Norwegian Wood #30

image

Ketika pengumuman pemenang Nobel Sastra tahun 2015 dipublikasi, dan Haruki Murakasi tak menang,  saya adalah satu dari jutaan penggemarnya yang bersedih. Bertahun-tahun dinominasikan dan tahun lalu jadi kandidat kuat namun rontok juga.  Yang muncul adalah momen kecewa kembali. Sampai kapan Penulis Jepang ini bersabar?
Inilah catatan ke 30 dari 30 di bulan Juni 2016. Hufh… selesai juga akhirnya.
Ini adalah buku pertama beliau yang saya baca, yang kedua sudah saya ulas ‘What I Talk About When I Talk About Running’ dan yang ketiga tak sabar akan saya baca ‘Dunia Kafka’. Kini sudah di rak. Novel pertama ini sensasional. Luar biasa, ide liar Haruki dituangkan dengan memikat. Saya bacanya tahun lalu pas Ramadan, beberapa bagian memang vulgar jadi hati-hati saat siang. Sempat menyebutnya semacam bagian kedua dari trilogi: pertama Catcher in the Rye-nya Salinger dengan setting seorang anak sekolah  lalu kedua Norwegian Wood ini dengan setting utama kuliah dan ketiga Down and Fall in Paris and London-nya George Orwell yang bersetting orang bekerja. Ketiganya menurutku merupakan sebuah perjalanan hidup manusia. Sekolah-kuliah-bekerja. Dengan banyaaak sekali persamaan sifat karakter utama. Suka buku, pemikiran praktis dengan banyak perenungan serta seorang pribadi yang kesepian. Kebetulankah?
Kisahnya sangat bagus sedari halaman pertama. Aku Watanabe, 37 tahun sedang berada di bandara Hamburg, Jerman saat terdengar di langit-langit instrumentalia Norwegian Wood nya The Beatless, aku menangis sesenggukan mengingatkannya pada masa lalu ketika kuliah. Mengingatkannya pada Naoko. Mengingatkannya pada pemandangan di padang rumput berselimut debu selama musim panas di bulan Oktober. Ingatan merupakan hal yang aneh. Ketika aku benar-benar ada di sana aku hampir tak memperhatikan pemandangan. Itulah masa ketika apa pun yang kulihat, apa pun yang kurasa dan apapun yang kupikirkan, akhirnya semua kembali lagi pada diri sendiri seperti bumerang. Lebih-lebih aku sedang jatuh cinta dan cinta ini menjebloskan ke dalam situasi pelik. Naoko, gadis di sampingku di padang rumput itu berujar, “sampai kapan pun jangan lupakan aku. Ingatlah selalu keberadaanku.” Memikirkan hal itu aku nelangsa, karena Naoko tidak mencintaiku sama sekali.
Setelah pembuka yang menyentuh hati itu kita dihempaskan ke masa lalu yang diceritkan sepintas tadi. Ditarik jauuuuh ke belakang, 18 tahun lalu. Masa ketika aku di asrama mahasiswa di Tokyo. Masuk ke bangku universitas, penjelasan detail asrama itu mirip penjelasan Holden Vitamin Coulfield di Catcher in the Rye. Mereka yakin bahwa gorden adalah benda setengah abadi yang menjuntai di jendela. Bercerita teman-temannya salah satunya si komando pasukan gerak cepat – kopasgat yang tergila-gila dengan potert pemandangan. Mengambil jurusan geografi dan belajar peta. Anehnya dia selalu tergagap ketika menyebut pe.. pe.. ta. Kalau sudah membicarakan itu semua, sambil tergagap-gagap ia akan terus berbicara sampai satu atau dua jam, sampai yang mendengarkan tertidur atau meninggalkannya. Rutinitasnya tiap pagi jam setengah tujuh ia bersenam membuatku terbangun dengan gerakan loncat yang mengganggu.
Lalu kisah sesungguhnya dimulai, tentang Naoko teman masa SMA yang memiliki pacar bernama Kizuki. Naoko bersekolah di SMA putri misionaris yang ekslusif, sekolah berkualitas. Bertiga menjadi teman akrab, sering jalan bareng walau kelihatannya aneh juga tapi kenyataannya itulah suasana ternyaman dan berjalan lancar. Namun sebuah tragedi terjadi membuat persahabatan ini buyar. Kematian bukan lawan kehidupan. Tapi ada sebagai bagiannya. Di dalam kehidupan, semuanya dan segalanya berputar mengitari kematian.
