanya juga buruk. Film Before Sunrise-Sunset yang dibintangi Julie Delpy dan Ethan Hawke itu dikutip dan bilang nggak terkenal? Hello… film yang kini ada seri ketiganya Before Midnight sangat terkenal sekali lho –  saya kasih sangat dan sekali diantara terkenanl ini sengaja ya, awas kalau dikira typo, ungkapan ‘film ini tak terkenal’ ketika disodorkan di forum film pasti pada diketawain. Ini film besar yang berulang kali diulas, bukan film snob dengan bahasa asing yang njelimet. Jadi yah, ini pembuka yang buruk.
Ceritanya lima sekawan: Arial yang ganteng, Riani yang pakai kaca mata terlihat pintar (saya revisi dari kata cerdas karena level cerdas tentunya lebih tinggi), Zafran yang suka berfilosofi, Ian yang penggemar bola berbadan gendut, Genta yang dianggap pemimpin gank ini. Ketika bab satu dibuka, kita disuguhi lirik lagu Picture of You-nya The Cure. Wait saya mengingatkan jangan muntah ya, buku ini akan terus dan berulang mengutip lirik lagu. Sesuatu yang buruk, tak menunjang cerita padahal. Hanya memenuhi lembar demi lembar. Sekali-dua kali sih ga masalah, tapi kalau sampai puluhan ya kurang ajar boring-nya. Percayalah mayoritas pembaca pasti langsung skip di bagian itu. Satu halaman dibalik The Cure kita ketemu Frank Sinatra, apakah menurut kalian dengan mengutip dan manukil lirik orang hebat kalian akan terlihat hebat? Nope! Westlife pernah meminta izin menjadi Frank dan biasa aja kan (albumnya)? 2 lembar setelah itu kalian akan ketemu Kenny Loggins. Berikutnya Goo Goo Dools berikutnya Bruce Spingsteen lalu Radiohead dan seterusnya dan seterusnya. Pokoknya sampai mual, Donny hanya meng-copypaste lirik lagu yang tersedia di Google itu. Ya, anak magang kemarin sore juga bisa.
Ceritanya berputar-putar ga jelas dengan pemilihan diksi yang hancur. Kalau ingin berfilosofi rekomendasiku, coba baca buku-bukunya Haruki Murakami, George Orwell, atau Rabindranath Tagore. Itu buku penuh perenungan tanpa banyak kutipan, tanpa banyak terdengar menggurui. Kalau lokal saya lebih suka A.S. Laksana atau Triyanto Triwikromo atau dongeng-dongeng Yusi Avianto Pareanom yang terdengar nyeleneh tanpa banyak lirik lagu. Haha…, lalu apa hebatnya lima sahabat menyelinap di dalam sekolah malam-malam? Kalau mau ngopi mending sekalian di angkringan yang legal dan penuh suasana keakraban.
Di bab dua kalian langsung di hajar lirik lagu lagi. Ampun deh. Finding Nemo, finding Dory, Finding Ian. Belum genap tiga lembar dibalik, disodori lirik lagu lagi, lalu belum juga narik nafas lima menit dikasih lirik lagu lagi. Enggap tahu!
Bab tiga dipembuka dikasih lirik lagu lagi. Ditengah pasti ada lirik lagu lagi. Dan benar saja. Belum puas membuat pembaca frustasi? Di penutup bab tiga kita disuruh nyanyi lagi sama The Cranberries. Haha… buku ini bahkan lebih banyak lirik lagunya ketimbang buku khusus lirik lagu. Ediaaan. Dan seterusnya dan seterusnya. Lho kalau gitu yang di film dengan poster orang-orang naik gunung itu di bagian mana? Sesungguhnya kisah anak-anak Mapala naik gunung itu hanya tempelan. Kisah aslinya ya kumpulan lirik lagu dan kutipan. Eh apa terdengar kasar? Maaf.
Ya udah serius, kisahnya memang lima sekawan ini naik gunung. Ke gunung Mahameru. Maha – besar, meru – gunung. Raja dari gunung, tempat tertinggi di pulau Jawa. Mereka mau bertapa mencari ilham. Finding Ilham? Bukan! Ya kegiatan hura-hura naik gunung, hiking, cari suasana segar. Kalau kalian pernah naik gunung, ya seperti itu kegiatannya. Kalau kalian berharap ada konflik seru kalian tak akan menemukannya. Datar bak jalan tol. Siapa tahu di puncak Mahameru ketemu jin penunggu? Siapa tahu di perjalanan mereka berdebat yang mengakibatkan hilangnya nyawa karakter penting? Siapa tahu mereka bertemu UFO? Bukan. Ga ada. Dan ga pernah ada. Ceritanya lempeeeng aja. Datar seperti mimpiku tiap malam bahwa mencium Sinna Sherina Munaf itu hanya 5 centimeter di depan wajahku. Oh gadisku.
Semua keyakinan, keinginan, cita-cita kamu dan harapan kamu taruh di sini, jangan menempel di kening. Biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu.
“Percayalah pada… 5 centimeter di depan kening kamu.” Berikut saya kutip beberapa ISI buku ini.
I have a dream… – halaman 2
Saya tidak akan memakan buah palapa hingga Nusantara bersatu di bawah bendera kejayaan Majapahit. –  3
… I just brought Indonesia… I fight and work and sacrifice my self for this Indonesia people.. this Fatherland of mine. –    3
I always love tou. Fly me to the moon. –   16
Cogito ergo sum – Aku berfikir maka aku ada –  162
Sebenarnya manusia adalah hewan yang berfikir. –  161
Everyman dies. Not everyman really lives. – 163
Sesuatu yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. –  270
Now this is something that you didn’t see everyday.. – 288
Kalau kalian mengira itu adalah kutipan orang-orang besar, kalian SALAH. Saya MENGUTIPnya dari buku ini.
5 CM | oleh Donny Dhirgantoro | GM 501 05.239 | Editor A. Ariobimo Nusantara | Design dan ilustrasi Bayu Abdinegara | Penata isi Suwarto | Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia – Grasindo | Cetakan keempatbelas, Januari 2010 | ISBN 978-9790-251-762 | Skor: 2/5
Karawang, 290616 – Hanson – This Time Around
#25 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Iklan

6 thoughts on “5 CM #25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s