Lalu Naoko dan aku mulai akrab. Jalan bareng, ngopi di kafe, banyak cerita dan bisa berjalan di samping gadis secantik dia bukanlah sesuatu yang buruk, tanpa tujuan sering berdua berjalan mengelilingi kota Tokyo, mendaki tanjakan, menyeberangi sungai, melintasi rel, dan terus berjalan tanpa henti. Dan bagiku melihat wajah Naoko tersenyum sungguh menyenangkan. Ketika ia memeluk lenganku aku merasa yang ia cari bukan lenganku melainkan lengan seseorang. Yang ia cari bukan kehangatanku melainkan kehangatan seseorang. Aku jadi diriku entah mengapa menjadi malu.
Aku senang membaca buku. Suka membaca berulang-ulang buku yang kusukai seperti karya Truman Capote, John Updike, Scott Fitzgelard, Raymond Chandler. Wow sangat berkelas Watanabe iki. Kadang-kadang hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan menyentuh halaman buku aku sudah merasa bahagia. Dan berprinsip, “Kalau laki-laki membaca Great Gatsby sampai tiga kali rasanya bisa menjadi temanku.”
Salah satu orang itu adalah Nagasawa-san. Sebagai pembaca ia bukan tandinganku tapi ia tak pernah mau mengambil buku karya pengarang yang belum 30 tahun meninggal dunia. “Aku hanya percaya pada buku-buku seperti itu,” katanya. “Bukan berati aku tak percaya pada sasta modern. Aku hanya tak mau menghabiskan waktuku yang berharga sia-sia membaca buku karya orang yang belum dibabtis oleh waktu. Hidup ini pendek.”
Penggemar Balzac, Dante, Joseph Conrad, Dickens. “Watanabe, kamu tahu? Di asrama ini orang yang bisa dianggap manusia itu hanya aku dan kamu. Yang lainnya, semua kertas sampah belaka.”
Orang keren. Sayangnya sejak melihat Nagasawa-san bertindak sangat tidak sopan kepada seorang gadis karena mabuk, aku bertekad untuk tidak membuka hati terhadap laki-laki ini. Dari lelaki aneh inilah aku mendapat pengalaman banyak dengan perempuan. Hidup memang berputar dan berpusat pada banyak omong. Persetan dengan uang.
Ketika Naoko berulang tahun kedua puluh ia berujar, “Umur 20 tahun itu rasanya konyol juga ya. Aku samasekali tidak siap memasuki usia ke-20 ini. Rasanya aneh sekali. Seperti didorong-dorong secara paksa.”
“Tidak ada orang yang suka sendirian. Cuma tidak mau merasa putus asa saja. Kalau kamu membuat otobiografi, kamu bisa menggunakan kata-kata itu.” Itulah perkenalan awal dengan mahasiswi bernama Midori – hijau. Nama kakaknya Momoko – Pink. Teman kuliah di kelas drama ini nantinya akan menjadi karakter penting di sela Naoko dan temannya Reiko-san. Sangat berliku dan membuat frustasi (pembaca) menatap masa depan.
Lalu bagaimana akhir dari perjalanan Watanabe sehingga setiap saat mendengarkan lagu Norwegian Wood bisa membuatnya menangis? Bagaimana nasib Naoko yang frustasi, apakah bisa sembuh dari trauma? Bagaimana nasib Midori yang cocok dengan Watanabe namun sudah punya pacar? Apakah Nagasawa-san bakalan berubah sifatnya setelah diterjang waktu? Bagaimana nasib pacar Nagasawa, Hatsumi-san yang cantik dan lembut itu? Semuanya tersaji dengan sangat memukau. Sungguh buku yang menakjubkan.
95 persen orang-orang yang ingin jadi birokrat adalah sampah. Ini betul. Mereka tak bisa membaca huruf dengan baik. – 80
“Ya sampai-sampai aku ingin memberimu sedikit waktuku agar kamu bisa memanfaatkannya untuk tidur.” – 86
“Kamu ini sungguh aneh. Wajahmu tak menunjukkan suka bercanda, tapi bercanda juga ya.” – 103
Semua orang terlihat bahagia. Apakah mereka betul-betul bahagia, atau hanya kelihatannya seperti itu, aku tak tahu. – 118
Kemudian aku mengingat-ingat lagi kejadian semalam satu per satu secara beruntun. Semuanya terasa aneh, samar tak nyata, seolah-olah di situ ada dua-tiga helai lempengan kaca yang menghalangi, namun semua itu benar-benar telah terjadi padaku. – 125
Entah mengapa, begitu aku terbaring di ruangan ini, kejadian-kejadian dan perasaan-perasaan masa lalu yang tak pernah kuingat satu per satu bermunculan di benakku. Ada yang menyenangkan ada pula yang menyedihkan. – 152
“Sepertinya tempat ini bukan dunia yang sesungguhnya deh. Orang-orang, pemandangan di sekeliling, semua rasanya bukan dunia sesungguhnya.” – 251
Pagi-pagi mencuci pakaian, lalu menjemurnya di balkon gedung asrama sebelum sore saya angkat, lalu menyetrikanya. Menyetrika bukan pekerjaan yang membosankan. – 280
Aku berfikir harus berapa puluh kali atau berapa ratus kali menjalani hari Minggu seperti ini. Hari Minggu yang sunyi tenang dan kesepian’. Kucoba mengucapkan kata-kata itu. Hari Minggu aku tidak memutar sekrup hidupku. – 293
“Bagus sekali, sampai-sampai seluruh pepohonan di hutan-hutan yang ada di seluruh bumi ini bertumbangan.” – 378
“Aku suka apa pun yang kamu pakai, yang kamu lakukan, kamu katakan, cara berjalanmu, cara mabukmu, semuanya suka. Aku menyukaimu sebesar harimau-harimau di seluruh dunia yang mencair menjadi mertega.” – 385
Dan betapa pun kita melakukan yang terbaik, seseorang kalau sudah waktunya terluka, akan terluka juga. Itulah hidup. – 391
“Aku ini manusia yang sudah tamat. Yang ada di depanmu sekarang tidak lebih hanya sisa kenangan diriku. Sesuatu yang terpenting yang dulu ada di dalam diriku sudah lama mati, dan sekarang aku hanya bergerak mengikuti kenangan itu saja.” – 416
“Berbahagialah,” katanya kepadaku ketika akan berpisah. – 425
Well, buku sehebat ini sayangnya ditemukan banyak typo, salah ketik. Aneh juga Penerbit sebesar KPG masih banyak kata yang lolos. Bukan pertama saya temukan, di buku-buku lain juga sering ketemu typo. Sebagai PR Penerbit KPG harusnya mengevaluasi lagi pemeriksa aksara. Sayang aja, buku-buku berkualitas tercetak dengan kata-kata yang salah.
Terakhir, kapan ya Haruki meraih Nobel Sastra? Semoga tak seperti Penulis besar kita, Pram yang berkali-kali masuk nominasi namun keburu kembali ke Tuhan tanpa meraih penghargaan prestisius ini. Please… #NobelFor Haruki
Norwegian Wood | by Haruki Murakami | KGP 901 15 0949 | judul asli Noruwei no Mori | copyright 1987 | originally published in Japan by Kodansha Ltd. Tokyo | Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) | Cetakan kelima, Februari 2015 | Penerjemah Jonjon Johana | Penyunting Yul Hamiyati | Perancang sampul Deborah Amadis Mawa | Penata letak Wendie Astwenda | iv + 423 hlm; 13,5 cm x 20 cm | ISBN 978-979-01-0835-7 | Skor: 5/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – Primadona
#30 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

Iklan

A Very Yuppy Wedding #29

image

Buku ini saya baca tahun 2008, tiga tahun kemudian ketika akan menikah saya berikan kepada May, calon istriku untuk dibaca. Untuk dimengerti bahwa hari-hari menjelang menikah itu penuh cobaan dan godaan. Tak hanya di novel atau cerita-cerita fiksi, kenyataan memang menjelang hari H kita akan sangat sibuk dengan berbagai problematika dari yang remeh sampai yang perlu menghitung ulang uang besar. Begitulah, tahun 2011 bulan 11 tanggal 11 akhirnya menjadi A Very Yuppy Wedding, dan buku ini layak digunjingkan sekedar referensi bagaimana degub jangung pasangan berdebar.
Merupakan novel perdana Ika Natassa dan jadi novel pertama dia yang kubaca. Sebagai bankir jelas apa yang ia ceritakan adalah pangalaman pribadi dibalut khayal sana sini dan jadilah buku ini. Kisahnya runut, walau banyak bagian yang super-duper-lebai. Kepanikan dikejar EO nikah itu bagian yang yah, sederhana namun dibuat pusing sendiri. Judulnya spoiler berat, karena segala tanya apakah pernikahan itu akan jadi ga-nya hanya metafora. Emang tak ada konflik berarti, tapi kalau dibaca para lajang masih layak. Terutama cowok yang biasanya cuek bebek.
Adalah Andrea, wanita karir di sebuah bank swasta terbesar di negeri ini. Berpacaran dengan Ajie yang satu atap Perusahaan. Peraturannya jelas, karyawan tak boleh menikah dengan teman satu Perusahaan. Jadi mereka pun backstreet, menjalin kasih di antara kesibukan kerja. Andre seorang account manager kredit bersama bos Karen, pak Utomo dan Ajie tentunya sedang meninjau sebuah kebun kelapa sawit ke Pekanbaru. Sekembali ke Jakarta pekerjaan menumpuk. Namun ini adalah situasi kerja kelas jetzet. Di jam kerja bisa jalan-jalan ke salon. Makannya di J.Co bukan mie ayam pinggir jalan. Mau jalan tinggal panggil sopir. Yah, kehidupan perlente. Kerja di bank, kantoran. Tak akan ada betapa tiap akhir bulan mie instanadalah makanan lezat penyambung hidup. Tak ada kepanikan sekedar masalah bayar kos, tak ada kepenatan menunggu angkot datang atau waspada copet di metromini. Kehidupan kaum hedon, bankir bro bankir.
Ajie adalah pacar posesif, minta perhatian mulu, suka cemburu. Sama anak bu Karen si Ryan yang suka nelpon dia sensi, cowok paranoid, takut Andre kanapa-kenapa. Memiliki nick name 5 o’clock shadow, jambangnya mungkin sekeren Wolverine. Andre memang jatuh hati sama godek-nya yang cool. Mereka sering hitung sana-sini karier ke depan bagaimana nanti saat menikah. Siapa yang resign mungkin untuk kerja di bank saingan, siapa yang melanjutkan karier. Segalanya penuh resiko, Andre berpendapat wanita perlu berkarier karena hobi belanjanya yang tinggi. Adjie berpendapat, sebagai laki ia harus mampu menafkahi keluarga jadi percaya saja.
Mantan Andre, Radit pernah ketemu tak sengaja di Bintan. Saat kunjungan kerja berdua sama Adjie, mereka sempat grogi karena baru putus, cepat sekali mendapat ganti. Fakta ini tentu saja bisa jadi acuan Andre seperti cewek kebanyakan alias tak istimewa, pacar adalah hal penting. Jadi siap-siap saja sifat cewek yang hobi shopping, ke salon, jalan-jalan, makan es cream atau ngambek akan kita temui sepanjang buku. Adjie? Sama saja. Ya, pasangan kita adalah cerminan diri sendiri jadi memang jodoh.
Jadi bagaimana lika-liku menuju hari H mereka menikah? Well, saya membacanya dalam posisi lajang jadi dulu asyik saja, namun kalau dibaca ulang ilfill banget. Bacaan ga berbobot. Memang semakin dewasa seseorang maka semakin susah membuat takjub dari sebuah karya. Mungkin tua dan kualitas adalah garis lurus sehingga A Very Yuppy Wedding jelas cerita biasa dengan penuturan biasa. Beberapa bagian menggunakan bahasa Inggris, dulu kayaknya bagus dikutip tapi sekarang hadeeeh ternyata jelek. Kutipan simpel kayak gitu dengan mudah dibuat dan sebenarnya ga terlalu menunjang cerita. Apalagi pasangan ini memperlihatkan peluk dan cium seperti hal yang biasa, jadi rasanya ga bagus dibaca anak remaja.
Selang seling English emang jadi kebiasaan Ika. Buku-buku berikutnya templatenya sama. Dulu sih saya masih mau beli dan baca, sekarang nggak! Ika emang pernah sekolah di Amerika. Oooo pantas. Ga heran. Karena saya besar di Jawa, maka kalian pastinya tak heran saya ngomong diselingi bahasa Jawa. Jadi yah emang ga ada istimewanya. Melihat daftar bacaanku yang sekarang, jelas ini buku kebanting. Bahkan sekedar di jejer-pun jangan.
Dan aku teringat John Lennon pernah berkata, “Sebelum saya bertemu Yoko, aku dan dia belumlah manusia utuh. Pernah dengar mitos bahwa manusia itu terlahir hanya separuh jiwa, dan separuhnya lagi ada di langit? Di surga atau di sisi lain dunia ini, atau dalam bayangan cermin. Aku dan Yoko adalah dua bagian dari separuh yang telah bersatu.”
A Very Yuppy Wedding | oleh Ika Natassa | editor rosi@gramedia.com | GM 401 07.039 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Design dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan ketiga, Oktober 2008 | 288 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-3181-1 | ISBN-13: 978-979-22-3181-6 | Skor: 3/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – Ku Mau Kau Tahu
#29 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!

The Worry Tree # 28

image

Buku asal Aussie yang diluarduga bagus. Ide cerita memang bisa dari mana saja. Dari hate-love kakak-adik yang childish pun bisa. Dibalut dengan imaji sebuah pohon yang seakan mendengar segala keluh kesah kita, ya ya hal sepele bisa jadi cerita yang bagus kalau dituturkan dengan luwes. The Worry Tree adalah sebuah novel tipis dari ide yang sederhana namun ternyata memikat. Terkadang ketika saya menatap dinding kamar dan mengajaknya berbicara, saya membayangkan the Worry Tree meresap segala curhatan kita. Aneh?
Jadi kisahnya, Juliet Jennifer Jones adalah anak sepuluh tahun yang merasa mudah cemas. Dalam keadaan seperti itu ia akan merasa gatal. Adiknya Ophelia selalu menggoda membuat iseng dan senang sekali menyanyikan ‘lagu menyebalkan’ ke arahnya. Tak cukup banyakkah masalah yang harus dipikirkannya? Dad selalu sibuk sendiri, Mum bekerja sepanjang hari, Nana tak mau mengenakan alarm keselamatannya. Sulit sekali mengurus keluarga dengan kesibukan sendiri-sendiri.
Juliet ketika bete-nya memuncak akan menyortir. Itu yang ia lakukan untuk menenangkan diri. Sementara orang lain menyalakan lilin, mendengarkan musik, berendam air panas, Juliet menyortir koleksi-koleksi unik yang ia simpan di kamar tidur. Dari koleksi penghapus, koleksi kulit jangkrik kering, sebuah buku berisi daftar plat nomor, pita hadiah sampai koleksi tiket bus. Dan biasanya Oaf – panggilan adiknya- akan menggangunya yang berujung pada pertengkaran. Mum adalah seorang psikolog, sehingga paham sekali konflik dan perseteruan saudara kandung. “Berteriak dan dan menjerit-jerit tidak akan menyelesaikan masalah. Kurasa sekarang waktunya kita bertiga duduk bersama dan membicarakan masalah.”
Ketika seakan masalah benar-benar tak bisa ditahan Juliet, dia akan melampiaskannya pada benda-benda sekitar. Nah suatu ketika Nana, neneknya mengajaknya membuka masa lalu. Kamar tidur Juliet adalah kamar tidur Nana sewaktu masih kecil. Dari kamarnya itulah ia melihat tulisan kutipan dari Thomas Edison tergeletak kusut di lantai, “Untuk menemukan sesuatu kau perlu …” sisa tulisannya tersembunyi dari pandangan. Dia pun merobek pelapis dinding yang ada. Selembar demi selembar.
Sobekan-sobekan kertas bergelung bertumpuk di lantai seperti sampah rautan pensil yang sangat besar. “Lihat ini, ada binatang-binatang di atas cabang-cabangnya. Aku melihat wombat, merak, anjing, babi, kambing, dan bebek.” Gambar di balik pelapis dinding itu adalah sebuah pohon dengan enam binatang di atas rantingnya. Di bawahnya di bagian akar tertulis Pohon Cemas.
Sihirkah? Bukan. Hanya karena bukan sihir belum tentu sesuatu itu tak ajaib. “Gantungkan kecemasanmu di setiap cabangnya setiap malam sebelum tidur. Coba kau pikirkan sesuatu yang membuatmu cemas. Mungkin ada seseorang yang kau kenal yang membuat hidupmu susah.” Hugh Allen. “Bayangkan kecemasanmu itu ada di atas telapak tanganmu seperti ini.” Nana menengadah, “bayangkan tali tali yang tak terlihat mengikat bagian tengahnya dengan simpul di atas. Lalu ambil simpul itu  dengan ibu jari dan telunjukmu. Gantungkan dia di salah satu cabang pohon cemas. Dan binatang-binatang pohon cemas akan mengurus kecemasanmu sampai pagi. Artinya merekalah yang mencemaskanmu saat kau tidur.”
Wow. Simple tapi sangat menyentuh. Keenam binatang itu ternyata bernama dan memiliki keahlian masing-masing. Wombat bernama Wlfgang yang mengurusi segala khawatir tentang teman. Anjing Dimitri memikirkan masalah keluarga. Babi Petronella memikirkan masalah sekolah. Kambing Gwyneth tentang saat sakit. Merak si Piers memikirkan barang-barang yang hilang. Dan terakhir bebek putih bernama Delia mengatasi segala kesulitan perubahan. Ada lubang hitam di bagian bawah pohon. Tugasnya adalah menampung segala masalah bila para binatang tak bisa menyelesaikannya.
Terdengar unik-kan. Butuh imajinasi tinggi untuk curhat pada gambar di dinding. Sebenarnya gambar ini adalah turun temurun dari buyutnya. Namuan saat sampai di Nana, ayahnya menutupi dinding itu. Ada kisah harus di baliknya. Well, dengan kembali terbukanya misteri itu Juliet melaksanakan nasehat Nana, kini Pohon Cemas itu miliknya. Dan mulailah ia setiap malam sebelum tidur berbincang dengan dinding, mencurahkan segala keluh kesah. Berhasilkah ia mengatasi masalah-masalah kerumitan anak 10 tahun?
Well, unik. Nyeleneh. Dan seru. Sebenarnya secara ilmiah pohon memang bisa menyerap keadaan sekitar. Pernah dengar dalam sebuah diskusi, bahwa pohon kalau dimaki-maki setiap hari akan mati karena didera energi negatif. Beda sebaliknya, pohon akan subur dan berkembang bila kita tanam kata-kata menyenangkan. Percaya? Silakan coba. Saya sendiri terkadang ‘curhat’ pada pohon Pucuk Merah di depan rumah saat langit malam cerah. Sedikit banyak ada beban yang terangkat dan lepas setelah kita ngomong. Sisanya biar keajaiban alam yang menyelesaikan. Sayangnya pohon di kebun depan rumah itu ditebang sama May ketika saya sedang kerja tahu-tahu pulangnya itu pohon sudah hanbis. Hiks,. Jadi walau konflik yang disodorkan biasa, masalah anak-anak buku ini tetaplah sukses mempesonaku. Hebat, cerita sederhana ini tak terpikirkan bisa jadi cerita.
Buku ini dipersembahkan untuk nenek dan kakekku – Margar, yang suka menceritakan kisah-kisah, dan Jim yang menyemangatiku untuk menuliskan mereka.
The Worry Tree | by Marianne Musgrove | first published Random House Australia Pty Limited, Sydney | Pohon Cemas | Penerjemah Dini Andarnuswari | Pewajah isi Aniza Pujiati | Penerbit Atria | Cetakan I: November 2008 | ISBN 978-979-1411-56-1 | Skor: 4/5
Karawang, 300616 – Sherina Munaf – 1000 Topeng
#28 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku – Happy birthday Sinna Sherina Munaf, gadisku!